Ardila gadis yang selama ini mendapatkan pilih kasih dari keluarganya, harus kembali berhadapan dengan sang kakak ketika dirinya telah berumah tangga.
Sang kakak mengambil dan berselingkuh dengan suami yang begitu dia cintai
Mampukah dia melewati badai dari semua permasalahan yang tengah menghimpitnua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga Benalu Datang
Perawat menyerahkan amplop coklat itu ke tangan Naya.
Tangan Naya gemetar hebat. Raka dan Arka menahan napas di belakangnya.
Naya membuka lipatannya pelan-pelan.
*HASIL LABORATORIUM*
*Nama: Naya Azzahra*
*Pemeriksaan: VDRL / TPHA (Sifilis)*
*Hasil: NEGATIF / NON-REAKTIF*
Naya terduduk lemas di kursi. Air matanya tumpah, tapi kali ini lega.
Negatif. Dia bersih.
"Nay, gimana?" Raka panik.
Naya menunjukkan kertas itu sambil menangis. "Negatif, Rak... aku negatif..."
Raka langsung memeluk kepala Naya. "Alhamdulillah... Ya Allah, alhamdulillah..."
Arka menghela napas panjang, lega yang luar biasa. Ia menepuk bahu Naya pelan. "Bagus. Kamu aman."
Tapi kelegaan itu hanya bertahan 10 detik.
Karena dari ujung koridor lab, terdengar suara teriakan melengking yang sangat dikenal Naya.
"MANA MENANTU DURHAKAKU ITU? MANA NAYA? KELUAR KAMU!"
Ibu Lastri. Ibu kandung Bimo.
Di belakangnya, ada seorang gadis remaja dengan seragam kampus yang kedodoran dan tas bermerek, dan juga gadis berseragam SMA serta seorang pemuda kurus dengan topi yang menutupi wajahnya.
Itu, Tari, Sari dan Bagas. Adik-adik Bimo.
Satu keluarga benalu lengkap datang ke rumah sakit.
Lastri melihat Naya dan langsung ngibrit dengan daster batiknya yang bau minyak goreng.
"Dasar perempuan mandul pembawa sial! Gara-gara kamu, anak saya Bimo jadi begini! Gara-gara kamu usir kami dari apartemen, sekarang Diandra keguguran! Kamu puas?"
Semua pasien di ruang tunggu lab menatap mereka.
Arka langsung berdiri dan menghalangi Lastri. "Ibu, ini rumah sakit. Jangan teriak."
Lastri menatap Arka dari atas sampai bawah. "Kamu siapa? Selingkuhan baru Naya? Pantes Naya berani cerai, ternyata udah ada brondong kaya!"
"Jaga mulut Ibu!" bentak Raka.
Tari, adik Bimo yang paling kecil, malah langsung menarik lengan Naya dan menangis.
"Kak Naya... Kak, maafin Bimo ya, Kak... Jangan ceraiin Bimo, Kak... Kalau Kak Naya ceraiin Bimo, siapa yang bayarin sekolah Sari? Siapa yang bayarin kontrakan Ibu? Bimo bilang kalau cerai, Kakak gak akan kasih uang lagi..."
Bagas, adik keduanya, menunduk. "Kak, tolong... kami gak punya uang buat makan minggu ini. Bimo bilang uangnya abis buat bayar utang pinjol. Ibu disuruh nagih ke Kakak..."
Naya menatap dua anak itu. Hatinya hancur.
Selama 3 tahun menikah, memang Naya yang membiayai semua. Uang sekolah Sari, uang rokok Bagas, uang jajan Lastri. Karena Bimo selalu bilang, "Kasihan Ibu, Nay. Bapak sudah tidak bekerja. Kita harus berbakti."
Ternyata berbakti itu dijadikan senjata untuk memeras.
Naya berlutut dan memeluk Sari.
"Sari... Bagas... bukan Kakak yang ninggalin kalian. Tapi abang kalian yang khianatin Kakak. Abang kalian tidur sama kakak Kakak sendiri. Abang kalian bawa penyakit kotor."
Sari terisak. "Sari tau, Kak... Sari sering liat Kak Diandra datang ke apartemen Kakak waktu Kakak kerja... Sari mau bilang, tapi diancam kak Bimo..."
Tari yang mendengar itu langsung menjambak rambut sang adik dengan kesal
"Diam kamu anak kecil! Jangan ngarang! Kamu bela siapa? Bela pelakor itu?"
"LEPAS!" Naya mendorong Tari hingga Tari hampir jatuh.
"Cukup! Cukup semua!" Adam, ayah Naya, yang baru datang bersama Rahayu, berteriak. Adam sudah tidak tahan melihat drama keluarga Bimo.
"Bu Lastri! Anak Ibu selingkuh sama anak saya yang paling tua! Anak Ibu bawa penyakit kotor sampai anak saya yang tua keguguran! Dan Ibu masih berani nagih uang ke anak saya yang sudah diselingkuhi? Di mana otak Ibu?"
