NovelToon NovelToon
Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Khumairah

"Aku minta maaf, Diandra. Aku benar-benar menyesal."

"Penyesalanmu datang terlambat, Bastian. Aku sudah terlalu lelah."

Dulu, Bastian menganggap Diandra akan selalu berada di sisinya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari betapa seringnya sang istri terluka oleh sikapnya.

Diandra bertahan selama bertahun-tahun, berharap suaminya suatu hari akan menghargai keberadaannya. Namun ketika kesabarannya habis, Diandra memilih berhenti berharap.

Barulah saat itu Bastian menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia hargai.

Ia hampir kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya.

Seandainya waktu dapat diputar kembali, Bastian ingin memperbaiki semua kesalahannya. Ia ingin mengganti setiap air mata Diandra dengan kebahagiaan, setiap luka dengan kasih sayang, dan setiap hari yang dipenuhi kesepian dengan kehadirannya.

Namun Diandra sudah terlanjur terluka.

Hatinya masih mencintai Bastian, tetapi rasa sakit membuatnya takut untuk kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Khumairah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Istri dan Masa Lalu

“Jangan!”

Diandra nekat menerobos dan berusaha merebut map yang sudah dilempar Bastian ke dalam kobaran api.

“Diandra!”

Bastian refleks menarik tubuh istrinya menjauh. Namun terlambat. Ujung tangan Diandra sudah lebih dulu tersambar api.

“Apa-apaan kamu?!” Bastian membentak. “Sudah tahu itu api, kenapa masih kamu paksa ambil?!”

Diandra sama sekali tidak menjawab. Dengan mata berkaca-kaca, dia kembali berusaha meraih sisa-sisa kertas yang masih bisa diselamatkan.

Air matanya jatuh semakin deras.

Berbulan-bulan dia mengumpulkan semua bukti itu. Berbulan-bulan dia menahan sakit, mencari satu per satu kepingan kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya.

Dan sekarang, Bastian menghancurkannya dalam hitungan detik.

“Berhenti, Diandra!”

“Jangan ikut campur!”

Diandra menepis tangan Bastian dan kembali membungkuk hendak mengambil kertas yang tersisa.

Bastian langsung menarik lengannya.

“Cukup!”

“Kamu yang cukup, Mas!”

Diandra berbalik, lalu mendorong dada Bastian sekuat tenaga.

“Kamu keterlaluan!” Suaranya bergetar menahan tangis. “Aku mengumpulkan semua bukti itu selama berbulan-bulan. Aku rela melakukan apa pun untuk mendapatkan kebenaran, tapi kamu dengan gampangnya membakar semuanya!”

Bastian terdiam sesaat, tetapi wajahnya tetap keras.

“Aku sudah bilang, aku nggak mau cerai.”

“Lalu aku harus bagaimana?”

Diandra tertawa getir di sela tangisnya.

“Harus terus hidup sebagai istrimu meskipun aku sudah nggak sanggup?”

“Aku nggak akan membiarkan kamu pergi.”

“Kenapa?” Diandra menatap tajam. “Karena kamu masih mencintaiku, atau karena kamu takut kehilangan kendali atas hidupku?”

Rahang Bastian mengeras.

“Diandra…”

“Tapi aku mau cerai!”

Suara Diandra pecah, tetapi kali ini tidak ada sedikit pun keraguan di dalamnya.

“Aku mau mengakhiri pernikahan ini, Mas. Dan kali ini, kamu nggak bisa memaksaku untuk tetap tinggal.”

Bastian mengepalkan tangan.

Di hadapannya, Diandra menangis sambil menatap sisa-sisa bukti yang perlahan berubah menjadi abu.

Dan untuk pertama kalinya, Bastian sadar bahwa yang sedang terbakar bukan hanya sekumpulan kertas.

Melainkan kesempatan terakhirnya untuk mempertahankan Diandra.

“Aku bicara baik-baik sama kamu, kenapa malah dibalas dengan bentakan?”

