Bobby seorang pelajar SMA, umur 18 tahun. Jatuh cinta dengan Nia, 32 tahun. Sahabat dari Tante nya Bobby yang bernama Farah.
Tante Nia yang cantik, cuek,dan konyol mampu membuat Bobby jatuh cinta pada pandangan pertama.
Sayangnya Bobby harus bersaing dengan lelaki bernama Roy, yang juga menyukai Tante Nia.
Bagaimana Bobby bisa menaklukkan hati Tante Nia?
Ikuti kisahnya ya. :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de'rini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12# Calon istri?
Tok..Tok..Tok..Tok..!
Tepat pukul enam sore, Nia mengetuk pintu ruangan Roy. Kali ini tidak ada jawaban dari Roy, melainkan lelaki itu sendiri yang membukakan pintu ruangan nya untuk Nia.
Nia terkejut saat Roy membukakan pintu untuk nya.
"Pak, saya sudah siap." Ucap Nia saat melihat Roy dari balik pintu ruangan tersebut.
Roy memandangi Nia dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Perfect." Ucap nya. Lalu, ia menutup pintu ruangan nya dan berjalan di depan Nia.
Nia masih berdiri mematung menatap lelaki itu.
"Ayo, tunggu apa lagi?' Ucap Roy sambil menoleh ke belakang menatap Nia yang terlihat cantik dengan gaun yang panjang nya selutut, berwarna hitam dan high heels berwarna senada.
"Iya Pak." Sahut Nia. Lalu, ia berjalan di belakang Roy.
Mereka berdua masuk kedalam lift yang mengantar mereka ke lantai dasar. Di dalam lift Roy menatap Nia dari pantulan pintu lift di depan nya.
Roy adalah seorang pengusaha muda berusia tiga puluh tiga tahun, yang masih single. Dirinya di minta untuk memegang perusahaan itu oleh Ayah nya. Karena Ayah nya ingin pensiun dan menikmati hidup di umur senja.
Roy mempunyai tubuh yang atletis dan tinggi badan sekitar seratus tujuh puluh lima sentimeter. Kulit nya yang eksotis, senyum nya yang manis mampu membuat wanita mana saja terpesona dengan nya.
Pembawaan Roy juga santai, dia terlihat sangat tenang. Tetapi, cukup tegas. Sangat mencerminkan bahwa dirinya adalah orang yang berkuasa di kantornya.
"Kamu cantik." Ucap Roy kepada Nia, saat dirinya akan keluar dari lift.
Nia tertegun beberapa saat. Lalu, ia kembali mengikuti langkah kaki Roy yang berjalan menuju depan kantor mereka.
"Selamat sore Pak, mobil nya sudah siap." Sapa supir pribadi Roy.
Roy hanya mengangguk dan tersenyum kepada supirnya.
"Wanto, kamu pulang naik taxi. Ini uang nya, saya mau menyetir sendiri." Ucap Roy kepada supir nya.
"Baik Pak." Wanto pun menerima uang yang di berikan oleh Roy. Lalu, ia mengucapkan terimakasih kepada Roy.
"Kamu duduk di depan." Ucap Roy kepada Nia. Nia hanya mengangguk. Lalu, gadis itu membuka pintu mobil sebelah kiri dan masuk kedalam mobil mewah Roy.
"Maaf Pak, apa yang harus saya lakukan nanti di sana?" Tanya Nia, saat Roy melajukan kendaraannya menuju lokasi undangan makan malam.
"Tidak ada." Ucap Roy.
Nia mengernyitkan dahinya. Lalu, ia melirik Roy dengan ragu.
"Terus? guna nya saya apa Pak?" Tanya Nia lagi.
"Kamu cukup menemani saya." Ucap Roy. Lalu, lelaki itu menghentikan laju mobil nya saat lampu merah menyala.
"Menemani?" Nia menundukkan pandangannya.
