Bias Fajar Angkasa
&
Marsya Nanda Pramudita
ORION
Berawal dari sebuah pertengkaran antara seorang ketua geng motor yang bernama Angkasa dengan seorang ratu wacana bernama Marsya. Membuat keduanya saling dekat.
Apakah dihati mereka akan hadir perasaan saling suka ataukah tidak?
Disini juga menceritakan kehidupan suatu club motor di SMA Respati yang benama ORION.
Dengan semboyan mereka yaitu :
Dimana bumi dipijak, disitu kami melangkah.
Jangan lupa vote, like, and komennya ya!
Ini adalah novel kedua yang aku buat.
Semoga kalian suka sama ceritaku ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beraksi
...Sya! Kalau masih marah, bilang sama gue! ~Angkasa....
...______________________...
Jam istirahat sekolah adalah waktu yang paling dinanti-namtikan oleh semua murid. Marsya dan teman-temannya langsung menuju ke kantin sekolah setelah bel istirahat berbunyi.
"Eh, guys kita duduk di sana aja yah!" Fina menunjuk meja yang masih kosong belum ditempati oleh siapa pun. Meja itu letaknya dekat dengan meja milik anak-anak Orion berkumpul atau makan disana saat jam istirahat. Wilayah Orion memang disana sehingga murid-murid lain yang sudah tau pun tidak ada yang berani untuk duduk disana.
"Eh itu meja kan emang kosong, gara-gara posisinya deket sama tempat kumpul-kumpulnya anak Orion. Mana ada yang berani buat duduk disana," ujar Qinan.
"Ngapain takut sih, emang tampang anak-anak Orion itu kek setan apa? Pake takut segala," kata Laras.
"Bukan masalah tampangnya Ras. Cuman kelakuannya aja mirip setan-setan neraka," ujar Karin.
"Bukan kek setan lagi, Rin. Tapi udah mirip iblis, hahahaha," imbuh Marsya diakhiri dengan tawa geli. "Udah, kuy duduklah. Kaki gue dah pegel nih, berdiri mulu dari tadi."
"Ya udah deh. Lagian tinggal meja itu doang yang masih kosong. Meja lain udah pada penuh, ya kali kita mau duduk desak-desakan sama yang lain sih," kata Qinan.
"Yuk sana ntar keburu diambil orang! Ntar kita nggak jadi makan lagi!" Laras menarik Marsya untuk menuju ke meja kantin itu. Sedangkan Kiran, Qinan, dan Fina mengikuti dari belakang.
"Gue mau beli bakso deh. Lo pada mau makan apa?" tanya Qinan.
"Kalo gue sama deh," kata Fina
"Kalo gue mie ayam sama bakso deh," kata Karin membuat keempat sahabatnya menoleh kearahnya.
"Lo mau makan segitu banyaknya Rin?" tanya Marsya.
"Pantesan tenaga lo kek kuli. Makan aja segitu banyaknya."
"Lambung lo ada berapa sih? Kok bisa-bisanya muat buat makan segitu banyaknya," kata Laras sambil geleng-geleng kepala.
"Lambung gue ada satu. Tapi..." Kiran menjeda ucapannya membuat keempat sahabatnya itu penasaran.
"Tapi apa?"
"Anak cabangnya ada banyak," kata Karin dengan santainya membuat teman-temannya melongo tak percaya.
"Bank kali pake anak cabang segala!" cibir Marsya. Kiran hanya nyengir tanpa dosa.
"Eh lo Sya, Ras. Kalian berdua mau makan apa?" tanya Qinan.
"Gue mau makan mie ayam aja deh," jawab Marsya.
"Samain deh."
"Ya udah lo bertiga di sini aja. Jangan kemana-mana. Ntar nih tempat diambil sama anak-anak Orion lagi kalo kalian ikut mesen," kata Qinan. "Gue aja yang pesenin gimana?"
"Tumben hari ini lo jadi anak baik," kata Fina.
"Yee! Gue kan emang udah baik dari dulu. Kemana aja lo?"
"Ya udah sih. Berarti gue pesenin lo juga Qi? Mana uang?" pinta Fina padanya. Qinan lalu mengambil uang dari saku seragamnya dan memberikannya pada Fina.