“Kamu yang membentakku lebih dulu!”

Diandra menatap Bastian dengan mata penuh amarah. Selama ini dia memang lebih sering diam, mengalah, dan menelan semua rasa sakit sendirian. Namun kali ini, kesabarannya benar-benar sudah habis.

“Jangan anggap aku akan terus diam hanya karena selama ini aku selalu mengalah, Mas.”

Bastian terdiam.

Diandra mengusap air matanya dengan kasar, lalu menunjuk ke arah bara api di hadapan mereka.

“Ini baru sedikit dari kemarahanku. Kalau aku sudah benar-benar kehilangan kendali, aku nggak tahu apa yang akan kulakukan.”

Bastian tak menyangka perempuan yang selama ini dikenal lembut dan tenang bisa berubah setegas ini.

Ada benarnya ucapan orang-orang. Kemarahan seseorang yang terlalu lama memendam luka justru bisa jauh lebih menakutkan.

Bastian bahkan kehilangan kata-kata untuk menghentikan Diandra.

“Minggir. Aku mau ambil berkas-berkasku.”

Diandra hendak melangkah mendekati sisa kertas yang terbakar, tetapi Bastian kembali menghadangnya.

“Jangan.”

Dia meraih tangan Diandra.

“Tangan kamu terluka.”

“Lepas.”

“Diandra, lukanya harus diobati.”

“Aku bilang lepas!”

Diandra berusaha menarik tangannya, tetapi Bastian tetap menahannya.

“Aku nggak peduli dengan luka ini.”

Tatapan Diandra beralih pada tangannya yang memerah akibat terkena api.

“Luka seperti ini nggak ada apa-apanya dibandingkan luka yang kamu kasih ke aku.”

Bastian membeku.

Diandra menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Namun kali ini, air mata yang jatuh bukan karena dia lemah.

Melainkan karena terlalu lama kuat sendirian.

Dia kemudian menatap berkas-berkasnya yang kini hanya tersisa menjadi abu.

“Berkas itu mungkin bisa kamu bakar, Mas.”

Suaranya lirih, tetapi menusuk.

“Tapi kamu nggak akan pernah bisa membakar semua luka yang sudah kamu tanam di hati aku.”

Bastian terdiam.

Untuk pertama kalinya, dia tidak tahu harus berkata apa kepada istrinya.

Diandra pun perlahan melepaskan tangannya dari genggaman Bastian.

“Aku sudah capek.”

Dua kata itu terdengar sederhana.

Namun bagi Bastian, justru itulah yang paling menakutkan.

Karena ketika seorang perempuan yang selama ini bertahan akhirnya mengatakan bahwa dia sudah lelah, mungkin yang tersisa memang hanya perpisahan.

Hatinya benar-benar hancur.

Diandra menatap sisa abu di hadapannya dengan tatapan kosong. Semua bukti yang dikumpulkannya selama berbulan-bulan telah lenyap begitu saja.

Sekarang dia harus memulai semuanya dari awal.

Mengumpulkan bukti satu per satu, menyusun kembali keberaniannya, lalu berjuang agar gugatan cerainya bisa dikabulkan.

“Minggir, Mas.”

“Nggak.”

“Bastian, aku bilang minggir.”

“Nggak akan.”

Diandra hendak melewati suaminya, tetapi Bastian justru bergerak cepat. Dalam sekejap, tubuh Diandra sudah terangkat dan disampirkan di bahunya.

“Bastian!”

Diandra meronta, berusaha melepaskan diri.

“Turunkan aku!”

Bastian tetap berjalan tanpa menghiraukan protesnya. Satu tangannya menahan tubuh Diandra agar tidak terjatuh, sementara tangan lainnya menopang kakinya.

“Berhenti meronta.”

“Aku bukan barang yang bisa kamu bawa seenaknya!”

“Kalau kamu terus memaksa mendekati api dengan tangan terluka, aku memang harus membawamu pergi.”

