NovelToon NovelToon
Dibuang Saat Kusam, Kini Aku Jadi Ratu Kemewahan

Dibuang Saat Kusam, Kini Aku Jadi Ratu Kemewahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Single Mom
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

"Wanita yang dulu kau buang seperti sampah, kini menjadi Ratu yang tak sanggup kau beli!"
Demi Fandi, Maya rela melepas statusnya sebagai supermodel ternama dan menjadi ibu rumah tangga biasa. Namun, pengorbanannya dibalas penghinaan. Begitu penampilannya tak lagi segar, Fandi menceraikannya demi wanita lain dan mengusirnya tanpa membawa apa pun.
Fandi mengira hidup Maya sudah hancur. Namun, ia salah besar.
Di balik kehancurannya, Maya bangkit merintis kembali kerajaannya. Ketika Maya berdiri di puncak kejayaan sebagai wanita paling berpengaruh, Fandi merangkak dalam penyesalan yang tak bertepi.
Sayangnya... Ratu yang dulu disia-siakannya kini melayang terlalu tinggi untuk kembali.

bagaimana ceritanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: DSKKR

"Mama, kita mau ke rumah Omah?" Ucap Kirana.

Kirana adalah anak sulungku yang baru berusia lima tahun, Dia penasaran dan menarik-narik ujung kaus hitamku. Matanya yang polos menatap bingung pada koper-koper yang berjejer di dekat pagar. Dua adik kembarnya, Arki dan Arka, masih terkantuk-kantuk di dalam stroler ganda.

Aku berlutut, menyejajarkan posisiku dengan Arka. Aku tersenyum seraya mengusap rambutnya yang sedikit berantakan.

"Iya, Sayang. Mulai hari ini kita main di rumah Omah dulu, ya? Nanti kita beli es krim di sana." Ucapku menenangkan nya.

"Papa gak ikut?" tanya Kirana polos.

Dada ini rasanya seperti ditekan batu tebal. Tapi aku menahannya. Aku enggan menunjukkan kelemahan sedikit pun di depan anak-anakku.

"Papa lagi sibuk kerja ya sayang... Yuk, bantu Mama bawa tasnya," kataku mengalihkan pembicaraan seraya berdiri.

Suara klakson taksi online terdengar di depan pagar. Pengemudinya turun dan bergegas membantuku memasukkan dua koper besar ke dalam bagasi. Dari ambang pintu lantai dua rumah mewah itu, aku tahu ada yang sedang memperhatikan. Fandi berdiri di balik jendela kaca besar, melipat dada dengan raut wajah penuh cemoohan. Dia yakin, dalam hitungan minggu aku bakal berlutut memohon di depannya.

"Sudah semua, Bu?" tanya sopir taksi ramah.

"Sudah, Pak. Terima kasih," jawabku seraya menuntun Kirana masuk ke dalam mobil, diikuti si kembar yang aku bopong.

Saat mobil perlahan bergerak meninggalkan kompleks perumahan elit itu, aku menatap dari kaca spion samping. Rumah besar yang kupikir bakal jadi tempat tumbuh hingga tua bersama Fandi kini makin mengecil dan akhirnya hilang di tikungan jalan. Ada rasa sesak yang sempat membuncah, tapi langsung kubuang jauh-jauh.

"Awas kamu mas.." gumam ku.

**

Perjalanan ke rumah Ibuku memakan waktu hampir satu jam. Rumah sederhana berpagar hijau di daerah pinggiran kota itu tampak tenang. Pohon mangga di pekarangan masih sekerindang dulu tempat masa kecilku dihabiskan sebelum panggung catwalk membawaku pergi. Setelah keputusan ku semalam, aku memang langsung memberitahu ibu

Begitu taksi berhenti, pintu rumah langsung terbuka. Ibu keluar dengan daster batik lamanya, matanya yang mulai meredup berkaca-kaca menatap kami.

"Maya..." panggil Ibu dengan suara bergetar.

Aku turun dari mobil, menghampiri Ibu, dan langsung berlutut mencium tangannya. Tangisan yang ku sembunyikan rapat-rapat sejak semalam akhirnya pecah juga di pangkuan wanita tua itu.

"Maaf ya, Bu... Maya pulang bawa anak-anak. Maya gagal jaga rumah tangga Maya," bisikku terbata-bata di antara isakan.

Ibu merengkuh bahuku, memelukku erat-erat. Usapan tangannya yang kasar di punggungku terasa sangat hangat. Sesuatu yang tak pernah kurasakan dari Fandi selama bertahun-tahun terakhir.

"Nggak ada yang gagal, Nak. Kamu nggak salah," bisik Ibu lembut, suaranya sarat akan ketegangan menahan emosi. "Rumah ini selalu terbuka buat kamu dan anak-anak. Kamu anak Ibu, Maya. Selamanya."

Ibu menatap tiga cucunya yang kepo memperhatikan kami dari dalam taksi. Beliau menyapu air mata di pipinya lalu tersenyum tegar.

"Ayo masuk. Ibu udah masak sayur bening kesukaan kamu," kata Ibu seraya menuntunku berdiri. "Mulai hari ini, kita tata lagi semuanya dari awal."

Di dalam rumah tua bermobilisasi kayu jati itu, aku akhirnya bisa bernapas lega. Tidak ada bau parfum mahal Fandi, tidak ada hinaan mertua, dan tidak ada rasa cemas akan tubuhku yang tak sempurna. Tapi aku tahu, ini baru awal dari perjuangan yang sebenarnya.

