Serafina Olivia mencintai Ravin Haryaka Arthadipa sejak ia berusia 17 tahun. Pria yang setahun lebih tua darinya itu, merupakan anak dari rekan bisnis sang papa. Tumbuh dan besar di lingkungan yang sama, membuat Sera semakin menyukai Ravin. Hingga suatu hari, rencana perjodohan dua keluarga pun terdengar. Tanpa berpikir dua kali, Sera pun menerima perjodohan itu demi bisa hidup bersama pria pujaan hatinya. Bahagia hanya terasa di awal cerita. Semuanya berubah, saat rahasia hati Ravin terungkap. Pria itu tidak pernah mencintai Sera. Hatinya hanya untuk wanita lain. Di tengah lelah menanti cinta Ravin yang tak kunjung berlabuh padanya. Sera pun di hadapkan pada dua pilihan. Bertahan dalam ketidakpastian dan sakit hati. Atau pergi untuk membebaskan hati dengan cinta yang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Hampir Lepas Kendali.
Hingga tiba di rumah, Ravin masih bersikap manis pada sang istri. Ia membukakan pintu mobil untuk gadis itu. Hal kecil yang belum pernah pria itu lakukan.
Sera hanya membiarkan saja. Ia ingin melihat, seberapa besar lagi usaha Ravin untuk menutupi kebohongan yang pria itu lakukan kemarin.
Ravin merangkul pinggang Sera saat masuk ke dalam rumah.
Bi Sari yang membukakan pintu, menatap majikannya dengan tatapan tak percaya. Baru kali ini melihat Ravin dan Sera sedekat itu.
“Bi, pastikan semua pintu sudah terkunci. Kemudian bibi bisa beristirahat.” Ucap Ravin sebelum menapaki anak tangga.
Tangannya masih setia berada di pinggang sang istri.
“Baik, tuan.” Bi Sari mengangguk pelan.
“Selamat malam, bi.” Ucap Sera.
“Selamat malam, non.” Wanita paruh baya itu pun pergi.
Ravin memperhatikan kepergian sang asisten rumah. Setelah itu, ia pun menggendong tubuh Sera.
“Kak.” Sera mendelik tajam. Ia dengan serta merta mengalungkan kedua tangan pada leher pria itu.
Hampir saja Sera menjatuhkan tas kecil di tangannya, karena terkejut dengan perlakuan sang suami.
“Kamu pasti lelah. Biar aku antar ke kamar.” Ucap Ravin dengan penuh senyum. Kemudian menapaki anak tangga.
Sera menghela nafas pelan. Ia berusaha untuk tidak luluh begitu cepat.
‘Tahan Sera. Tahan.’ Jerit batin gadis itu.
“Buka pintunya.” Perintah pria itu pada sang istri.
Sera pun melepaskan satu tangannya. Kemudian membuka pintu.
Ravin melangkah masuk. Kemudian menutup pintu kamar dengan satu kakinya. Ia pun menurunkan sang istri di tengah ruangan.
“Mau kemana?” Ravin menahan tangan Sera, saat gadis itu hendak melangkah pergi.
“Ganti baju. Aku tidak mungkin tidur menggunakan gaun ini, ‘kan?” Tanya gadis itu.
Ravin menarik tangan sang istri. Sehingga membuat tubuh mereka menempel satu sama lain. Tangan Sera berada tepat di depan daadaa pria itu.
“Kenapa buru - buru? Ini belum terlalu larut malam, Ra.” Ucap Ravin tepat di depan wajah Sera.
Gadis itu sontak memalingkan wajahnya.
Panas!
Pipi Sera seketika bersemu merah.
Ravin tersenyum licik, ia pun menarik dagu sang istri.
“Aku disini, Ra.” Kemudian tanpa permisi mengecup bibir gadis itu.
Mata Sera sontak membulat sempurna. Ia ingin menjauh, namun Ravin dengan kuat menahan pinggangnya.
Itu memang bukan ciuman pertama mereka. Ravin dan Sera pernah melakukan di saat hari pernikahan.
Namun, malam ini terasa berbeda. Ravin lebih menggebu. Seolah berlomba dengan dunia. Seakan waktu akan habis sebentar lagi.
Jantung Sera berdegup kencang. Ravin yang memulai lebih dulu.
Apa mungkin pria itu telah memiliki perasaan padanya? Atau, ini hanya sekedar cara untuk menutupi kebohongan yang ia lakukan?
Bibir Ravin pun berpindah pada leher jenjang sang istri. Membuat desir aneh menerpa tubuh gadis itu.
“Jangan, kak.” Sera menahan tangan Ravin saat hendak menyusup ke dalam gaun yang ia gunakan.
Wajah Ravin terangkat dari leher gadis itu. Kening berkerut penuh tanya.
“Kenapa? Kamu masih marah sama aku?” Tanyanya dengan nafas memburu.
