"Bagi dunia, aku anak dari sahabatnya. Bagi hatiku, dia pria yang harus kumiliki."
Aluna (20 tahun) menyembunyikan cinta rahasia pada Marko Janitra (45 tahun), sahabat karib ayahnya sekaligus CEO dingin Janitra Group. Demi mendekat, Aluna nekat magang di kantor Marko.
Marko membentengi diri rapat-rapat demi etika dan persahabatan. Namun di antara perbedaan usia 25 tahun dan godaan manis sang anak sahabat, sanggupkah benteng dingin sang CEO bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.J Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Panas Dingin Prasangka
Layar ponsel Luna terus menyala
terang, menampilkan panggilan video dari nama Om Marko. Jantungnya
berdegup kencang seraya menatap tombol hijau yang terus bergetar. Tapi bukannya
menggeser layar untuk menjawab, Luna justru membalikkan ponselnya ke atas kasur
dan menutupi wajahnya dengan bantal.
"Gak usah sok perhatian,"
gumam Luna sengit dengan suara serak. "Paling mau dimarahin gara-gara chat
tadi."
Di Semarang, Marko menatap layarnya
yang kembali meredup karena panggilan tak dijawab. Pria itu menghela napas
panjang, baru saja hendak mengetik pesan balasan saat Jessi mendadak muncul dan
menarik lengannya.
"Ko, ayolah! Sebelum besok pagi
gue balik ke Jakarta, anterin gue keliling Semarang dulu dong. Gue mau
kulineran malam di jalan Pahlawan!" rengek Jessi sambil tersenyum manja.
Marko menatap Jessi dengan raut
lelah. "Jessi, ini udah malam. Besok pagi saya juga ada agenda rapat
lagi."
"Bentar aja, Ko. Please? Kan
gue udah ke sini nemenin lu," bujuk Jessi lagi, tidak menyerah.
Marko mengusap tengkuknya, merasa
tak punya alasan yang cukup kuat untuk menolak tanpa terlihat kasar. "Ya
udah, sebentar aja. Jangan kemalaman."
Sepanjang malam itu, Jessi tak
melewatkan satu momen pun. Dari makan tahu gimbal, nongkrong di kafe, sampai jalan
santai di Simpang Lima, semuanya diabadikan Jessi di Instagram Story miliknya.
Foto-foto itu diunggah dengan Caption manis yang ambigu, membuat siapa
pun yang melihat yakin kalau mereka berdua punya hubungan spesial.
Keesokan harinya di kantor Janitra Group,
suasana kantin dan koridor divisi langsung geger. Foto-foto liburan Marko dan
Jessi di Semarang tersebar luas dari satu grup WhatsApp karyawan ke grup
lainnya.
"Tuh kan, bener! Pak Marko sama
Mbak Jessi fix berpacaran. Cocok banget ya, yang satu CEO tampan, yang satu brand
ambassador cantik," celoteh seorang staf magang di pantry.
Luna yang sedang mengisi botol
minumnya menahan napas. Tangannya mengepal erat, memilih langsung berbalik
tanpa mengambil airnya sampai penuh.
"Lun, pelan-pelan jalannya, ntar
jatuh!" tegur Rania yang setengah berlari mengejarnya sampai ke tangga
darurat.
Begitu pintu tangga darurat
tertutup, Luna langsung menyandarkan badannya ke tembok dan menghembuskan napas
kasar.
"Lun, lu kenapa sih dari pagi
mukanya ditekuk terus?" tanya Rania heran, memegang bahu sahabatnya.
"Gue kesal banget, Ran,"
aku Luna dengan mata berkaca-kaca. "Gue jujur ya... ternyata gue emang
belum bisa lupain Om Marko. Gue udah coba dekat sama Kenan, tapi tetep aja muka
pria tua itu yang selalu ada di otak gue!"
Rania menghela napas panjang.
"Lun, lu kan liat sendiri postingan Mbak Jessi. Lu mau nyiksa diri lu
sampai kapan?"
Luna tidak menjawab. Tangannya
cepat-cepat membuka HP, menunjukkan postingan Instagram Story terbaru milik
Jessi yang baru diunggah satu jam lalu.
Foto itu memperlihatkan Marko yang
berdiri di tepi kolam renang hotel tempatnya menginap. Pria itu hanya
mengenakan celana pendek renang, menampilkan dada bidang serta tubuh kekarnya
yang atletis. Di kolom komentar postingan feed Jessi, ratusan orang memuji
ketampanan Marko.
caption Jessi sederhana tapi memancing spekulasi:
"Morning view in Semarang
before flight back to Jakarta 🌊"
"Tuh, liat!" seru Luna
panik, matanya menatap Rania tajam. "Ini di hotel, Ran! Jam delapan pagi!