"Eh uang lo bertiga juga!" kata Qinan pada Marsya, Laras, dan Kiran. Ketiganya pun memberikan uang mereka pada Qinan.
"Eh gue ngikut kalian berdua deh. Ntar gue yang bantu koar-koar ke babang kantin biar pesenan kita cepet jadi," pinta Kiran.
"Boleh juga tuh. Kiran kan cewek berjiwa preman."
"Boleh tuh. Kuy lah!"
"Inget yah! Kalian berdua jaga nih tempat!"
"Iya cerewet," kata Marsya. "Udah cepetan sana. Udah mulai rame tuh. Ntar gak kebagian."
"Sabar bu bos. Pasti kebagian dah."
Qinan, Fina, dan Kiran akhirnya berjalan untuk memesan ke pedagang. Sedangkan Marsya dan Laras duduk menunggunya. Pedagang itu sudah dikerumuni oleh banyak murid. Dan benar saja, disana Kiran sudah koar-koar kepada pedagang agar pesanannya segera dibuatkan.
Teriakan solot-menyolot keras terdengar. Namun babang pedagang itu pasti menjawab dengan sabar. "Iya sabar. Tangan saya cuman ada dua," katanya.
"EH LADIES FIRST KALI! MAS GUE DULUAN AJA!" teriak murid siswi tak mau kalah.
"SEENAKNYA AJA LO! GAK ADA ISTILAH KAYAK GITU. UDAH BASI KALI TUH SEMBOYAN!" balas murid cowok tidak terima. "POKOKNYA SIAPA YANG BAYAR DULUAN. DIA YANG DIBUATIN PERTAMA! DAN ITU GAK BISA DIGANGGU GUGAT!"
Dan begitu seterusnya sampai mereka mendapat pesanan mereka.
Sekarang di pintu kantin, para anak-anak Orion datang beramai-ramai. Ada Angkasa juga di antaranya. Ada juga kakak atau adik kelas yang merupakan anggota Orion. Mereka mungkin bertemu di koridor dan berbarengan kesini. Hal itu sudah biasa, jadi Marsya dan Laras tidak heran kalau sebagian muridbyang ada di kantin menatap mereka.
Munggar yang melihat Laras duduk bersama Marsya tersenyum. "Ras!" panggilnya sembari melambaikan tangan membuat Maul yang ada di sampingnya menyenggol lengan Munggar. Laras dan Marsya menoleh padanya.
"Eh Ras! Lo udah baikan sama si Munggar?" tanya Marsya.
Laras tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepala. "Iya Sya. Itu berkat lo juga. Makasih ya."
"Iya sama-sama," kata Marsya sambil tersenyum.
"Bro, lo kalo punya rahasia bagi-bagi sama gue napa," kata Maul.
"Rahasia? Gue punya rahasia?" kata Munggar sambil menunjuk dirinya sendiri. "Mana ada gue punya rahasia. Gue kan cowok baik-baik. Gak pernah rahasia-rahasiaan," kata Munggar pada Maul.
"Halah!" Maul langsung berseru, tidak setuju dengan itu. "Cowok baik-baik apanya?! Lo mana pernah baik sama gue Gar!"
"Tuh kalung akik Munggar Rahasianya," cetus Angkasa menunjuk kalung yang mengait di leher Munggar dengan dagunya.
Maul langsung menarik kerah Munggar dan berdecak sambil geleng-geleng kepala. "Ternyata lo pake jimat akik ye. Pinter betul."
"Apaan dah lo," Munggar menoyor kepala Maul. "Mana ada gue pake jimat begituan. Kagak lah. Nih kalumg biasa aja kali."
"Oh, kalung hadiah di jajanan chiki-chiki tah?" tanya Firda.
"Sembarangan lo Da! Kalung bagus gini dibilang hadiah chiki-chiki."
"Hahaha neng Firda. Bukan hadiah chiki-chiki kali. Ya bener tuh di Munggar dapet kalung akik dari nyolong di Museum," ujar Oji.
"Eh nama gue Firdaus pe'a. Pake manggil gue neng Firda segala lo, Ji!" protes Firda tak terima.
"Ya elah esmosian amat lo sama gue bang," kata Oji sambil nyengir lebar.
