NovelToon NovelToon
SKETSA PUTIH BIRU

SKETSA PUTIH BIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:270
Nilai: 5
Nama Author: Aurentina Bulolo

Bagi Auren, kain biru tua yang kaku itu bukan sekadar seragam baru, melainkan awal dari cerita abadi yang akan ia lewati bersama Evan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurentina Bulolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu Kata Di Antara Kita

Pagi itu, suasana kelas 7-B tampak ramai dan berisik. Sinar matahari pagi menembus kaca jendela, menyinari deretan meja kayu hingga ke sudut paling belakang—tempat sang ketua kelas dan sekretarisnya duduk berdampingan. Sejak kejadian Evan meminjamkan jaket hoodie abu-abunya saat hujan deras dua hari lalu, ada rasa canggung yang lucu di antara mereka. Auren merasa setiap kali Evan berada di dekatnya, pipinya jadi gampang sekali terasa hangat dan merah.

Terlebih lagi, kebiasaan unik Evan tidak pernah hilang. Ketukan dua kali menggunakan jari telunjuknya tetap melekat, menjadi bahasa isyarat rahasia yang hanya berlaku di antara mereka berdua di bangku belakang kelas itu.

Jam istirahat pertama baru saja berbunyi. Teman-teman sekelas langsung berhamburan keluar pintu menuju kantin sambil saling kejar-kejaran. Namun, di barisan bangku paling belakang, Auren masih setia di kursinya. Tangan kanannya bergerak lincah menuliskan ringkasan materi seputar struktur organisasi sekolah di buku agenda sekretaris yang tebal.

Rambut hitamnya yang dikuncir kuda sesekali ikut bergoyang mengikuti gerakan tangannya. Karena terlalu fokus menulis, Auren tidak menyadari Evan yang baru saja kembali dari depan kelas setelah meletakkan kapur dan spidol di meja guru.

Tok! Tok!

Sebuah ketukan halus mendarat di permukaan meja kayu milik Auren, tepat di sebelah buku agendanya. Auren sedikit terlonjak kaget, lalu mendongak. Di sana, Evan sudah berdiri dengan satu tangan dimasukkan ke saku celana, sementara tangan kanannya memegang sebuah susu kotak rasa stroberi yang masih dingin.

"Masih saja sibuk, Ibu Sekretaris. Ini, minum dulu biar jarinya nggak keriting," ucap Evan santai. Ia meletakkan susu kotak itu di atas buku agenda Auren.

Sebelum Auren sempat menjawab, Evan kembali menggerakkan jari telunjuknya. Kali ini, ia mengetuk pelan tas sekolah Auren yang tergantung di sisi kursi sebanyak dua kali.

Tok! Tok!

"Evan, ih! Kebiasaan deh, apa-apa diketuk," gerutu Auren dengan wajah cemberut yang dibuat-buat, padahal dalam hati jantungnya sudah mulai berdebar cepat. Ia mengambil susu kotak itu dengan tangan yang agak kaku. "Lagian ini tanggung, tinggal sedikit lagi laporannya selesai."

Evan tidak kembali berdiri tegak. Ia justru langsung duduk di kursinya sendiri, tepat di sebelah Auren. Karena posisi mereka di pojok paling belakang, area ini rasanya aman dari pandangan anak-anak lain. Jarak mereka yang dekat membuat Auren bisa menghirup aroma segar minyak telon bercampur parfum kasual khas anak laki-laki dari baju Evan.

Evan menopang dagunya dengan tangan kiri di atas meja, memperhatikan wajah Auren yang sedang menyedot susu stroberi pemberiannya. Ditatap seperti itu membuat Auren mendadak salah tingkah dan bingung harus melihat ke mana.

"Kenapa sih, Van? Ada yang aneh di mukaku? Ada bekas pulpen ya?" tanya Auren malu-malu sambil meraba pipinya sendiri.

Evan menggeleng pelan, lalu tersenyum tipis. Jari telunjuknya bergerak lagi, kali ini mengetuk punggung tangan Auren yang sedang memegang kotak susu sebanyak dua kali.

Tok! Tok!

Sentuhan yang tiba-tiba itu membuat Auren kaget. Ia langsung membeku, menatap Evan dengan mata bulatnya yang penuh tanya.

