Chester, Kapten tim khusus Angkatan Darat yang dingin dan tak tersentuh, terpaksa melangkah ke altar memungut kekacauan yang ditinggalkan Haikal.
Ia membenci situasi ini, membenci kelakuan kakaknya, dan kini terjebak mengikat janji suci dengan wanita yang tak pernah ia inginkan.
Di antara dendam, luka yang belum sembuh, dan kebohongan besar di hadapan publik—mampukah pernikahan paksa ini bertahan saat Haikal kembali menagih apa yang seharusnya menjadi miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ledakan Garam Murni
Namun Ayyana tidak mendengarkan. Dengan pergerakan cepat penuh keanggunan yang membanggakan diri, jari-jari lentiknya sudah memutar gagang pintu jati tersebut.
Cklek.
Pintu ruang kerja komando terbuka lebar. Ayyana melangkah keluar sambil membawa kotak bekal berdesain elegan itu, meninggalkan Chester yang membeku di dekat meja kerja dengan kepanikan taktis yang tak pernah ia rasakan sebelumnya di medan tempur.
Di lorong luar, keempat anggota Team Eclipse yang sedang pura-pura sibuk memeriksa dokumen taktis langsung menoleh serentak.
"Kapten-Kapten!" panggil Ayyana manis, menyunggingkan senyum memikat yang langsung membuat Flyn, Ocla, Rowan, dan Zack memasang postur tegap. "Komandan kalian bilang masakan buatanku sangat enak. Kebetulan aku membawa porsi lebih, kalian harus mencicipinya."
Flyn membelalakkan mata dengan binar gembira. "Wah, sebuah kehormatan besar, Nyonya Sinclair! Masakan langsung dari tangan istri sang Komandan?"
"Terima kasih banyak, Nyonya," timpal Ocla santai seraya menerima satu mangkuk kecil yang disodorkan Ayyana.
Rowan dan Zack pun ikut melangkah mendekat, tak enak hati untuk menolak gestur ramah sang Nyonya Rumah.
Tepat saat Flyn menyuap sesendok penuh hidangan cantik itu ke dalam mulutnya dengan senyum lebar...
Chester melangkah keluar dari ruang kerja dengan wajah sekeras batu karang.
Mata Flyn mendadak mendelik lebar. Seluruh otot wajah prajurit pirang itu membeku seketika.
Rasa asin ekstrem yang bagaikan ledakan garam murni menghantam indra pengecapnya tanpa ampun.
Tubuh Flyn menegang kaku, tenggorokannya bagai terbakar, namun tatapan tajam dan penuh ancaman mati dari mata abu-dark Chester yang berdiri di belakang Ayyana langsung mengunci pergerakannya.
'Kalau kamu memuntahkannya di depan istri saya, besok subuh kamu saya kirim ke isolasi Sektor Bravo,' pendar mata Chester seolah menyuarakan kalimat intimidasi tersebut tanpa kata.
Flyn menelan suapan beracun itu dengan susah payah hingga matanya berkaca-kaca. Ia berdeham kaku, memaksakan senyum paling palsu dalam sejarah karirnya di militer.
"Bagaimana, Flyn?" tanya Ayyana penuh harap, menatapnya dengan binar mata cokelat yang sarat akan kepuasan.
"Enak... luar biasa, Nyonya," bisik Flyn dengan suara yang mendadak serak dan terbata-bata. "Saking enaknya... sampai membuat saya ingin menangis."
Ocla dan Rowan yang baru saja hendak menyuapkan bagian mereka seketika menghentikan gerakan tangan di udara.
Keduanya melirik raut wajah Flyn yang pucat, lalu beralih menatap Kapten mereka yang berdiri tegap di belakang Ayyana dengan rahang mengetat kaku dan aura pembunuh yang amat pekat.
Zack secara perlahan dan taktis menurunkan sendoknya kembali ke dalam wadah, menyadari betul bahwa pertahanan perut mereka baru saja dihantam bahaya Siaga Satu.
Ayyana menyunggingkan senyum manis yang kian lebar, mengabaikan ekspresi Flyn yang sudah kepayahan menahan gempuran rasa asin di sampingnya.
Dengan gestur anggun, ia melangkah mendekati Rowan, Zack, dan Ocla yang masih membeku.
"Nah, sekarang giliran kalian bertiga," ujar Ayyana lembut, menyodorkan mangkuk-mangkuk kecil sisanya dengan penuh semangat. "Kalian kan satu tim dengan Chester, jadi harus ikut menikmati makan siang buatan istri komandan kalian."
Rowan dan Ocla saling pandang dengan pelipis yang mulai berkerut halus, sementara Zack hanya sanggup menarik napas kaku.
Di belakang Ayyana, berdiri Chester yang posturnya kian menegang sekeras karang. Binar mata abu gelap sang Kapten memancarkan ancaman taktis tingkat tinggi—sebuah sinyal kematian mutlak jika ada satu saja di antara mereka yang berani membuat Ayyana tersinggung atau kecewa.
"Ayo, dimakan. Jangan malu-malu," tambah Ayyana manis, matanya berbinar penuh harap.