"Ya, sebenarnya ini jamuan makan malam biasa antara relasi bisnis dan saya tidak punya pasangan. Apa saya mengganggu waktu kamu?" Roy menatap wajah Nia yang terlihat semakin cantik dengan polesan make up yang sesuai dengan tema makan malam.
"Ti-tidak Pak." Ucap Nia terbata.
"Syukurlah, jadilah pasangan ku malam ini." Ucap Roy. Lalu, lelaki itu melajukan kembali mobilnya saat lampu hijau menyala.
Satu jam kemudian, Roy dan Nia sudah sampai di sebuah hotel mewah. Roy menyerahkan kunci mobilnya kepada petugas valet parking di hotel tersebut. Lalu, ia menatap Nia yang berdiri di sampingnya.
"Gandeng tangan ku." Ucap Roy kepada Nia.
Dengan ragu, Nia menggandeng tangan Roy dan mereka pun masuk menuju convention hall di hotel tersebut.
"Halo Bapak Roy apa kabar nya." Sapa seorang pebisnis kepada Roy.
"Baik-baik Pak, Bapak bagaimana kabarnya?"
"Baik. Ini calon istri Bapak kah?" Tanya pebisnis itu lagi.
"Hahahha, mudah-mudahan Pak." Jawab Roy sambil tertawa renyah.
Nia mengangkat kedua alisnya. Lalu, menatap Roy dengan tatapan yang bingung.
"Ok baik Pak Roy, enjoy..!" Ucap lelaki itu sambil tersenyum dan menjabat tangan Roy.
Setelah lelaki itu berlalu dari hadapan mereka, Roy langsung menatap Nia.
"Sorry." Ucap Roy. Lalu, lelaki itu kembali mengajak Nia untuk berbaur dengan banyak pebisnis lain nya di sana.
..
Bobby melirik jam tangannya, sudah hampir dua jam ia menunggu Nia di depan kantor gadis itu. Bobby pun menyesali karena beberapa kali pertemuan nya dengan Nia, ia selalu lupa meminta nomor ponsel gadis itu.
Semakin hari, Bobby menjadi semakin penasaran dengan Nia. Bobby menganggap Nia adalah warna baru di dalam hidupnya yang sepi.
Papa Bobby yang juga kakak kandung dari Farah, adalah seorang pengusaha sukses di Surabaya. Sedangkan Mama nya Bobby adalah seorang crazy rich yang selalu sibuk mempercantik dirinya sendiri dan pertemuan-pertemuan yang tidak penting dengan teman-teman arisan nya.
Mama Bobby acap kali berlibur ke luar Negeri. Dari Bobby kecil, ia kerap di abaikan oleh Mama nya. Sampai-sampai Bobby sudah seperti anak kandung bagi pengasuh nya sendiri.
Bobby memiliki pengasuh yang sangat menyayangi dirinya. Tetapi, saat Bobby SMP, pengasuh Bobby meninggal dunia. Hal itu membuat Bobby merasa seperti kehilangan sosok Ibu yang selama ini menyayangi dirinya. Sejak saat itu lah Bobby mulai bertingkah. Ia mulai mencari perhatian kepada orang tua nya dengan cara selalu mencari masalah di sekolah.
Tetapi, hal itu tidak membuat orang tua nya sadar bahwa anak nya butuh perhatian. Bahkan, kedua orang tua Bobby memusuhi Bobby dan selalu membanding-bandingkan Bobby dengan adik nya yang lebih dekat kepada kedua orang tua nya.
Bobby seperti terasing di tengah keluarga nya sendiri. Puncak nya, Bobby kembali membuat masalah di sekolah. Ia bertengkar dengan gurunya sendiri. Hal itu tentu saja membuat Bobby hampir saja di pecat dari sekolah nya. Untuk menghindari hal tersebut, orang tua Bobby mengirim nya ke rumah Farah dan bersekolah di Jakarta bersama Farah.
