NovelToon NovelToon
Dear My Destiny (Kepada Takdirku, Bersamamu)

Dear My Destiny (Kepada Takdirku, Bersamamu)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Romansa / Bad Boy
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Bella Kristy Cecilia

Emily adalah seorang remaja cantik yang pintar dan dikenal sebagai juara di SMA Harapan Bangsa. Ia bertemu dengan Sean, seorang pria kaya raya yang hidupnya berantakan.

Mereka mulai saling mengenal dan akhirnya memutuskan menjadi sepasang kekasih. Namun, banyak sekali masalah yang harus mereka hadapi seperti restu keluarga, perbedaan visi dan misi, kepribadian dan pemikiran yang jauh berbeda, dan masih banyak lagi.

Apakah mereka berhasil bersama sampai akhir? Atau mereka memilih menyerah? Ikuti terus kisahnya!

IG = @bellakristyc_
Email = bellakristyc@gmail.com

Note : Author terinspirasi untuk menulis novel ini dari kisah nyata yang digabungkan dengan imajinasi. Apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan yang lainnya tidak ada yang disengaja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Dunia di Sunway

Kopi ais dalam kantung plastik berpita merah yang tergantung di jemari Emily terasa mengembun, meneteskan air dingin ke atas trotoar panas kawasan SS15, Subang Jaya.

Di sekelilingnya, riuh rendah suara kendaraan, aroma tajam kuah laksa, dan gelak tawa mahasiswa yang berkerumun di kedai mamak memenuhi udara siang. Bagi orang asing yang melintas, Emily Valencia seperti mahasiswi baru biasa yang mengenakan kaus oblong putih polos, celana jins longgar yang sedikit kepanjangan, dan tas kain kusam berisi buku-buku perpustakaan.

Tidak ada yang menduga bahwa di dalam tas kain kusam itu, tersimpan sebuah laptop terenkripsi dan map hitam dari Gabriel Setiawan, sebuah 'senjata' keuangan bernilai 70 juta dolar Amerika yang sanggup meruntuhkan anak perusahaan Wijaya Group di pasar saham Asia Tenggara.

"Mil! Jangan melamun aja, nanti ditabrak motor!" pekik Mei Ling seraya menarik lengan kaus Emily ke pinggir trotoar.

Emily tersentak pelan, menyunggingkan senyum tipis. "Maaf, Mei. Lagi mikirin materi kuliah tadi."

"Aduh, kamu ini beneran workaholic banget ya," omel Mei Ling seraya menyesap minuman bobanya. "Ini tuh jam makan siang! Mahasiswa normal itu mikirin mau makan nasi lemak ayam goreng di mana, bukan mikirin rumitnya hukum pasar modal!"

Kehidupan sebagai mahasiswi baru di Kuala Lumpur menyuguhkan dualitas yang aneh bagi Emily. Di satu sisi, ia menikmati perannya sebagai manusia 'tak terlihat'.

Di kampus, ia bisa menjadi Emily yang sederhana, gadis yang berhemat demi membayar sewa kamar studio RM 800 per bulan, menyeduh mi instan saat akhir bulan, dan menumpang bus kampus gratisan.

Namun di sisi lain, dada Emily selalu dipenuhi gemuruh guncangan emosional. Setiap kali melihat dompetnya yang berisi beberapa lembar ringgit kusam, ia teringat bahwa di dalam jaringan perbankan Swiss, namanya tercatat sebagai pengendali modal raksasa. Kehidupan maba ini adalah penyamaran sekaligus tempat persembunyiannya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Sore harinya, ruang diskusi lantai tiga perpustakaan kampus terasa tegang.

Kelompok mata kuliah Corporate Valuation sedang mengadakan rapat pertama. Steven, mahasiswa kaya asal Jakarta yang merasa harga dirinya terinjak-injak oleh analisis Emily di kelas kemarin, duduk bersedekap di ujung meja dengan raut wajah membenci.

"Oke, denger ya semuanya," ujar Steven dengan gaya otoriter, mengetuk-etuk pena mahal berlogo desainer di atas meja. "Gua udah bagi tugasnya. Gua sama temen-temen gua bakal pegang bagian presentasi dan analisis laporan keuangan utama. Nah, buat lu..." Steven menunjuk Emily dengan ujung penanya secara tidak sopan. "...lu bagian ngetik ulang data, bikin slide PowerPoint, sama nyari referensi buku di perpustakaan. Lu kan anak beasiswa yang rajin, lagian lu cuma maba yang nggak paham koneksi bisnis di lapangan."

