Menjalani kehidupan yang cukup sulit akibat terlilit hutang-hutang ayahnya membuat Diva terkadang ingin merasakan bagaimana enaknya menjadi orang kaya. Namun siapa sangka, suatu kejadian yang menimpanya membuat jiwa Diva terjebak dalam raga orang lain, sehingga gadis itu menyadari bahwa tidak semua orang yang terlahir kaya bisa menikmati hidupnya. Semua manusia pasti tercipta dengan sifat dan ujian yang berbeda-beda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
"Baiklah. Aku bersedia." balas Elio setelah cukup lama berpikir.
Diva bernapas lega mendengar kesediaan Elio.
Kondisi pasien saat ini kritis, detak jantungnya pun semakin melemah. Sudah berbagai macam tindakan medis yang dilakukan namun hasilnya tetap sama, tidak banyak perkembangan. Dokter mempersilahkan anggota keluarga bergantian masuk ke dalam ruangan ICU untuk melihat kondisi pasien. Setelah ibunya Diva dan Rika, kini giliran Diva dan Elio yang masuk untuk menjenguk.
Elio berdiri di samping bed pasien seraya menatap wajah wanita cantik yang kini terlihat pucat seperti tidak dialiri da-rah. Tak lama kemudian, Elio beralih menatap istrinya yang nampak merunduk, seperti ingin membisikkan sesuatu ke telinga wanita yang diakuinya sebagai sahabat tersebut.
"Jika benar jiwamu yang kini terjebak di dalam ragaku ini, Calista, aku yakin saat ini kau pasti mendengarku." Elio tak dapat mendengar kalimat yang dibisikkan oleh Istrinya, namun yang dapat dilihat dengan jelas oleh Elio, istrinya berurai air mata.
"Mungkin kamu sedang menunggu kedatangan suami yang sangat kamu cintai dan hari ini aku membawanya ke sini untuk menemuimu. Aku berharap kamu tidak membenciku karena tidak dapat berbuat banyak, terlebih mengakui sesuatu yang pastinya akan dianggap lelucon oleh tuan Elio. Sungguh, tidak sedikitpun terbesit dibenak ku untuk merebut Pria mu, Calista. Aku juga berat menjalani semua ini. Semua ini bahkan terasa jauh lebih berat bagiku ketimbang menjalani kehidupanku sebelumnya yang harus bekerja siang dan malam demi menghasilkan recehan untuk menyambung hidup." Air mata Diva semakin laju berlinang membasahi pipi.
Diva memberi sedikit jarak ketika menyadari air mata Calista yang menetes dari sudut matanya. Diva yakin, Calista dapat mendengar semua ucapannya.
"Mas...."
"Hm."
"Bolehkah mas menggenggam tangan Diva walau hanya sebentar saja!." Pinta Diva dengan berurai airmata. Seharusnya Elio menolak, tapi kenyataannya ia malah mengangguk kemudian mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan wanita yang menurut kasat mata adalah wanita asing baginya.
"Dokter....." Diva berteriak histeris ketika monitor pendeteksi irama jantung milik Calista tiba-tiba mengeluarkan bunyi panjang dan layar monitor pun berubah lurus seketika.
Tim dokter memasuki ruangan. Diva memberi ruang kepada dokter untuk melakukan tugasnya dengan leluasa.
"Apa yang terjadi, dok?." Diva mendesak saat melihat tim medis yang memeriksa kondisi Calista kompak tertunduk.
"Kami sudah berupaya melakukan yang terbaik bagi pasien, tapi sepertinya Tuhan berkehendak lain. Nona Diva telah meninggal dunia."
Tubuh Diva langsung luruh ke lantai dan tangisnya pun pecah tak tertahankan.
"Sayang...." Elio berjongkok di lantai, memeluk wanita yang dianggapnya sebagai istri, sedangkan faktanya wanita yang baru saja menghembuskan napas terakhirnya tersebut adalah istrinya, Calista.
Ternyata kerinduan terhadap sang suami yang membuat jiwa Calista mampu bertahan selama ini, hingga akhirnya ia bisa berpulang dengan tenang setelah merasakan genggaman tangan sang suami untuk terakhir kalinya.
Tak lama berselang, Rika memasuki ruangan. Menyadari keberadaan Rika, Diva langsung memeluk satu-satunya orang yang mengetahui kebenaran tentang dirinya tersebut.
"Rika.....hiks...hiks...hiks..." Diva menangis tersedu-sedu. Jangankan orang lain, ibunya Diva saja sampai penasaran dengan kedekatan putrinya dengan wanita bernama Calista itu mengingat bagaimana sedihnya wanita itu ketika dokter menyatakan bahwa Diva telah meninggal dunia. Sebagai seorang ibu, wanita itu bahkan sudah ikhlas melepas kepergian putrinya untuk selamanya ketimbang melihat putrinya terus menderita dengan berbagai macam alat medis yang terpasang pada tubuhnya.
