Arthur Summers, mantan Jenderal pasukan elit rahasia, memutuskan pensiun dari dunia pertumpahan darah untuk hidup tenang bersama istrinya, Elena. Ia kembali ke kota metropolis dan mengambil pekerjaan rendah hati sebagai dosen di Universitas St. Jude, tempat Elena bekerja sebagai Dekan.
Namun, kepulangan Arthur disambut dengan kenyataan pahit. Ia memergoki Elena berselingkuh dengan Julian Thorne, putra donatur utama kampus yang arogan. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Arthur, apalagi istrinya ternyata lebih memilih bersenang-senang dengan pria lain—sebuah drama pengkhianatan yang mengingatkan pada kekecewaan saat mendengar pasangan bersenang-senang dengan pria bejat di tempat hiburan.
Namun yang lebih buruk, Arthur menyadari bahwa perselingkuhan itu hanyalah puncak gunung es. Julian Thorne ternyata menggunakan universitas tersebut sebagai kedok untuk sindikat kriminal internasional yang berencana mengancam keamanan kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Pengampunan
Suasana di dalam kontainer baja yang setengah hancur itu terasa sangat mencekam. Kilatan petir menyambar di luar, menerangi siluet Arthur Summers yang melangkah maju bagaikan dewa kematian.
Jenderal Volkov, yang sebelumnya memancarkan arogansi seorang penakluk, kini tersudut. Kedua pengawal bayangannya telah terkapar tak bernyawa di lantai baja hanya dalam hitungan detik leher mereka dipatahkan oleh Arthur tanpa sedikit pun perlawanan berarti.
Volkov mengayunkan tongkat bajanya ke arah kepala Arthur dengan sisa-sisa tenaga dan keputusasaan. Namun, Arthur hanya mengangkat satu tangannya. Ia menangkap tongkat baja itu dengan telapak tangan kosong, meremasnya hingga penyok, lalu mendaratkan tendangan lurus ke dada Volkov.
Brak!
Volkov terpental ke udara, menghantam dinding kontainer hingga memuntahkan darah segar. Tulang rusuknya remuk. Sang Jenderal dari Utara itu akhirnya menyadari jarak kekuatan yang tak tertembus di antara mereka. Pria di hadapannya ini bukanlah manusia biasa; ia adalah pemimpin dari sebuah organisasi asing paling besar.
"Kau... monster..." rintih Volkov, menyeringai dengan gigi yang berlumuran darah. "Tapi kau terlambat, Arthur. Jika aku mati di sini, aku akan memastikan kau kehilangan segalanya yang tersisa dari masa lalumu!"
Dengan gerakan cepat yang dipicu oleh adrenalin terakhirnya, Volkov merobek kemeja putihnya. Di balik pakaian itu, terpasang rompi peledak C4 dengan lampu indikator merah yang sudah berkedip cepat. Ia telah mencabut pin pemicunya.
"Selamat tinggal, Ghost of Karakum!" raung Volkov, tawanya menggema bercampur dengan suara bip yang memekakkan telinga.
Mata Arthur membelalak. Bukan karena ia takut pada ledakan itu, melainkan karena perhitungan radius ledakannya. Ia bisa selamat, namun Elena yang masih terikat di kursi besi hanya berjarak satu meter dari Volkov.
"Arthur, tolong!" jerit Elena histeris, matanya memancarkan teror.
BOOOM!
Ledakan dahsyat merobek malam. Kontainer baja itu meledak dari dalam, mengirimkan gelombang kejut yang menghancurkan aspal pelabuhan dan melemparkan serpihan logam berapi ke udara. Awan jamur kecil dari api dan asap hitam mengepul tebal, menelan segalanya di dalam radius sepuluh meter.
Di luar pelabuhan, Maya Lin dan Silas Mercer yang baru saja tiba dengan mobil SUV lapis baja terpaksa mengerem mendadak. Maya menjerit melihat ledakan tersebut.
"Bos!" teriak Maya, berniat berlari keluar menembus hujan, namun Silas menahan lengannya dengan kuat.
"Tetap di sini, Nona Lin. Beliau tidak mungkin mati oleh kembang api murahan seperti itu," ucap Silas dengan wajah datar, walau tangannya sedikit gemetar. Silas harus menjaga narasi bahwa Arthur adalah bos sindikat bayangan yang luar biasa, tanpa membocorkan identitas militernya sebagai dewa perang dari perbatasan.
Kembali ke pusat ledakan.
Asap tebal perlahan tersapu oleh angin laut dan guyuran hujan. Dari balik kobaran api yang menyala di atas puing-puing logam, sesosok bayangan berdiri tegak.
Arthur Summers melangkah keluar dari pusat ledakan. Jas hitam panjangnya robek di beberapa bagian, dan debu menutupi bahunya, namun secara ajaib, tidak ada satu pun luka bakar atau goresan di tubuhnya. Ia telah menggunakan energi internalnya sepersekian detik sebelum ledakan untuk menciptakan perisai tak kasat mata di sekeliling tubuhnya.