"Aku mikir dari kemarin, Ren," ujar Evan buka suara. Suaranya terdengar agak pelan, membuat suasana di pojok belakang kelas itu mendadak terasa berbeda.

"Mikirin apa?"

"Mikirin panggilan kita," jawab Evan polos. "Selama satu bulan ini, kalau di kelas kita panggilnya formal banget. Kadang panggil nama biasa, kadang kamu panggil aku 'Ketua Kelas', aku panggil kamu 'Sekretaris'. Padahal kita kan udah kompak banget sejak menang lomba mading kemarin."

Auren mengerutkan keningnya, semakin bingung dengan jalan pikiran cowok di hadapannya ini. "Ya terus? Memangnya mau dipanggil apa lagi? Kan emang itu jabatan kita di kelas 7-B."

Evan mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak. Ia memajukan badannya sedikit ke arah Auren, membuat Auren bisa melihat dengan jelas senyum jahil di wajah Evan.

"Aku mau ada panggilan khusus buat sekretarisku. Panggilan yang cuma boleh aku yang pakai, dan nggak boleh ada anak lain di kelas 7 yang panggil kamu pakai kata itu," kata Evan dengan nada protektif yang khas anak SMP yang baru belajar punya rasa peduli lebih.

Auren mengerjapkan matanya beberapa kali. Otaknya mendadak buntu di tempat duduk belakangnya. "Panggilan khusus? Apa contohnya? Jangan yang aneh-aneh ya, nanti malah kedengaran sama anak-anak cowok di depan terus kita diledekin habis-habisan."

Evan tampak berpikir sejenak. Ia mengetuk dagunya sendiri dengan telunjuk, lalu sedetik kemudian matanya kembali menatap Auren. Tanpa aba-aba, jari telunjuk Evan terulur ke depan, mengetuk ujung hidung mungil Auren sebanyak dua kali.

Tok! Tok!

"Aurenku deh," ucap Evan dengan sangat lancar tanpa ragu.

Deg.

Jantung Auren rasanya mau copot. Rasanya jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, persis seperti pola ketukan jari Evan. Pipi Auren yang semula putih bersih langsung berubah merah padam seperti kepiting rebus, menjalar sampai ke daun telinganya.

"E-eh? Apa, Van? Kamu ngomong apa?" tanya Auren terbata-bata, takut kalau telinganya salah dengar.

Evan tidak menjauhkan wajahnya. Dari posisinya di bangku belakang, ia justru tersenyum sangat lebar sampai matanya menyipit lucu. "Mulai hari ini, kalau kita lagi berdua atau lagi urus tugas kelas di belakang sini, panggilan kamu itu: 'Aurenku'. Jadi kalau aku bilang 'Aurenku, tolong ambilkan berkas', itu artinya kamu."

"Evan, kamu... kamu apaan sih! Nanti kalau ada anak depan yang balik dari kantin terus dengar gimana?" bisik Auren panik sambil melirik deretan bangku di depan mereka yang untungnya masih sepi. Ia langsung menutup wajahnya yang terasa sangat panas menggunakan kedua telapak tangan.

Melihat reaksi Auren yang salah tingkah dan menggemaskan itu, Evan tertawa kecil. Ia merasa sangat gemas. Evan lalu memegang pergelangan tangan Auren, menurunkan tangan gadis itu dengan lembut agar ia bisa melihat wajah Auren yang memerah lagi.

Setelah tangan Auren terlepas dari wajahnya, Evan tidak langsung melepaskan tangannya begitu saja. Ia kembali mengetuk punggung tangan Auren dua kali dengan telunjuknya.

Tok! Tok!

"Nggak akan ada yang dengar, kan kita duduk di paling belakang," bisik Evan santai. "Lagian, emang salah ya kalau ketua kelas punya panggilan kesayangan buat sekretarisnya?"

Pertanyaan polos namun bikin skakmat dari Evan sukses membuat Auren benar-benar tidak bisa menjawab apa-apa di sudut belakang kelas itu. Di bawah tenangnya ruang kelas 7-B saat istirahat, satu kata baru telah lahir di antara mereka. Sebuah kata sederhana yang mengubah status pengurus kelas mereka menjadi rasa sayang yang manis khas anak SMP yang baru mekar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!