Sejak pertemuan pertama nya dengan Nia, entah mengapa Bobby merasa ada yang berbeda dengan wanita itu. Ia merasa happy dan merasa bersemangat bila melihat Nia. Sosok Nia yang cantik, cuek, rusuh dan lucu mampu membuat jantung Bobby berdetak tak beraturan saat melihat gadis itu.
Hal itu lah mengapa ia selalu mengganggu dan berusaha dekat dengan Nia.
Bobby menghela napasnya dengan berat.
"Mungkin Tante Nia, sudah pulang. Gue susul saja ah kerumah nya." Gumam Bobby.
Lalu, Bobby menyalakan mesin sepeda motor nya dan ia pun bergegas menuju rumah Nia.
Bobby mengendarai sepeda motor nya dengan kecepatan sedang. Saat ia melalui jalan yang sepi, empat buah sepeda motor melaju kencang menyusul Bobby dari arah belakang.
Ada dua orang berboncengan dari masing-masing sepeda motor yang berusaha memepet sepeda motor Bobby.
Karena empat pengendara sepeda motor tersebut terus memepet dirinya. Mau tidak mau, Bobby menepikan motornya ke sisi kiri jalan.
"Begal nih." Gumam Bobby.
"Lu Bobby?" Ucap salah satu dari delapan orang yang kini sudah berdiri melingkari Bobby.
"Kalian siapa?" Tanya Bobby tanpa mau menjawab pertanyaan dari lelaki itu.
"Buka helm nya!" Dua di antara lelaki itu langsung memegangi kedua tangan Bobby. Sedangkan seorang lagi, membuka paksa helm itu dari kepala Bobby.
"Betul Boss, ini dia orang nya..!" Seru lelaki itu saat berhasil membuka helm Bobby dan memperhatikan wajah Bobby.
"Kasih pelajaran!" Perintah seorang lelaki yang di panggil dengan sebutan Boss di antara delapan lelaki di sana.
Bobby terkejut bukan kepalang. Ia merasa tidak mempunyai musuh dan Bobby pun tidak merasa sudah berbuat salah dengan delapan orang yang sedang berusaha untuk memukuli dirinya.
"Salah saya apa?" Tanya Bobby sambil berusaha melepaskan tangan nya dari cengkeraman dua lelaki yang sedang mengunci kedua tangannya.
"Gak usah banyak tanya!" Ucap lelaki yang di panggil dengan sebutan Boss tersebut. Tak ingin membuang waktu, mereka pun langsung menghajar Bobby yang belum mengerti apa salah nya.
Suara tendangan dan pukulan bersahut-sahutan. Mereka memukuli Bobby dengan membabi buta. Sedangkan Bobby tetap berusaha untuk membela dirinya. Tetapi, apa daya? Bobby sendirian di antara delapan lelaki bertubuh tegap. Tentu saja Bobby menjadi bulan-bulanan mereka semua.
Pritttttt...!
Bunyi peluit di tiup oleh seorang petugas satpol PP yang kebetulan sedang melintas dengan mobil dinas, bersama rekan-rekannya.
BRUGGGGG..!
Tubuh Bobby yang lunglai terjatuh dari genggaman orang-orang yang sedang memukuli Bobby. Kini tubuh lelaki muda tersebut tergeletak di atas aspal.
Para lelaki bertubuh tegap tersebut melarikan diri dengan menggunakan sepeda motor mereka. Tinggallah Bobby yang sudah tak berdaya di sana.
Petugas satpol PP pun bergegas melihat keadaan Bobby.
"Bagaimana? apa dia masih hidup?" Tanya salah seorang yang terlihat lebih tua dari ke empat petugas satpol PP tersebut.
"Masih kayak nya Pak!"
"Naik kan dia kedalam mobil, kita antar ke rumah sakit sekarang juga." Perintah lelaki itu.
Tubuh Bobby di angkat ke atas mobil. Sedangkan sepeda motor nya di bawa oleh seorang petugas Satpol PP. Mereka pun meninggalkan lokasi tersebut, menuju rumah sakit terdekat untuk membawa Bobby yang sudah tak sadarkan diri.