Diandra memukul punggung Bastian dengan kesal.

“Turunkan aku sekarang!”

Bastian menghela napas panjang.

“Kamu benar-benar keras kepala.”

Diandra terdiam sesaat, lalu kembali memberontak.

“Dan kamu benar-benar menyebalkan!”

Bastian terkekeh hambar.

“Sepertinya kamu sudah kembali punya tenaga untuk marah.”

“Karena kamu yang bikin aku marah!”

Bastian tak menjawab.

Namun langkahnya tetap membawa Diandra menjauh dari halaman belakang, meninggalkan bara api yang perlahan padam.

Diandra masih menangis dalam diam.

Sementara Bastian tahu, membawa istrinya pergi dari sana tidak akan menyelesaikan masalah.

Karena yang harus dia hadapi sekarang bukan lagi amarah Diandra.

Melainkan keputusan perempuan itu untuk benar-benar meninggalkannya.

Dengan sengaja, Bastian menepuk bagian belakang tubuh Diandra cukup keras hingga perempuan itu tersentak.

“Bastian! Jangan macam-macam!”

Diandra semakin meronta. Tangannya berkali-kali memukul punggung suaminya.

“Turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri!”

“Diam dulu.”

“Aku nggak mau!”

Bastian sama sekali tidak menghiraukan protesnya. Dia terus membawa Diandra masuk ke dalam rumah, sementara istrinya masih sibuk mengomel sepanjang jalan.

Beberapa pembantu yang kebetulan berada di ruang tengah langsung terdiam.

Begitu melihat majikan mereka datang dalam keadaan seperti itu, mereka buru-buru menundukkan kepala dan memilih menyingkir.

Bukan karena tidak penasaran.

Justru sebaliknya, mereka sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi sampai tuan dan nyonya mereka bisa seperti ini.

Namun mereka tahu batasan. Urusan rumah tangga majikan bukan sesuatu yang pantas mereka campuri.

“MAS BASTIAN! TURUNIN AKU!”

Tidak mendapat jawaban, Diandra langsung berteriak lebih keras.

“BIBI! TOLONG AKU!”

Salah satu pembantu yang dipanggil hanya mempercepat langkah dan pura-pura tidak mendengar.

“BIBI!”

Diandra semakin kesal.

“Kok malah pergi?! Bibi, awas ya! Aku pecat kalau Bibi nggak nolongin aku!”

Bastian yang mendengar ancaman itu justru tertawa kecil.

“Percuma. Mereka semua sudah kabur.”

“Bastian, kamu—”

Diandra belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Bastian kembali berjalan santai menuju kamar.

Diandra hanya bisa menggerutu kesal di atas bahunya.

Sementara Bastian diam-diam tersenyum.

Entah kenapa, melihat istrinya yang biasanya tenang kini begitu heboh membuat suasana hatinya sedikit lebih ringan.

Meski dia tahu, setelah amarah Diandra mereda, masalah perceraian mereka masih menunggu untuk diselesaikan.

Tentu saja para pembantu tidak berani ikut campur. Bastian adalah orang yang mempekerjakan mereka, jadi mereka tahu kapan harus melihat dan kapan harus pura-pura tidak melihat.

“Apa yang kamu tertawakan?!” Diandra memelototinya. “Turunkan aku! Jangan ketawa terus!”

“Teriak saja sepuasnya.”

Bastian justru semakin santai.

“Tidak akan ada yang berani datang menolongmu.”

“Kurang ajar!”

Diandra menggeliat kesal di bahunya.

“Turunkan aku! Perutku sakit kena bahumu.”

Bastian akhirnya membawa Diandra ke ruang tengah.

Buk!

Tubuh Diandra dijatuhkan ke sofa yang empuk. Untungnya tidak sampai membuatnya terluka.

“Aduh!”

Diandra baru saja hendak bangkit ketika Bastian sudah berdiri tepat di hadapannya.

“Jangan mendekat.”