Tanpa punya pilihan lain, Rowan menerima mangkuknya pertama kali, disusul Ocla dan Zack. Ketiganya menyuap hidangan cantik itu secara bersamaan ke dalam mulut.
Sret.
Dalam satu detik, ekspresi ketiga perwira khusus itu mendadak berubah.
Ocla hampir saja menyemburkan suapannya jika tidak ingat tatapan algojo dari Chester, Rowan mendadak membelalak kaku menahan ngilu di tenggorokan, dan Zack—yang biasanya selalu berwajah datar tanpa emosi—sekilas menampakkan kedutan hebat di rahangnya.
Rasa asin yang menyengat ekstrem meledak serentak di lidah mereka.
"Bagaimana?" tanya Ayyana penasaran, melipat tangan di depan dada dengan raut bangga.
"Luar biasa... unik, Nyonya," gumam Ocla dengan suara yang mendadak parau.
"Bumbunya... sangat kuat dan menonjol, Nyonya Sinclair," timpal Rowan seraya memaksakan senyum kaku yang kentara sekali palsu, matanya mulai memerah menahan pedih di tenggorokan.
Zack mengangguk formal, menelan suapan beracun itu dengan perjuangan batin yang luar biasa. "Sungguh pengalaman makan siang yang tak terlupakan."
Chester berdeham keras, menginterupsi penderitaan massal bawahannya sebelum mereka benar-benar pingsan di lorong.
Pria itu maju satu langkah, merangkul pinggang Ayyana dengan protektif dan menarik perhatian istrinya kembali.
"Sudah cukup membaginya, Ayyana," bisik Chester dengan suara bas yang amat rendah dan kaku. Binar matanya mengunci tatapan Ayyana, mencoba mengalihkan situasi. "Bawa sisanya ke dalam."
"Kita makan sama-sama di sini saja, Chaster." Ayyana melirik Chester, lalu menyunggingkan senyum kemenangan. "Mari makan bersama."
Ayyana berbalik melangkah kembali ke dalam ruang kerja komando dengan gaun putih gadingnya yang mengayun anggun.
Begitu pintu ruangan sedikit terbuka, Chester menyempatkan diri melirik empat anak buahnya.
Tatapan tajam sang Kapten seolah memberikan perintah tersirat: Tahan atau kalian saya kirim ke latihan maraton lima puluh kilometer subuh esok.
Flyn, Ocla, Rowan, dan Zack hanya sanggup memberi hormat kaku dengan wajah pucat, membiarkan sang Komandan masuk untuk menghadapi sisa "siksaan manis" makan siang tersebut sendirian bersama istrinya.
Door kayu jati ruang kerja komando kembali tertutup rapat, mengisolasi Chester dan Ayyana di dalam ruangan yang kini dipenuhi aura ketegangan domestic yang manis sekaligus menyiksa.
Ayyana meletakkan sisa bekal di atas meja kerja kaca, mendudukkan dirinya di kursi empuk milik sang Kapten dengan gaya anggun dan dominan. Ia melipat kakinya yang terbalut sutra putih gading, menyunggingkan senyum kemenangan saat menatap suaminya yang masih berdiri kaku di depan pintu.
"Duduklah, Kapten. Masakan ini dibuat khusus untuk dinikmati bersama," panggil Ayyana halus, menyodorkan mangkuk berisi hidangan super asin itu ke sisi meja tempat Chester biasa bertugas.
Chester memandang mangkuk di hadapannya seperti sedang menatap granat aktif di medan tempur. Namun, binar mata cokelat Ayyana yang berbinar penuh kebanggaan murni—suatu hal yang amat langka—membuat seluruh pertahanan Sang Komandan melunak tanpa syarat.
Ia melangkah mantap mendekati meja, menarik kursi kayu kaku di seberang Ayyana, dan duduk tegap.
"Terima kasih, Ayyana," ujar Chester dengan suara basnya yang rendah dan serak.
Jemari kekarnya meraih sendok. Tanpa ragu satu detik pun, Chester menyuapkan hidangan itu ke dalam mulutnya. Ledakan rasa garam yang membakar tenggorokan kembali menyengat indra pengecapnya, namun ekspresi wajah perwira itu tetap datar, tenang, dan sekeras batu karang.
Ia menelannya dengan gestur tegap, lalu memandang istrinya dengan binar mata abu-dark yang berkilat pekat oleh rasa posesif dan perhatian mendalam.
"Masakanmu sangat luar biasa," puji Chester jujur pada niat wanita di hadapannya, walau organ dalamnya menjerit minta air putih.
Ayyana menyunggingkan senyum memikat, condong ke depan hingga aroma vanilla dari tubuhnya menusuk lembut indra penciuman Chester. Jemari lentiknya menyentuh dagu kaku suaminya, mengelusnya perlahan.
"Jangan bohong, Chester... aku tahu kamu setengah mati menahan rasa asinnya sejak suapan pertama," bisik Ayyana halus dengan kekehan tipis yang sarat akan kemenangan mutlak.
Chester membeku seketika di tempatnya. Binar mata sang Kapten melebar tipis, rahangnya mengetat kaku saat menyadari Ayyana sebenarnya tahu persis kualitas kulinernya—dan sengaja menyaksikan ketahanan taktis suaminya serta Team Eclipse sejak awal.