Dendam akibat pembantaian keluarganya menjadikan Leo Cristian Theodore (18) seorang pembunuh bayaran berdarah dingin sejak usia sepuluh tahun. Namun, hidupnya berubah drastis saat ia menjalankan misi membasmi sebuah keluarga dan menemukan seorang anak perempuan bernama Vellora Zavendra (5thn) bersembunyi di dalam lemari.
Alih-alih merasa takut saat ditodong pistol, Vellora justru memeluk erat Leo dan memohon untuk dibawa pergi karena sebatang kara. Pelukan polos tersebut meruntuhkan pertahanan sang pembunuh bayaran, membuatnya melihat bayangan dirinya sendiri di masa lalu.
Sejak pertemuan dengan gadis kecil itu kini mengubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. PERTAMA SEKOLAH
Sinar matahari pagi menyengat wajah Leo dengan tidak sopan, memaksanya membuka kelopak mata yang terasa seberat jangkar kapal. Pemuda itu terbangun dari tidurnya di atas sofa ruang tamu. Kemejanya kusut masai, dan bau alkohol pekat langsung menyengat hidungnya sendiri. Sambil mengerang pelan, Leo duduk dan memegangi pelipisnya yang berdenyut hebat. Ia berusaha keras mengingat kejadian semalam, namun otaknya terasa kosong, seolah memorinya telah dihapus paksa.
Tiba-tiba, matanya terbelalak. Otaknya menyiagakan alarm darurat. Vellora! Hari pertama sekolah!
Tanpa memedulikan pusing yang mendera, Leo langsung melompat dari sofa bagaikan orang yang baru saja melihat hantu. Ia berlari pontang-panting menyusuri lorong menuju kamarnya.
"Kenapa pagi-pagi begini kau sudah berlari-lari seperti orang kesurupan?" tanya Liam yang baru saja muncul dari lorong dapur, menatap heran tingkah cucu sulungnya yang biasanya berjalan sok elegan itu.
"Tidak ada waktu! Aku harus mengantar Vellora ke sekolah hari ini!" sahut Leo tanpa menoleh, terus berlari terbirit-birit mencari handuk.
Melihat kepanikan itu, Liam hanya bisa tersenyum tipis dan menggelengkan kepala. Ia lalu berjalan santai menuju dapur untuk menyiapkan sarapan, merasa lega melihat tujuan hidup perlahan kembali ke mata cucunya.
Setengah jam kemudian, setelah mandi kilat dan menyemprotkan setengah botol parfum untuk menyamarkan bau dosa semalam, Leo berjalan kaki menggandeng Vellora menuju TK Mentari.
Di tengah jalan, Vellora menatap Leo dengan mata menyipit penuh selidik. "Oh iya, Kakak... kenapa semalam Kakak tidurnya nyenyak sekali di sofa? Terus, Kakak bau banget! Entah bau apa itu, seperti bau tape basi!" pekik Vellora dengan suara nyaring, hidung mungilnya kembang kempis mengingat bau aneh semalam.
Leo tersedak ludahnya sendiri. Wajah sok cool-nya mendadak canggung. "Ehem... i-itu... mungkin karena Kakak lupa mandi kemarin sore sehabis memompa kolam, makanya bau badannya agak aneh," kilah Leo, berusaha mengalihkan pandangan agar tidak bertatapan langsung dengan mata polos gadis kecil itu.
Tak lama berselang, mereka tiba di depan gerbang TK. Vellora melambaikan tangan dengan ceria lalu melangkah masuk ke halaman sekolah. Leo mengawasinya sejenak sebelum berbalik pulang, berniat menunggu jam pulang nanti.
Di dalam kelas, suasana riuh seketika hening saat Bu Kina masuk sambil menggandeng tangan Vellora.
"Halo semua! Hari ini kalian kedatangan teman baru!" seru Bu Kina dengan ceria.
"Siapa itu, Bu Guru?" tanya murid-murid serempak.
Seorang gadis cilik dengan rambut dikepang dua melirik dari mejanya. "Wahhh... imut banget!" gumam Luna pelan dengan mata berbinar.
Vellora melangkah maju dengan percaya diri. "Perkenalkan, namaku Vellora Theodore! Kalian bisa memanggilku Vellora, dan umurku lima tahun!" ujarnya lantang dan penuh semangat.
"Halo, Vell! Aku Luna! Apa kita bisa berteman?" panggil Luna riang dari barisan tengah.
"Tentu saja!" Vellora tersenyum lebar hingga gigi susunya terlihat. Atas arahan Bu Kina, Vellora pun duduk di sebelah Luna. Keduanya langsung asyik mengobrol dan belajar bersama.
Hingga akhirnya, bel istirahat berbunyi nyaring.
Di halaman bermain, seorang bocah laki-laki berambut jabrik mendekati mereka. "Vell, ngomong-ngomong nama belakangmu Theodore, ya? Kalau tidak salah, rumah nenekku ada di dekat kawasan itu. Bukannya rumah di sana bentuknya seperti gubuk kayu yang sudah tua dan lapuk, ya? Ahahahaha!" ejek Kenzi sambil tertawa keras, menunjuk-nunjuk Vellora.
Wajah Vellora seketika memerah karena marah. "Rumahku bukan gubuk tua! Rumahku memang bergaya kuno karena itu desain tradisional Jepang, tahu! Kau tidak usah mengejek rumah Kakek Liam!" pekik Vellora kesal. Karena emosi, tangan mungilnya mendorong dada Kenzi hingga bocah laki-laki itu terjatuh ke tanah berumput.
Merasa dipermalukan, Kenzi mengepalkan tangan dan bangkit berniat memukul Vellora. Namun, sebelum tangannya melayang, Luna sudah lebih dulu menangkap pergelangan tangan bocah itu.
"Heh, Kenzi! Tidak usah nakal, ya! Kebiasaan jahilmu ini selalu saja mengganggu anak-anak baru!" omel Luna dengan suara melengking. Kenzi langsung menciut, karena Luna adalah sepupunya sendiri dan ia selalu takut pada anak perempuan itu.
Takk! Luna mengetuk kepala Kenzi dengan gemas. "Cepat minta maaf pada Vellora!"
Sambil mengusap kepalanya dan memutar bola mata malas, Kenzi bersungut-sungut, "Iya, iya... Vellora, maaf ya."
Jam pelajaran pun usai. Saat waktu pulang tiba, Vellora dengan keras kepala menolak dijemput dengan mobil dan bersikeras ingin berjalan kaki sendiri layaknya anak besar. Dengan langkah gembira, gadis kecil itu berjalan menyusuri trotoar batu bata menuju rumahnya. Ia merasa sangat berani dan mandiri. Namun, di balik rimbunnya pepohonan di seberang jalan, sesosok pemuda tinggi berpakaian kasual berjalan mengendap-endap. Itu Leo. Tuan Muda itu rupanya tak akan pernah benar-benar membiarkan putri kecilnya pulang sendirian tanpa pengawasan ekstra ketat dari jarak jauh.