Namun Bastian justru menahan gerakannya.

Diandra menatap waspada.

“Kamu mau apa?”

“Aku baru tahu ternyata kamu bisa semarah ini.”

“Masih banyak hal tentang aku yang belum kamu tahu.”

Bastian mengamati wajah istrinya.

“Kalau begitu, aku akan cari tahu.”

“Sudah terlambat.”

Diandra mengalihkan wajah.

“Aku nggak punya alasan lagi untuk menunjukkan sisi lain diriku kepadamu. Aku juga sudah nggak peduli kamu mau tahu atau tidak.”

Bastian terdiam beberapa detik.

“Aku akan cari tahu sendiri.”

“Jangan berharap.”

Bastian mendekat, lalu memberikan kecupan singkat di bibir istrinya sebelum segera menjauh.

Diandra membeku karena terkejut.

Beberapa detik kemudian, wajahnya memerah menahan amarah.

“Kamu benar-benar keterlaluan!”

Bastian hanya menatapnya.

“Aku bukan perempuan yang bisa kamu perlakukan sesuka hati.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa kamu masih berani melakukan itu?”

“Karena kamu istriku.”

Diandra tertawa getir.

“Istri yang selama ini kamu abaikan?”

Bastian terdiam.

“Dulu aku memang salah,” ucapnya akhirnya. “Tapi sekarang aku ingin memperbaikinya.”

“Jangan percaya diri.”

Diandra menatapnya tajam.

“Cuma orang bodoh yang masih percaya pada janji manismu. Aku sudah terlalu muak dengan semua ini, terutama dengan perempuan yang selalu kamu bawa-bawa itu.”

“Serly lagi?”

Bastian menghela napas frustrasi.

“Sudah berapa kali aku jelaskan? Aku tidak punya hubungan apa pun dengan Serly.”

“Aku nggak percaya.”

Diandra mendorong dada Bastian untuk menjauh.

Namun gerakannya tanpa sengaja mengenai tangan yang terluka.

“Aduh!”

Ekspresi Bastian langsung berubah.

Dia segera mundur dan memperhatikan tangan Diandra.

“Sakit?”

Diandra mengangguk kecil sambil menahan perih.

Bastian langsung duduk di sampingnya.

“Jangan bergerak.”

Dia menatap luka di tangan istrinya.

“Aku mau ambil obat.”

Bastian kemudian berjalan menuju dapur. Niat awalnya memang membawa Diandra ke ruang tengah untuk mengobati luka tersebut, tetapi suasana sempat membuatnya kehilangan fokus.

Kali ini dia tidak ingin mengambil risiko.

Dia mengambil air dingin dan kotak P3K, lalu kembali dengan langkah tergesa-gesa.

Namun begitu sampai di ruang tengah, Bastian langsung berhenti.

Sofa itu sudah kosong.

“Baru beberapa menit aku pergi…”

Dia mengembuskan napas kesal.

“Jangan-jangan dia kabur lagi.”

Bastian meletakkan kotak P3K di meja, lalu berbalik mencari istrinya.

“Diandra!”

Tak ada jawaban.

“Diandra!”

Suara Bastian menggema memenuhi rumah.

Dari arah kamar, terdengar suara kesal.

“Apa sih, teriak-teriak begitu?!”

Bastian langsung berjalan menuju sumber suara.

Setidaknya istrinya masih ada di rumah.

Dan untuk saat ini, itu sudah cukup membuatnya sedikit lega.

“Aku di sini. Mau ke kamar.”

Bastian yang masih berdiri di ruang tengah langsung mendongak menatap ke arah lantai dua.

“Aku menyuruh kamu menunggu di sini.”

“Aku mau ke toilet.”

“Di bawah ada toilet.”

Diandra mengangkat bahu.

“Ya terserah aku mau pakai yang mana.”

Bastian mengembuskan napas panjang. Perempuan itu memang sedang keras kepala.

