Azalea yang tidak mau dijodohkan dengan pria bernama Agam, anak dari teman ayahnya mencoba berbagai cara agar perjodohan itu tidak jadi dilaksanakan.
Segala macam cara pun dilakukan oleh Alea agar membuat Agam membenci dirinya dan mundur dari perjodohan itu.
Agam yang tidak ingin membuat Alea semakin terjerumus ke hal hal yang negatif hanya karena tidak ingin dijodohkan dengan dirinya pun akhirnya memutuskan untuk pergi menjauh dan menghilang dari kehidupan Alea.
Namun, disaat Agam sudah pergi, Alea baru menyadari jika di hatinya sudah terpaut kepada pemuda baik itu dan Alea pun merasa sangat kehilangan.
Lalu, bagaimana jadinya, jika sepuluh tahun kemudian keduanya pun kembali dipertemukan dengan Agam yang akan dijodohkan dengan wanita.
Akankah Alea merelakan Agam untuk bersama dengan wanita lain di saat dia sendiri sudah jatuh cinta kepada pria itu? Atau, Alea akan berusaha untuk mendapatkannya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Aneh Alea
Ketiga nya pun berjalan berdampingan kembali menuju ballroom. Sepanjang perjalanan, Alea lebih banyak diam.
Ia berjalan sedikit di belakang Agam dan Sania. Sesekali, pandangannya tanpa sengaja tertuju kepada keduanya.
Sania terlihat begitu akrab dengan Agam. Cara wanita itu berbicara, cara ia memanggil Agam dengan sebutan ‘Mas’, bahkan bagaimana Agam menanggapi perkataannya dengan santai, mereka terlihat sangat akrab.
Bahkan, Sania mengetahui apa yang tidak ia ketahui tentang Agam. Kedua orang didepannya terlihat sangat serasi.
Namun, entah kenapa, Alea merasakan sesuatu yang aneh didalam hatinya saat melihat kedekatan itu.
Alea menundukkan kepalanya. Ia benar-benar merasa tidak nyaman. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menyelusup kedalam hatinya.
Padahal, ia tidak memiliki alasan apapun untuk merasa seperti itu.
Agam bukan siapa-siapa baginya. Setidaknya, begitulah yang selama ini ia yakini.
“Mas.”
Lamunan Alea buyar seketika saat Sania kembali membuka suaranya.
“Hm?”
“Nanti setelah bicara sama Papa, jangan langsung pergi, ya.”
“Kenapa?”
“Papa mau mengenalkan kamu kepada beberapa orang.”
Agam menghela nafas. Seperti ada beban besar yang ia pikul saat Sania mulai membuka pembicaraan dengannya.
“San, aku datang ke sini bukan untuk mencari kenalan. Aku datang ke sini untuk mewakili Papa yang tidak bisa hadir.”
“Aku tahu. Tapi Papa sudah terlanjur buat janji untuk mengenalkan kamu.” jawab Sania tertawa kecil. Sementara Agam hanya menggelengkan kepala.
“Papa kamu selalu saja begitu.”
“Itu tandanya, beliau sayang sama kamu, Mas. Terima saja.”
Kedua orang itu terlihat asik berbincang. Sementara Alea, ia berjalan dalam diam. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan dan apa yang harus ia katakan.
Tidak lama kemudian, mereka pun sampai di depan pintu ballroom. Suara musik dan percakapan para tamu kembali terdengar begitu pintu terbuka.
Cahaya lampu yang terang menyambut ketiganya. Agam berjalan lebih dulu, disusul Sania dan Alea. Namun, baru beberapa langkah masuk, Sania tiba-tiba berhenti.
“Nah, itu Papa.”
Agam mengikuti arah pandang Sania.
Di dekat salah satu meja, seorang pria paruh baya berdiri sambil berbincang dengan beberapa tamu.
Begitu melihat Agam, pria itu langsung mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Agam menghampiri.
“Mas Agam, itu Papa manggil.” lanjut Sania. Agam mengangguk.
“Ya sudah. Aku kesana dulu.”
“Aku ikut.”
Sania tersenyum senang, lalu menggandeng lengan Agam dengan santai.
Tanpa sadar Alea melihat gerakan itu dan lagi-lagi, dadanya terasa sesak. Ia pun bergegas mengalihkan pandangan.
Agam dan Sania kemudian berjalan menuju Pak Surya. Meninggalkan Alea seorang diri yang menatap nanar ke arah pasangan itu.
Refleks, tangan Alea mencengkram kuat dress bagian bawahnya demi menekan rasa sesak yang kini sudah menjalar di seluruh tubuhnya.
“Alea…”
Deg.
Seketika, Alea bangun dari lamunannya. Ialu menoleh ke arah sumber suara.
“Ayah.”
Alea bergegas menghampiri sang Ayah dengan senyum yang ia paksakan.
“Dari mana? Ayah mencarimu.”
“Dari luar sebentar. Cari udara segar.”
“Begitu. Kita pulang, yuk. Ayah Khawatir sama Bunda. Gak tega kalau ditinggal lama-lama.”
“Memangnya sudah boleh pulang?”
