NovelToon NovelToon
Musuh Disekolah, Pasutri Dirumah

Musuh Disekolah, Pasutri Dirumah

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Romantis / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Di luar pagar sekolah, Affan dan Monisha adalah sepasang suami istri karena perjodohan wasiat keluarga.

Di dalam kelas, mereka adalah dua kutub yang berpura-pura tidak kenal. Affan si ketua OSIS yang harus menjaga reputasinya, sementara Mona hanya ingin lulus dengan tenang.

Mereka sepakat merahasiakan pernikahan ini rapat-rapat. Namun, menyembunyikan status pernikahan di lingkungan SMA tidaklah mudah. Hanya dalam waktu satu minggu, kecemburuan merusak segalanya. Kecurigaan teman-teman, teror dari siswa yang menyukai Mona, hingga kecerobohan mereka sendiri meledakkan rahasia besar tersebut ke seluruh sekolah.

Kini, mereka harus menghadapi konsekuensi sosial, aturan ketat sekolah, di atas perasaan sayang yang sudah tumbuh di antara mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Balasan Mengintai 26.

Matahari hari Minggu baru saja merangkak naik, memendarkan cahaya hangat yang menembus gorden tipis ruang tamu rumah minimalis itu.

Di dapur kecilnya, Mona sedang menata beberapa potong pisang goreng di atas piring. Senyum tipis terkembang di bibirnya saat melihat Affan, suaminya, sedang sibuk menyeduh kopi. Pernikahan rahasia di usia SMA ini melelahkan, tetapi momen-momen tenang seperti ini selalu berhasil menjadi penawar.

"Biarkan saya yang bawa ke depan, Mona," ujar Affan lembut, mengambil alih nampan dari tangan Mona.

Mona mengangguk. "Terima kasih, mas. Mama sama Papa tumben jam segini sudah sampai."

Hari ini adalah jadwal rutin orang tua Mona berkunjung untuk menjenguk kondisi putri mereka setelah terpaksa membina rumah tangga dini dengan Affan. Namun, ketenangan pagi itu hancur dalam hitungan detik begitu pintu depan diketuk.

Mama Reza dan Papa Anggun masuk dengan wajah lelah namun penuh kerinduan. Setelah ritual pelukan hangat dan obrolan basa-basi tentang sekolah, Mama Anggun mengusap pipi putrinya. "Kamu pucat sekali, Sayang. Kurang tidur?"

"Biasa, Ma. Tugas sekolah akhir semester sedang menumpuk," kilah Mona, tersenyum kaku. Dia melirik Affan yang duduk di sebelahnya. Affan hanya memberikan tatapan menenangkan yang seolah berkata, 'Semua akan baik-baik saja.'

"Papa cuma mau memastikan Affan menjagamu dengan baik di sini," sahut Papa Reza dengan suara beratnya yang khas.

"Affan selalu jaga Mona kok, Pah," bela Mona cepat.

Saat suasana mulai mencair, ponsel Mona yang tergeletak di atas meja ruang tamu bergetar tanpa henti.

Layarnya terus menyala, menampilkan rentetan notifikasi yang masuk bagai air bah.

Mona sempat meliriknya sekilas, dan seketika itu juga wajahnya berubah pias. Darahnya seolah berhenti mengalir.

Semalam, kedua sahabatnya mengamuk di grup chat angkatan. Mona berniat meraih ponselnya untuk mematikan daya, namun gerakannya kalah cepat dari sang Ibu. "Banyak sekali ini pesannya, Mona. Sampai bergetar terus dari tadi. Ada keadaan darurat di sekolah?" tanya Mama sambil refleks mengangkat ponsel tersebut.

"Mama, jangan—" Kalimat Mona tertahan di tenggorokan.

Layar ponsel Mona tidak terkunci. Sebuah ruang obrolan grup WhatsApp bernama 'ANGKATAN XII' terpampang jelas. Di sana, ratusan pesan makian beruntun masuk. Dan yang paling menyakitkan, nama Rendy, teman masa kecil Mona —berada di baris teratas.

Mama Anggun mengernyitkan dahi, membaca deretan teks itu dengan saksama. Detik berikutnya, napas Mama Anggun tercekat.

Wajah paruh baya itu memerah padam, tubuhnya gemetar hebat karena syok.

"Mama? Ada apa?" Papa Reza yang menangkap perubahan drastis itu langsung merebut ponsel dari tangan istrinya.

Mona memejamkan mata rapat-rapat. Air matanya luruh seketika. Affan langsung bergeser mendekat, merangkul pundak Mona yang mulai terguncang hebat.

Papa membaca pesan-pesan di grup tersebut dengan mata yang berkilat marah. Suara ketikan teks dari Rendy terbaca jelas di sana.

Rendy: Gak nyangka saya, si Mona keliatannya aja polos di kelas. Ternyata murahan, udah gatel pengen kawin. Pantesan sering bolos, sibuk ngurusin suami toh? Jijik saya sekelas sama bentukan begitu.

