Update setiap hari!
No copy, cerita saya!
Selamat membaca semua, semoga suka...
Sinopsis :
Maudy, Seorang Sekertaris di Perusahaan besar mendadak tewas setelah Mobilnya tertabrak oleh Mobil pengendara lain. Namun bukannya pergi ke alam baka ia malah bersinggah di tubuh Wanita lain. Ia bahkan kini harus menghadapi kesulitan lantaran ia kembali ke 2 tahun yang lalu dalam tubuh wanita itu, yang bernama Aurora. Saat ia berpikir untuk menyerah dan kembali mati ia pun bertemu dengan wanita di alam mimpinya.
"Tolong aku, Tolong rubah masa depanku yang hancur" Ucapan itu membuat Maudy ketakutan. Ia bahkan tak kenal wanita ini atau siapa dia. Ia mencoba beberapa kali percoba bunuh diri namun selalu gagal dan hingga akhirnya ia menyerah dan memilih untuk tetap bertahan sebagai Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
"Cih, itu dulu, namun tidak dengan sekarang." Ucap seseorang, kepada Aurora.
Langkah Aurora kini terhenti saat mendengar suara itu, suara yang tak asing. Ia kini menatap sekitar, mencoba mencari sumber suara itu.
"Bukannya tadi ada yang berbicara, di mana dia?" Tanya Aurora kepada dirinya sendiri, sebari terus mengamati sekitar.
"Aku di belakangmu Aurora..." Mendengar hal itu, kini Aurora pun berbalik badan.
Betapa terkejutnya ia, saat ternyata, sosok yang berbicara padanya bukanlah manusia. Melainkan jiwa dari pemilik tubuh itu.
"Jiwa, sejak kapan kau kembali?" Tanya Aurora, sebari menatap sekitar.
"Hai, jangan muncul di sini, bagaimana jika ada yang melihatmu, mereka pasti akan bingung. Ok jika bayangan diri ini tidak bisa bergerak bebas, itu tidak akan mengerikan. Namun kau itu seperti hantu ok, jika viral, lalu terkenal. Apa kau mau aku menjadi tambah sibuk? Kau pikir, aku tidak ada waktu selain melakukan hal senarsis itu? Hah, jiwa Aurora?" Cibir Aurora di akhir kalimatnya.
Mendengar ucapan yapping itu, jiwa itu bersedekap, sebari merotasikan matanya malas.
"Dengar dulu! Kau ini benar-benar ya, aku tidak menyangka kau akan secerewet ini." Ujar jiwa itu, sebari memegang kepalanya pening.
Aurora kembali menatap sekitar, ia sedikit mundur, mengecek lorong sebelah kiri, lalu ia pergi ke kanan. Lalu merasa lega saat ia tahu lorong itu benar-benar kosong.
Setelah memastikan benar-benar aman, kini wanita itu kembali lagi, ke tempat semula ia berdiri.
"Ok, sudah aman."
Jiwa itu hanya bisa menepuk jidatnya pasrah, ia sempat berpikir bahwa orang yang kini tengah berada di tubuhnya adalah orang yang tepat. Namun sepertinya, kini ia salah.
"Sudahlah, jangan banyak bicara lagi kau Rora, lihat saja jam di tanganmu!" Wanita itu pun benar-benar mengikuti ucapannya, ia melihat jam di tangannya, lalu menunjukkannya kepada lawan bicaranya.
"Lihat, kau menemuiku hanya untuk menanyakan jam? Apa segabut itu menjadi arwah sampai jam mati pun kau terus menyuruhku untuk...eh..." Ucapan Aurora terhenti, ia kemudian mengambil ponselnya, dan benar saja. Jam itu kembali stuck di angka 12.
"Apa ini?" Aurora yang tak mau percaya, kini berlari menyusuri lorong, mencari ruangan yang memang ada orang di dalamnya.
Langkahnya kemudian terhenti, saat ia membaca di atas papan nama ruangan itu, tertuliskan, HRD STAF.
