Umur lima belas, **Laras** cuma cewek tomboy anak bengkel di gang sempit Bekasi—rambut cepak, kunci inggris selalu di tangan, ditakuti satu sekolah. Sampai suatu sore, sebuah Mercedes berhenti di depan warung, menurunkan bocah laki-laki sepuluh tahun yang menangis tanpa berani mengetuk pintu. Ibunya pergi begitu saja. Namanya **Rayhan**.
"Mbak… kamu mirip kakak laki-lakiku," kata bocah itu sambil menyeka air mata.
Laras kira dia cuma adik kecil cengeng dan manja, yang tiap hari nempel memanggilnya "**Bang Laras**". Dia tidak pernah sadar—di balik wajah manis si juara kelas, diam-diam tumbuh seekor "serigala" yang seumur hidup hanya mengincar satu orang: dirinya.
Bertahun-tahun kemudian, bocah cengeng itu sudah menjadi pemuda jangkung yang lolos ke ITB—dan ternyata **anak di luar nikah seorang konglomerat properti**. Dari anak buangan yang dulu dihina, ia bangkit menjadi **pewaris tunggal kerajaan bisnis triliunan**. Tapi satu hal tak pernah berubah: obsesinya pada Laras.
"Aku bukan adikmu lagi," bisiknya, mengurung Laras di antara lengannya. "Sekarang, giliran kamu yang memanggilku… **abang**."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13
Api Unggun
"Yang bawa tenda tapi nggak bawa pasak siapa?"
Bima mengangkat tangan. "Gue kira sudah di tas."
"Terus tenda mau diikat pakai doa?" Nadia memelototinya.
Rombongan kecil itu tiba di perkemahan dekat Bogor menjelang sore. Laras, Nadia, Bima, Galih, Rayhan, dan beberapa teman membagi tugas. Rayhan ikut karena Mbah Surti percaya Laras akan menjaganya, meski kini ia justru lebih sering mengingatkan Laras membawa jas hujan dan obat.
Mereka meminjam pasak dari pengelola. Nadia memegang tiang, Bima memukulnya, dan setiap pukulan selalu meleset karena mereka terus berdebat.
"Gue pegang, lo yang pukul," kata Bima.
"Biar jari gue ikut dipukul? Nggak."
"Gue nggak sebodoh itu."
"Bukti di depan kita ada tenda tanpa pasak."
Laras dan Galih tertawa dari tenda sebelah. Rayhan tidak ikut karena Galih berdiri terlalu dekat ketika membantu Laras mengikat tali.
"Simpulnya salah," katanya.
Galih menoleh. "Lo bisa?"
Rayhan mengambil tali dan membuat simpul lebih rapi. "Bisa."
"Bagus. Sekalian selesaiin."
Galih pergi mengambil kayu bakar. Rayhan menyadari ia baru saja diberi seluruh pekerjaan, tetapi Laras sudah menepuk bahunya.
"Pinter."
Pujian satu kata cukup membuatnya menyelesaikan semua tali tanpa mengeluh.
Sebelum gelap, mereka berjalan ke sungai kecil di bawah bukit. Jalurnya licin sehabis hujan. Nadia hampir terpeleset dan Bima menangkap lengannya, tetapi langsung melepaskan ketika Nadia kaku.
"Maaf," katanya.
"Nggak apa-apa. Kaget saja."
Bima berjalan setengah langkah di depan setelah itu, membersihkan ranting tanpa menyentuh. Laras melihat perubahan tersebut. Anak laki-laki yang dulu suka menguji batas orang kini justru belajar membaca batas Nadia.
Di belakang rombongan, Galih menawarkan tangan saat Laras melompati batu. Laras menolak dan melompat sendiri. Solnya tergelincir. Rayhan yang berada di sisi lain menangkap ranselnya, membuat Laras tergantung sesaat seperti kura-kura.
"Lepasin. Malu."
"Kalau dilepas, jatuh."
Galih menarik lengan Laras dari depan. Keduanya bekerja sama mengangkatnya ke tanah kering, lalu saling menatap tidak puas karena harus berbagi peran.
"Makasih," kata Laras. "Dua-duanya. Jangan berantem di sungai."
"Siapa yang berantem?" jawab mereka bersamaan.
Kelompok itu tertawa. Rayhan menepuk lumpur dari ransel Laras lebih lama daripada perlu, sedangkan Galih berjalan di sisi satunya sampai jalur kembali datar.
Malam turun cepat. Mereka membakar jagung, sosis, dan ayam di atas panggangan. Nadia menyiapkan sambal. Bima mencuri satu potong ayam sebelum matang dan lidahnya kepanasan.
"Makanya jangan rakus," kata Nadia sambil memberinya air.
"Lo khawatir?"
"Khawatir camping kita rusak karena harus antar orang bodoh ke klinik."
Hubungan mereka aneh sejak ciuman malam kelulusan. Nadia berpura-pura lupa, Bima pura-pura percaya, tetapi keduanya selalu mencari posisi duduk berdekatan.
Ketika api unggun dinyalakan, teman-teman mulai bernyanyi. Nadia duduk sedikit jauh dari kerumunan. Bima menyusul membawa jaket.
"Dingin?"
"Nggak."
"Tangan lo gemetar."
"Kebanyakan kopi."