Lastri tidak mau kalah. "Lha anak Bapak juga mandul! Makanya Bimo cari yang subur! Salah Naya sendiri gak bisa kasih anak!"
Kata "mandul" itu lagi.
Naya sudah sangat muak mendengar kata itu.
Ia berdiri, menatap Lastri, Sari, dan Bagas bergantian.
"Baik. Ibu mau uang? Ini saya kasih uang terakhir."
Naya membuka dompetnya dan mengeluarkan dua lembar uang seratus ribu. Ia berikan ke Sari.
"Ini buat Sari dan Bagas makan hari ini. Bukan dari Bimo, tapi dari Kakak. Karena Kakak kasihan sama kalian."
Lalu ia menatap Lastri dengan tatapan paling dingin yang pernah ia punya.
"Tapi mulai besok, jangan pernah hubungi saya lagi. Nomor saya ganti. Rekening yang biasa Ibu pakai buat narik uang saya, sudah saya blokir tadi pagi. Silakan Ibu minta uang sama menantu kesayangan Ibu yang baru, Diandra. Yang lagi kena sifilis itu. Cocok kan? Sama-sama kotor."
Lastri membelalak. "Kamu... kamu blokir rekening? Kurang ajar! Uang itu hak Bimo! Harta bersama!"
"Harta bersama pala lo!" Arka yang dari tadi diam akhirnya bersuara. Suaranya tenang tapi mematikan. "Saya sudah cek, Bu. Naya yang transfer tiap bulan, bukan Bimo yang kasih nafkah. Secara hukum itu bukan nafkah, itu pemberian sukarela. Dan pemberian sukarela bisa dihentikan kapan saja. Kalau Ibu tidak pergi sekarang, saya panggil security dan saya laporkan pemerasan."
Lastri ciut melihat Arka. Apalagi melihat dua security rumah sakit yang sudah dipanggil Raka.
"Bagas! Sari! Tari! Ayo pulang! Kita tidak butuh pengemis ini!" Lastri menyeret kedua anaknya.
Sari menatap Naya dengan mata penuh maaf. "Maaf ya, Kak Naya... makasih..."
Mereka pergi.
Tinggal Naya, Raka, Arka, Adam, dan Rahayu di koridor yang berantakan.
Rahayu memeluk Naya. "Maafkan Ibu, Nak... Ibu baru tau Diandra separah itu..."
Adam menatap Arka dan Raka. "Nak Arka, Nak Raka... terima kasih sudah jaga Naya."
Naya menatap hasil lab negatif di tangannya. Ia selamat. Tapi luka di hatinya masih menganga.
Tiba-tiba HP Arka berdering. Pengacaranya.
"Halo? Ya... apa? Serius? Oke, saya kesana sekarang."
Arka menutup telepon dan menatap Naya dengan wajah serius.
"Nay, pengacara gue baru dapet info. Bimo tadi pagi diam-diam daftarin gugatan balik. Dia gugat harta bersama. Dia minta apartemen lo dibagi dua. Dan dia bawa bukti... bukti kwitansi palsu yang katanya dia ikut bayar DP apartemen 200 juta."
Naya membelalak. "PALSU! Dia gak pernah bayar sepeserpun! DP itu dari tabungan aku kerja 5 tahun!"
"Gue tau itu palsu," kata Arka. "Tapi kalau hakim percaya? Lo bisa kehilangan setengah apartemen lo, Nay. 1 Milyar lebih."
Raka mengepalkan tangan. "Anjing emang Bimo! Udah selingkuh, bawa penyakit, masih mau rampok harta!"
Naya terduduk lagi. Baru saja ia merasa lega karena hasil lab negatif dan berhasil mengusir keluarga benalu itu, sekarang ada masalah baru yang lebih besar.
Arka berjongkok di depan Naya.
"Tapi ada satu cara buat buktiin kwitansi itu palsu, Nay. Kita butuh saksi. Saksi yang liat lo bayar DP itu dulu. Dan saksi itu..."
Arka menatap Adam.
"Om Adam. Om kan yang dulu nemenin Naya bayar DP apartemen itu di marketing gallery, kan? Om masih ingat?"
Semua mata kini tertuju pada Adam. Ayah yang selama ini selalu membela Diandra dan menyalahkan Naya.
Apakah Adam akan mau menjadi saksi untuk anak yang selama ini ia sakiti?
Adam menatap Naya, lalu menatap map bukti-bukti di tangan Naya, lalu menunduk.
"Ayah... Ayah..."
*Bersambung...*
semoga dpt jodoh yg bner bner baik ya, gk kayak Raka Dan Arka.
mending yg kaya sekalian kn 😁
Bimo juga bukan orang kaya selingkuh juga kan😄🤣.
jgn nyerah ya nay...
salam kenal