NovelToon NovelToon
Istri Terbuang, Sang Imperatrix

Istri Terbuang, Sang Imperatrix

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Lari dari Pernikahan / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anna Brenda

Roxanna Rasmussen menyerahkan segalanya demi seorang pria yang tak pernah benar-benar mencintainya. Selama tiga tahun ia memainkan peran istri yang setia bagi Alessandro Selenko—konglomerat media dingin yang menikahinya karena keterpaksaan keluarga—sambil menelan setiap penghinaan dengan senyum. Lalu, tepat saat ia mengetahui dirinya mengandung, cinta pertama sang suami kembali... dan Alessandro menyodorkan surat cerai bagai hadiah.

Kali ini, Roxanna tak sudi lagi menjadi perempuan bodoh.

Ia melepas cincin kawinnya, menghilang tanpa jejak, dan memulai hidup baru dari titik nol—hamil, sebatang kara, terdampar di jalanan sebuah kota asing. Di sanalah Chris, pemilik restoran berhati hangat, menemukannya dan menawarkan tempat berlindung yang tak pernah ia dapatkan dalam pernikahannya.

Tapi Roxanna menyimpan satu rahasia yang bahkan tak diketahui pria yang paling ingin menghancurkannya: perempuan yang mereka campakkan ini adalah pewaris sebuah kerajaan bayangan. Dan ketika Sang Imperatrix bangkit dari keterpurukan, semua orang yang pernah meremehkannya akan belajar satu hal—bahwa perempuan yang tak lagi punya apa pun untuk dilindungi adalah lawan yang paling mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna Brenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cinta yang Sejati

Di belahan dunia yang lain, di sebuah ruang konferensi yang terang dan modern, Chris duduk di meja, dikelilingi para pengusaha ternama di bidang restoran.

Suasana sarat dengan harapan dan energi sementara ia memaparkan visinya untuk restoran sekaligus bar miliknya. Ruangan itu elegan, dindingnya dihias foto-foto hidangan mewah dan koktail yang menggugah, mencerminkan esensi dari apa yang telah ia ciptakan.

Ketika Chris menyebutkan bahwa restorannya beroperasi sebagai tempat makan di siang hari dan menjelma menjadi bar di malam hari, salah seorang pengusaha yang hadir, pria paruh baya dengan tatapan penuh perhatian dan ketertarikan, mengangkat alis terkejut. "Sebuah konsep yang inovatif," ujarnya penuh kagum.

"Jarang ada tempat yang mampu menyeimbangkan dua sisi ini dengan begitu mulus. Chris, kau menemukan peluang emas dengan memadukan restoran dan bar di satu lokasi. Ini bukan hanya meningkatkan keuntungan tempat, tapi juga menarik beragam kalangan pengunjung, menjamin arus pelanggan yang konstan. Selain itu, potensi sinergi dan efisiensi skalanya sangat menjanjikan. Sejujurnya, aku terkesan dengan visi bisnis dan kreativitasmu."

Anton, rekannya, tersenyum puas mendengarnya. Ia lalu memanfaatkan kesempatan itu untuk menegaskan kembali keputusan yang mereka ambil bersama,

"Aku sudah tahu bahwa aku membuat pilihan yang tepat saat menjalin kemitraan dengan Chris." Ia memulai dengan suara mantap dan percaya diri. "Yang tak disadari banyak orang, rahasia sukses di industri kuliner terletak pada kemampuan beradaptasi dan berinovasi. Chris menghadirkan visi yang segar dan strategi unik yang memadukan gastronomi terbaik di siang hari dengan atmosfer hidup kehidupan malam. Ini bukan hanya menarik kalangan yang berbeda sepanjang hari, tapi juga memaksimalkan potensi pendapatan. Siapa pun yang berinvestasi bersama kami, hanya akan meraup untung."

Chris mendengarkan kata-kata Anton dengan penuh syukur, merasa gagasannya diakui. Ia tahu bantuan itu datang pada saat yang tepat; kemitraan baru ini bisa membawanya jauh.