Meski kesal, dia tetap mengikuti Diandra menaiki tangga. Bagaimanapun, tangan istrinya masih terluka dan dia tidak ingin meninggalkannya sendirian.

Begitu sampai di kamar, Bastian mendapati Diandra sudah duduk di tepi ranjang.

Perempuan itu tidak jadi menuju kamar mandi. Dia justru sibuk meniup telapak tangannya yang memerah dan sedikit melepuh akibat terkena api.

Bastian langsung mengernyit.

“Kamu bilang cuma sedikit sakit.”

“Memang.”

“Kalau begitu kenapa sampai melepuh?”

Diandra tidak menjawab.

Dia kembali meniup tangannya, berusaha menahan rasa perih.

Bastian mendekat dan duduk di hadapannya.

“Sudah. Jangan ditiup terus.”

Diandra menarik tangannya ketika Bastian hendak memeriksa luka tersebut.

“Aku bisa sendiri.”

“Aku tahu kamu bisa.”

Bastian menatapnya serius.

“Tapi kali ini biar aku yang urus.”

Bastian memperhatikan tangan Diandra dengan saksama.

Luka bakar itu jelas cukup parah untuk membuat siapa pun meringis kesakitan. Namun perempuan di hadapannya justru tampak berusaha menyembunyikan semuanya.

Tidak ada tangisan.

Tidak ada keluhan berlebihan.

Bahkan saat kakinya terluka karena pecahan kaca pagi tadi, Diandra juga hanya membersihkannya sendiri tanpa banyak bicara.

Berbeda dengan Serly yang sedikit saja merasa tidak nyaman sudah mengeluh dan mencari perhatian.

Bastian terdiam cukup lama.

Baru kali ini dia benar-benar menyadari sesuatu yang selama ini luput dari perhatiannya.

Diandra ternyata jauh lebih kuat daripada yang dia kira.

Perempuan itu bukan sekadar istrinya.

Dia perempuan yang terbiasa menghadapi semuanya sendiri.

Sejak dulu pun Diandra memang seperti itu.

Cerdas, disiplin, tegas, dan selalu mampu menyelesaikan pekerjaannya dengan sempurna. Itulah salah satu alasan Bastian dulu memilihnya menjadi sekretaris.

Hanya saja, entah sejak kapan, dia mulai menganggap semua ketegaran Diandra sebagai sesuatu yang biasa.

Padahal mungkin selama ini istrinya hanya terlalu pandai menyembunyikan rasa sakit.

“Mas.”

Bastian tidak menjawab.

“Mas?”

Diandra mengibaskan tangan di depan wajahnya.

“Es batunya mana? Jangan bengong.”

Bastian tersadar dan segera mengambil es yang tadi dibawanya.

“Iya.”

Dia menyerahkan es tersebut kepada Diandra, tetapi tatapannya masih tertuju pada wajah istrinya.

Kali ini, ada sesuatu yang berbeda dalam tatapannya.

Ada penyesalan yang perlahan mulai tumbuh.

Bastian tersadar dari lamunannya. Dia segera mendekat lalu duduk di samping Diandra.

“Sini.”

“Aku bisa sendiri.”

“Biar aku.”

Bastian mengambil tangan istrinya dengan hati-hati, kemudian menempelkan kompres dingin pada bagian yang memerah dan melepuh.

Diandra sedikit meringis, tetapi tetap diam.

“Masih sakit?”

Diandra melirik sekilas.

“Luka seperti ini nggak seberapa dibandingkan luka yang kamu kasih ke aku.”

Nada suaranya datar, seolah kalimat itu bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan.

Namun justru itulah yang membuat Bastian terdiam.

Dia menatap wajah Diandra cukup lama.

Entah luka seperti apa yang sebenarnya dimaksud istrinya.

Bastian tahu Diandra kecewa karena pernikahan mereka, tetapi dia masih belum memahami sedalam apa rasa sakit yang selama ini dipendam perempuan itu.

