NovelToon NovelToon
Hasrat Cinta Sang Pendosa

Hasrat Cinta Sang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:821
Nilai: 5
Nama Author: A_ntalus

"Halo! Makasih udah mampir ke [Hasrat Cinta Sang Pendosa]. Update tiap Hari. Jangan lupa save dan ramaikan kolom komentar ya. Happy reading!"

_________________

Berstatus sebagai istri kontrak dari Oscar—sang penguasa malam yang bengis—seharusnya membuat Anisa aman dari masa lalu.


Namun, An Liu Li datang membawa obsesi buta yang menjungkirbalikkan segalanya.Niat hati ingin menjauh dari konflik, Anisa justru terseret dalam permainan ego dua pria berkuasa yang menolak melepas kepemilikan mereka atas dirinya.


Terjebak dalam pusaran kegilaan ini, siapakah yang akan memenangkan hati Anisa?An Liu Li yang mengejarnya dengan cinta pertama yang destruktif, atau Oscar yang mulai luluh oleh kehadiran sang istri sewaan?

꧁ঔৣ☬HCSP☬ঔৣ꧂

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A_ntalus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

꧁ঔৣ [Chapter 13] ঔৣ꧂

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

Cahaya fajar baru saja merayap tipis melintasi tirai jendela saat Anisa terbangun. Hawa dingin pagi menyapa kulitnya, membawa sensasi asing yang mendadak menghimpit dada. Setelah menunaikan shalat Subuh dan memanjatkan doa-doa pelannya,

Anisa akhirnya melangkah keluar kamar.

Langkah Anisa terhenti di depan pintu utama. Beberapa pengawal bersetelan hitam tampak sibuk memindahkan beberapa koper ke dalam bagasi mobil. Di tengah heningnya pagi, sosok jangkung Oscar berdiri tegap di samping kendaraan.

Tidak ada senyum menggoda, tidak ada binar jahil, dan tidak ada lagi tatapan hangat yang semalam sempat mengikis jarak di antara mereka.

Pria itu kembali membeku.

Anisa memilin ujung baju gamisnya, memberanikan diri mendekat.

"Mas Oscar..." panggilnya halus, nyaris tenggelam oleh deru mesin mobil.

Oscar tak menoleh sedikit pun. Matanya lurus menatap dokumen di tangannya, seolah presensi Anisa hanyalah embun pagi yang menempel di kaca.

"Tuan Oscar sudah memberikan instruksi," potong seorang pengawal pribadi bermuka datar yang berdiri di samping Oscar, memutus interaksi Anisa.

"Selama Tuan pergi tiga hari ke depan, Nyonya tidak diperkenankan keluar dari batas pekarangan utama tanpa pengawalan ketat. Segala kebutuhan Nyonya akan disiapkan oleh pelayan."

Anisa terpaku. Tatapannya tertuju pada rahang Oscar yang mengetat keras.

"Mas... apa saya membuat kesalahan semalam?" tanya Anisa pelan, menyembunyikan getar ragu dalam suaranya. "Kalau ucapan saya—"

"Aku terburu-buru Anisa.jangan sekarang-" potong Oscar singkat. Suaranya datar, tajam, dan tanpa beban emosi sedikit pun. Tanpa memandang Anisa sekilas pun, pria itu memutar tubuhnya dan masuk ke dalam kabin penumpang.

Pintu SUV mahal itu tertutup rapat dengan dentuman padat yang memutus tuntas pandangan mereka.

Mobil itu bergerak perlahan meninggalkan pekarangan, melindas dedaunan kering, dan menghilang di balik gerbang besi yang tinggi. Anisa berdiri membisu di selasar.

Apakah jujur pada posisinya sebagai istri kontrak adalah sebuah kesalahan? Apakah kepolosannya telah melukai harga diri pria itu? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar tanpa jawaban, meracuni benaknya.

Di balik kesadarannya, satu fakta merayap masuk dan menguasai hatinya,ia merasa perubahan telak dari suaminya itu.

.

.

.

.

Setelah perjalanan panjang dan cukup mulus membelah langit dan memeluk jalanan kota padat di luar negeri,atau lebih tepatnya di negara Inggris.

Di sana...

Langkah kaki Oscar—sepatu pantofel kulit buatan Italia-nya yang mengetuk lantai marmer—selalu menjadi pertanda bagi seluruh karyawan di lantai eksekutif Alden Group untuk menahan napas.

Pagi ini tidak ada bedanya. Mengenakan setelan three-piece suit abu-abu gelap yang melekat sempurna pada tubuh tegapnya, Oscar berjalan lurus tanpa menoleh ke kanan atau kiri. Wajahnya sedingin es, tanpa ekspresi, memancarkan aura dominasi yang membuat siapa pun enggan mencari masalah.