Jangan-jangan... mereka tidur sekamar semalaman?!"
Rania melotot, menatap Luna dengan
wajah heran tak percaya. "Lun! Otak lu traveling-nya jauh banget, astaga!
Itu kan kolam renang umum hotel! Lagian ya kali Pak Marko yang kaku begitu mau
tidur sekamar sebelum nikah?"
"Ya bisa aja kan?!" potong
Luna emosi, pikirannya sudah kacau dipenuhi prasangka cemburu. "Mbak Jessi
tuh pinter merayu! Siapa yang bisa tahan coba?"
Rania cuma bisa menggeleng-gelengkan
kepala melihat tingkah sahabatnya yang sudah benar-benar dibodohi oleh rasa
cemburu. "Lu udah gila, Lun. Beneran."
Sore harinya pukul lima, jam kantor
usai. Luna berjalan keluar lobi dengan langkah gontai dan wajah yang masih
cemberut berat.
Kenan yang sudah menunggu di samping
motornya langsung menghampiri Luna. Pemuda itu berkerut dahi melihat perubahan
raut wajah Luna yang jauh berbeda dari kemarin.
"Lun? Kamu kenapa? Ada masalah
di divisi ya?" tanya Kenan lembut, merapikan rambut Luna yang tertiup
angin.
"Nggak ada, Ken. Cuma agak
capek aja," jawab Luna singkat, memaksakan senyum tipis.
Kenan memperhatikan wajah Luna
sejenak, lalu tersenyum hangat. "Muka kamu nggak bisa bohong, Lun. Mending
sore ini kita jalan-jalan dulu yuk? Kita cari es krim terus nongkrong di taman
kota. Biar capek dan kesalnya hilang."
Luna menatap Kenan, merasa bersalah
karena sudah bersikap dingin pada pemuda yang tulus ini. "Boleh deh, Ken.
Makasih ya."
Sebenarnya, Kenan sudah merencanakan
sore ini sejak beberapa hari lalu. Pemuda itu sudah menyiapkannya dengan
matang. Ia berniat mengungkapkan perasaannya secara resmi dan menembak Luna
sore ini di taman.
Mereka pun berkendara membelah
jalanan Jakarta. Kenan membawa Luna ke sebuah taman kota yang rindang dan
tenang. Setelah membelikan dua porsi es krim, Kenan mengajak Luna duduk di
sebuah bangku kayu di bawah pohon besar.
"Gimana? Agak enakan
nggak?" tanya Kenan sambil menyodorkan es krim rasa cokelat favorit Luna.
"Makasih ya, Ken. Kamu tuh
selalu tau cara bikin suasana hati aku mendingan," balas Luna jujur, mulai
bisa tersenyum.
Kenan menatap Luna lekat-lekat.
Pemuda itu mengumpulkan seluruh keberaniannya, lalu menggeser duduknya sedikit
lebih dekat. Jemari Kenan perlahan meraih tangan kiri Luna dan menggenggamnya
hangat.
Luna agak terkejut, menoleh menatap
Kenan. "Ken?"
"Lun..." suara Kenan
terdengar sangat serius dan tulus. "Aku tahu mungkin hubungan kita baru
sebentar. Tapi aku beneran sayang sama kamu, Lun. Aku nggak mau cuma jadi temen
atau sekadar penampung keluh kesah kamu lagi."
Jantung Luna berdebar, bukan karena
jatuh cinta, melainkan karena rasa panik.
"Ken, aku..."
"Aluna," potong Kenan
lembut, menatap lurus ke dalam manik mata Luna. "Kamu mau kan jadi pacar
aku?"
Luna membeku di tempatnya. Kalimat
itu akhirnya keluar dari bibir Kenan. Tenggorokannya terasa menyempit, bingung
harus menjawab apa saat bayangan Marko kembali melintas liar di pikirannya.
Namun, sebelum Luna sempat membuka
mulut untuk menjawab, suara deru mobil yang sangat familier mendadak berhenti
keras di pinggir jalan tepat di depan taman.
Pintu mobil SUV hitam itu terbuka
kasar, dan sosok pria matang berjas gelap melangkah keluar dengan raut wajah
dingin dan tatapan mata menajam lurus ke arah mereka berdua.
Marko Janitra.
Pria itu rupanya baru saja kembali
dari bandara dan tak sengaja melihat mereka dari dalam mobil. Marko melangkah
lebar menghampiri bangku taman, memotong jarak dengan aura intimidasi yang
membuat udara di sekitar mereka seketika membeku.
"Aluna," panggil Marko
dengan suara berat, rendah, dan penuh penekanan, mengabaikan keberadaan Kenan
di sampingnya. "Pulang sekarang. Ayah kamu nyariin."