"Sembarangan lo Ji. Bukan elah! Goblok lo! Mana ada gue nyolong kalung di museum, yang ada gue udah di kantor polisi sekarang," kesal Munggar. "Udahlah. Gue mau ke pacar gue Laras," kata Munggar menuju ke Laras. Cowok itu duduk di samping pacarnya. Sementara anak-anak Orion duduk di.meja belakang mereka. Karena Marsya duduk menghadap ke Laras, otomatis ia bisa melihat Angkasa yang juga sedang menatapnya dari arah depan. Cowok itu duduk sambil bersender di dinding kantin.
"Kamu udah pesen makan?" tanya Munggar pada Laras.
"Udah tadi nitip ke Qinan."
Munggar melihat arah pandang Laras pacarnya.
"Ya udah pesen lagi biar gendut," kata Munggar sambil mencubit pelan pipi Laras.
"Apaan sih Gar!"
Munggar hanya cengengesan mendengarnya.
Melihat itu, Marsya mengalihkan pandangannya. Ia menopang dagunya dengan tangan, berharap ketiga temannya yang lain cepat datang.
Gue ngerasa jadi nyamuk nih. Qi, Fin, Ran! Cepetan dateng ke sini napa!
Batin Marsya meronta-ronta.
"Uhuk-uhuk!" Marsya batuk-batuk.
"Lo kenapa Sya?" tanya Munggar.
"Gue keselek tadi liat kemesraan kalian berdua. kalo mau mesra-mesraan tengok sekeliling dong. Gak ngerhagai gue banget yang masih jomblo di sini."
Munggar nyengir. "Hee maaf Sya. Gak bermaksud gue. Makanya nyari pacar. Tuh Angkasa masih jomblo. Sono pacarin aja tuh si Angkasa."
"Idih. Gak tau terima kasih banget lo jadi orang. Kalo gue gak nyadarin lo kemaren, sekarang lo sama Laras udah gak ada hubungan lagi tau!" ketus Marsya.
"Iya iya maafin gue deh. Oh ya BTW Makasih buat yang kemaren," kata Munggar.
"Hmm. Ya sama-sama."
"Eh Sya lo udah pesen makan belom?" tanya Munggar.
"Udah dipesenin Qinan juga."
"Gar. Kamu mendingan ke teman-teman kamu aja deh. Gak enak sama mereka," kata Laras pelan.
Munggar menaikan satu alisnya mendengar ucapan Laras barusan. Munggar tau kalau Laras mengusirnya secara halus. Namun ia paham kenapa Laras begitu. "Yakin nih aku ke sana?"
"Yakin."
"Jangan kangen ya?"
"Apaan sih Gar? Geli tau gak!"
"Uhuk-uhuk," Marsya terbatuk-batuk lagi. "Udah sana lo pergi dah Gar! Lama-lama gue bisa kena batuk musiman gara-gara ngeliat lo sama Laras mesra-mesraan," usir Marsya.
"Jadi gue di usir nih ceritanya?" tanya Munggar.
"Iya lo gue usir. Udah sana balik ke kawanan lo!" kata Marsya sambil menunjuk ke arah perkumpulan anak-anak Orion.
"Ya udah gue pergi nih," Munggar berdiri lalu tersenyum dan mengusap pucuk kepala Laras. "Aku ke Orion yah. Kalo aku terus di sini entar teman kamu itu jiwa jomblonya makin meronta-ronta. Jangan lupa makan yang banyak."
"Eh udah jangan kebanyakan tebar kebuchinan di depan gue lo!" usir Marsya.
"Buchin sama pacar sendiri gak apa-apa tuh," kata Munggar sambil cengengesan. "Sya! Lo kalo gak mau ngejomblo lagi, gue saranin lo pacarin si Angkasa deh. Kalian berdua keliatannya cocok kok, sama-sama galak dan ngeselinnya minta ampun, hahahaha!"
"Eh banyak omong lo jadi cowok!" kesal Marsya.
"Heh Nggar! Gue denger apa yang lo bilang!" kata Angkasa dengan tatapan dinginnya.
"Eh pak bos! Tadi gue ngomongnya pelan loh, kok lo bisa denger sih?" tanya Munggar sambil nyengir.