“Aku masih nggak mengerti.”

Diandra menarik napas pelan.

“Memangnya kamu pernah benar-benar berusaha mengerti?”

Bastian kembali terdiam.

Untuk pertama kalinya, pertanyaan sederhana itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada bentakan.

Karena dia tidak punya jawaban.

Bastian benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Diandra.

Baginya, kebebasan adalah bentuk kebahagiaan. Dia sendiri tidak suka jika hidupnya diatur, dibatasi, atau terus-menerus ditanya ke mana dan dengan siapa dia pergi.

Karena itu, dia tidak memahami kenapa Diandra justru terluka ketika merasa diabaikan.

Bukankah selama ini Bastian sudah memberikan kebebasan sepenuhnya?

Dia juga tidak pernah membatasi apa yang ingin dibeli Diandra. Bahkan kartu tanpa batas yang diberikan kepadanya nyaris tidak pernah digunakan.

Selama dua tahun pernikahan mereka, Diandra tidak pernah meminta barang mahal, tidak pernah menuntut perhiasan mewah, bahkan tidak pernah memanfaatkan fasilitas yang bisa dengan mudah dia dapatkan sebagai istri Bastian.

Berbeda dengan Serly yang tidak pernah ragu menggunakan uang untuk membeli barang-barang bermerek.

Bastian sempat berpikir, mungkin Diandra memang berbeda.

Namun sekarang dia mulai menyadari sesuatu.

Mungkin selama ini dia salah mengartikan kebutuhan istrinya.

Diandra bukan membutuhkan uang.

Bukan pula ingin hidupnya dikekang.

Yang dia inginkan mungkin jauh lebih sederhana.

Perhatian.

Kepedulian.

Dan perasaan bahwa dirinya benar-benar memiliki tempat di hati suaminya.

Sayangnya, Bastian baru menyadarinya ketika Diandra sudah terlalu lelah untuk meminta semua itu.

Bastian benar-benar dibuat pusing oleh istrinya.

Semakin dia mencoba memahami Diandra, semakin banyak hal yang terasa tidak masuk akal baginya.

“Mana salepnya?”

Bastian membuka kotak P3K, mengambil obat luka bakar, lalu hendak mengoleskannya.

Namun Diandra langsung mengulurkan tangan.

“Biar aku.”

“Aku yang obati.”

“Aku masih punya satu tangan yang sehat. Aku bisa melakukannya sendiri.”

Bastian menatapnya tidak percaya.

“Bisa diam sebentar?”

“Nggak.”

Jawaban itu meluncur begitu saja.

Bastian mengangkat wajah dan menatap Diandra tajam.

Perempuan itu tidak gentar. Dia justru membalas tatapan suaminya dengan sorot mata yang sama tajamnya.

Beberapa detik mereka saling diam.

Bastian akhirnya mengembuskan napas panjang.

“Kenapa sih kamu selalu membantah?”

“Karena kamu selalu memaksa.”

“Kalau aku nggak memaksa, kamu pasti akan mengabaikan lukamu.”

Diandra terdiam sesaat.

“Setidaknya itu masih urusanku.”

Bastian mengernyit.

“Sekarang luka kamu juga urusanku.”

Diandra menatapnya, lalu mendengus pelan.

“Setelah dua tahun baru ingat?”

“Apa? Kamu pikir aku akan takut hanya karena kamu menatapku seperti itu?”

Diandra mendengus.

“Aku nggak takut sama kamu.”

Bastian memiringkan kepala. Tatapannya berubah bingung.

“Kenapa kamu sekarang berbeda?”

“Berbeda bagaimana?”

“Dulu kamu nggak pernah membantahku. Apa pun yang aku katakan, kamu selalu menurut.” Bastian kembali mengoleskan salep dengan hati-hati pada luka di tangan Diandra. “Bahkan dulu aku sering merasa kamu takut padaku.”

Diandra tertawa kecil, tetapi terdengar getir.

“Takut?”