Mei Ling yang duduk di samping Emily langsung membelalak emosi. "Eh, Steven! Nggak bisa gitu dong! Emily yang paling paham struktur materi ini, kenapa dia cuma dikasih tugas ketik-ketik?!"

"Lu diem deh, Mei Ling!" bentak Steven sombong. "Gua ini ketua kelompoknya. Ayah gua itu kenal dekat sama jajaran direksi di Jakarta. Gua lebih tahu mana data yang valid dan mana yang cuma omong kosong teori kampus. Kalau Emily nggak mau nurut, gua coret namanya dari anggota kelompok!"

Emily menatap Steven dengan tenang.

Tidak ada emosi di wajahnya, tidak ada getaran ketakutan dari balik kacamata tipisnya.

Empat tahun berlalu, dan Emily sudah terlalu sering berhadapan dengan orang-orang berkuasa seperti Valerie Wijaya. Steven di matanya tak lebih dari sekadar bocah kaya yang berlindung di balik ketiak orang tuanya.

"Boleh," jawab Emily singkat dan datar.

Steven tersentak, agak terkejut dengan kepasrahan Emily yang begitu cepat. "Apa lu bilang?"

"Aku bilang boleh," ulang Emily seraya merapikan catatannya. "Aku bakal kerjain bagian dokumentasi dan penyusunan data latar belakang. Tapi kalau ada kesalahan penghitungan di bagian analisis keuangan yang kamu pegang, jangan minta aku buat perbaiki pas H-1 presentasi."

"Sok tahu lu! Nggak bakal ada yang salah dari analisis gua!" sergah Steven dengan wajah memerah, meski ada nada ragu yang terselip dalam suaranya.

Emily berdiri, menyampirkan tas kainnya di bahu. Ia melirik Steven dengan tatapan dingin yang teramat dalam, tatapan dominan yang mendadak membuat Steven mengatupkan bibirnya rapat-rapat tanpa sadar.

"Sampai ketemu besok di kelas, Steven" bisik Emily pelan sebelum melangkah keluar dari ruang diskusi.

"Gila ya tuh cowok," gerutu Mei Ling saat mengejar Emily di lorong perpustakaan.

"Kamu kok sabar banget sih, Mil? Harusnya kamu bantai dia pakai analisis kamu kayak kemarin!"

Emily tersenyum tipis, mengusap bahu sahabat barunya itu. "Singa nggak perlu mengaum buat membuktikan kalau dia berbahaya, Mei. Biarkan dia menikmati kesombongannya sebentar lagi."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Malam merayap turun di kawasan Subang Jaya. Hujan gerimis membilas kaca jendela apartemen studio Emily, membiaskan gemerlap lampu menara pencakar langit di kejauhan.

Pukul 22.00 malam. Kehidupan Emily sebagai mahasiswi baru berakhir, digantikan oleh peran resminya sebagai eksekutor Helios Capital.

Emily mengunci pintu kamar, menarik tirai tebal, dan menyalakan komputer lipat khususnya. Layar monitor memancarkan cahaya biru temaram, menampilkan antarmuka Bloomberg Terminal dan portal transaksi keuangan terenkripsi berkode Helios-SubAlpha.

Di meja belajar, di samping cangkir teh chamomile hangat, terbaring foto Sean, sebuah foto lusuh berukuran pasfoto yang Emily ambil secara sembunyi-sembunyi dari buku tahunan SMA empat tahun lalu.

Emily mengusap permukaan foto itu dengan jemarinya yang dingin.

"Sean... malam ini aku mulai," bisik Emily pada keheningan kamar. "Aku bakal tarik kamu keluar dari neraka itu."

Jemari Emily menari cepat di atas papan ketik. Dengan otoritas penyertaan modal 50 juta dolar dari Gabriel Setiawan, Emily mulai mengeksekusi skenario short-selling pada saham Wijaya Resources Sdn Bhd yang terdaftar di Bursa Efek Kuala Lumpur (BURSA).

Prinsip permainannya sangat kejam: Emily meminjam jutaan lembar saham Wijaya Resources melalui lembaga penjamin, membuangnya ke pasar secara masif untuk menjatuhkan harga saham perusahaan tersebut secara drastis, lalu berencana membelinya kembali dengan harga sangat murah saat perusahaan itu panik.

Grafik harga saham Wijaya Resources di layar monitor mulai menukik tajam. Merah. Garis penurunan itu terus merosot bagaikan batu yang dilempar dari jurang.

