**AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU**
Aku pernah mencintai seorang pria sampai rela kehilangan diriku sendiri.
Aku percaya pada suamiku.
Aku percaya pada sahabatku.
Aku bahkan percaya pada keluargaku sendiri.
Ternyata, merekalah orang-orang yang menghancurkanku.
Malam itu, aku mengetahui sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah kutemukan.
Dan sebelum aku sempat mengungkap semuanya...
**suamiku sendiri membunuhku.**
Aku pikir kematian adalah akhir.
Ternyata, aku mendapatkan kesempatan kedua.
Ketika membuka mata, aku kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu—saat aku masih berusia sembilan belas tahun.
Semua orang yang dulu menghancurkanku masih ada.
Suamiku masih belum menjadi suamiku.
Sahabat yang mengkhianatiku masih tersenyum di hadapanku.
Dan adikku yang dulu mati... masih hidup.
Kali ini aku tidak akan menjadi perempuan bodoh yang sama.
Aku tidak akan menikah dengan Ryan Arkana.
Aku tidak akan mempercayai Selena Marvia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAPEI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13- BUNGA HITAM DARI SINGAPURA
Matahari siang merayapi langit Jakarta dengan terik yang memanggang aspal, namun di dalam ruang kerja Direktur Utama di lantai tiga puluh enam Arlena Holding, hawa dingin pendingin sentral terasa begitu menusuk tulang.
Segala perabotan kayu jati berat milik Hendra dan sisa peninggalan era kepemimpinan lama telah disingkirkan sejak tiga jam yang lalu. Para pekerja interior bergerak dalam kebisuan yang disiplin di bawah pengawasan Bastian. Meja kaca hitam beraksen titanium kini menggantikan meja marmer bundar yang penuh abu cerutu, dan di atas permukaannya yang mengilap bagai cermin, tersusun rapi empat buah monitor berlayar lengkung yang menampilkan pergerakan indeks harga saham gabungan serta grafik volume perdagangan obligasi korporasi secara real-time.
Aku duduk di kursi putar berbalut kulit hitam pekat, menatap layar monitor ketiga.
Grafik harga saham Arkana Capital terjun bebas dalam kurun waktu empat jam perdagangan. Garis merah menukik tajam menembus batas bawah auto-rejection (ARB). Di sudut kiri bawah, angka antrean jual menumpuk hingga jutaan lot tanpa ada satu pun pihak yang bersedia menampungnya. Pasar bursa telah mencium bau darah bangkai dinasti Arkana. Bank-bank BUMN dan kreditor swasta serentak menerbitkan surat peringatan pertama atas fasilitas pinjaman modal kerja keluarga Darmawan yang terancam macet total.
"Dua puluh empat jam yang lalu, mereka mengira mereka adalah pemilik kota ini," gumamku pelan, menyesap teh melati hangat dari cangkir porselen putih bertatahkan garis emas.
Suara ketukan halus di pintu kaca memecah keheningan.
"Masuk," ucapku tanpa mengalihkan pandangan dari monitor.
Sekretaris baruku—Risa, seorang wanita muda berusia dua puluh tujuh tahun dengan rekam jejak lulusan terbaik sekolah bisnis yang ditarik langsung oleh Adrian dari divisi intelijen pasar Varell Group—melangkah masuk dengan map bersampul beludru hitam di tangannya.
"Nona Besar," sapa Risa dengan nada penuh hormat yang tertata rapi. "Laporan dari Rumah Sakit Pusat Pertamina baru saja masuk melalui saluran terenkripsi. Tuan Muda Ethan sudah dipindahkan ke ruang fisioterapi ringan di sayap barat. Kondisi gegar otak ringannya telah stabil, dan tim trauma ortopedi menyatakan tidak ada kerusakan saraf permanen pada kakinya."
Napas lega yang hangat terlepas dari dadaku. "Siapa saja yang menjaga di luar ruangannya?"
"Delapan pengawal bersenjata dari garnisun khusus Varell, dipimpin langsung oleh Sersan Mayor Hendro. Nyonya Maria Arlena saat ini berada di dalam mendampingi Tuan Muda. Sesuai instruksi Nona, Nyonya Maria tidak diberitahu mengenai insiden sabotase rem mobil; kami hanya menyampaikan bahwa mobil yang dikendarai Ethan mengalami pecah ban di jalan tol."