Tapi sementara pertemuan berlangsung, pikirannya kerap melayang pada Roxanna. Rindunya begitu besar; setiap kata yang diucapkan para pengusaha itu seakan bergema di hatinya bagai pengingat akan jarak yang memisahkan mereka.

Meski keadaan yang mereka hadapi rumit, ia membiarkan dirinya memikirkan Roxanna. Tak ada yang menghalanginya untuk memimpikan momen-momen bersama: tawa yang mereka bagi, tatapan penuh pengertian, dan koneksi tak terjelaskan yang mereka miliki. Meski tahu segalanya sulit bagi mereka berdua, Chris merasakan bara menyala di dalam dirinya; itulah motivasinya untuk terus memperjuangkan masa depan yang lebih baik bersamanya.

Percakapan dengan para pengusaha berjalan sangat lancar. Mereka tertarik dengan proposalnya dan tampak bersemangat dengan berbagai kemungkinan investasi. Chris memaparkan gagasan-gagasannya dengan percaya diri, menjabarkan setiap detail tentang bagaimana restorannya bisa unggul di pasar kuliner yang kompetitif.

Sementara para pengusaha mengajukan pertanyaan dan menyatakan minat, ia menyadari bahwa ia tengah membangun sesuatu yang lebih besar dari sekadar bisnis; ia tengah menciptakan fondasi kokoh untuk masa depan di mana Roxanna bisa berada di sisinya, meski masa depan itu masih diselimuti ketidakpastian.

Pertemuan berakhir dengan tepuk tangan dan janji untuk melanjutkan negosiasi.

Chris keluar dari ruangan itu dengan perasaan bergairah kembali. Ia tahu telah mengambil langkah-langkah penting untuk mewujudkan impiannya, dan pada saat yang sama, tetap menyalakan keinginan untuk menemukan cara agar bisa bersama Roxanna lagi.

Ia membuka pintu kamarnya, ruangan yang mencerminkan kepribadiannya: modern, tapi hangat, dengan pemandangan kota bercahaya yang memukau. Ia menarik napas dalam, adrenalin dari pertemuan tadi masih berdenyut di nadinya. Tanpa ragu, ia menghampiri meja kerja tempat ponselnya sedang mengisi daya, dan cepat menekan nomor restoran di Havencity.

Jantungnya berpacu saat mendengar nada sambung.

Dari ujung sambungan, suara Roxanna yang akrab bergema, membawa kehangatan seketika ke hatinya. "Aurorabyer, ada yang bisa dibantu?" Cara ia menyebut nama tempat itu selalu membuatnya merasakan campuran nostalgia dan sayang.

"Seorang perempuan berambut merah yang cantik, sedang hamil, dan telah merebut hatiku," jawabnya, tersenyum membayangkan binar di mata Roxanna.

Jawaban Roxanna seketika dan penuh humor: "Tuan harus menunggu. Dia belum siap disajikan."

Chris tertawa, menyukai betapa Roxanna selalu larut dalam candaan mereka.

Ia lalu menggoda, "Kukira restoran ini layanan cepat saji. Boleh kutarik bintang-bintangnya?"

Pertanyaan itu melayang di udara bagai lelucon ringan, tapi Roxanna tak menyia-nyiakan kesempatan untuk membalas dengan cerdas dan penuh gairah.

"Ah, Chris, kau tahu bintang-bintang itu bagian dari pesona menu kami. Tanpanya, rasa hidup akan kehilangan kilaunya! Lagi pula,"* ia menambahkan dengan nada manis, "penantian membuat setiap momen lebih istimewa. Dan ketika dia tiba nanti, itu akan menjadi jamuan sejati bagi kita berdua."*

Keduanya berbagi senyum yang melampaui jarak fisik di antara mereka. Chris merasa terhibur oleh koneksi tulus itu dan oleh cara Roxanna mampu mengubah kata-kata paling sederhana menjadi puisi.

