~~
Demi aliansi politik, Iris von Draewyn—putri berambut perak dari Utara—terpaksa menikah dengan Grand Duke Darian von Ravengard, Panglima Tertinggi yang dikenal kejam dan berdarah dingin. Pernikahan mereka hampa dan dipenuhi jarak, hingga sebuah tragedi mengakhiri hidup Iris dalam kesendirian.
Namun, alih-alih mati, Iris justru terbangun di masa lalu dalam kondisi hamil muda—mengandung anak dari suami yang mengabaikannya.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 13 MIMPI MASA DEPAN
Siang Hari – Ruang Kerja Grand Duchess
Langit mulai mendung ketika Iris memutuskan untuk beristirahat sejenak di sofa ruang kerjanya. Pekerjaan hari ini tidak banyak, hanya beberapa laporan keuangan wilayah dan surat undangan dari bangsawan utara yang harus disortir. Tapi rasa letih menekan pundaknya lebih dari biasanya.
Sambil mengelus perutnya yang kian membuncit, ia bersandar di sofa panjang berhias sulaman benang emas. Kelopak matanya terasa berat. Satu-dua napas dalam... dan ia pun terlelap.
Dalam Mimpi
Awalnya hanya kabut. Putih. Lembut. Sunyi.
Lalu terdengar suara tangis—bukan tangis bayi, tapi seorang gadis muda.
Sosok itu duduk di ruang yang gelap dan dingin. Rambut perak keabu-abuan terurai panjang, tubuhnya menggigil meski tak tampak luka. Ia memeluk lututnya, menyembunyikan wajahnya. Tapi Iris tahu... itu dirinya. Atau, tepatnya... Iris yang asli.
Sang gadis berbisik lirih, suaranya putus asa.
“Aku hanya ingin dicintai tanpa harus menjadi sempurna... Tapi semua yang mereka inginkan hanyalah gelarku. Nama keluargaku. Wajahku.”
Lalu suara lain muncul—gelombang nyaring seperti suara sihir yang meledak.
Iris melihat dirinya—atau tubuhnya—berubah. Ada bayi mungil di pelukannya. Cahaya keperakan keluar dari tubuh sang bayi, seperti denyut jantung yang menyala. Tapi seiring cahaya itu memuncak... sosok Iris muda memudar, seperti terserap oleh energi itu.
“Aku... rela... asal dia hidup dengan cinta...”
Seketika, pemandangan berubah. Iris berdiri di reruntuhan istana. Api. Debu. Angin membawa suara tangis bayi. Ia menoleh dan melihat anak itu. Sudah besar. Tapi sorot matanya... kosong.
Iris melangkah mendekat, ingin menyentuh... tapi tak bisa.
“Apa ini masa depanmu?” bisiknya. “Atau... masa depan yang harus kuubah?”
Tiba-tiba tangan kecil bayi itu meraih ke arahnya dan mencengkeram udara seperti memohon.
“Jangan tinggalkan aku... Ibu...”
Suara itu menembus tulangnya. Jelas. Nyata. Seakan bayi dalam kandungannya benar-benar memanggilnya dari masa depan.
Iris terbangun seketika dengan peluh dingin membasahi pelipis.
Napasnya terengah. Tangannya langsung menyentuh perutnya.
Bayinya bergerak. Pelan. Tapi ada.
“Tenang... Ibu di sini,” gumamnya. “Ibu tidak akan pergi... Tidak akan.”
Matanya menatap jendela, wajahnya pucat. Tapi tekadnya... mulai menguat.
**
Di Sisi Lain – Lapangan Latihan Militer Kastil Ravengard
Langit yang tadi mendung mulai menurunkan gerimis. Pasukan penjaga istana tengah melakukan latihan formasi di tanah lapang. Suara derap langkah sepatu baja dan denting pedang memenuhi udara.
Namun Darian berdiri di sisi arena dengan pandangan kosong.
Tangannya memegang sarung pedang, tapi ia tidak bergerak. Sorot matanya menatap ke tanah. Dalam pikirannya, kalimat Penyihir Eldemar terus menggaung:
“Seseorang yang sangat mencintainya... akan menjadi korban pertama dari kebangkitannya.”
Dan bayangan Iris yang tersenyum hangat sambil menyentuh perutnya... menghantam dadanya dengan kekuatan yang tak terjelaskan.
“Yang Mulia.”
Arven, kapten pengawal sekaligus teman terdekat Darian, sudah berdiri di sampingnya cukup lama.