Pria itu baru saja kembali dari luar negeri setelah beberapa hari absen. Namun, tidak ada waktu untuk basa-basi. Sebagai CEO tertinggi, tanggung jawab penuh atas ribuan hajat hidup karyawan ada di pundaknya.

Begitu pintu ruang kerjanya yang luas ditutup oleh sekretaris pribadinya, Dante, sementara Oscar langsung dihadapkan pada realitas dunianya.

"Selamat datang kembali, Pak Oscar," Dante membuka tabletnya, langsung masuk ke mode profesional.

"Jadwal Anda hari ini sangat padat. Jam sepuluh ini ada rapat pleno dengan Dewan Komisaris terkait due diligence akuisisi saham maskapai penerbangan domestik. Setelah makan siang, Anda harus turun ke lapangan untuk meninjau progres pembangunan superblock kita yang sempat tertunda di Jakarta Barat. Dan malamnya—"lanjut nya Dante menuturkan jadwal jadwal padat tersebut.

"Skip makan siang formal." potong Oscar dingin sambil duduk di kursi kebesarannya. Ia menarik tumpukan berkas pertama yang harus ditandatangani.

"Bawakan saya kopi hitam tanpa gula dalam lima menit. Dan pastikan tim hukum sudah merapikan draf kontrak akuisisi. Saya tidak mau melihat ada celah sekecil apa pun yang bisa merugikan kita."

"Baik, Pak." Dante berbalik, namun sebelum melangkah, suara Oscar kembali menginterupsinya.

"Satu lagi." Oscar berdehem pelan, pandangannya tetap tertuju pada berkas di depannya, pura-pura sangat sibuk.

"Bagaimana laporan dari... kediaman di sana?"

Dante, yang sudah bertahun-tahun mengikuti Oscar, langsung paham siapa yang dimaksud di sana. Wanita yang ditinggalkan Oscar di negara seberang.

yang telah sengaja Oscar bohongi dengan dalih proyek bisnis distributor nasional ekspor produk properti nya

Padahal kenyataannya tidak.

"Kepala pengawal di sana melaporkan bahwa Nona Anisa tidak keluar rumah hari ini, Pak. Beliau hanya menghabiskan waktu di perpustakaan."

Oscar tidak menjawab. Ia hanya mengibaskan tangan, mengusir Dante. Namun begitu pintu tertutup, jemari Oscar yang memegang pulpen mewah seharga ratusan juta itu melambat. Matanya melirik ke arah ponsel hitam yang sengaja ia letakkan di sisi kanan meja.

Layar itu cukup redup. Tidak ada notifikasi.

Oscar mendengus pelan, ada rasa tidak nyaman yang mengganjal di dadanya. Perasaan aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ego dan gengsinya menolak keras, tapi akalnya tidak bisa bohong

Ia jelas merasa cemas meninggalkan wanita itu sendirian di sana tanpa dirinya.

...----------------...

...10:00...

...----------------...

Jam sepuluh tepat, ruang rapat pleno berubah menjadi medan perang verbal. Oscar duduk di kepala meja panjang, mendengarkan presentasi dari Direktur Keuangan mengenai analisis risiko akuisisi.

"Jika kita mengegolkan angka ini, return on investment baru akan terlihat di kuartal ketiga tahun depan, Pak," ujar sang Direktur dengan peluh dingin di dahi.

Oscar mendengarkan dengan saksama. Di tengah perdebatan sengit tentang angka miliaran rupiah itu, ponsel di dalam saku jas Oscar bergetar pendek. Satu getaran. Tanda ada pesan masuk.

Seketika, fokus Oscar terbelah. Di bawah meja rapat yang tertutup taplak premium, tangannya bergerak pelan merogoh saku. Dengan gerakan super mulus agar tidak terlihat oleh belasan pasang mata direksi, ia menyalakan layar ponselnya.

Operator: Kuota internet Anda hampir habis.

Rahang Oscar mengeras. Sialan. Ia melempar kembali ponsel itu ke sakunya dengan dongkol.

(bisa bisanya dia tidak kahwatir dengan keadaan ku saat ini?)

Rasa kecewa dan gelisah berbaur menjadi kejengkelan yang langsung ia tumpahkan pada rapat.

"Metode kalkulasi risiko Anda terlalu berlebihan, Pak Hardi," suara Oscar memotong presentasi dengan tajam, membuat ruangan seketika hening mencekam.

"Kita tidak punya waktu sampai kuartal ketiga tahun depan. Jika tim Anda tidak bisa memangkas biaya operasional sebesar dua belas persen dalam skenario akuisisi ini, saya akan mencari tim penasihat keuangan yang baru. Rapat selesai. Rombak laporannya."

Oscar berdiri, meninggalkan ruang rapat dengan langkah besar, meninggalkan para direksi yang pucat pasi.

...----------------...

...13:20...

...----------------...