"Gue juga denger omongan lo Gar!" sahut Oji. "Suara pelan kek bunyi toa, mana ada orang yang kagak denger oon!"
"Santai men!" kata Munggar. "Ya udah sayang, aku balik ke temen-temen dulu ya," ucap Munggar pada Laras membuat Marsya memutar bola matanya jengah.
Munggar pun berjalan menuju perkumpulan anak-anak Orion. Setelah Munggar pergi dan duduk di sebelah Nauval, beberapa menit kemudian Qinan, Fina, dan Kiran datang ke meja Marsya dan Laras.
"Nih udah gue beliin minum sekalian. Kurang baik apa coba gue jadi temen??" kata Qinan sambil meletakan gelas minuman ke meja.
"Tadi bukannya gue yang Nyuruh?" gumam Fina disebelah Qinan, namun Qinan tidak mau membahasnya lebih lanjut karena perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi.
"Eh udah buruan gue udah laper nih!" kata Kiran.
Mereka berlima pun langsung duduk dan menyantap makanan mereka.
"Kak Angkasa!" suara itu membuat semuanya menoleh pada Sesa. Cewek yang paling cantik kelas 10 itu mendekati meja anak-anak Orion.
"Eh gak-gak! Cari tempat duduk lain sana!" tolak Maura yang duduk di sebelah Angkasa.
"Kenapa emang? Kak Angkasa aja gak ptotes tuh. Kenapa jadi elo yang sewot?"
"Kalo gue bilang enggak ya enggak!" Maura masih bersikukuh menolak Sesa. "Tuh di sana masih kosong! Lo duduk di sana aja!"
"Gak mau! Gue maunya duduk di sini, di sampingnya kak Angkasa. Lagian kenapa sih lo? Kayaknya sensi banget sama gue."
"Gak bisa! Di sini udah penuh."
"Apaan sih lo? Gue cuman mau duduk! Lagian gue juga anggota Orion. Jadi boleh dong!
"Gak boleh kalo kata gue!"
"Lo tuh apaan sih? Ngajak ribut banget!"
"Pokoknya enggak ya enggak!"
Angkasa menghela napas. Bosan mendengar perdebatan Maura dan Sesa. "Weh. Udah-udah. Ribut banget lo berdua. Wen lo duduk di sini aja. Gue yang pindah."
"Ih Kaaa!" Maura memegang tangan Angkasa ketika cowok itu bangkit. "Kok lo pergi sih?"
"Berisik tau gak?" kata Angkasa. "Sesa cuman mau duduk di sini, Ra."
Maura mengerucutkan bibirnya dan berdecak kesal, tak setuju. "Ya udah deh. Tapi lo jangan pindah ya."
"Sesa, lo duduk di sini!" suruh Angkasa.
"Tapi gue duduk di sebelah lo ya kak?" tanya Sesa membuat Maura melotot.
"GAK!" seru Maura. "Enak banget sih lo? Udah lo kalo mau duduk ya duduk aja. Nih di sebelah Oji. Gak usah di sebelah Angkasa."
"Biarain. Suka-suka gue lah. Kak Angkasa aja gak marah."
"Sep, lo pindah Sep!" suruh Angkasa pada Asep yang duduk di sebelahnya.
Asep langsung menghormatkan tangan pada Angkasa. "Asiap captain!" ujarnya lalu berdiri dan pindah duduk di depan Angkasa dekat Oji duduk.
"Nasib cowok ganteng ngelebihin kapasitas sih," kata Dul sambil memakan baksonya. "Makanya di rebutin cewe mulu!"
"Lo mau duduk pake ribut segala kaya mau ke pasar Sa!" kata Munggar begitu Sesa melewatinya dan duduk di sebelah Angkasa dengan membawa mangkuk mie ayam di tangannya. Sesa tersenyum penuh kemenangan karena Angkasa membelanya. Sedangkan Maura memutar bola matanya jengah.
Seorang cewek dengan rambut bagian bawah di curly itu datang menghampiri Marsya dan kawan-kawannya. Marsya kenal cewek itu, ia adalah teman dan juga kakak kelas yang notebene-nya Marsya kenal. Siapa yang tidak kenal dengan Stevani yang biasa di sapa Steva? Selain dikenal sebagai ketua eskul modern dance, ia juga dikenal karena menjabat sebagai pacar dari ketua osis SMA Respati.