“Yang Mulia, mohon maaf,” ucap Arven akhirnya, menahan nada tegas, “Tapi ini sudah lima menit pasukan menunggu instruksi. Dan ini adalah... pertama kalinya Anda berdiri tanpa bersuara saat latihan.”
Darian tidak langsung menjawab. Matanya bergerak pelan, menatap pasukan yang berbaris tanpa arahan.
“Aku tahu.”
Arven ragu sejenak, lalu melangkah lebih dekat.
“Yang Mulia... apakah ini karena Penyihir Eldemar?”
Darian mengangkat kepalanya.
“Dia membawa ramalan. Tapi lebih dari itu, dia membawa kemungkinan.” Suaranya dalam, tapi pelan.
“Dan kemungkinan itu cukup untuk membuat Grand Duke Darian... hilang fokus?” Arven mengangkat alis, separuh bingung, separuh khawatir.
Darian menoleh perlahan.
“Aku memimpin perang di garis depan selama bertahun-tahun. Memenggal pengkhianat tanpa berkedip. Tapi sekarang... satu kalimat dari seorang penyihir tua tentang seorang bayi menghancurkan fokusku lebih dari seribu anak panah.”
Arven terdiam. Lalu berkata pelan, “Karena ini bukan tentang perang, Yang Mulia. Ini tentang... hal yang tidak bisa Anda kontrol. Tentang cinta. Dan kehilangan.”
Darian menatap Arven dalam-dalam.
“Aku tidak tahu siapa dia sebenarnya. Iris... yang sekarang. Tapi setiap kali aku melihatnya, menyentuh perutnya, atau mendengar suaranya... aku takut. Takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum benar-benar kumiliki.”
Arven meletakkan tangan di dada, memberi hormat ringan. “Maka lindungi dia, Yang Mulia. Bukan dengan pedang. Tapi dengan pilihan.”
Darian menatap langit yang mulai mendung. Lalu ia berbalik.
“Latihan dibubarkan. Pasukan kembali ke markas.”
“Perintah diterima,” jawab Arven, mengangguk. Tapi sebelum Darian pergi, ia menambahkan, “Dan, Yang Mulia... ini bukan kelemahan. Ini hanya... pertama kalinya Anda menjadi manusia.”
Darian tidak menjawab, tapi langkahnya menuju istana terasa berbeda. Lebih cepat. Lebih berat. Seakan ada sesuatu yang harus ia pastikan. Sesuatu yang harus ia jaga sebelum takdir menjemput lebih dulu.
Kembali ke Kamar Iris...
Iris masih duduk diam di ruangannya, menatap keluar jendela sambil memeluk perutnya yang kini diam. Ia tak menyadari bahwa langkah kaki berat seseorang tengah mendekati pintunya.
Dan saat Darian membuka pintu dengan mendadak, ia mendapati Iris menoleh dengan mata merah, namun bibir yang tersenyum kecil.
Darian berdiri di ambang pintu kamar, menatap Iris yang duduk di sofa panjang dekat jendela. Gaun rumah berwarna pucat melingkupi tubuhnya dengan anggun, meski terlihat jelas bahwa perutnya kini makin membulat. Ia memeluk secangkir teh hangat di tangannya, dan jendela besar di belakangnya menampilkan langit kelabu yang bergelayut di atas benteng Ravengard.
“Aku pulang lebih awal,” ucap Darian akhirnya, suaranya rendah dan mengambang di antara mereka.
Iris menoleh perlahan, tersenyum. “Begitu mendung di luar, kupikir kau akan tetap berada di arena latihan sampai malam.”
Darian masuk, menutup pintu di belakangnya. Tatapannya tetap tertuju pada istrinya, yang mencoba duduk tegak dan menegakkan bahunya walau jelas-jelas tubuhnya sedang lelah.
“Kenapa tidak istirahat di tempat tidur?” tanyanya.
Iris menyesap tehnya sedikit, lalu menjawab, “Aku baru saja bangun dari tidur siang. Aku tidak ingin menjadi terlalu malas.”
Darian tidak duduk. Ia hanya berdiri di depan Iris, matanya menelusuri setiap detail dari matanya yang sedikit sembap, jari-jarinya yang menggenggam cangkir terlalu erat, hingga gerakan tangannya yang sesekali memijat punggungnya dengan diam-diam.
“Kau menahan sesuatu,” ucap Darian datar. “Dan kau berpikir aku tidak akan menyadarinya?”