"Bagus," balasku tenang. "Ibuku memiliki riwayat penyakit jantung koroner. Jangan biarkan racun dari luar mencapai telinganya sampai situasi bursa sepenuhnya terkendali."
"Dimengerti, Nona." Risa melangkah maju satu tapak, lalu meletakkan map beludru hitam itu tepat di hadapanku. Ekspresi wajahnya yang semula tenang mendadak berubah menjadi sangat waspada. "Namun, ada hal lain yang membutuhkan perhatian mendesak Anda. Tiga puluh menit yang lalu, kurir diplomatik dari Kedutaan Besar Singapura mengantarkan paket ini secara langsung ke meja resepsionis lobi utama. Paket ini dialamatkan secara spesifik kepada: Nadia Arlena, Pewaris Tunggal Helena Arlena."
Alisku terangkat tipis. Tanganku menyentuh permukaan map beludru yang dingin itu.
Sebuah aroma samar menguar saat jemariku menyentuh segelnya—campuran aroma dupa gaharu tua dan lilin lebah, aroma khas tradisi konglomerasi peranakan lama yang berbasis di kawasan Selat Malaka.
Di sudut kanan atas map, tertera sebuah lambang cap stempel lilin ungu gelap bergambar bunga teratai berkelopak sembilan yang dikelilingi belati bermata ganda.
Konsorsium Sembilan Teratai.
Jantungku berdegup sepersekian detik lebih kencang. Udara di dalam ruangan mendadak terasa begitu tipis bagai di puncak gunung salju.
Di kehidupan pertamaku, nama Konsorsium Sembilan Teratai hanya pernah kudengar dua kali.
Pertama, ketika Ryan berbicara berbisik di telepon larut malam dengan suara yang dipenuhi ketakutan dan penghambaan yang luar biasa, berjanji bahwa 'saham Arlena Holding akan segera diserahkan kepada Tuan Besar di Singapura'.
Dan kedua... tepat sebelum pisau Ryan menembus dadaku di apartemen lantai tiga puluh dua, ketika ia bergumam di balik masker hitamnya: 'Sembilan Teratai tidak menginginkan saksi hidup dari darah Helena.'
Dulu, aku mengira sindikat itu hanyalah legenda urban di kalangan pialang pasar gelap Asia Tenggara. Nyatanya, mereka adalah oligarki bayangan yang menguasai sindikat perbankan lepas pantai, jalur penyelundupan maritim, dan manipulasi politik di tiga negara selama lebih dari empat dekade. Dan mereka... adalah dalang sebenarnya yang memerintahkan pembantaian ibuku dalam insiden kebakaran tahun 1996.
Aku membuka segel lilin ungu itu dengan pisau perak pembuka surat.
Di dalam map, terdapat selembar kertas linen tebal buatan tangan berwarna abu-abu arang. Di atasnya tertulis pesan singkat bertinta perak kaligrafi Tionghoa klasik yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia formal di bawahnya:
"Bunga teratai yang mekar di atas abu masa lalu tidak akan pernah luput dari pandangan sang pemilik kolam.
Menghancurkan anjing penjaga kami di Jakarta—keluarga Arkana dan Marvia—hanyalah bukti bahwa taring darah Helena masih setajam dahulu.
Namun, tanah pelabuhan barat tidak pernah menjadi milik anak perempuan yang belum mengenal aroma mesiu bursa internasional.
Datanglah ke pesta lelang amal Grand Hyatt Hotel malam ini pukul delapan tepat. Bawa serta surat wasiat ibumu, atau saksikan bagaimana sisa anak perusahaan Arlena Holding meledak dari dalam sebelum bursa efek ditutup pekan depan.
Tertanda,
Raymond Zhou (Perwakilan Tetap Konsorsium Sembilan Teratai - Wilayah Asia Tenggara)."
Aku menyandarkan punggungku, menatap baris-baris kalimat bernada ancaman mutlak itu dengan mata menyipit. Ketenangan yang dingin merayapi benakku, menekan segala gejolak kepanikan yang mungkin dirasakan oleh gadis normal seusia sembilan belas tahun.
"Raymond Zhou," gumamku serak.
