NovelToon NovelToon
The Hidden Truth

The Hidden Truth

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:871
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Di balik hilangnya seorang gadis, tersimpan rahasia yang selama ini disembunyikan. Seorang ibu bertekad mengungkapnya, meski harus melawan kekuasaan yang selama ini tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisi gelap

"Ugh..."

Di dalam sebuah gudang pendingin yang gelap, seorang remaja perempuan membuka mata perlahan. Kesadarannya kembali sepotong demi sepotong, seperti puzzle.

"Sssttt..." ia meringis, memegang kepalanya yang berdenyut sakit.

Lyn mencoba duduk, tapi tubuhnya terasa kaku. Matanya perlahan menyesuaikan diri dengan kegelapan, menangkap bayangan rak-rak besi tinggi dan uap dingin yang mengepul dari mulutnya sendiri. Ia menunduk, dan seketika napasnya tertahan.

Bajunya basah kuyup oleh cairan merah gelap yang sudah mengering.

"D-di mana ini..." gumamnya pelan, suaranya gemetar.

Wanita itu memejamkan mata perlahan, potongan ingatan saat ia diserang oleh Clarisa dan kedua sahabatnya, hingga kesadarannya hilang, kembali terlintas di benaknya.

"Aku... masih hidup..." ucapnya pelan.

Lyn membuka mata perlahan. Di tengah serpihan ingatan itu, wajah ibunya muncul begitu jelas.

"Ibu..." bisiknya, suaranya tercekat. Ia pasti khawatir sekarang. Sudah berapa lama Lyn menghilang? Sejak kapan ia tidak pulang?

Rasa bersalah tiba-tiba menghantam dadanya. Ia ingat betul, ia pergi dengan marah, hanya karena ibunya berlutut di hadapan keluarga Clarisa. Dan sekarang, di sinilah ia—terkapar dalam kegelapan, menahan rasa sakit yang entah kapan berakhir.

Tak ingin lama-lama di ruangan ini, Lyn mencoba bangkit, meski kakinya masih gemetar menahan berat tubuhnya. Ia berpegangan pada rak besi di sampingnya, menahan pusing yang kembali menyerang.

"Aku harus keluar dari sini," gumamnya, lebih kepada diri sendiri daripada siapa pun.

"Ibu..."

Langkah pertamanya limbung, tapi ia memaksa dirinya terus berjalan, menyusuri lorong sempit di antara rak-rak tinggi.

Sementara itu, di luar gudang pendingin, Rama tampak berdiri bersama beberapa anak buahnya.

"Bos, kenapa gadis itu nggak langsung kita buang ke laut aja?" sahut yang lain.

"Uang dari anak Tuan Besar juga udah kita dapat," sahut yang lainnya.

Rama tak langsung menjawab. Ia menatap sekeliling sejenak, lalu menyeringai misterius. "Gadis itu bisa bikin kita untung dua kali lipat."

Para anak buah saling berpandangan, bingung.

"Maksudnya gimana, Bos?"

Rama menatap orang itu dengan malas, lalu menendang kakinya tanpa aba-aba. "Kalian mendingan diam. Siap-siap menghadapi badai yang bakal datang."

Ia memasukkan tangannya ke saku celananya, tatapannya mengeras. "Tuan besar pasti udah nyiapin sesuatu buat menyerang kita."

"Mulai sekarang, siapkan diri kalian!"

"Siap, Bos!"

Di balik pintu, Lyn mendengar seluruh percakapan itu. Tubuhnya membeku, jantungnya berdegup kencang.

"Apa yang akan mereka lakukan padaku..." lirihnya, suaranya nyaris tak terdengar.

Ia menggigit bibir, mencoba menahan panik yang mulai menjalar.

"Aku harus kabur dari sini."

—•—

Brakh!

Pintu kamar Clarisa terbuka dengan kasar, membuat Clarisa terperanjat.

Cakra menghampirinya dengan wajah datar, dan sorot tajam.

"Dad..."

Cakra menatap wajah putrinya penuh selidik. "Apa kau telah membunuh gadis itu?" desisnya.

Deg!

Jantung Clarisa berdegup kencang. Ia menelan ludahnya dengan kasar, ia tidak menyangka ayahnya secepat ini mengetahuinya.

Clarisa menggeleng cepat.

"Dad... aku nggak tahu maksud Daddy."

Cakra mencengkeram dagu putrinya. "Clarisa, kau pikir bisa membohongi Daddy?"

"Dad, aku... benar-benar nggak tahu maksud Daddy..." jawabnya pelan menahan rasa sakit.

Plak! Sebuah tamparan mengenai wajah Clarisa, membuatnya terhuyung ke ranjang.

Cakra meraih kerah baju putrinya. "Jawab dengan jujur, atau Daddy menyita fasilitasmu!"

Mata Clarisa melebar, ia tidak bisa jauh dari kemewahan.

"Jawab, Clarisa!"

Clarisa mengangguk cepat. "Iya, Dad... aku yang melakukannya."

Cakra menghempaskan tubuh putrinya ke ranjang, ia mengusap wajahnya dengan kasar.