Sera menggeleng pelan. “Aku sedang datang bulan.” Ucapnya kemudian.
Ravin membuang nafasnya kasar. “Berapa lama?” Nada frustrasi.
“Baru mulai pagi ini. Mungkin sampai tiga atau empat hari kedepan.” Ucap Sera.
Ravin pun mengangguk paham. Kemudian kembali menghela nafas kasar.
“Kalau begitu, aku ke kamar mandi dulu.” Ia mengecup kening sang istri sebelum meninggalkan gadis itu.
Sera menganggukkan kepalanya. Lalu mengekori langkah sang suami masuk ke dalam ruang ganti.
Gadis itu mau merasa kasihan, namun teringat dengan dirinya yang menunggu kedatangan Ravin kemarin, membuat Sera mengurungkan rasa kasihannya.
“Biar saja. Siapa suruh tidak pulang semalam.”
.
.
.
Di dalam kamar mandi, Ravin mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Baru kali ini, pria itu hilang kendali saat bersama Sera.
Padahal di hati dan hidup Ravin masih ada nama wanita lain. Ia tak menyangka akan bertindak seperti itu pada Sera.
“Si—al. Kenapa aku bisa hilang kendali? Sera pasti menyangka kalau aku sudah membuka hati untuknya.” Ravin memukul pelan dinding kamar mandi.
“Maafkan aku, Sera. Aku tidak bermaksud untuk memberikan harapan sama kamu.” Imbuhnya Ravin lagi.
Jujur, Ravin tidak tau akan seperti apa perjalanan kisah asmaranya di masa depan?
Apa mungkin, ia bertahan bersama Sera selamanya? Atau, kembali memperjuangkan cinta pertamanya dengan Rania?
“Aku tidak mungkin terus menerus menyakiti dua wanita. Salah satu dari mereka harus ada yang di korbankan.”
Ravin tidak tega menyakiti Sera. Namun, ia juga tidak mungkin melepaskan Rania.
Sementara itu, di ruang ganti. Selagi menunggu Ravin selesai mandi, Sera pun mengganti baju dengan setelan piyama tidur. Kemudian menyiapkan piyama sang suami.
Setelah itu, Sera merapikan pakaian kotor. Memasukkan ke dalam keranjang cucian kotor, untuk di berikan pada bi Sari esok hari.
“Apa ini?” Sera mengerutkan keningnya.
Ia menemukan sesuatu pada saku jas kerja sang suami.
Sebuah nota pembayaran di sebuah kantin rumah sakit di Jakarta.
Sera membaca dengan teliti. Melihat tanggal dan waktu transaksi pada kertas itu.
“Jadi kemarin kak Ravin benar - benar berbohong? Dia masih berada di Jakarta. Bukan di Bogor.” Monolog gadis itu.
Pukul 21.30 WIB. Waktu yang tertera pada nota pembayaran untuk segelas kopi susu tanpa gula.
Padahal, pukul 21.00 Ravin mengirim pesan jika dirinya berada di Bogor.
Tidak mungkin setengah jam sudah tiba di Jakarta bukan? Apalagi, lalu lintas yang begitu padat di malam hari.
“Kira - kira, siapa yang sedang berada di rumah sakit ini?” Sera kembali melihat nota pembayaran itu dengan lekat.
Haruskah Sera mencari tau?
Terdengar suara pintu terbuka, Sera dengan cepat memasukkan nota pembayaran itu kedalam saku celana tidurnya. Lalu menyimpan jas Ravin ke dalam keranjang cucian.
“Kamu tidak mandi lagi?” Tanya Ravin sembari mengambil piyama tidur yang di siapkan Sera untuknya.
“Tidak, kak. Paling nanti bersih - bersih sebelum tidur.” Sera memaksakan senyumnya.
Kemudian melangkah ke lemari tenpat penyimpanan keperluan pribadinya.
Ravin menganggukkan kepalanya. Ia kemudian memakai piyama tidurnya.
Tanpa sadar, bibir Ravin tersenyum.
Selama sebulan ini, ia telah terbiasa dengan kehadiran Sera dalam hidupnya.
Gadis itu selalu berusaha menjadi istri yang baik untuk dirinya.
“Aku tunggu di kamar.” Ucap Ravin saat Sera melangkah menuju kamar mandi.
“Hmm. Kalau aku lama, kakak tidur saja dulu. Pasti lelah setelah perjalanan dari Bogor.” Ucap gadis itu.
Ravin mendekat, kemudian mengusap kepala gadis itu.
“Aku mau menunggu kamu, Ra. Bahkan kamu menunggu aku lebih lama kemarin.” Ucap pria itu.
Sera pun menganggukkan kepalanya. Ia kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Ravin menghela nafas kasar. “Sekali lagi, maafkan aku, Sera.”