Sosok pria paruh baya bertongkat perak berkepala serigala terlintas sekilas di dalam memoriku. Di masa depan, pria itu dikenal sebagai 'Sang Algojo Bursa'—bankir investasi berdarah dingin yang bertanggung jawab atas bangkrutnya puluhan perusahaan manufaktur lokal melalui skema pinjaman predator (loan shark syndicate). Di garis waktu lamaku, Raymond Zhou adalah orang yang menandatangani perintah likuidasi aset Arlena Holding setelah kematianku.
Dan kini, karena aku menghancurkan pion-pion mereka lebih cepat sepuluh tahun dari jadwal aslinya, sang algojo terpaksa turun tangan secara langsung ke Jakarta untuk memadamkan api pemberontakanku.
Klek.
Pintu ruang kerja kembali terbuka tanpa peringatan.
Langkah kaki tegap berirama lambat melangkah masuk ke dalam ruangan. Adrian Varell muncul dalam balutan jas wol kasmir berwarna biru midnight, mantel panjangnya tersampir santai di lengan kiri. Rambut hitamnya tersisir rapi ke belakang, dan tatapan matanya yang kelam menyapu seisi ruangan sebelum akhirnya terkunci lurus ke arahku.
Risa segera membungkuk hormat lalu melangkah mundur keluar dari ruangan, menutup pintu kaca buram rapat-rapat di belakangnya.
"Saya mencium aroma dupa dupa kuil tua dari jarak sepuluh meter di lorong luar," suara bariton Adrian berdentum rendah saat ia melangkah menghampiri mejaku. "Rupanya kurir dari Selat Malaka sudah mengetuk pintumu lebih cepat daripada perkiraan analis intelijen saya."
Aku mendorong surat berlambang teratai ungu itu melintasi meja kaca ke arahnya. "Mereka menuntut surat wasiat ibu saya ditukarkan dengan kelangsungan hidup anak perusahaan Arlena Holding di pesta lelang Grand Hyatt malam ini."
Adrian meraih kertas linen itu dengan dua jarinya, membaca baris demi baris ancaman Raymond Zhou tanpa sedikit pun perubahan ekspresi di wajahnya yang sedingin pahatan marmer. Setelah selesai membaca, pria itu mengeluarkan pemantik logam peraknya dari saku celana.
Cklik.
Api biru kecil menyala. Adrian menyulut sudut kertas linen itu tanpa ragu.
Kami berdua terdiam mengamati api melahap lambang teratai berkelopak sembilan itu hingga menjadi abu hitam yang berjatuhan ke dalam asbak kristal di atas meja.
"Kertas sampah dari orang tua yang terlalu lama bersembunyi di balik hukum suaka perbankan Singapura," ucap Adrian datar seraya memadamkan pemantiknya.
"Anda tidak terlihat terkejut melihat nama Raymond Zhou di surat itu, Tuan Varell," kataku sambil menatap tepat ke manik matanya yang tak berdasar. "Apakah Varell Group sudah lama bertransaksi dengan Konsorsium Sembilan Teratai?"
Adrian menarik kursi di hadapanku, lalu duduk dengan gerakan elegan yang sarat kekuasaan. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua sikunya bertumpu di atas meja kaca, memangkas jarak di antara kami hingga aroma kayu cedar dan tembakau dinginnya mendominasi udara.
"Bertransaksi?" Adrian terkekeh rendah—tawa yang begitu dingin dan menusuk. "Tujuh tahun yang lalu, Konsorsium Sembilan Teratai mencoba menelan anak perusahaan perkapalan Varell Group di pelabuhan Batam melalui perang harga tarif kontainer. Ayah saya tewas dalam sebuah kecelakaan helikopter di perairan Kepulauan Riau dua pekan setelah menolak menandatangani konsesi logistik mereka."
DEG.
Darahku berdesir hebat.
Kecelakaan helikopter mendiang pimpinan Varell Group tujuh tahun lalu... yang selama ini dilaporkan oleh media sebagai kegagalan mesin akibat badai tropis... ternyata adalah pembunuhan terencana dari sindikat yang sama.
"Jadi..." bisikku perlahan, menyadari benang merah berdarah yang mengikat kami berdua, "perang ini bukan hanya tentang dendam keluarga saya."
"Ini adalah perang pembersihan tanah kekuasaan, Nadia," sahut Adrian, suaranya mengalun rendah bagai vonis akhir zaman. "Mereka membunuh ibumu karena Helena memegang kunci hak konsesi laut dalam seluruh pesisir barat Nusantara yang menolak dijadikan jalur penyelundupan senjata dan narkotika mereka. Dan mereka membunuh ayah saya karena Varell Group menolak menjadi mesin pencucian uang bagi rekening-rekening gelap pejabat korup mereka di Asia Tenggara."