"Hai bos! Makan di kantin, gak ngajak-ngajak lo," kata Steva. Steva adalah anggota geng Marsya dari kelas 12. Ia juga termasuk wacana SMA Respati.
"Lo juga baru keluar kelas. Ya kali gue koar-koar di depan kelas lo Stev. Bisa turun derajat keanggunan gue sebagai ketua wacana SMA Respati," sahut Marsya.
"Lo mau berdiri di sono aja Stev. Duduk lo! Gak cape berdiri mulu? Apa lo udah ganti profesi dari pacarnya ketos jadi pengganggu jalan kantin, hahaha," kata Qinan diakhiri dengan tawanya.
"Kok gue tiba-tiba ngerasa kuker yah, pengin banget gitu ngehajar orang!" ujar Steva seraya meregangkan otot-otot tangannya, matanya menatap tajam ke arah Qinan. Sedangkan yang ditatap malah cengengesan.
"Insap woy insap!" kata Kiran.
"Tajem amat tuh tatapan. Tadi gue canda doang kali. Ya udah. Silahkan duduk tuan putri yang terhormat," kata Qinan sambil nyengir lebar.
Steva kemudian duduk di samping Marsya. Lalu ia meminum lemontea Marsya di atas meja tanpa izin.
"Weh seenak jidat aja lo minum minuman gue!" kesal Marsya.
"Ya elah bos. Pelit amat sama anak buah. Lagian gue cuman minum dikit," kata Steva.
Marsya memutar bola matanya, malas menanggapi kakak kelas sekaligus temannya itu. Ia lebih memilih melanjutkan makanannya.
"Aww!" pekikan kencang dari Steva sontak membuat beberapa penghuni kantin menoleh ke arahnya. Terutama Marsya dan teman-temannya yang merupakan satu meja dengan Steva. Ternyata cewek itu baru saja ketumpahan kuah panas oleh seorang siswi.
Mata Marsya membulat saat mengetahui siapa cewek itu, kemudian pandangannya jatuh ke arah Angkasa yang tengah menatap lekat mereka.
"Lo berani-beraninya yah numpahin gue pake kuah bakso lo itu. Lo sengaja pengin numpahin gue, huh?"
Marsya pun membantu Steva. "Steva, udah Stev kayaknya dia gak sengaja deh."
"Gak, Sya! Cewek kek gini tuh harus di kasih pelajaran biar kapok. Takutnya dia cuman lugu di depan, tapi di belakang kelakuannya gada akhlaknya sama sekali."
"Iya tuh, Stev!" sorak Laras. "Lo tau dia kan? Dia Meta yang katanya dulu suka sama Raffa pacar lo. Tapi di tolak mulu sama Raffa," kompor Laras. Hal itu membuat Steva menarik rambut cewek itu yang merupakan adik kelasnya itu.
Fina menyenggol lengan Laras agar tidak mengompor-ngompori Steva. "Ras! Jangan jadi kompor lo."
"Kan gue ngomong fakta, Fin," ucap Laras dengan santainya.
Kiran menepuk bahu Marsya. "Cuman lo yang bisa ngelerai mereka berdua, Sya!"
Marsya berdiri dari duduknya. "Stev udah stop. Lo mau masuk BK?"
"Apaan sih Sya! Gue kesel banget sama nih cewek satu. Baru jadi adek kelas aja udah keterlaluan gini!"
"Udah Stev. Lo mau bikin Raffa kecewa sama lo?"
"Tapi gue kesel banget sama nih cewek Sya. Please, lepasin gue."
"STEVA!" and see Raffa sang ketos di sana sedang berjalan ke arah mereka dengan kilat mata yang marah. Lalu melerai pertengkaran antara Steva dan adik kelas yang bernama Meta itu. Kemudian Raffa menarik Steva keluar dari kantin.
Marsya bersyukur, Raffa datang tepat pada waktunya. Setidaknya Meta bisa selamat dari amukan Steva temannya.
"Ya bubar dah, padahal tadi lagi seru-serunya tuh adegan," kata Munggar.
