NovelToon NovelToon
ONCE AGAIN

ONCE AGAIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Ketos
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Irdyna Aira

Mereka tumbuh bersama sebagai sahabat kecil, hingga takdir memisahkan langkah mereka. Bertahun-tahun kemudian, Alya Nadira Adhitama kembali ke Indonesia dan tanpa sengaja bertemu lagi dengan sahabat masa kecilnya, Arga Fernansyah, di sekolah yang sama. Mereka menjadi teman sekelas, tetapi tak ada satu pun yang menyadari bahwa mereka pernah saling mengenal.

Di tengah hari-hari yang dipenuhi tawa, mimpi, dan kebersamaan, perlahan muncul rasa yang tak pernah mereka duga. Hingga suatu petunjuk dari masa kecil mengungkap sebuah rahasia—bahwa orang yang selalu ada di samping mereka selama ini adalah sahabat yang pernah mereka kehilangan. Sebuah kisah tentang pertemuan kembali, persahabatan, dan takdir yang selalu menemukan jalannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irdyna Aira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 13 : Kebiasaan yang sulit hilang

Area depan ruang OSIS dan gerbang utama SMAN 1 Yogyakarta mulai dipenuhi riuh siswa-siswi yang berdatangan.

Beberapa pengurus OSIS sudah bersiap di balik meja piket, menyusun buku presensi keterlambatan dengan sigap. Pak Toni tampak sedang berdiskusi serius namun santai dengan Rani, sang Wakil Ketua OSIS, mengenai kesiapan susunan petugas upacara hari Senin depan.

Sementara itu, Nadira yang baru saja turun dari area parkir berjalan tergesa-gesa melintasi selasar menuju gerbang. Berkas map tebal OSIS dipeluk erat di dadanya, sedangkan tumbler pink tergenggam di tangan kiri. Matanya berbinar penuh kebersinggungan—fokusnya cuma satu: menjalankan tugas piketnya sebagai Ketua OSIS yang teladan.

Arga yang berjalan santai beberapa langkah di belakangnya tiba-tiba menghentikan langkah. Dahi cowok itu berkerut dalam.

"Lho..."

Tatapannya tertuju pada punggung gadis itu. Lalu beralih ke tangannya, kemudian kembali lagi menatap punggungnya.

"Eh..."

Mata Arga seketika membulat, disusul tawa kecil yang lolos begitu saja dari bibirnya.

"Kanjeng Ratu... Kanjeng Ratu," gumam Arga sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Tanpa pikir panjang, Arga menaikkan suaranya melintasi riuh selasar.

"EHH, DIRA!"

Suara vokal Arga yang menggelegar membuat beberapa siswa kelas sepuluh dan sebelas yang sedang berjalan otomatis menoleh kaget.

Nadira yang tinggal lima langkah lagi mencapai meja piket ikut menghentikan langkahnya. Gadis itu memutar badan, menatap Arga bingung. "Hah? Kenapa, Ga?"

Arga masih berdiri belasan meter di belakangnya, mengacungkan jarinya menunjuk ke arah tubuh Nadira.

"TAS LU LETAK DULU DI DALAM KELAS, WOY!" seru Arga gemas.

Nadira refleks menoleh ke bahunya sendiri. Dan detik itu juga, kesadarannya jatuh perlahan.

Tas ransel pink pastel penuh gantungan lucu masih melingkar manis di punggungnya. Tas bekal pink pun masih mencangklong di lengan kirinya.

Nadira spontan menepuk dahi mulusnya sendiri, merutuki kealpaannya. "Ya Allah... Hehehe..." bisiknya sangat pelan. "Lupa lagi..."

Beberapa pengurus OSIS di dekat meja piket yang menyaksikan momen itu meledakkan tawa kecil. Rani, sang Wakil Ketua OSIS, sampai menggeleng pasrah seraya berbisik pada teman di sebelahnya, "Penyakit Bu Ketua kambuh lagi."

"Iya, kalau udah mikirin tugas OSIS, tas sendiri aja sampai lupa dilepas dari pundak," timpal temannya geli.

Pak Toni yang mendengar interaksi itu ikut tertawa terkekeh. "Itulah makanya, Dira... jangan terlalu bersemangat sampai lupa barang bawaan sendiri!"

Arga melangkah cepat menghampiri Nadira. Begitu tiba di depan gadis itu, ia mengembuskan napas panjang dengan raut wajah berlagak lelah. "Dira, Dira..."

Nadira menyunggingkan cengiran paling polos dan tanpa dosa yang ia miliki. "Hehehe... Lupa, Ga.

Kebiasaan."

"Ini bukan kebiasaan, Dira. Ini udah masuk tahap stadium lanjut," cibir Arga gemas.

Nadira terkekeh geli. "Iya deh, maaf... Kebawa panik."

Sebelum Nadira sempat memutar badannya untuk melepas ransel, jemari Arga sudah bergerak lebih dulu. Dengan cekatan dan lembut, Arga mengangkat tali tas ransel pink itu keluar dari bahu Nadira, lalu mengambil alih tas bekal dari genggamannya.

"Nih," ucap Arga santai.

"Eh? Lho... Ga?" Nadira refleks mengulurkan tangan, hendak merebut kembali tasnya. "Eh... he-eh... bentar deh. Biar aku yang anter ke kelas dulu, izin piket bentar."