Bima menyampirkan jaket di bahunya tanpa memaksa ia memakai. Mereka memandangi api beberapa saat.
"Tentang waktu kelulusan," kata Bima.
Nadia langsung tegang. "Gue mabuk."
"Iya. Makanya gue nggak anggap itu jawaban."
"Jawaban apa?"
"Gue suka lo. Kalau lo nggak suka, bilang. Gue berhenti ganggu."
Bima mengeluarkan tali tas lama Nadia dari saku. Bagian yang putus sudah dijahit, meski tidak bisa dipakai lagi.
"Gue simpan ini biar ingat dulu gue pernah bikin orang takut cuma supaya dianggap hebat," katanya. "Nggak ada hebatnya."
Nadia mengambil tali itu. "Kenapa baru minta maaf sekarang?"
"Karena dulu gue pikir bercanda selesai kalau gue udah ketawa. Ternyata yang kena belum tentu selesai."
Api memantulkan wajahnya yang serius. Nadia membolak-balik tali itu, lalu mengembalikannya.
"Simpan. Biar lo nggak lupa lagi."
"Berarti gue masih boleh dekat?"
"Jangan cepat ambil kesimpulan."
"Gue cuma butuh sedikit harapan."
Nadia menatap api. "Dulu lo ikut bikin hidup gue susah."
"Gue tahu. Gue minta maaf. Beneran. Nggak pakai tali tas titipan lagi."
Nadia menoleh cepat. "Jadi tali tas itu dari lo?"
Bima menggaruk tengkuk. "Laras bocor juga akhirnya?"
"Dia nggak pernah bilang. Lo sendiri yang ngaku."
"Bagus. Malu sekalian."
Nadia tersenyum tipis. Bima mengangkat tangan mendekati wajahnya, lalu berhenti sebelum menyentuh.
"Boleh?"
Nadia menelan ludah. Ada ketakutan yang muncul terlalu cepat, bukan karena Bima seorang, melainkan karena kedekatan itu membuka pintu lama di dalam dirinya. Bima langsung menurunkan tangan.
"Nggak apa-apa kalau belum."
Nadia memegang pergelangannya sebelum ia menjauh. "Pelan."
Bima menunggu sampai Nadia sendiri mendekat. Ciuman mereka singkat dan jelas diterima, tanpa sorakan, tanpa alkohol, tanpa tuntutan.
Laras yang hendak mengambil air berhenti di balik pohon. Ia melihat Bima mundur lebih dulu dan Nadia masih memegang tangannya. Laras memilih berbalik, memberi mereka ruang.
Beberapa menit kemudian, Nadia kembali ke api unggun dengan pipi merah. Teman-teman mulai menggoda, tetapi Laras melempar sebungkus marshmallow ke tengah.
"Yang banyak omong nggak kebagian."
Perhatian langsung berpindah.
Setelah teman-teman sibuk memanggang marshmallow, Laras mendekati Nadia untuk mengambil air.
"Lo aman?"
Nadia mengangguk, lalu menggeleng, lalu tertawa gugup. "Gue suka Bima. Cuma kadang kalau orang terlalu dekat, badan gue bereaksi duluan."
"Dia maksa?"
"Nggak. Tadi dia malah nunggu."
"Kalau suatu hari dia maksa, bilang ke gue."
"Terus lo pukul pakai kunci inggris?"
"Tergantung. Bisa pakai tangan kosong."
Nadia menyandarkan kepala sebentar ke bahu Laras. "Makasih. Tapi biar gue belajar ngomong sendiri juga."
"Bagus. Gue tetap cadangan."
Rayhan duduk di samping Laras. "Kamu lihat sesuatu?"
"Nggak."
"Bohong."
"Lo kebanyakan latihan jadi detektif."
Di seberang api, Bima memberikan jagung paling matang kepada Nadia. Gadis itu menerimanya, tetapi saat tangan mereka bersentuhan, bahunya kembali menegang sesaat.
Laras memperhatikan. Nadia bisa tertawa, bergaul, bahkan berani mencium. Namun ada bagian dirinya yang bereaksi terhadap kedekatan seperti sedang menghadapi bahaya.
Laras belum tahu sebabnya. Ia hanya menyimpan pengamatan itu.
Galih datang membawa selimut tambahan dan duduk di sisi Laras yang lain. Rayhan langsung menggeser kursinya lebih dekat.
"Api unggunnya besar," kata Laras. "Kenapa kalian nempel semua?"
"Anginnya dari kanan," jawab Galih.
"Dari kiri juga," kata Rayhan.
"Angin apaan muter?"
Nadia tertawa sampai hampir menjatuhkan jagung. Suasana kembali ringan.
Menjelang tengah malam, api mengecil menjadi bara. Bima mengantar Nadia ke tenda perempuan dan berhenti dua langkah dari pintu.
"Besok kita ngobrol lagi," katanya.
Nadia mengangguk. "Besok."
Ia masuk tanpa melihat ke belakang, lalu bersandar pada kain tenda sambil mengatur napas. Di luar, Bima tidak pergi sampai bayangannya menjauh dari pintu dan suara Nadia terdengar bergabung dengan teman-teman.
Hubungan mereka bergerak maju malam itu.
Namun Laras tahu, di balik senyum Nadia, ada sesuatu yang masih berjalan mundur ke tempat gelap yang belum pernah diceritakan.