Adrian menatapku lurus. Di balik tatapan matanya yang sedingin es, ada kobaran api pembalasan dendam yang tak kalah membara dari apa yang kurasakan di dadaku. Kami adalah dua orang pemburu yang dibesarkan oleh abu kehancuran yang sama.
"Malam ini di Grand Hyatt," lanjut Adrian, "Raymond Zhou bukan hanya datang untuk memerasmu. Lelang amal itu adalah kedok tahunan untuk mendistribusikan kuota penyelundupan barang terlarang melalui jalur peti kemas pelabuhan barat. Mereka berencana melelang hak penguasaan dermaga yang baru saja kamu rebut dari Arkana Capital kepada konsorsium asing."
"Atas dasar apa mereka berani melelang aset keluarga saya di depan umum?" desisku tajam dengan amarah yang menggelegak di balik nada tenangku.
"Atas dasar sebuah klausul surat utang konversi senilai enam ratus juta dolar yang ditandatangani oleh Hendra Arlena dan Darmawan Arkana atas nama konsorsium maritim tiga tahun lalu," jawab Adrian seraya melempar sebuah tablet tipis ke atas meja.
Layar tablet menampilkan dokumen pembiayaan sindikasi luar negeri dengan stempel notaris internasional. Di kolom penjamin agunan, tertera cap jempol basah Hendra Arlena yang mengagunkan seluruh sertifikat hak guna bangunan dermaga peti kemas barat kepada sebuah perusahaan investasi cangkang bernama Aegis Maritime Fund yang berkedudukan di British Virgin Islands.
"Hendra dan Darmawan menjual tanah keluarga saya kepada sindikat asing bahkan sebelum tender pelabuhan resmi dibuka oleh kementerian?!" suaraku bergetar menahan murka.
"Tepat," bisik Adrian. "Jika malam ini lelang itu berhasil dimenangkan oleh pihak Raymond Zhou, pengadilan arbitrase internasional di Jenewa akan mengeluarkan penetapan eksekusi sita jaminan atas dermaga barat Arlena Holding dalam kurun waktu empat puluh delapan jam. Seluruh kemenanganmu atas keluarga Arkana pagi tadi akan menguap menjadi debu."
Aku memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk mendinginkan kepalaku.
Inilah Babak Kedua yang sebenarnya. Bukan lagi pertarungan amatir melawan mahasiswa manja seperti Ryan atau wanita cemburu seperti Selena. Ini adalah perang bursa terbuka melawan kartel multinasional yang menggunakan instrumen hukum internasional sebagai senjata pembantaian massal.
Ketika aku membuka mata kembali, tidak ada lagi jejak keraguan di dalam diriku. Hanya ada determinasi mutlak yang siap meruntuhkan langit.
"Berapa harga dasar pembukaan lelang sertifikat dermaga itu malam ini?" tanyaku tegas.
"Delapan triliun rupiah," sahut Adrian tanpa berkedip. "Dan Raymond Zhou telah menyiapkan dana likuiditas sebesar lima belas triliun rupiah melalui lima bank koresponden di Singapura untuk memastikan tidak ada pengusaha lokal yang sanggup menawar melampaui angka mereka."
"Lima belas triliun..." Aku tersenyum tipis. Sebuah senyuman dingin yang mematikan. "Jumlah uang yang sangat mengesankan untuk membeli tanah tumpah darah orang lain."
Aku berdiri dari kursi kepemimpinanku, melangkah menuju brankas baja dinding di balik panel kayu ruang kerja. Dengan sidik jari dan pemindaian retina mata, brankas itu terbuka dengan dengungan hidrolik halus. Dari dalamnya, aku mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam berukuran panjang—kotak pusaka peninggalan Helena Arlena yang diserahkan Ayah kepadaku sesaat setelah rapat dewan komisaris selesai tadi pagi.
Di dalam kotak tersebut, terbaring sebuah cap stempel kuno terbuat dari batu giok hitam bertatahkan emas murni, serta selembar sertifikat saham fisik bernomor seri 0001 dari Bank Sentral Hindia Belanda yang telah dikonversi menjadi kepemilikan cadangan emas fisik di brankas bawah tanah Monas sejak tahun 1968.