Ajis langsung menoyor kepala temannya itu. "Katanya cowok baik-baik lo. Mana ada cowok baik-baik suka keributan?"
"Iya tuh. Dikira film pake reka adegan segala," kata Ojan.
"Hahaha gue emang cowok baik yang beda sama yang lainnya. Cowok baik suka keributan dan benci akan adanya perdamaian," ucap Munggar dengan bangganya.
"Cuman orang yang tak berakal dan berbudi pekerti seperti lo yang bisa ngomong kek gitu," ucap Asep ikut angkat bicara.
"Emang lo punya akal sama budi pekerti Sep?" tanya Nauval.
"Ya kagak lah!" jawab Asep disambut gelak tawa teman-temannya.
"Sinting lo pada!" ucap Angkasa.
"Eh BTW tadi si Marsya tumben banget gak ngeluarin jurus ajarannya si Thanos ya?" tanya Dul.
"Bener banget tuh!"
"Setuju, gak kek biasanya. Apa Marsya lagi sakit yah?" tanya Oji.
"Weh! Sakit dari mananya? Orang tadi aja si Marsya ngomel-ngomel ke gue," ucap Munggar tidak setuju dengan ucapan Oji.
"Mungkin dia lelah," kata Angkasa.
"Lelah? Lelah hidup maksudnya?" tanya Ojan asal.
Angkasa langsung melemparkan sendok yang ia pegang ke arah Ojan. "Sembarangan lo kalo ngomong!"
Ojan hanya cengengesan. "Sorry bos! Bibir gue keseleo tadi. Jadi asal ngomong deh!"
"Ternyata muridnya Thanos bisa cape juga yah? Gue kira tenaganya tanpa batas," kata Maul.
"Lo kira si Marsya robot? Gak ada capenya?" tanya babang Firda.
"Eh, si Marsya punya pacar kagak sih?" tanya Ajis tiba-tiba.
"Kata pacar gue si Laras sih. Katanya Marsya belom punya pacar, padahal cowok yang ngejar-ngejar dia banyaknya gak ketulungan. Emang kenapa lo tiba-tiba nanya gitu? Lo mau daftar jadi pacarnya Marsya?" tanya Munggar.
"Kira-kira gue di terima kagak yah, kalo gue nyalon jadi pacarnya?" tanya Ajis.
"Wadidaw! Eh gue juga mau nyalon ah!" kata Asep.
"Ngikut!" Oji berdiri sambil mengangkat satu tangannya.
Mendengar itu tiba-tiba telinga Angkasa terasa panas dan dadanya sedikit sesak.
Braakkk
"Diem lo semua! Awas aja lo kalo deketin si Marsya. Gue hajar lo satu per satu!" teriak Angkasa setelah menggebrak meja.
Kini semua tatapan mata mengarah pada Angkasa yang tengah berdiri dengan wajah penuh amarah. Marsya pun terkejut mengapa namanya disebut-sebut oleh Angkasa.
"Lo kenapa bos?" tanya Munggar.
Angkasa tersadar lalu kembali duduk. "Gu_gue gak apa-apa! Tenang aja, tadi gue cuman ngerasa keberisikan aja, denger lo pada ngerebutin si Marsya," ucap Angkasa mengarang alasan.
"Emang kurang kerjaan lo pada, pake ngerebutin tuh cewek segala!" ujar Maura.
"Lo kalo iri sama Marsya bilang aja Ra," kata babang Firda.
"Apaan sih Fir! Siapa yang iri sama tuh cewek! Gue gak iri tuh," elak Maura.
"Lo pasti iri karna gak ada yang ngerebutin lo kan Ra?" tanya Sesa.
"Ih apaan lo. Masih adek kelas aja, udah berani lo sama gue! Lagian bukan cuman Marsya aja yang direbutin cowok-cowok, gue juga banyak yang ngerebutin kali!" kata Maura dengan sombongnya.
Nauval menepuk bahu Angkasa. "Lo gak suka si Marsya direbutin sama cowok-cowok ya Ka? Karna lo udah suka sama dia?" tanya Nauval.
"Eh, nggaklah. Mana ada gue suka sama cewek ngeselin kayak dia," elak Angkasa.
