Andika seorang bayi berumur satu bulan yang ditinggal oleh ibunya untuk selama-lamanya. Besar bersama ayahnya yang benama Adam membuatnya berubah menjadi nakal dan banyak tingkah.
Banyak wanita yang dijodohkan dengan ayahnya berakhir gagal karena ulahnya. Akankah Andika berhasil menemukan ibu sambung yang sesuai dengan pilihannya?
Simak kisah mereka di karya kedua aku ini!!!
sebelumnya, mampir juga dikarya pertamaku
ABANG TENTARA, TEMBAK AKU!!!
Happy Reading...😍😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zur Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rayuan...
Malam ini suasana rumah Abah terlihat sibuk, Amak sedang memasak untuk dibawa oleh Adam dan Yuni ke Jakarta. Dika yang sudah selesai membereskan pakaiannya tampak duduk ditangga belakang rumah.
"Dika!" Panggil Abah yang ikut duduk di samping cucunya tersebut.
Sambil memegang pundak anaknya "Kakek setuju dengan pilihan kamu." Ucapan yang berhasil membuat Dika menoleh kearah kakeknya.
Abah tersenyum menatap cucunya. "Kakek percayakan sama kamu urusan perjodohan ini selanjutnya, sepertinya keahlian kakek turunnya ke kamu, bukan ayah kamu!" Seloroh Abah sambil terkekeh geli mengingat cucunya yang akan jadi penerusnya dalam perjodohan putra sang Kakek yang tidak lain adalah ayahnya sendiri.
Dika tersenyum sambil geleng-geleng kepala. "Kali ini kamu harus benar-benar memutar otak kamu, Dika! Adam dan Yuni mempunyai watak yang keras, terutama Yuni, dia gak akan mudah kamu taklukin, Kakek saja tidak berhasil menjodohkan dia dulu, selalu ada cara buat dia menghindar sampai akhirnya dia menikah dengan temannya yang juga berteman dengan Ayahmu." Abah kembali memberi petuah untuk sang cucu.
Setelah mendengar penuturan serta berbagai tips dan trik dari guru legendaris yang tidak lain adalah Kakek untuk sang murid baru cucunya sendiri.
Pagi harinya, suasana rumah Abah sudah sangat ramai. Mantan besannya juga ikut datang mengantar cucu kesayangannya kembali ke Jakarta. "Hati-hati dijalan, jangan lupa kabari jika sudah sampai!" Ucap Abah sambil melambaikan tangan saat mobil yang mengantar anak serta cucunya keluar dari halaman rumah.
Semua terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya Adam yang berbicara dengan salah satu kerabat yang menyupiri mereka. Sementara Dika masih diam dengan pikiran yang terus bekerja mencari cara supaya ayahnya dan mamanya Rara bisa menikah.
Sementara Rara, dia terus mengingat berbagai nasehat yang dikatakan oleh Abah. Dia juga harus merahasiakan tentang Abah yang sudah mengetahui tentang perceraian orang tuanya, lebih parah lagi dia diminta membantu Dika untuk menjodohkan Mamanya sendiri.
"Kalian kenapa? Kok diam aja dari tadi." Tanya Yuni yang merasa sendiri karena tidak ada yang mengajaknya bicara.
"Biarin aja Yun, mungkin mereka lelah." Jawab Adam sambil tertawa, sementara yang jadi objek memutuskan untuk menutup mata bersama.
"Yahhh...mereka malah tidur, kompakan lagi tidurnya." Ucap Yuni kembai.
"Mereka nampak seperti adik-kakak Uda." Supir Abah ikut menimpali.
Adam hanya tertawa kecil mendengar ucapan dari lelaki sebelahnya. Sedangkan Yuni hanya diam saja tidak menanggapi ucapan Uda tersebut.
Perjalanan panjang serta melelahkan berakhir juga, liburan sesaat cukup meninggalkan kesan bagi mereka semua. Dika dan Rara masih menikmati suasana libur panjang, berbeda dengan orang tua mereka yang kembali sibuk dengan rutinitas seperti biasa.
Rara banyak menghabiskan waktunya di bengkel bang Beni, sementara Dika mengikuti saran dari Mama Rara. Dika mulai mencari sekolah SMK yang dirasa cocok dengan kemampuannya.
"Gimana, udah dapat sekolah yang kamu suka?" Tanya Adam saat melihat Dika sibuk dengan Laptopnya.
"Belum Yah, kalo aku ambil jurusan pelayaran gimana?". "Jangan!" Jawab Adam cepat. Dika mengernyit heran melihat reaksi ayahnya.