Rendy: Palingan juga nikah kecelakaan. Kasihan ya, masa depan suram.

"Kurang ajar!" Saat itu juga Papa Reza mengamuk, seraya menggebrak meja kayu di depan mereka hingga cangkir kopi Affan berdenting keras.

Suara bariton papa menggelegar, sarat akan amarah yang siap meledak. "Siapa Rendy ini?! Berani-beraninya dia menghina anak Papa seperti ini?!"

"Papah, tenang dulu, pa..." tangis Mona pecah. Dia ketakutan. Bukan hanya karena rahasianya terbongkar, tapi karena melihat kemarahan Papa yang begitu besar.

"Bagaimana Papa bisa tenang, Mona?! Kamu anak perempuan Papa satu-satunya! Papa menikahkan kamu dengan Affan secara sah, baik-baik, demi menjaga kalian! Dan bocah ini... bocah ini berani mengatai kamu murahan?!" Napas Papa memburu. Tangan kanannya yang memegang ponsel mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Affan membuka suara dengan tenang namun tegas. "Papa, biar Affan yang selesaikan ini di sekolah besok. Affan tidak akan tinggal diam kalau istri Affan dihina seperti ini."

"Tidak perlu menunggu besok, Affan! Kamu terlalu mengulur waktu, kamu ga bisa selesaikan kasus ini" potong Papa ketus. Amarah sudah menutup logika beliau. "Papa kenal keluarga anak ini. Rendy... dia anak dari rekan bisnis sampingan Papa!"

Mama yang sejak tadi menangis menatap Ayah dengan mata membelalak. "Maksudmu, Anak si Hendra?"

"Ya! Hermawan Rendy, anak si Hendra!" Papa langsung membuka menu kontak di ponselnya sendiri. Tangannya bergerak cepat mencari sebuah nama.

Mona mencoba menahan lengan Papahnya. "Pa, tolong jangan diperpanjang. Mona mohon..."

"Tidak bisa, Mona! Harga diri kamu, harga diri keluarga kita diinjak-injak oleh anak ingusan yang tidak tahu sopan santun!" Papa menepis lembut tangan Mona.

Begitu nama yang dicari ketemu, Papa langsung menekan tombol panggilan telepon dan mengaktifkan pengeras suara loudspeaker. Kamar kontrakan yang semula bising oleh tangisan Mona mendadak hening, digantikan nada sambung yang terasa mencekam.

Klik.

"Halo, Pak?" suara dari seberang telepon terdengar. Itu suara Pak Hendra, ayah Rendy.

"Hendra! Didik anakmu yang becus!" tanpa basa-basi dan salam, Papa langsung membentak seperti orang ngajak adu jotos.

Seberang telepon terdiam sejenak, bingung dengan serangan mendadak itu. "Lho, Pak? Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba marah?"

"Tanyakan pada anakmu yang bernama Rendy! Apa yang sudah dia ketik di grup sekolahnya semalam tentang anak saya, Mona! Dia menghina anak saya dengan kata-kata kotor dan fitnah keji!" Suara Papah meninggi satu oktav, bergema di seluruh ruangan. "Anakmu tidak punya tata krama! Mulutnya tidak berpendidikan!"

"Maaf, Pak, saya benar-benar tidak tahu. Nanti saya tanyakan pada Rendy—"

"Tidak perlu nanti!" potong Papa dengan kejam. "Saya tidak butuh permintaan maaf basa-basi dari keluarga kalian. Detik ini juga, hubungan bisnis kita selesai. Dan ingat uang pinjaman modal usaha yang kamu pinjam dari saya kemarin sebesar lima puluh juta?"

Jeda panjang terjadi di seberang telepon. Terdengar helaan napas panik dari Pak Hendra. "Pak... tolong jangan dicampuradukkan masalah anak-anak dengan bisnis. Modal itu sedang berputar—"

"Saya tidak peduli!" tegas Papa tanpa kompromi. "Saya minta uang itu dikembalikan utuh ke rekening saya paling lambat besok pagi pukul sembilan. Jika tidak, saya akan bawa kasus penghinaan anakmu ini ke jalur hukum beserta bukti-bukti screenshot yang saya pegang!"

"Pak, tolong..."

Bip.

Papa langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Beliau melempar ponselnya ke atas sofa, lalu bersandar sambil memijat pelipisnya yang berdenyut tegang.

Mama langsung mendekat, mencoba menenangkan suaminya yang masih bernapas terengah-engah.

Mona hanya bisa menyembunyikan wajahnya di dada Affan, menangis sesenggukan. Affan mendekap istrinya erat-erat, tatapan matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan yang kini ikut mendingin.

Rendy telah membangunkan singa yang salah. Pagi itu, Minggu yang seharusnya tenang, resmi berubah menjadi awal dari kehancuran Rendy.

......................

...****************...

To be continue,

1
Shabrina Darsih
keahuan juga sm sahabat mona
jujur aja mona sm sahabatnya
klo sudah menikah sm afan
Shabrina Darsih
mona. mennding jujir aja sm sahabat nya andini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!