"Kau tahu apa yang terjadi kalau ini sampai ke publik, Clarisa!"

"Dad, aku sudah membayar seseorang untuk melenyapkan semua bukti," ucap Clarisa.

Cakra menatap tajam putrinya. "Bodoh!"

"Orang yang kamu bayar itu bawahan Daddy. Dia bukan datang membantumu, melainkan memanfaatkan keadaan!"

Clarisa terdiam, wajahnya pucat basi. "Maksud Daddy, apa?"

"Orang yang kau bayar itu, bawahan Daddy. Dia memang salah satu orang Daddy, tapi loyalitasnya cuma sebatas uang yang paling besar." Ia menghempaskan tubuhnya ke sofa. "Sekarang dia memegang bukti pembunuhanmu. Kau pikir dia tidak akan mengambil kesempatan ini?!"

Clarisa mulai gemetar. "Tapi... aku sudah bayar dia mahal, Dad. Dia janji akan—"

"Janji?" Cakra tertawa sinis, suaranya penuh amarah yang tertahan. "Di dunia ini tidak ada namanya janji kalau sudah menyangkut uang dan kekuasaan, Clarisa!"

Wajah Clarisa semakin pucat. "Tapi, Dad... Daddy adalah orang yang berpengaruh di kota ini, masalah ini Daddy bisa tangani, kan?"

Perkataan putrinya itu membuat amarah Cakra semakin memuncak.

"Bisa-bisanya kau mengatakan itu Clarisa!"

Cakra menunjuk tajam putrinya. "Jika masalahmu ini sampai ke publik, nama baik Daddy akan tercoreng di dunia bisnis!"

Clarisa melebarkan matanya, ia langsung menghampiri ayahnya dan memeluknya. "Dad, aku melakukan ini karena dia telah melukaiku. Aku tak bisa diam, dia harus mendapatkan balasan setimpal!"

Cakra terdiam sejenak, merasakan pelukan putrinya. Amarahnya perlahan mereda, meski ada gurat kekecewaan di wajahnya. Ia melepaskan pelukan Clarisa, memegang kedua bahunya, menatapnya lekat-lekat.

"Clarisa," ucapnya lebih tenang. "Kenapa kau tidak meminta bantuan Daddy untuk menghabisinya? Kenapa kau harus bertindak sendiri?"

"Lihat akibatnya sekarang? Masalah yang seharusnya bisa Daddy selesaikan dengan rapi, tanpa jejak, dan tanpa risiko."

Clarisa menunduk.

"Aku cuma nggak mau Daddy tahu... kalau aku mempunyai sifat..."

"Hus..." Cakra meletakkan jarinya di bibir Clarisa, memberi isyarat agar putrinya diam. "Kamu anak Daddy, darahku mengalir di tubuhmu."

Clarisa menatap ayahnya, matanya berkaca-kaca. "Dad..."

"Sifat sepertimu itu bukan sesuatu yang perlu kau sembunyikan dari Daddy," lanjut Cakra, suaranya kini terdengar lebih dalam. "Justru itu yang membuktikan kau benar-benar putri Daddy." Ia mengusap rambut Clarisa pelan. "Daddy tidak pernah mengajarimu untuk lemah, Clarisa. Dunia ini keras, kalau kau tidak berani menyingkirkan orang yang menghalangimu, kaulah yang tersingkir."

Clarisa menatap wajah ayahnya. "Jadi... Daddy tidak marah?"

"Daddy marah," ucap Cakra tegas. "Karena kau bertindak sendiri, tanpa perhitungan, tanpa perlindungan. Bukan karena apa yang kau lakukan pada gadis itu." Ia menatap putrinya dalam-dalam. "Lain kali, kalau kau ingin menyingkirkan seseorang, biarkan Daddy yang mengatur semuanya."

"Sekarang. Daddy akan mengurus semuanya. Dan kalau gadis itu masih bernapas..." ia berhenti sejenak, seringai tipis muncul di sudut bibirnya. "Daddy akan memastikan dia tidak akan hidup untuk membuka mulutnya."

Clarisa menatap ayahnya, sebuah senyum tipis merekah di wajahnya yang masih basah oleh air mata.

1
Anne Rukpaida
smngat lyn 💪
Nona Jmn: Terima kasih
total 1 replies
Anne Rukpaida
akhirnya lyn ketemu juga 😇
Nona Jmn: Akhirnya🫰😁...
Ikutin terus yah... masih ada plot twist kebelakangnya🤭
total 1 replies
Anne Rukpaida
critanya luar biasa keren 😎
Nona Jmn: Terima kasih🫰🫰
total 1 replies
Anne Rukpaida
smangat ka, jadi smkin penasaran ma jln ceritanya asal muasal ortunya Lyn bisa punya keahlian bela diri gitu🔥
Nona Jmn: Sabar yah🤭🤭😁😁
total 1 replies
Anne Rukpaida
ceritanya bkin deg²n 🔥 smangat ka
Nona Jmn: Terima kasih kak😊😊🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!