Tanpa basa-basi, wanita itu pun langsung masuk, dan benar saja, lagi dan lagi, waktu kembali terhenti. Ada yang tengah mengetik, tangannya mengambang. Ada yang tengah mengobrol, dan mereka masih tetap dengan gerak wajah yang seperti itu. Terus, tanpa berubah. Dan masih banyak lagi yang lain.
"Apa-apaan ini? Mengapa mereka semua hanya diam di satu tempat? Apa ini artinya, jika waktu terhenti, maka semua orang?"
"Akhirnya kau sadar."
"Astaga terkejut aku." Bagaimana tidak, saat ia menoleh, pantulan kaca sudah memperlihatkan bayangan dirinya yang mampu bergerak dengan sendirinya.
"Mereka memang tidak bisa bergerak, aku tahu karena saat kau pergi tadi, aku sempat pergi ruang klinik kantor, para petugas di sana juga sama." Aurora pun mengangguk paham.
Dengan mata yang berbinar, kini Aurora mendekati kaca itu dan menunjukkan puppy eyes.
"Jiwa Rora yang cantik, apa tidak bisa kita bertukar tempat, aku juga ingin merasakan jadi hantu sepertimu? Ya ya..."
"Sudahlah, kau ini jangan melantur! Kita tidak punya banyak waktu. Seperti semalam, aku akan langsung menghilang setelah ini."
Aurora yang mendengar hal itu pun kini bingung, "Dari mana kau tahu, kau akan menghilang." Mendengar pertanyaan dari Aurora, jiwa itu kini langsung diam menunduk.
"Hai, kenapa kau hanya diam?"
Jiwa itu menghela napasnya kasar, "Karena selama ini aku mengikutimu, ya walau terkadang aku pergi ke tempat lain, namun saat waktu kembali berdetak, kau tak bisa melihatku Aurora, meskipun aku berteriak puluhan kali."
Kemarin malam....
"Hai, jiwa, di mana kau? Hai jangan pergi dulu! Aku mohon padamu!" Aurora mengetuk cermin berkali-kali namun jiwa itu tak muncul.
"Aurora, dengar aku! Aku mohon, aku berteman dengan Anne. Kamu sudah bersahabat sejak dulu, kau harus hati-hati padanya!" Jiwa itu mencoba menjelaskan, namun semua itu percuma, komunikasi di antara mereka langsung terputus.
"Rora, aku mohon, dengar aku!" Jiwa itu kini terdiam, saat ia melihat Aurora telah pergi menjauh darinya.
"Ini semua percuma, aku tak bisa melakukan apapun."
Jiwa itu ingin bicara, namun apa pun yang ia lakukan hanya akan percuma.
***
Setelah mendapatkan penjelasan dari jiwa itu, kini akhirnya Aurora pun paham. "Pantas saja semalam kau langsung menghilang, ternyata memang aku yang tidak bisa melihatmu." Jiwa itu pun mengangguk, menanggapi ucapan Aurora.
"Rora, aku sudah mengamati semuanya sejak tadi. Kau harus bisa menyesuaikan lingkungan, kau bisa membuat semua orang curiga dengan tingkahmu, bersikaplah yang normal ok. Yang mengalami semua itu aku, bukan kau."
Jiwa itu ada benarnya, Aurora menunjukkan gelagat aneh, sehingga membuat semua orang melihat perubahannya jadi merasa aneh.
"Hai, ini soal kemanusiaan, kau tahu, setiap aku tertidur dan selalu ingatanmu yang terputar di mimpi itu, kau tahu bagaimana perasaanku? Ini menyakitkan, meskipun kau yang terluka, aku tetap tidak bisa menerima ini. Mereka sudah kelewatan."
Jiwa itu tak menanggapi Aurora, ia hanya mendengarkan, sebari bersedekap, dan sesekali merotasikan matanya malas.
"Cukup ya Rora, kau mau sampai kapan terus-terusan berbicara melantur seperti itu? Dengar ya, aku bahkan sudah tidak mau lagi mengingat hal itu, kau jangan membuat lukaku terbuka lagi, atau aku enggan menemuimu."
"Ya sudah, kau saja yang kembali ke tubuhmu, biarkan aku yang bergentayangan menghantui semua orang, lagian memang sejak awal aku yang mati, bukan kau."