Dia menatap Bastian.

“Aku nggak pernah takut sama kamu, Mas. Sedikit pun nggak.”

Tangan Bastian berhenti sejenak.

“Aku diam karena kupikir kamu hanya membutuhkan waktu. Aku pikir suatu hari nanti kamu akan belajar mencintaiku.”

Diandra menarik napas panjang.

“Ternyata aku salah. Ada perempuan lain yang sudah lebih dulu mengisi hatimu. Pantas saja selama ini kamu nggak pernah bisa memberikan perasaan yang sama kepadaku.”

Bastian selesai mengoleskan salep dan menutup kotak P3K.

“Kalau begitu…” Dia menatap Diandra dengan ekspresi polos. “Kamu pernah mencintaiku?”

“Pernah.”

Jawaban Diandra begitu cepat hingga Bastian sempat terdiam.

“Sekarang?”

“Sudah nggak.”

“Bohong.”

Diandra mendengus.

“Kalau aku masih mencintaimu, aku nggak akan meminta cerai.”

“Kamu sendiri bilang ingin bercerai karena aku terlalu cuek.”

“Itu salah satunya.”

“Berarti masih ada kemungkinan kamu mencintaiku.”

“Terserah kamu mau percaya apa.”

Diandra hendak berdiri, tetapi Bastian ikut bangkit dan menghadangnya.

“Apa?”

“Nggak apa-apa.”

Diandra mengernyit.

Namun sebelum sempat melangkah, Bastian tiba-tiba menarik pinggangnya hingga tubuh Diandra kehilangan keseimbangan dan jatuh ke atas kasur.

“Mas!”

Bastian menahan tubuhnya agar tidak terbentur.

Diandra hendak bangkit, tetapi Bastian sudah berada cukup dekat di hadapannya.

“Minggir.”

Bastian tidak langsung menjawab.

Tatapan mereka bertemu dalam jarak dekat.

Lalu Bastian menunduk dan mengecup bibir Diandra singkat.

Mata Diandra langsung membulat.

“Bastian…”

Dia mendorong dada suaminya, tetapi Bastian segera melepaskan dirinya dan memberi jarak.

Diandra menatapnya dengan wajah kesal sekaligus gugup.

“Kamu benar-benar nggak tahu batas.”

Bastian justru tersenyum tipis.

“Aku cuma ingin memastikan sesuatu.”

“Apa?”

“Kalau kamu benar-benar sudah nggak punya perasaan apa-apa padaku.”

Diandra terdiam.

Bastian menatapnya seolah sedang mencari jawaban dari ekspresi wajah istrinya.

“Dan sepertinya,” gumamnya, “jawabannya belum sesederhana itu.”

“Jangan sok tahu.”

Diandra segera bangkit dan membuang muka.

Namun Bastian bisa melihat telinga istrinya mulai memerah.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada sedikit harapan yang muncul di matanya.

Bastian tidak menjawab. Dia hanya menatap Diandra beberapa saat, seolah ingin memastikan perempuan itu benar-benar ada di hadapannya.

Belakangan ini sikap Bastian memang berubah.

Dia lebih sering mencari alasan untuk mendekat, mencuri kecupan, atau sekadar menyentuh tangan Diandra. Entah apa yang sebenarnya ada di pikirannya.

Mungkin ini caranya mempertahankan pernikahan mereka.

Namun Diandra tidak ingin dipertahankan hanya karena Bastian takut kehilangan.

“Aku nggak mau, Mas.”

Diandra menahan dada Bastian agar memberi jarak.

“Aku nggak mau kamu mendekat hanya karena takut aku pergi.”

Bastian terdiam.

Diandra menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Kalau kamu memang ingin aku tetap menjadi istrimu, jangan lakukan ini karena terpaksa.”

Bastian hendak mengatakan sesuatu, tetapi ponselnya tiba-tiba berdering.

Dia mengumpat pelan lalu mengambil ponsel dari meja.