"Hehehe...kamu jangan jauh-jauh, nanti gak ada yang bantuin Ayah."
"Kan ada tante Yuni! Lagian kakek juga udah bilang gak akan ngejodohin Ayah lagi, jadi ayah tenang aja!" Jawab Dika santai.
"Tapi Ayah sudah biasa ada kamu, kalo kamu gak ada, rumah ini pasti sepi." Adam menampakkan raut wajah sedih.
"Makanya Ayah nikahin tante Yuni secepatnya, biar nanti ada temannya, terus ada Rara juga." Adam kembali menatap putranya, "Kenapa kamu jadi nyuruh Ayah nikah sama tante Yuni?" Tanya Adam heran.
"Kan sudah aku bilang, tante Yuni adalah pilihanku, dan hanya tante Yuni, tidak boleh sama yang lain, lagian tante Yuni juga cantik, masih nampak muda dan yang paling penting cerdas." Dika meyakinkan ayahnya.
Adam menghela nafasnya sesaat, dia merasa aneh jika harus menikah dengan temannya sendiri dan yang lebih parah lagi dia tidak memiliki perasaan apapun sama Yuni.
"Gimana?" Tanya Dika yang membuyarkan lamunan Ayahnya.
"Ya gak gimana-gimana, Ayah gak bisa ikutin kemauan kamu yang aneh itu, terus jangan coba-coba buat ulah macam-macam! Satu lagi, pilih jurusan yang gak usah pergi jauh-jauh, kamu pikir pelayaran itu gimana? Cari dulu info yang lengkap, kenali setiap jurusannya, jangan asal milih!" Ucap Adam tegas.
Dika kembali menghela nafasnya, usaha membujuk ayahnya belum dimulai sudah gagal. Dika berniat menguubungi Rara, tapi Dika ingat jika Rara tidak memegang ponsel. Akhirnya, Dika berencana menemui Rara besok pagi.
***
Keesokan harinya...
Rara tampak serius dengan pekerjaannya di bengkel bang Beni sampai tidak menyadari kehadiran Dika yang sudah berdiri di belakangnya.
"Ra, ada yang nyariin tuh!" Seru bang Beni mengarahkan dagunya kearah Dika.
"Dah lama Kak?" Tanya Rara dengan muka datarnya.
"Ketus banget sama calon kakak tiri." Balas Dika dengan raut wajah tidak kalah datar.
Setelah meminta izin bang Beni, Rara yang sudah mengganti bajunya mengikuti ajakan Dika ke sebuah cafe.
"Ada apa kak? Kalo kakak mau ngebahas perjodohan orang tua kita, aku tetap gak mau." Ucap Rara tegas setelah mereka memesan minuman.
Dika menghela nafasnya, sudah dipastikan jika usahanya kali ini tetap gagal. Dia memang harus berusaha sendiri kali ini. "Dari pada kakak sibuk ngurusin mereka, lebih baik kakak fokus belajar." Ucap Rara kembali.
"Cita-cita kamu apa Ra?" Tanya Dika.
Rara menatap sekilas orang yang duduk di depannya saat ini. "Aku gak punya cita-cita Kak." Jawab Rara yang membuat Dika heran.
"Terus kegiatan kamu selama ini, kerja di bengkel, motret, apa itu semua cuma hobi?" Tanya Dika kembali.
"Bisa dibilang begitu, lagian aku tuh gak suka cari pekerjaan yang gak ada manfaat seperti kakak, aku lebih suka nyari kerjaan yang bisa nambah pengetahuan, bukannya kakak, umur remaja, pikiran tua bangka." Jawab Rara ketus.
Dika merasa kesal dengan jawaban Rara yang dianggap menyinggung kakeknya.
"Kalo kamu gak suka perbuatannya jangan kamu hina orangnya!" Jawab Dika.
"Aku gak merasa hina siapa-siapa, setau aku yang sering melakukan perjodohan itu adalah para orang tua kurang kerjaan dan pikiran, mereka merasa lebih tau segalanya tentang anak mereka sampai dengan mudahnya mereka mencari pasangan untuk anaknya, apa kakak pernah bertanya sama Om Adam, apa dia bahagia sama ibu kakak, atau hanya terpaksa karena orang tua? Maaf kak, aku balik duluan, gak usah kakak antar!" Ucap Rara berdiri dari duduknya, Rara meninggalkan Dika yang terpaku memikirkan ucapan Rara yang sangat menohok baginya.
--------
Like....
Komen....
Vote...
salam kenal dari pengisi suara novel ini 😊😊