"Ibu saya bukan hanya mewariskan enam puluh persen saham Arlena Holding, Tuan Varell," kataku seraya meletakkan kotak pusaka itu di hadapan Adrian. "Sebelum beliau wafat dalam insiden pembakaran itu, ibu saya telah mendaftarkan hak opsi konversi cadangan emas fisik keluarga Arlena sebesar dua puluh ton ke dalam sistem kliring antarbank internasional sebagai penjamin darurat kedaulatan logistik nasional."
Mata hitam Adrian yang biasanya tak pernah menunjukkan emosi, kini melebar tipis karena rasa takjub yang luar biasa.
"Dua puluh ton emas fisik murni..." bisik Adrian serak, menyentuh tepi kotak beludru itu dengan jemarinya yang kokoh. "Nilai pasarnya saat ini melampaui dua puluh dua triliun rupiah di pasar London Bullion."
"Surat opsi konversi ini hanya bisa dicairkan jika ada tanda tangan saya dan cap stempel giok hitam ini," lanjutku dengan tatapan sedingin salju abadi. "Malam ini di Grand Hyatt, kita tidak akan sekadar menghadiri lelang amal Raymond Zhou. Kita akan menenggelamkan sindikat Sembilan Teratai di kolam darah mereka sendiri."
Adrian menatapku lurus selama sepuluh detik yang membeku. Udara di antara kami bergetar hebat oleh resonansi dua jiwa pemangsa yang telah menyatukan kekuatan tempur mereka.
Perlahan, seringai berbahaya yang paling mematikan terbit di bibir sang penguasa Varell Group.
Pria itu bangkit berdiri, tubuhnya yang jangkung menjulang mengintimidasi ruangan. Ia mengulurkan tangan kanannya ke hadapanku—tangan seorang jenderal perang yang siap melangkah ke medan pembantaian.
"Kenakan gaun perang terbaikmu malam ini, Nona Besar Nadia Arlena," bisik Adrian rendah, suaranya bergetar oleh arogansi dan kekuasaan mutlak. "Karena malam ini... kita akan membakar teratai ungu Singapura itu hingga abunya mengotori lantai marmer Grand Hyatt."
Aku menyambut uluran tangannya. Cengkeraman jemari kami bertemu kokoh bagai ikatan besi tempa yang tak terpatahkan.
"Saya sudah memesan gaun berwarna hitam pekat, Tuan Varell," sahutku dengan senyuman paling anggun dan mematikan. "Warna yang sangat cocok untuk menghadiri upacara pemakaman Raymond Zhou dan seluruh anteknya di ibu kota."
Pukul tujuh lewat empat puluh lima menit malam.
Pelataran depan Grand Hyatt Hotel Jakarta dipenuhi ratusan mobil mewah berpelat korps diplomatik, pelat khusus pejabat kementerian, dan deretan supercar para konglomerat generasi kedua. Barisan pengawal bersenjata berjas abu-abu dengan pin teratai ungu kecil di kerah baju menjaga setiap sudut pintu masuk, memeriksa setiap undangan dengan alat pemindai frekuensi radio militer.
Sebuah Rolls-Royce Phantom VIII lapis baja hitam dengan bendera trisula perak di kap mesin meluncur perlahan menembus barikade pengamanan, berhenti tepat di depan tangga karpet merah utama.
Pintu penumpang belakang terbuka.
Sepatu hak tinggi bertabur kristal hitam berketuk mantap di atas karpet merah.
Aku melangkah keluar dari dalam mobil. Gaun malam haute couture berpotongan leher rendah berwarna hitam obsidian membalut tubuh rampingku dengan kesempurnaan yang mematikan. Belahan gaun setinggi paha menyingkap langkah kakiku yang anggun dan tanpa cela. Di leher jenjangku, melingkar kalung berlian hitam peninggalan Helena Arlena yang memantulkan bias cahaya lampu kristal lobi bagai bintang-bintang mati di langit malam. Rambutku disanggul tinggi dengan tusuk konde giok hitam berukir naga kembar.
Di sampingku, Adrian Varell melangkah gagah dalam balutan tuksedo formal hitam legam dengan dasi kupu-kupu sutra arang, memancarkan aura seorang penguasa tertinggi yang tak terbantahkan.