Emily menatap layar itu tanpa berkedip. Dalam hitungan jam, keputusan jemarinya telah memusnahkan nilai pasar Wijaya Group sebesar puluhan miliar rupiah di Malaysia.

Namun, di tengah aksinya yang berjalan mulus, sesuatu yang aneh terjadi pada sistem perdagangan online tersebut.

Tiba-tiba, sebuah grafik pesanan beli (buy order) dalam jumlah sangat besar mendadak muncul di layar monitor, mencoba menahan laju kejatuhan saham Wijaya Resources.

Seseorang di luar sana sedang menyuntikkan dana darurat ratusan miliar rupiah untuk menyelamatkan Wijaya Group dari kebangkrutan!

Dahi Emily berkerut dalam. "Nggak mungkin... Wijaya Group nggak punya cadangan kas sebesar ini di Malaysia. Siapa yang menahan jualanku?"

Emily dengan cepat membuka algoritma pelacak alamat IP dan entitas pemilik rekening pembeli misterius tersebut. Setelah menembus tiga lapis enkripsi perbankan offshore di Singapura, sebuah nama entitas muncul di layar monitornya:

[Entitas Pembeli: Apex Sentinel Trust Ltd - Terdaftar atas nama Beneficiary: Sean Anderson.]

Napas Emily seketika tercekat di tenggorokan. Matanya membelalak sempurna menatap nama tersebut.

Sean!

Sean Anderson tidak sedang berpangku tangan di Jakarta! Melalui rekening rahasianya di Singapura, Sean secara aktif memblokir serangan pasar modal Emily di Kuala Lumpur.

Kenapa...? batin Emily dengan dada yang bergolak hebat oleh rasa bingung dan penderitaan. Kenapa Sean justru menyelamatkan Wijaya Group? Apa dia beneran udah tunduk sama Valerie?! Atau...

Belum sempat Emily menyelesaikan spekulasinya, ponsel genggam khususnya yang tergeletak di meja bergetar keras.

Sebuah panggilan telepon masuk dari nomor lokal Malaysia yang tidak dikenal (+60 11-XXXX-XXXX).

Emily meragu sejenak, sebelum akhirnya menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.

"Halo?" suara Emily bergetar pelan.

Keheningan dingin menyapa indra pendengarannya selama beberapa detik.

Hanya terdengar deru napas berat yang sangat familiar, napas yang selalu Emily dengarkan melalui rekaman suara di malam-malam dinginnya di Zurich.

"Hentikan transaksimu sekarang juga, Emily."

Suara berat, serak, dan penuh penderitaan itu menggema langsung di telinga Emily. Suara yang telah ia rindukan selama empat tahun.

"Sean...?" bisik Emily, air mata mendadak merebak di sudut matanya. "Sean, ini kamu?!"

"Aku tahu kamu ada di Sunway, Mil," lanjut suara Sean di seberang telepon. Suaranya terdengar pecah, menahan tangis yang amat dalam. "Tutup terminal Helios kamu sekarang. Gabriel Setiawan sengaja memancingmu memakai saham Wijaya. Kalau kamu teruskan serangan ini... Gabriel bakal merilis bukti kejahatan keuangan yang bakal bikin kamu dipenjara di Malaysia!"

"Aku nggak peduli, Sean!" teriak Emily hysteris, tangisnya lolos begitu saja. "Aku lakukan ini semua buat menyelamatkan kamu! Aku mau menghancurkan keluarga Wijaya supaya kamu bebas dari pertunangan busuk itu!"

"Aku nggak butuh diselamatkan kalau harganya adalah masa depanmu, Emily!" bentak Sean dari balik telepon, suara cowok itu terdengar begitu frustrasi dan hancur.

Tiba-tiba, dari balik jendela kaca apartemen studio Emily di lantai tujuh, sebuah titik merah cahaya laser mendadak melintas di dinding kamar, tepat mengenai dada Emily.

Di seberang telepon, suara Sean mendadak berubah menjadi panik luar biasa.

"Emily! Tundukkan kepalamu sekarang! Mereka sudah menemukan tempat tinggalmu!"

PRANG!

Kaca jendela apartemen Emily pecah berkeping-keping dihantam tembakan berperedam suara.

Bersambung......

1
Alia Chans
Hadir atuuu/Smile//Smile/
Bella: haloo kakk, makasihh yaa 🥰 enjoy ceritanyaa 💖
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!