"Jangan boong lo."
"Mana ada gue boong. Udahlah gue mau lanjut makan," kata Angkasa mengalihkan pembicaraan. "Ojan. Ambilin gue sendok gih!" suruh Angkasa.
"Asiap bossque!"
Kini Marsya dan teman-temannya sudah keluar meninggalkan kantin. Mereka masuk ke dalam kelasnya yaitu XI IPS'2. Saat ini mereka tengah duduk-duduk di kelas sambil mengobrol.
"Eh Sya! Kenapa tuh si Angkasa nyebutin nama lo sambil nggebrak meja kek gitu?" tanya Kiran.
"Bener banget tuh. Gue sampe kaget tadi, untung aja kagak keselek kuah bakso," kata Qinan.
"Gue juga gak tau kenapa," jawab Marsya.
"Keknya dia suka sama lo deh, Sya! Tadi lo denger sendiri kan teriakan Angkasa?" tanya Fina.
"Mana ada dia suka sama gue. Ya enggak lah!"
"Siapa tau dia suka beneran sama lo Sya," ucap Laras meyakinkan.
"Ah udahlah! Kenapa jadi bahas si Angkasa sih!" kata Marsya lalu beranjak dari duduknya. "Gue mau ke toilet bentar."
"EH TAPI SYA—"
Marsya sudah pergi meninggalkan keempat temannya menuju ke toilet.
*****
Angkasa baru saja hendak masuk ke dalam kelasnya, namun langkahnya terhenti di tengah-tengah koridor setelah melihat Marsya berjalan menuju ke arahnya. Ketika pandangan keduanunya bertemu, Marsya langsung mengalihkan pandangannya ke lantai putih koridor. Angkasa tau Marsya malas beryegur sapa dengannya. Itu hanya perkiraannya, tapi sepertinya hal itu memang benar adanya.
"Lo kenapa liat ke bawah terus? Gak ada uang di bawah," kata Angkasa membuat Marsya mengangkat kepalanya yang semula menunduk.
"Mendingan gue liat lantai, daripada liat muka sandal jepit buluk lo itu!" ketus Marsya lalu melanjutkan langkah kakinya.
Angkasa mengerutkan keningnya dan mengejar cewek itu. "Lo kenapa sih?"
"Apa?"
"Ya elo kenapa?"
"Gak kenapa?" ucap Marsya. "Udah deh. Gue mau ke kelas sebelum bu Bunga masuk ke kelas."
"Emang lo habis dari mana?"
"Kepo lo!"
"Lo kenapa sih? Masih marah ke gue karna udah gue kerjain semalem?"
"Menurut lo?"
"Iya."
"Nah. Tuh lo udah tau jawabannya. Udah sana minggir, gue mau ke kelas!"
"Eh entar dulu," kata Angkasa mencegah cewek itu untuk pergi. Ada sedikit rasa tak rela yang dirasakan Angkasa. "Maafin gue soal yang semalem. Gue cuman iseng aja. Maaf udah bikin lo ketakutan sekaligus kesel."
"Hmm."
"Hmm? Artinya apaan?"
"Iya gue maafin. Udah deh gue mau ke kelas," ucap Marsya takut di labrak guru karna masih keluyuran di saat bel masuk sudah berbunyi.
"Sya! Kalau masih marah bilang sama gue!" kata Angkasa membuat Marsya menoleh padanya namun cewek itu sudah mulai menjauh.
Marsya terdiam sebentar lalu mengangguk dan berjalan menuju ke kelasnya meninggalkan Angkasa yang memperhatikan Marsya dari tempatnya berdiri. Untuk sekarang, Angkasa tidak paham kenapa ia merasa ada sesuatu hal yang berbeda jika berada di dekat Marsya.
...√...
Bersambung...
Wajib kasih vote, like, dan komen ya!
mulai ada konflik nih,,,, kaya nya bakalan ada baku hantam dan pengorbanan dan air mata nih hahahahahaha,,,
aku pembaca baru nih,,,, baru semalem nemu nya novel ini,,,,,
jadi aku bacanya marathon sampe skrg,,,,, semoga kedepannya ga bikin kecewa dengan menunggu up lama
konflik nya sedang aja jangan yg berat2