Mendengar hal itu, jiwa itu semakin menunjukkan raut wajah tertekuk. "Jika aku bisa, sudah ku hempas kau sejak awal, keluar dari tubuhku."
Aurora kini teringat akan waktunya, mereka tak mempunyai banyak lagi untuk tetap mengobrol selepas ini. "Jiwa, cepatlah, kau ingin bicara apa?"
"Dengar ya Aurora, aku serius! Kali ini, jangan menyela pembicaraan."
"Ya, ya, ya baiklah."
"Aku ingin kau menyesuaikan keadaan, dengan masa yang sekarang, agar tidak di curigai, kau benar-benar harus bisa sempurna menjadi aku."
Aurora pun mengangguk, "Hem, ada benarnya juga."
Jiwa itu, kini kembali melanjutkan ucapannya. "Kau harus ingat ini, di masa yang sekarang, Anne adalah sahabat baikmu, kau menganggapnya seperti saudara kandung, seperti kakak perempuan dan satu-satunya sahabat yang benar-benar dekat denganmu."
Mendengar hal itu, Aurora langsung melotot, "Cih, jika bukan karena terpaksa, aku enggan baik padanya. Dia saja sudah buat aku dan Jordan jadi salah paham." Ucapnya dalam hati.
"Lalu soal Kris, aku rasa hubungannya dengan Anne belum terjadi pada masa ini, jika kau sampai salah langkah, maka semua akan kau."
Aurora kini teringat pada Kris, "O iya, aku ingin berbicara sesuatu padamu. Di mana Kris bisa mendapatkan senjata api itu. Hari ini aku ke lapas, namun seseorang sudah membebaskannya. Aku rasa, orang yang membebaskannya adalah Kris." Ucapan Aurora, mampu membuat jiwa itu tampak tegang, raut wajahnya tampak ketakutan.
"Apa kau bilang? Jadi? Dia..."
Aurora mengangguk. Aurora pasti tak akan menyangka bagaimana respons jiwa itu akan terjadi, ia kacau, rapuh, dan terus diam, meskipun Aurora memanggilnya beberapa kali.
"Jiwa..., jiwa..., kau dengar aku!"
Jiwa itu kembali menghilang, kini hanya ada bayangan Aurora pada kaca itu. Aurora menggerakkan tangannya, dan bayangan itu pun mengikutinya.
Setelah ia tahu bahwa jiwa itu tak benar-benar pergi, wanita itu pun memberikan janji padanya. "Tenanglah jiwa, aku janji, aku akan mencari pengedar itu, untuk tetap memastikan keluargamu tetap aman."
Jiwa itu pun tersenyum. "Maudy, bagaimana kau bisa sebaik ini, aku tidak seharusnya menyeretmu dalam masalahku."
Semuanya telah kembali, orang-orang yang semula hanya diam, kini telah kembali seperti sedia kala. Jam dinding kembali berdetak, waktu telah kembali seperti sedia kala.
"Astaga, mengapa kepalaku pusing."
"Aku tadi mau apa ya?" Ucap beberapa staf yang tiba-tiba saja menjadi linglung.
Salah seorang staf HRD kini memergoki Aurora, ia kemudian menghampirinya.
"Nona Aurora, sejak kapan kau datang ke mari? senang sekali bisa melihatmu lagi, apa kau sudah sembuh, semua orang bilang, katanya kau sedang sakit." Ucap Staf itu.
Aurora tak akan bertingkah konyol lagi seperti sebelumnya dan panik, ia mulai lebih stabil. Ia sempat berpikir sejenak, menatap papan nama staf pria itu yang berada tepat di saku kemejanya.
"O Hai Pak Vian, senang juga bisa bertemu denganmu. Aku sehat, aku sama sekali tidak apa-apa, tenang saja, semua aman. Kalau kau? Bagaimana?"
Pak Vian menganggapi ucapannya, kini mereka berbincang dan semua terlihat normal, aman dan terkendali.
"Kau benar-benar berhasil Aurora, tenanglah, harus tetap tenang, dan fokus." Batinnya.
BERSAMBUNG