Rika memberi pelukan hangat untuk sahabatnya itu tanpa banyak berkata-kata, paham dengan perasaan Diva saat ini. Wanita itu terjebak di raga orang lain dan sampai kapanpun tidak akan pernah lagi bisa kembali ke raganya yang sesungguhnya.
*
Kini raga kaku Diva sudah berada di kontrakan orang tuanya. Diva melihat siapa yang menangisi kepergiannya dan siapa yang malah sebaliknya. Sang ayah, dialah orang yang justru tidak terlihat sedih sedikitpun ketika mendengar kabar bahwa putrinya telah pergi untuk selama-lamanya. Pria itu justru menyalahkan Diva sudah pergi untuk selamanya di saat belum bisa membalas jasanya dalam merawat dan membesarkan hingga dewasa. Bahkan, pria itu sempat menolak jenazah putrinya di bawa kembali ke kontrakan mereka dengan alasan hanya merepotkan saja. Sikap ayahnya tersebut sanggup melenyapkan sisa kasih sayang dihati Diva untuk pria itu. Kini Diva menganggap dirinya tidak lagi memiliki seorang ayah dalam hidupnya.
"Jangan terus-menerus menangis seperti ini Diva! Aku tahu ini sangat berat bagimu, tapi apa salahnya menganggap semua kejadian ini sebagai jalan takdir untuk merubah nasibmu menjadi lebih baik." Rika berujar lirih pada Diva. "Lagipula, aku yakin nyonya Calista adalah orang baik. Beliau pasti malah bersyukur bila kamu merawat suami dan putranya dengan baik." lanjut kata Rika.
*
Di saat semua pelayat satu-persatu meninggalkan area pemakaman, Diva justru masih enggan beranjak dari posisinya. Berjongkok di samping pusara yang bertuliskan nama lengkapnya, Divana Anggraeni binti Eman.
"Bagaimana aku melanjutkan kehidupanku kedepannya nanti dengan raga ini, Calista? Apa aku akan sanggup menjalani sisa hidupku sebagai seorang Divana Calista, karena kini raga Divana Anggraeni telah terkubur bersamamu." Batin Diva sambil mengusap namanya yang terukir di pusara.
"Sayang...." Panggilan sayang yang terucap dari mulut Elio sama sekali tak mampu menghapus kesedihan dihati Diva, mengingat panggilan tersebut bukanlah untuk dirinya melainkan untuk seorang Calista.
"Hari sudah hampir petang sebaiknya kita segera meninggalkan tempat ini, Sayang!." Elio menuntun istrinya agar bangkit dari posisinya, bersimpuh di samping pusara.
Setelah dari area pemakaman, Diva, Elio dan juga Rika kembali ke kontrakan orang tua Diva untuk melakukan pembacaan doa sebelum kembali ke kota J.
Usai pembacaan doa, Diva mendekat pada ibunya yang tengah duduk bersila di atas karpet ruang tamu kontrakan yang berukuran minimalis.
"Ada apa, nak?." Ibu menatap pada Diva.
"Boleh aku berbaring dipangkuan ibu sebentar?." Pinta Diva dengan bola mata berkaca-kaca.
"Tentu saja, nak." Ibu menepuk pangkuannya, mempersilahkan Diva untuk membaringkan kepalanya di sana.
"Setelah Diva tiada, apa aku masih diperbolehkan main ke sini lagi, Bu?."
"Tentu saja, nak. Kamu boleh datang ke sini kapan saja!."
Di ruang tamu hanya tersisa Ibu, Diva serta Rika, sementara yang lain sedang sibuk dengan urusannya masing-masing, termasuk Elio yang kini sedang sibuk mengobrol dengan seseorang melalui sambungan telepon.
Diva bangkit dari posisinya kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
"Apa ini, nak?."
"Ini buat ibu." Diva menyerahkan sebuah ATM ke tangan ibunya.
"Tapi nak, ibu tidak bisa menerimanya." Walaupun kehidupan ekonominya terbilang sulit, namun ibunya Diva merasa berat menerima pemberian orang lain walaupun orang tersebut merupakan sahabat baik putrinya.
"Jika ibu sayang pada putri ibu, Diva, maka tolong diterima pemberian aku ini, Bu!." Karena Diva terus memaksa pada akhirnya ibu menerimanya.
"Terima kasih banyak, nak Calista. Ibu tidak akan sanggup membalas kebaikan nak Calista, tapi ibu akan selalu berdoa untuk kebaikan dan kebahagiaan nak Calista." Ibu mengusap lembut puncak kepala Diva dan hal itu sontak membuat Diva memejamkan mata, menikmati usapan lembut ibunya.
Real ya pelakor banyak gak sadar diri dan gak tau posisi...🤣🤣🤣🤣