Namun, perisai itu tidak cukup luas untuk melindungi orang lain.
Beberapa langkah di belakang Arthur, di antara puing-puing kursi besi yang hancur, terbaring tubuh Elena. Gaun sutranya hangus terbakar. Tubuhnya tertembus serpihan logam tajam akibat ledakan Volkov. Darah segar mengalir deras dari dadanya, bercampur dengan air hujan yang membasahi tanah.
Arthur berjalan mendekat dan berdiri diam menatap mantan istrinya itu. Wajahnya sedingin es, tanpa emosi.
Elena terbatuk, memuntahkan darah. Dengan pandangan yang mulai kabur, ia menatap wajah pria yang berdiri di atasnya. Pria yang tak tersentuh oleh api maupun baja. Pada detik-detik terakhir hidupnya, memori indah masa lalu berkelebat di benak Elena. Ia teringat janji Arthur enam tahun lalu. Arthur pernah berjanji padanya bahwa ia akan bertanggung jawab dan akan kembali untuk menikahinya, untuk membangun keluarga yang bahagia.
Walaupun pria itu kini telah memiliki otoritas tertinggi, bersama dengan kekayaan dan status sosialnya, Arthur tetap merelakan segalanya dan kembali hanya untuk mencari Elena, berharap bisa hidup bahagia selamanya. Namun, Elena justru menghancurkan impian keluarga bahagia itu dengan tangannya sendiri. Ia membuang suaminya ke jalanan, mementingkan egonya sendiri, dan memilih pria bejat yang akhirnya membuangnya.
"A-Arthur..." bisik Elena, air mata penyesalan bercampur darah mengalir di pipinya. Ia mengulurkan tangannya yang gemetar, mencoba menggapai ujung sepatu Arthur. "M-maafkan aku... Aku sangat bodoh... Aku menghancurkan segalanya..."
Arthur menatap tangan yang berlumuran darah itu, namun ia tidak mundur. Ia membiarkan ujung jarinya disentuh untuk yang terakhir kali.
"Aku memaafkanmu, Elena," ucap Arthur dengan suara yang sangat pelan dan tenang. Tidak ada lagi amarah, tidak ada lagi kebencian. Yang tersisa hanyalah kekosongan.
Mendengar kata-kata itu, senyum tipis dan penuh kedamaian muncul di bibir Elena yang memucat. Ia akhirnya mendapatkan apa yang paling ia butuhkan.
"T-terima kasih... m-maafkan..."
Tangan Elena terjatuh ke atas aspal basah. Matanya kehilangan cahayanya, menatap kosong ke arah langit malam yang menangis. Napasnya terhenti untuk selamanya.
Arthur memejamkan matanya sejenak. Rantai yang mengikatnya pada masa lalu yang menyakitkan ini akhirnya benar-benar terputus. Pria malang yang dulu hatinya sangat hancur karena dikhianati, malam ini telah mati dan terkubur bersama jasad wanita ini. Mulai detik ini, tidak ada lagi Arthur sang suami yang terluka. Yang ada hanyalah sang raja yang siap menaklukkan dunia.
Arthur membalikkan badannya dan berjalan menjauh, meninggalkan jasad Elena dan puing-puing masa lalunya di pelabuhan yang dingin itu. Ia berjalan menuju mobil SUV tempat Silas dan Maya menunggunya.
Begitu Arthur masuk ke dalam mobil, Maya menatapnya dengan campuran antara rasa takut dan kekaguman yang luar biasa. "B-Bos... Anda selamat dari ledakan itu? Bagaimana dengan dekan Elena?"
"Dia sudah menjadi bagian dari masa lalu," jawab Arthur dingin, mengambil sehelai saputangan dari Silas untuk mengelap darah di tangannya. "Silas, bersihkan tempat ini. Pastikan polisi kota mengklasifikasikan ini sebagai perang antar geng sindikat Thorne. Dan Maya, kerja bagus malam ini. Tetap jaga penyamaranku di kampus besok."
Maya mengangguk cepat. Ia masih mengira Arthur adalah pemimpin mafia bayangan super-kaya, tanpa menyadari bahwa ledakan bom militer barusan seharusnya mustahil ditahan oleh bos mafia biasa.
"Lalu, apa rencana kita selanjutnya, Bos?" tanya Maya, insting jurnalisnya bergejolak.
Arthur memandang ke luar jendela mobil yang basah oleh hujan, menatap gemerlap kota metropolis. "Kematian Volkov malam ini akan memicu alarm di markas besar Kekaisaran Utara. Mereka akan menyadari bahwa ada kekuatan besar yang tertidur di kota ini. Ini baru permulaan, Maya."
Mobil SUV hitam itu melaju membelah kegelapan malam, meninggalkan pelabuhan yang hancur.
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️
kira2 kultivasi arthur sudah kaisar bumi minimal...