“Sudah. Acaranya sudah selesai. Tinggal bincang-bincang saja. Tapi, sepertinya Ayah akan melewatkan nya karena terlalu khawatir dengan keadaan Bunda.”
“Baiklah. Kalau begitu kita pulang sekarang.”
Sebelum beranjak, Alea sempat melirik ke arah Agam. Ingin sekali berpamitan dengan pria itu, namun Agam terlihat sibuk.
Akhirnya, Alea pun pergi meninggalkan ballroom tanpa berpamitan kepada Agam.
Tepat setelah Alea keluar dari ruangan. Agam melirik ke arah tempat tadi dia meninggalkan Alea sendirian.
Agam tersentak saat tidak mendapatkan Alea disana. Ada rasa sesal dalam hatinya karena meninggalkan Alea begitu saja tanpa mengajak gadis itu untuk ikut bersamanya.
Agam sempat menelusuri setiap sudut ruangan, berharap akan menemukan Alea di salah satu sudut ruangan itu. Namun nihil, sepertinya Alea sudah pergi meninggalkan ruangan itu. Kini, ia kembali kehilangan gadis itu.
“Sial.” gumamnya. Tanpa ia sadar jika ucapan itu keluar begitu saja dari mulutnya.
“Apa, Mas? Kamu bilang sesuatu?” tanya Sania yang tanpa sengaja mendengar Agam bergumam.
Agam kembali tersentak, ia tidak menyadari jika gumamannya akan didengar oleh Sania.
“Tidak. Aku tidak bilang apa-apa.” jawabnya, mengelak.
***
Sementara itu, di dalam mobil. Alea kembali membuka ponselnya. Membuka kolom pesan antara dia dan Agam.
Pesan terakhir di kolom itu masih sama, seperti sepuluh tahun yang lalu. Selama beberapa saat, ia menatap kolom pesan itu.
Hingga akhirnya, Alea pun berniat menghapus jejak percakapan itu. Jarinya sudah menyentuh layar ponsel, bersiap menekan pilihan untuk menghapus seluruh riwayat pesan antara dirinya dan Agam.
Namun, belum sempat Alea melakukannya, sesuatu membuat gerakan tangannya terhenti dengan dahi yang mengkerut.
Matanya terpaku pada layar. Pesan-pesan yang selama ini hanya menampilkan satu centang, tiba-tiba berubah.
Satu per satu pesan yang pernah ia kirim sepuluh tahun lalu kini berubah menjadi dua centang berwarna biru membuat tubuh Alea membeku seketika.
“I-ini… ke-kenapa pesannya berubah?” gumamnya tak percaya
Ia mengedipkan mata beberapa kali, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Ia bahkan mengusap layar ponselnya, memastikan bahwa ia tidak salah melihat. Namun, tanda itu tetap sama.
Dua centang biru. Dan seluruh pesan yang pernah ia kirim kepada Agam sepuluh tahun lalu kini menunjukkan tanda telah dibaca.
Nafas Alea tercekat. Tangannya mulai terasa dingin. Selama sepuluh tahun, ia selalu mengira pesan-pesan itu tidak pernah sampai kepada Agam.
Ia mengira Agam tidak pernah membaca satu pun dari semua pesan yang ia kirimkan.
Ia bahkan sempat berpikir bahwa mungkin Agam memang sengaja mengabaikannya. Namun sekarang… Semua pesan itu telah dibaca.
Alea menelan ludah. Belum hilang keterkejutan itu, layar ponselnya kembali berubah. Satu notifikasi pesan baru muncul.
Dan itu dari Agam.
Jantung Alea langsung berdegup lebih cepat. Tangannya refleks menggenggam ponsel lebih erat. Lalu membuka pesan itu dengan tangan yang gemetar.
[Agam: “Kamu di mana?”]
[Agam: “Aku mencarimu, Al.”]
[Agam: “Sudah pulang, ya?]
[Agam: “ Kenapa gak bilang kalau mau pulang cepat?”]
Alea terdiam. Karena bukan cuma satu pesan, tetapi, Agak mengirim beberapa pesan secara berturut-turut.
Seolah, pria itu tidak sabar ingin mendapatkan balasan dari Alea. Membuat Alea kebingungan.
Bukankah beberapa saat lalu Agam terlihat sibuk bersama Sania?
Bahkan, pria itu pergi meninggalkannya sendirian.
Lalu mengapa sekarang Agam mencarinya? Alea menatap kolom balasan. Jarinya bergerak perlahan untuk mengetik balasan.
Namun, belum sempat ia menekan keyboard di layar ponsel itu. Pesan baru dari Agam kembali masuk.
[Agam: “Balas pesanku, Al. Jangan cuma dibaca. Aku khawatir.”]
Deg.
Alea kembali tersentak, ia lupa jika ia mengaktifkan tanda dibaca. Sehingga, lawan bicaranya di kolom pesan itu tahu jika Alea sudah membaca pesannya.
Alea pun bergegas mengetik balasan agar Agam tidak mengkhawatirkannya lagi.
[Alea: “Aku sudah pulang, Kak.”]