Siang harinya, Oscar benar-benar turun ke lapangan. Menggunakan helm proyek putih dan rompi keselamatan di atas kemeja mahalnya, ia berjalan di antara struktur beton bangunan superblock yang sedang dikerjakan.

Debu dan bising suara mesin berat tidak mengalihkan ketegasannya. Ia memeriksa detail ketebalan besi, menanyakan suplai semen, dan menegur kepala proyek yang bekerja lambat.

Namun, kegelisahan itu kian meradang. Berada di ruang terbuka, di tengah hiruk-pikuk pekerja, membuat pikirannya makin liar terlempar ke negara seberang.

(Apakah wanita itu merindukannya? Mengapa dia sama sekali tidak mengirim pesan? Apakah dia sengaja mengabaikannya karena marah ditinggal pergi?)

Setiap sepuluh menit sekali, Oscar sengaja berpura-pura memeriksa jam di pergelangan tangannya, padahal jarinya diam-diam mengetuk layar ponsel yang ia genggam di balik saku rompi.

Masih belum ada pesan darinya.

Anisa.No Notification!

Oscar mendengus dalam hati.

(Dasar wanita keras kepala)batinnya kesal. (Gengsimu tinggi sekali, hah? Padahal tinggal mengetik 'Mas sudah sampai atau belum?' apa susahnya?)

Oscar membuka aplikasi pesan. Jarinya mengetik di kolom obrolan dengan wanita itu: Saya sudah di kantor.

Namun, ibu jarinya menggantung di atas tombol kirim selama beberapa detik. Harga dirinya berteriak menolak.

"Tidak. Kenapa harus aku yang mengirim pesan duluan? Aku ini terlalu lelah bekerja-" Dengan ketus, Oscar menghapus kembali ketikan itu dan mengunci ponselnya dengan kasar.

...----------------...

...15:30...

...----------------...

Sore hari pukul 3 sore,Oscar kembali ke ruang kerja utamanya. Tubuhnya lelah secara fisik, namun otaknya jauh lebih lelah karena peperangan batin yang ia ciptakan sendiri.

Ia melepas rompi proyek, melempar jasnya ke sofa, dan melonggarkan dasinya hingga dua kancing teratas kemejanya terbuka. Oscar berdiri di depan dinding kaca raksasa yang menampilkan pemandangan gedung pencakar langit yang mulai diterpa lampu senja.

"kapan Anisa menghubungi ku?, padahal bicara apapun dia..."

"aku siap mendengarkan nya"

Di luar, negara ini sangat bising dan sibuk. Namun di dalam ruangannya, suasananya begitu sunyi. Dan kesunyian itu justru mempertegas rasa asing yang menggerogoti hatinya. Kerinduan. Kata yang paling ia benci karena membuatnya merasa lemah.

Bzzzt.

Ponsel di atas meja marmer bergetar panjang. Kali ini getaran panggilan masuk.

Oscar berbalik dengan cepat. Langkahnya yang biasa tenang kini sedikit terburu-buru. Ia menyambar ponsel itu. Nama di layarnya membuat jantungnya berdegup tidak karuan.

Kaka Edward.

"agghrh!,kenapa harus dia yang malah menghubungi ku!, kenapa tidak orang lain saja?!, kenapa tidak Anisa."setelah mengucap Oscar memilih tidak membalas Kaka nya yang pastinya akan memberi nya tugas double atau sesuatu yang jelas tak ia sukai

...__________________________________...

[Jangan sekedar melihat saja bocah!,Cepat balas pesan ku, OSCAR!!! -▽-]

[Atau perlu aku datangi kau DISANA!]

...Awalnya ia Oscar memilih diam namun melihat pesan tersirat itu membuat bulu kuduk nya berdiri tegak...

^^^[Apa yang Kaka inginkan, haduhhh aku sangat sibuk]^^^

[Berikan laporan terbaru tentang kondisi penyerangan gudang ku semalam.Sekarang!]

^^^[iya baiklah...-_-]^^^

...Oscar menghempaskan kuat ponselnya hingga sampai menghantam tumpukan dokumen dokumen penting di sana...

...Sungguh sangat di sayangkan,ia yang baik Budi ini memiliki Kaka kurang pengertian seperti?...

...Edward!...

..._____________________________________...

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

1
A_ntalus
wah sebelumnya makasih udah mampir kak...aku sengaja menyimpan Plot wist di antara Plot wist 🤣💪
falea sezi
😒 ed kok jahat sih ma adek ipar
falea sezi
kok Edward dingin tp erhhhhhh sukak🤣🤣
falea sezi
adeknya beristri dua kah🤣
falea sezi
katanya ngrti agama bercadar🤣 tp pacaran katanya bercadar tp suami liat muka aja gk boleh🤣🤣 perbaiki agama dlu deh baru pake cadar jangan jangan cadar buat gaya doank ya biar keliatan alim🤭
falea sezi
nyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!