Begitu kami berdua melangkah memasuki ballroom utama di lantai dua, ratusan percakapan para pejabat, duta besar, dan pengusaha papan atas mendadak lenyap seketika.
Ratusan pasang mata menatap ke arah kami dengan keterkejutan, kekaguman, dan ketakutan yang tak tersamarkan. Berita tentang pelantikan daruratku sebagai Direktur Utama Arlena Holding dan kejatuhan keluarga Arkana pagi tadi telah menjadi tajuk utama di seluruh surat kabar petang.
Dan di ujung ballroom, di sebuah meja bundar kehormatan bertaplak sutra ungu, duduk seorang pria tua berambut putih rapi dengan setelan jas bergaya Mao Tse-tung berwarna abu-abu baja. Sebuah tongkat kayu eboni dengan kepala serigala perak bersandar di samping kursinya.
Raymond Zhou.
Di samping pria tua itu, duduk seorang wanita muda dengan wajah pucat pasi dan mata bengkak bekas menangis, mengenakan gaun malam merah yang dipaksakan: Selena Marvia.
Rupanya setelah seluruh aset keluarganya disita kejaksaan sore tadi, Selena telah menjual sisa kehormatan terakhirnya untuk menjadi peliharaan baru di meja Konsorsium Sembilan Teratai demi mencari perlindungan dari hukumanku.
Mata Selena membelalak ngeri saat tatapan kami bertemu di tengah ruangan. Seluruh tubuhnya seketika gemetar hebat bagai melihat malaikat pencabut nyawa yang kembali datang menjemputnya.
Sementara itu, Raymond Zhou meletakkan cangkir teh porselennya dengan gerakan perlahan. Matanya yang sipit dan dingin bagai mata ular beludak menatapku dari atas ke bawah, sebelum akhirnya senyum sinis yang tipis terbit di bibirnya yang keriput.
Palu lelang di atas panggung utama diketuk oleh juru lelang internasional bersertifikat Swiss.
GTOK! GTOK! GTOK!
"Selamat malam, Yang Mulia para tamu undangan," suara juru lelang bergema melalui sistem pelantang suara berteknologi tinggi. "Malam ini, lot utama lelang amal maritim internasional akan segera dibuka: Hak Penguasaan Sertifikat Konsesi Lahan dan Dermaga Peti Kemas Pesisir Barat seluas empat ratus hektare. Penawaran awal dibuka pada angka... Delapan Triliun Rupiah."
Raymond Zhou mengangkat tongkat peraknya sedikit, memberi isyarat kepada asistennya di samping meja untuk mengangkat papan penawar nomor 01.
"Sepuluh Triliun Rupiah dari Konsorsium Sembilan Teratai," seru juru lelang lantang.
Seluruh ruangan menahan napas. Kenaikan dua triliun rupiah dalam satu ketukan pertama adalah unjuk kekuatan finansial yang dirancang untuk membungkam seluruh penawar lokal di dalam ruangan.
Raymond Zhou melirik ke arahku dengan seringai mengejek, matanya seolah berkata: Kembalilah ke kamarmu dan menangislah seperti anak kecil, Nona Arlena.
Namun aku tidak bergeming.
Aku melangkah maju tiga tapak, berdiri tepat di tengah lorong utama ballroom, lalu mengangkat tangan kananku yang mengenakan cincin giok hitam peninggalan ibuku ke udara.
Suaraku mengalun tenang, jernih, namun memiliki kekuatan guncangan yang meremukkan seluruh keheningan ruangan:
"Dua Puluh Triliun Rupiah tunai, dijamin penuh oleh sertifikat cadangan emas Bank Sentral atas nama Nadia Arlena."
DEG.
Hening mutlak menyergap seluruh ballroom Grand Hyatt.
Cangkir teh di tangan Raymond Zhou pecah berantakan di atas meja marmer, air panasnya membasahi jubah mewahnya tanpa ia sadari. Mata tua sang algojo bursa membelalak lebar hingga nyaris keluar dari rongganya, menatap sosokku dengan rasa horor dan ketidakpercayaan yang membakar jiwanya.
Di sampingku, Adrian Varell tersenyum tipis—sebuah senyuman sang kaisar yang menyaksikan musuh bebuyutannya mulai berdarah di langkah pembuka.
Permainan di Babak Kedua ini... baru saja kuhancurkan dalam satu kali ayunan palu lelang.
Bersambung...