"Bagaimana keadaanmu dan bayinya?" tanyanya, kekhawatiran yang bercampur cinta tersirat dalam suaranya.

"Kami merindukanmu,"* jawab Roxanna lembut. "Kadang aku rindu dimarahi supaya makan dan minum obat."* Tawanya menular, dan Chris ikut tertawa, mengenang saat-saat ia mendesak Roxanna untuk merawat dirinya sendiri.

"Aku hanya ingin memastikan kau tak lupa menjaga diri,"* ujarnya penuh sayang. "Dan siapa lagi yang bisa mengingatkanmu betapa pentingnya makan kalau bukan aku?"*

"Aku janji akan segera pulang,"* katanya dengan mantap. "Dan ketika itu terjadi, kita akan mengadakan perayaan yang layak untuk bintang-bintang."*

"Aku menghitung hari," jawab Roxanna dengan sedikit emosi dalam suaranya.

Roxanna menarik napas dalam sebelum menyampaikan kabar yang membebani hatinya. "Aku harus memberitahumu bahwa Bryan datang mencarimu," ucapnya, kekhawatiran terpancar jelas dari suaranya.

Chris merasakan rasa dingin menjalar di perutnya. Ia tahu Bryan hanya akan mencarinya bila urusannya serius.

"Kenapa kau tak pernah bilang bahwa kau mencurigai ibumu tak meninggal seperti yang dilaporkan?" Roxanna melanjutkan, matanya berbinar dengan campuran rasa ingin tahu dan empati.

Chris terdiam, mencerna pertanyaan itu.

Kenangan akan kepedihan dan kebingungan menghantamnya bagai ombak. Akhirnya ia menjawab, "Karena aku merasa Aurora yang membunuh ibuku. Tapi waktu itu aku terlalu jatuh cinta padanya untuk mempercayai omong kosong seperti itu." Ketulusan dalam suaranya terasa nyata, dan Roxanna bisa merasakan kepiluan yang ia pikul.

Sebuah helaan napas lolos dari bibir Roxanna. "Dan bagaimana kalau dia memang terlibat, Chris?"

Pertanyaan itu menggantung di udara, berat dan penuh kemungkinan. Kesunyian menyelinap di antara mereka sementara Chris merenungkan kata-katanya.

Keraguan yang telah lama menggerogotinya kini terasa lebih nyata dari sebelumnya.

"Chris?" Ia memanggil lembut, seolah tahu pria itu tengah bergulat dalam batinnya.

"Kau takkan suka jawabannya,"* akhirnya Chris berkata, suaranya membawa beban yang belum pernah Roxanna dengar sebelumnya. "Dan aku tak ingin kau kecewa padaku."*

Keterkejutan terdengar jelas dalam suara Roxanna. "Jangan lakukan apa pun yang akan mencelakakanmu, Chris. Tidak sepadan."* Ada urgensi dalam kata-katanya, permohonan tulus agar ia memikirkan kembali tindakannya. "Menurutmu ibumu akan menyukai itu? Balas dendam tak pernah jalan yang baik. Karena bahkan setelah kaulakukan, rasa kalah itu tetap ada, sebab kau menurunkan dirimu setara mereka, alih-alih menguatkan diri."*

Chris merasakan kata-katanya menggema dalam dirinya, tapi amarah dan pedih masih membara bagai bara panas di dadanya. Ia menatap ke luar jendela kamarnya, memandangi lampu-lampu kota berkelip di kejauhan, masing-masing mewakili satu kehidupan yang berbeda, kehidupan tanpa beban emosional yang ia pikul.

"Jadi kau takkan berbuat apa-apa terhadap suamimu?"* Ia bertanya dengan nada lebih tajam, nyaris menantang. "Kau akan membiarkannya lolos begitu saja?"*

Roxanna ragu sejenak sebelum menjawab. "Ini bukan soal membiarkan seseorang lolos, Chris,"* ucapnya mantap. "Ini soal memutus lingkaran luka dan penderitaan ini. Kalau aku mencari balas dendam, aku hanya akan melanggengkan kekerasan dan kebencian yang sama."*

Chris kembali terdiam, bergulat antara naluri primitifnya dan nalar yang berusaha Roxanna sampaikan. Ia tahu Roxanna benar, tapi gagasan untuk berdiam diri sementara ketidakadilan terjadi terasa tak tertahankan.