Arga menggeleng mantap. "Nggak usah."

"Hah?"

"Kamu di sini aja. Biar Arga yang bawain ke atas."

Nadira menatap Arga dengan bola mata membulat. "Eh, jangan! Kenapa jadi kamu yang bawa? Nanti repot!"

"Repot dari mananya coba? Kelas kita kan satu arah sama jalan ke loker basket. Sekalian lewat," sahut Arga santai tanpa beban.

"Tapi kan—"

Belum selesai Nadira memprotes, Arga sudah lebih dulu menyampirkan tas pink tersebut ke pundak kirinya.

Pemandangan pagi itu mendadak jadi sangat kontras dan absurd: di pundak kanan Arga tersampir ransel cowok berwarna hitam pekat milik pribadi, sementara di pundak kirinya menggantung ransel pink pastel penuh aksesoris gantungan stroberi dan pita milik Nadira. Tangan kanannya pun menenteng tas bekal berwarna senada.

Beberapa adik kelas yang melintas di selasar sampai berhenti melangkah, menahan tawa melihat pemandangan ajaib tersebut.

"Wkwkwk... Kapten Basket kita mendadak banting setir jadi porter personal," bisik seorang siswa kelas sebelas. "Udah biasa itu mah. Dari jaman kelas sepuluh juga gitu," timpal temannya santai. "Tapi keren sih, tas pink imut gitu dipakai sama cowok jangkung kayak Kak Arga."

Arga samar-samar mendengar selorohan adik kelasnya itu, namun ia hanya menyunggingkan senyum tipis. Bagi Arga, membawakan tas Nadira sama sekali bukan hal yang perlu diributkan apalagi dijaga gengsinya.

Sejak dulu ritmenya memang sudah terbentuk begitu. Jika Nadira sedang berada di mode Ketua OSIS super sibuk, Arga yang secara otomatis akan mengamankan barang-barangnya. Sebaliknya, jika Arga sedang mabuk latihan basket menjelang turnamen hingga kewalahan membawa perlengkapan, Nadira yang akan dengan telaten membawakan botol air minum, handuk, hingga catatan pelajarannya.

Gaya hidup saling melengkapi. Tanpa ada hitung-hitungan siapa yang paling berkorban, dan tanpa pernah mempermasalahkan siapa yang paling sering membantu.

Nadira masih berdiri menatap Arga dengan raut serba salah. "Ga... beneran nggak apa-apa nih?"

"Nggak apa-apa, Dira. Udah, sana."

"Nanti aku nyusul ke kelas deh habis piket..."

"Nggak usah repot-repot nyusul," potong Arga tegas namun hangat. "Lu fokus piket aja di gerbang. Tuh, anak-anak OSIS udah pada nungguin Kanjeng Ratu."

Nadira menoleh ke arah meja piket. Benar saja, Rani sudah melambai-lambaikan tangannya dari kejauhan. "Kak Dira! Ayo, berkas keterlambatan udah siap nih!"

Nadira kembali menatap Arga, menghembuskan napas pelan. "Maaf ya, Arga... ngerepotin terus."

Arga mengulas senyum tipisnya yang menenangkan. "Minta maaf mulu dari tadi. Udah, sana jalan, sebelum Pak Toni ceramah pagi."

Nadira akhirnya mengangguk mengalah. "Iya, deh.

Makasih banyak ya, Arga!"

"Sama-sama, Bu Ketua OSIS."

Nadira terkekeh pelan. "Dih... formal banget panggilannya. Yaudah, aku ke gerbang ya!"

Gadis itu pun berlari-lari kecil menghampiri meja piketnya. Sementara itu, Arga membalikkan badan, melanjutkan langkahnya menuju gedung kelas dua belas di lantai dua.

Langkahnya santai membelah koridor sekolah, menenteng dua tas dengan paduan warna yang sangat bertolak belakang—hitam maskulin dan pink feminin.

Beberapa siswi kelas sepuluh yang duduk di bangku selasar saling berbisik gemas.

"Gila, Kak Arga gentleman banget nggak sih?" "Banget! Padahal mereka berdua nggak pacaran kan ya?"

"Enggak, mereka kan sahabat dekat dari kecil." "Duh... iri banget punya sahabat cowok modelan Kak Arga..."

Di kejauhan, sebelum berbelok ke area gerbang, Nadira sempat menolehkan kepalanya ke belakang. Ia menatap punggung tegap Arga yang berjalan santai membawakan barang-barangnya.

Senyum tipis terukir manis di bibirnya. Dalam hati, Nadira menguncupkan rasa syukur yang luar biasa karena dikaruniai seorang sahabat yang selalu bisa diandalkan dalam situasi apa pun.

Sedangkan di tempatnya melangkah, pikiran Arga sangatlah sederhana.

Kalau aku bisa meringankan langkahnya lewat hal kecil seperti ini, kenapa enggak?

Tak ada motif tersembunyi. Tak ada rasa canggung.

Sebab bagi Arga dan Nadira, saling menjaga dan mengulurkan tangan adalah refleksi dari persahabatan tulus yang tumbuh dan mengakar sejak halaman rumah mereka masih dipenuhi gelak tawa permainan masa kecil.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!