Mahardika yang harus menanggung penyakit kusta selama 3 tahun, setelah berobat di berbagai macam caranya, dari obat alternatif, hingga rumah sakit besar, tapi penyakitnya tak kunjung sembuh.
Hingga akhirnya, uang tabungan habis untuk berobat dan hanya tinggal sebidang tanah dan sebuah rumah yang tersisa. Dan itu tidak mungkin ia jual karena hanya itu satu-satunya peninggalan untuk anak dan istrinya.
Hingga akhirnya ia bermimpi ada seorang kakek datang dan memintanya untuk datang ke gunung Merapi jika ia mau sembuh.
Mahardika pun meminta izin dengan istrinya, dan berharap bisa sembuh jika ia berobat dengan kakek tersebut.
Hari berganti bulan, hingga akhirnya dia tahun berlalu. Kini Mahardika sudah sembuh total dan sehat kembali dan mendapatkan wasiat menjadi tabib.
Tapi saat ia pulang, alangkah terkejutnya dia. Karena rumah dan tanah itu sudah terjual, dan lebih sakitnya, anaknya ternyata di titipkan ke panti, sementara istrinya sudah menikah lagi.
Akhirnya ia membangun keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Malam harinya...
Mahardika dan Amel untuk bersiap-siap menghadiri undangan makan malam Tuan Baskoro.
Mahardika mengenakan kemeja rapi yang ia beli tadi siang di pasar kecamatan, sementara Amel mengenakan gaun anak-anak berwarna merah muda yang nampak sangat manis.
"Papa, Amel cantik nggak?" tanya Amel sambil memutar tubuhnya di depan cermin tua yang ada di kamar.
Mahardika tersenyum hangat, lalu berjongkok dan merapikan pita kecil di rambut putrinya.
"Putri Papa selalu cantik. Ayo, mobil jemputan Tuan Baskoro sepertinya sudah sampai di depan," ajak Mahardika mengandeng tangan Amel.
Di luar pekarangan, ada sebuah sedan hitam. Pengemudi yang mengenakan jas rapi langsung turun dan membukakan pintu mobil begitu melihat Mahardika dan Amel melangkah keluar.
"Silakan naik, Dokter Mahardika, Dik Amel. Tuan Besar Baskoro sudah menunggu di Restoran Grand Imperial," ujar sang pengemudi penuh hormat.
Perjalanan menuju pusat kota memakan waktu sekitar tiga puluh menit.
Restoran Grand Imperial merupakan restoran bintang lima termewah di pusat kota, tempat di mana kalangan pengusaha kelas atas, pejabat, dan tokoh elit sering berkumpul.
Setibanya di sana, sang pengemudi menuntun Mahardika dan Amel menuju ruang VIP utama yang terletak di lantai tertinggi.
Saat pintu terbuka, terlihat sebuah ruangan megah dengan meja makan bundar besar yang dihiasi lampu kristal gantung.
Tuan Baskoro yang sedang berbincang dengan beberapa tamunya langsung berdiri begitu melihat kedatangan Mahardika.
"Dokter Mahardika! Mari, silakan masuk!" panggil Tuan Baskoro ramah.
Ia melangkah menyambut Mahardika dan menyalami tangannya dengan erat.
"Jangan panggil saya Dokter, Tuan Baskoro, panggil saja Tabib," kata Mahardika.
"Ah iya iya," jawab Baskoro tersenyum.
Baskoro menunduk tersenyum pada Amel. "Selamat malam, Amel cantik."
"Selamat malam, Paman Baskoro," sahut Amel sopan.
Di dalam ruangan tersebut, duduk dua orang tokoh terkemuka kota, Walikota dan Kepala Rumah Sakit Utama Kota.
Selain itu, di sudut meja lainnya, duduk seorang pria muda berstelan jas sangat mahal dengan raut wajah dingin dan angkuh, serta seorang wanita bergaun mewah di sampingnya.
Begitu mata Mahardika tertuju pada pasangan tersebut.
Wanita bergaun mewah itu adalah Ningsih, mantan istrinya yang dulu meninggalkannya saat ia terbaring sakit.
Dan pria di sampingnya adalah Aris, pengusaha muda kaya raya yang kini menjadi suami baru Ningsih sekaligus mitra bisnis Perkasa Group.
Ningsih dan Aris yang semula mengobrol santai seketika terdiam saat melihat sosok pria yang berjalan di samping Tuan Baskoro.
"M-Mahardika?!" bisik Ningsih terperanjat hebat.
"Bagaimana bisa dia ada di sini?!" bisiknya dengan wajah pucat.
"Pria miskin dan sakit-sakitan itu... kenapa Tuan Baskoro membawanya ke ruangan VIP ini?!" bisiknya lagi.
Tuan Baskoro, yang belum menyadari riwayat hubungan di antara mereka, memimpin Mahardika menuju kursi kehormatan di sebelah kanannya.
"Para hadirin sekalian. Izinkan saya memperkenalkan sosok paling berharga bagi saya. Ini adalah Tabib Mahardika. Tanpa keahlian medis dan pertolongan ajaib dari beliau kemarin malam, saya tidak akan berada di sini bersama kalian hari ini," ujar Tuan Baskoro dengan senyum mengembang menarik perhatian semua orang di ruangan itu.
Walikota dan Kepala Rumah Sakit langsung berdiri dan memberikan tepuk tangan penuh kekaguman, menyalami Mahardika dengan rasa hormat yang tinggi.
Namun, Aris tiba-tiba terkekeh dingin.
"Tuan Baskoro, Anda tidak sedang bercanda, kan? Pria ini... saya sangat mengenalnya. Dia cuma mantan suami dari istri saya sekarang. Dua tahun lalu dia hanyalah lelaki tidak berguna yang sakit-sakitan dan melarat! Bagaimana bisa orang seperti ini disebut tabib?" kata Aris dengan nada meremehkan seraya berdiri dari kursinya.
Mendengar ucapan Aris, suasana ruangan VIP yang megah itu mendadak hening.