"Aku hanya ingin keadilan," gumamnya, lebih untuk dirinya sendiri ketimbang untuk Roxanna.

"Keadilan bisa dicapai tanpa harus turun ke level mereka,"* jawab Roxanna lembut, berusaha menenangkannya. "Ayo kita cari cara untuk menghadapi ini bersama-sama."*

Roxanna selalu memiliki bakat untuk menerangi bahkan momen-momen paling gelap dengan kata-katanya yang lembut dan bijak. Dan sementara Chris menyimak dengan saksama, ia mulai menyadari bahwa mungkin kekuatan sejati terletak pada memilih jalan pengertian dan kedamaian, bahkan ketika segala sesuatu di sekelilingnya menuntut balas dendam.

"Apa yang Bryan katakan?" tanyanya, suaranya nyaris tak sanggup menyembunyikan ketegangan.

Roxanna menarik napas dalam sebelum menjawab, tahu bahwa setiap kata seberat timah. "Bahwa kematian ibumu disebabkan luka di pelipisnya dan bahwa seorang perempuan berambut pirang menyuap ahli forensik untuk berbohong soal hasil otopsinya." Setelah selesai, ia mengamati ekspresi Chris berubah menjadi campuran syok dan rasa bersalah.

"Jadi aku yang menyebabkan kematian ibuku karena jatuh cinta pada perempuan seperti Aurora!" Rasa bersalah dalam suaranya terasa nyata, sebuah beban yang seakan menghancurkannya.

Roxanna merasa hatinya mencengkeram melihat pedih terpampang di wajah Chris.

"Tunggu," ucapnya cepat, menyadari pria itu hampir meluncur ke jurang penyalahan diri.

Roxanna memutus sambungan dan berjalan hati-hati ke kamarnya, kehamilan yang kian membesar mulai membuatnya lekas lelah. Ia mengambil ponsel dan menelepon video Chris kembali.

Ketika Chris muncul di layar, tatapannya kosong, seolah hilang dalam pikiran-pikiran gelapnya sendiri. "Ini bukan salahmu, hentikan itu, Chris," ia mendesak, suaranya mantap dan menenangkan.

Chris seakan berada di dunia lain, matanya redup dan tanpa fokus. Roxanna tahu pria itu tengah menderita dan kata-katanya perlu menembus kabut keputusasaan itu. "Kau mau aku datang menemuimu?" tanyanya, berharap bisa berada di sisi Chris untuk memberikan pelukan yang menenangkan.

Chris mengangkat pandangannya lewat layar dan berkata, "Jangan. Kalau kau datang, aku takkan sanggup menahan diri terlalu lama." Pengakuan itu lolos dari bibirnya bagai bisikan sarat emosi.

Roxanna merona menyadari kerapuhannya; itu momen langka ketika ia membuka diri sepenuhnya.

"Aku juga," jawabnya tulus, senyum malu-malu merekah di wajahnya. Mereka bertukar senyum serempak, secercah cahaya kecil di tengah kegelapan yang mengelilingi mereka.

Tapi kemudian Roxanna teringat sesuatu yang penting dan berkata, "Aku sudah minta bantuan temanmu soal Alessandro." Kekhawatiran dalam suaranya jelas; ia ingin memastikan Chris tahu.