"Yeeyyy Omah.. " Ucap Kirana dengan senang.

"Kirana.. cucu omah yang cantik.." Jawab ibu ku seraya memeluk anak sulung ku itu.

"Kirana kangen sekali sama omah.. Omah kangen tidak sama Kirana?" Tanya Anak kecil itu dengan bertingkah lucu.

"Duh duh.. imut sekali sih.. Omah jelas lah kangen berat sama cucu omah ini." Jawab ibuku dengan menyentuh ujung hidung Kirana.

"Yeeayyy.. Kata mama, mulai sekarang kita akan tidur disini omah. Omah tidak marah kan?"

"Mana mungkin marah sayang.. Pokoknya kirana, mama, arka, arki bebas tinggal disini kapan pun"

"Yeeeyyyyy.. mama, omah setuju maa" Ucap Kirana padaku.

"Iya sayang.." Jawabku singkat.

"May, ayo kita makan dulu.." Ajak ibuku.

Kami pun makan bersama, setelah itu kami pun berbincang dan melakukan hal lainnya bersama.

**

Seminggu berlalu cepat di rumah Ibu. Suasana malam di pinggiran kota ini jauh lebih tenang dibanding kompleks perumahan elit tempat Fandi tinggal. Tak ada deru mobil malam hari, tak ada aroma parfum mahal yang membawa kecurigaan.

Aku duduk di bangku kayu di bawah pohon mangga depan rumah. Tiga anakku sudah lelap di kamar dalam, kecapekan habis bermain seharian. Di pangkuanku, sebuah buku sketsa tua berdebu yang kutemukan di almari kamar masa kecilku tergeletak terbuka.

Jari-jariku mengusap coretan gaun-gaun malam dan konsep pemotretan yang kubuat delapan tahun lalu, saat aku masih menjadi Maya sang supermodel.

"Belum tidur, May?" Tanya ibu.

Ibu keluar membawa dua cangkir teh hangat. Beliau duduk di sebelahku, meletakkan cangkir itu di meja kayu kecil, lalu menatap buku sketsa di pangkuanku.

"Belum bu, Lagi ngelihatin kenangan lama, Bu," kataku pelan seraya tersenyum tipis. "Dulu aku pikir, bakat dan passion-ku di dunia fashion udah mati begitu aku mutusin nikah sama Fandi."

Ibu mengusap pundakku lembut. "Bakat itu pemberian Tuhan, Nak. Enggak bakal hilang cuma gara-gara kamu pernah salah milih orang."

Aku menghela napas panjang, menatap langit malam yang bersih. "Aku cuma bingung harus mulai dari mana, Bu. Tabunganku tinggal sisa sedikit. Fandi beneran nutup semua kartu kredit dan akses rekening bersama kita. Dia mau ngebuktiin kalau aku bakal lumpuh tanpa dia."

"Dia cuma pria sombong yang lupa diri," potong Ibu tegas, matanya menyiratkan kejengkelan yang dalam pada mantan menantunya itu. "Kamu punya otak, kamu punya bakat, dan yang paling penting, kamu punya niat tulus buat anak-anakmu. Jangan pernah ngerasa kerdil di depan dia."

"Iya, Bu. Aku janji enggak bakal biarin anak-anak kekurangan," tekadku bulat. "Mulai besok, aku mau coba kontak teman-teman lamaku di industri. Siapa tahu ada posisi buat pengarah gaya atau desainer lepas."

Ibu tersenyum bangga, menepuk tanganku pelan. "Itu baru anak Ibu. Cantiknya Maya itu bukan cuma di wajah, tapi di ketangguhanmu."

Saat Ibu masuk ke dalam rumah untuk beristirahat, aku mengambil ponsel retakku. Aku membuka akun media sosial lamaku yang sudah berdebu, yang tak pernah kusentuh sejak Fandi melarangku aktif di dunia maya.

Notifikasi mendadak bermunculan. Namun, satu unggahan terbaru di akun Fandi langsung menyita perhatianku.

Fandi mengunggah foto paparazzi dirinya bersama Siska di sebuah kafe mewah. Di bawahnya, sebuah tulisan panjang tertera:

'Melepaskan beban lama untuk melangkah menuju mahakarya baru. Bersama inspirasi sejatiku.'

Kolom komentarnya dipenuhi ucapan selamat dari teman-teman fotografernya, dan yang paling menohok, komentar dari akun adik Fandi, Intan: 'Akhirnya Mas Fandi dapet yang selevel! Pasangan serasi banget!

Aku menatap layar itu lama. Anehnya, tak ada lagi air mata yang menetes. Rasa sakitnya sudah kebal, berganti menjadi api dingin yang membakar dadaku.

"Inspirasi sejati? ckck" bisikku lirih seraya menutup aplikasi itu. "Kita lihat seberapa bertahan 'mahakarya' kalian tanpa aku."

Aku menggenggam buku sketsaku erat-erat. Malam itu, di bawah kerindangan pohon mangga rumah Ibu, aku berjanji pada diriku sendiri: Aku bakal kembali, bukan sebagai model yang bisa dicampakkan, tapi sebagai Ratu yang memegang kendali atas hidupku sendiri.

Bersambung..

1
Heny
Sdh pergi baru nyesal
Heny
Sudah sukses lupa daratan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!