Iris membeku sejenak, lalu tertawa pelan. “Apa maksudmu?”
Darian berjalan mendekat. “Setiap malam, kau menahan napas saat berbalik di tempat tidur. Pagi ini, kau duduk terlalu lama di meja rias dan tidak menyentuh sarapanmu. Dan sekarang... kau memijat punggungmu di sela kalimat. Kau berpikir aku buta?”
Iris menunduk. Ia meletakkan cangkir di meja kecil di sampingnya dan menatap tangannya sendiri.
“Ini... hanya ketidaknyamanan biasa, Darian. Kandungan empat bulan tidak sepenuhnya lembut dan mudah.”
Darian berlutut di depannya. “Lalu mengapa kau tidak mengatakannya?”
Iris mengangkat wajahnya perlahan. “Karena aku... juga sedang belajar.”
Darian terdiam.
Iris melanjutkan, suaranya mulai bergetar pelan. “Ini kehamilan pertamaku, Darian. Aku tidak tahu apa yang normal dan apa yang tidak. Kadang aku merasa tubuhku bukan milikku sendiri. Kadang perutku keras dan sakit, tapi kemudian hilang. Aku tidak tahu kapan aku harus khawatir... dan kapan aku harus bersabar.”
Ia menahan napas sejenak sebelum berkata lagi, “Jadi aku bertanya pada Tabib Eldric. Dan dia bilang... selama tidak ada pendarahan atau kontraksi kuat, maka itu wajar. Ia bahkan... menyuruhmu untuk tidak terlalu khawatir karena katanya... ‘Grand Duke yang gelisah adalah malapetaka bagi seluruh istana.’” Iris mencoba tertawa pelan di akhir kalimatnya.
Darian tidak ikut tertawa.
Ia mengangkat tangannya, menyentuh pipi Iris dengan lembut.
“Aku tidak gelisah karena tidak percaya pada tubuhmu, Iris. Aku gelisah karena aku tahu kau keras kepala. Dan kau menahan semuanya sendirian.”
Iris mengerjapkan mata. “Aku takut jika aku terlalu lemah, kau akan—”
Darian mengangkat wajahnya dengan satu jari di dagu. “Aku akan semakin menjagamu. Itu yang akan terjadi.”
Iris mengerutkan bibirnya. “Aku tidak ingin menjadi rapuh.”
“Kau tidak.” Darian menggenggam tangannya. “Kau sedang menciptakan kehidupan. Dan kau melakukannya dengan keberanian yang lebih besar dari seribu ksatria.”
Beberapa detik mereka hanya saling memandang.
Kemudian Iris membuka suara, lebih lembut kali ini. “Tapi Darian... jika aku berubah... jika suatu hari aku tidak menjadi seperti yang kau harapkan... apakah kau akan tetap seperti ini?”
Darian mengernyit. “Apa maksudmu?”
Iris menggigit bibir bawahnya. Ia ingin mengucapkan lebih banyak tentang mimpi-mimpinya, tentang sosok Iris asli, tentang rasa bersalah yang menekan jiwanya. Tapi semua kata itu tertahan. Ia hanya menggenggam tangan suaminya lebih erat.
“Lupakan,” ujarnya lirih. “Lupakan saja.”
Darian menatapnya beberapa saat, lalu berkata dengan tenang, “Aku mencintai orang yang kau tunjukkan padaku setiap hari. Siapapun kau... kau membuatku ingin pulang ke rumah. Itu cukup.”
Iris menarik napas panjang. Air matanya mulai menggenang, tapi ia tidak menangis.
“Kalau begitu,” bisiknya, “bolehkah aku minta sesuatu malam ini?”
“Apa pun,” jawab Darian tanpa ragu.
“Jangan pergi ke ruang strategi. Tidur di sini. Di sisiku. Sepanjang malam.”
Darian mengecup punggung tangannya.
“Aku tidak berniat pergi ke mana pun malam ini. Bahkan jika langit Valeria runtuh sekalipun.”
Dan di dalam kamar mereka yang sunyi, dua jiwa yang sama-sama memendam rahasia itu kembali bersandar satu sama lain. Ada hal-hal yang belum terucap. Ada kebenaran yang masih tersembunyi. Tapi malam itu... kehangatan di antara mereka cukup untuk menenangkan kegelisahan sang ibu dan kekuatan besar yang masih tertidur dalam kandungannya.