Begitu melihat nama yang tertera di layar, ekspresinya berubah.

“Om Abian?”

Bastian segera mengangkat panggilan.

“Halo, Om?”

Suara di seberang terdengar panik.

“Bastian, kamu bisa datang ke rumah sakit sekarang? Serly mengalami kecelakaan.”

“Apa?”

Bastian langsung berdiri.

“Serly kecelakaan? Bagaimana keadaannya?”

“Dia sedang ditangani dokter. Tadi dia bilang mau ke kantormu, lalu mengalami kecelakaan. Sejak tadi dia terus memanggil namamu. Om bingung harus bagaimana. Tolong datang ke RS Pelita sekarang.”

“Iya, Om. Aku ke sana.”

Bastian mengakhiri panggilan.

Dia memasukkan ponsel ke saku, lalu menoleh kepada Diandra.

“Aku harus pergi.”

Diandra hanya diam.

Bastian mendekat dan mengecup keningnya sekilas.

“Nanti kita bicara lagi.”

Dia berbalik menuju pintu.

Namun baru beberapa langkah, suara Diandra membuatnya berhenti.

“Kalau kamu pergi sekarang dan memilih mengejar Serly lagi…”

Bastian perlahan menoleh.

Diandra menatapnya dengan mata yang sudah tidak lagi menunjukkan keraguan.

“…aku akan mencabut gugatan cerai itu.”

Bastian membeku.

Diandra menarik napas panjang.

“Aku akan memberi pernikahan ini satu kesempatan terakhir.”

Dia menatap suaminya lekat-lekat.

“Tapi kalau kamu pergi, jangan pernah berharap aku masih mau menunggumu.”

Untuk pertama kalinya, Bastian berada di persimpangan yang tidak bisa dia hindari.

Di satu sisi ada perempuan yang selama ini selalu dia abaikan.

Di sisi lain ada seseorang dari masa lalu yang kini sedang membutuhkannya.

Dan kali ini, keputusan Bastian akan menentukan apakah pernikahan mereka masih bisa diselamatkan atau benar-benar berakhir.

1
sunaryati jarum
Sherly yang bukan anak Abian,tapi anak Artha dari pria lain
sunaryati jarum
Tak sabar menunggu terjawabnya banyak teka- teki
sunaryati jarum
Mana upnya Thoor
sunaryati jarum
Padahal itu hanya untuk membuktikan, tidak benar ingin membunuhnya
sunaryati jarum
Itu karena salahmu membiarkan Sherly meracuni pikiran Azura.Amibat leluasa masuk rumahmu.Ksmu itu goblok jika benar sakit kanker kamu pernah lihat rekam medisnya atau tanya dokternya? Yang benar itu kantongnya kering karey selingkuhannya tidak royal lagi.
sunaryati jarum
Kamu suami dan lelaki tidak tegas dan mudah dimanipulasi akting wanita tidak tahu malu,Sherly.Kamu juga tidak punya hati dan tidak tahu malu Bastian,masih memberikan perhatian pada mantanmu.Jika tahu tujuannya kamu bakalan menyesal
sunaryati jarum
Baru mampir
Ariany Sudjana
ini Bastian yang bodoh, mengabaikan Diandra demi pelacur murahan seperti Serly 🤣🤣😂😂 dan bodohnya Bastian percaya semua omongan si pelacur murahan itu. dan bodohnya Azura percaya sekali kalau si pelacur murahan itu sayang sama dia dan membenci Azzam. katanya ibu kandungnya, dan mereka kembar, tapi kenapa Serly membenci Azzam ?
Ariany Sudjana
kamu suami yang bodoh, sudah punya istri seperti Diandra, lebih memilih memperhatikan si pelacur murahan, yang hanya bisa playing victim 🤣🤣😂😂
Protocetus
mampir ya ke novelku Remontada
Eneng Farida
mending cerai aja biar kmu bastian menyesal biar diandra punya suami baru yg akan membahagiakan nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!