"Yakinlah dia orang yang sangat baik,"* jawab Chris, tapi ia segera menambahkan dengan nada berhati-hati, "Hanya saja, jangan terlalu dekat dengannya."* Kekhawatiran terpancar jelas dari tatapannya. "Bryan orang yang bisa kaupercaya, tapi aku takut dia jatuh cinta padamu."* Ia menghela napas berat sebelum melanjutkan, "Dia jauh lebih baik dariku dalam hal keamanan dan kestabilan."*

Roxanna tersenyum tipis mendengarnya; ada sesuatu yang manis dari cara Chris mengungkapkan kekhawatirannya bahkan di tengah badai yang ia hadapi sendiri. "Chris,"* ucapnya lembut, "jangan lupa bahwa kau pun luar biasa dengan caramu sendiri. Cinta bukan sebuah kompetisi."*

Chris menatapnya dengan syukur di matanya, tapi tetap memikul beban tak kasat mata di pundaknya. "Aku hanya ingin melindungimu," akhirnya ia berkata.

"Dan aku pun ingin melindungimu," jawab Roxanna, bertekad untuk tetap berada di sisinya menghadapi badai emosi ini.

Chris berbaring di ranjangnya, tatapannya terpaku pada layar ponsel sementara ia memikirkan cara mengangkat sebuah topik yang sensitif. Ia menarik napas dalam, jantungnya berpacu. "Bagaimana kehamilanmu?" tanyanya, suaranya diwarnai kekhawatiran dan rasa ingin tahu.

Roxanna tersenyum, merasakan sayangnya pada pria itu meluap. "Semua baik-baik saja, hanya sedikit melelahkan," jawabnya, tahu Chris sangat peduli padanya dan pada calon putri mereka.

Tapi ia segera merasa perlu mengalihkan topik untuk meredakan ketegangan yang menggantung di antara mereka. "Kau tak ingin tahu bagaimana perkembangan restoran? Bagaimana kalau aku membuatnya bangkrut?"

Chris tersenyum, ekspresi jenaka muncul di wajahnya. "Kalau begitu, aku suka membangunnya kembali dari awal."* Ia menggeleng, seakan menikmati gagasan itu. "Tidak. Satu-satunya perhatianku ada di ujung telepon ini. Dan kau serta seluruh staf restoran mampu menangani semuanya."* Ketulusan dalam suaranya membuat Roxanna merasa dihargai.

Roxanna membalas senyumnya dan bertanya, "Kau sudah menemukan makam putramu?" Nadanya lembut, mencoba menyinggung topik yang selalu membawa luka.

"Belum. Aku minta Bryan menyelidikinya,"* jawab Chris, raut wajahnya berubah lebih serius. "Kalau dia muncul, itu karena dia menemukan sesuatu yang buruk."*

Roxanna mengangguk, memahami beratnya situasi. Lalu, dalam nada yang lebih ringan, ia berkata, "Dia juga sangat tampan. Kenapa dia belum punya kekasih?"

Chris merasakan tusukan cemburu dan bercanda, "Ah, jadi aku sudah kehilanganmu juga untuknya? Ayolah, apa yang dia punya yang tak kupunya?" Suaranya bercampur humor dan rasa tak aman.

Roxanna tertawa di seberang layar, suara yang menerangi harinya. "Kurasa putri kita akan berpikir sama tentang Bryan," ucapnya tanpa banyak berpikir.

Mendengar "putri kita", Chris tak bisa menahan senyum yang muncul tanpa sengaja. Matanya berbinar dengan cinta yang tulus sementara ia memandang layar. Meski tahu bayi itu bukan darah dagingnya, ia mencintainya seolah anaknya sendiri dan tak sabar untuk menggendongnya dalam pelukan.

"Aku cemburu pada Bryan," ia mengaku, suaranya kini lebih lembut.

Roxanna mengangkat alis, geli dengan situasi itu. "Kau tak perlu begitu,"* jawabnya penuh kelembutan. "Karena hanya kau yang memiliki hatiku."*

Kata-katanya menggema dalam-dalam di hati Chris, mengusir segala rasa tak aman yang mungkin ia rasakan.

Ia menyadari bahwa meski di tengah segala kesulitan dan ketidakpastian di sekitar mereka, ada cinta yang tulus di antara mereka, cinta yang cukup kuat untuk menghadapi badai apa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!