NovelToon NovelToon
Terpikat Pesona Suami Cadangan

Terpikat Pesona Suami Cadangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam / Perjodohan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Sejak kecil, Mili selalu menjadi anak yang dianaktirikan, sementara Gea, adik kesayangannya, selalu mendapatkan segalanya. Saat perjodohan keluarga mempertemukan mereka dengan Andrew dan David, Mili terpaksa menikah dengan David yang dingin, sedangkan Gea memilih Andrew yang dianggap sempurna.
Namun, kenyataan berbalik. Andrew jauh dari harapan, sementara David justru menjadi suami yang tulus mencintai Mili. Diliputi penyesalan, Gea tanpa malu meminta Mili menceraikan David agar bisa merebutnya. Kali ini, Mili menolak mengalah. Dengan satu kalimat yang menohok, ia menatap adiknya dan berkata, "Kamu kira suamiku barang?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

David membopong tubuh lemah Mili dengan kedua tangannya yang gemetar, merengkuh erat sang istri di dadanya.

Sebelum melangkah pergi, dengan napas memburu ia menendang pintu kamar rahasia itu hingga tertutup rapat dan memastikan grendel besinya terkunci sempurna, mengubur kembali rahasia kelam di dalamnya.

Ia membawa Mili berlari menuju kamar utama dan membaringkan tubuh dingin istrinya dengan sangat hati-hati di atas tempat tidur empuk.

Jonas yang menyaksikan kepanikan tuannya langsung bertindak cepat tanpa perlu diperintah.

Ia segera merogoh ponselnya dan menghubungi dokter pribadi David agar datang secepat mungkin.

"Mili, sayang... Tolong buka matamu, Sayang..." bisik David parau.

Ia berlutut di samping ranjang, menggenggam jemari Mili yang dingin dan menciuminya bertubi-tubi dengan perasaan cemas yang membakar dada.

Tak berselang lama, dokter pribadi keluarga David tiba dengan membawa tas medisnya.

Tanpa membuang waktu, dokter memeriksa kondisi vital Mili yang melemah akibat panik, kelelahan, dan dehidrasi.

Dengan cekatan, dokter memasangkan selang infus ke punggung tangan Mili untuk mengembalikan cairannya yang terkuras.

Dokter berbalik menatap David yang berdiri tegang di samping ranjang.

"Kondisi Nyonya stabil, Tuan David. Ia mengalami syok berat dan dehidrasi. Untuk sementara, biarkan Nyonya beristirahat sampai infus ini selesai."

"Lalu apa yang harus aku lakukan saat dia bangun?" tanya David dengan suara serak.

"Nanti setelah siuman, tolong berikan makanan sehat yang mudah dicerna dan pastikan suasananya tenang," lanjut sang dokter memberikan petunjuk.

David menganggukkan kepalanya pelan, matanya sama sekali tidak teralih dari wajah pucat istrinya.

"Terima kasih, Dok. Jonas, antar dokter ke depan."

Setelah dokter dan Jonas keluar dari kamar, David kembali duduk di tepi ranjang.

Ia mengusap lembut kening Mili, bersiap menantikan saat mata cantik itu terbuka kembali—sekaligus bersiap menghadapi ketakutan terbesar dalam hidupnya.

Satu jam berlalu dalam keheningan yang mencekik hingga perlahan-lahan kelopak mata Mili bergerak.

Ia membuka matanya yang terasa berat, menyesuaikan pandangannya dengan pendar remang lampu kamar utama.

Hal pertama yang ditangkap indranya adalah genggaman hangat yang begitu erat di tangannya.

Saat menoleh, ia mendapati David duduk setia di samping ranjang dengan raut wajah penuh kecemasan dan rasa bersalah.

"David..." bisik Mili parau, tenggorokannya terasa sangat kering.

"Mili..." panggil David lega, matanya berkaca-kaca melihat sang istri akhirnya siuman.

Dengan sigap, David meraih segelas air hangat dari atas nakas.

Ia membimbing tubuh Mili untuk duduk bersandar pelan-pelan, lalu membantunya menyesap air hangat itu hingga tandas.

"David, maafkan aku... aku masuk ke tempat itu," ucap Mili terbata-bata dengan tatapan bersalah.

"Ssshhh... Tidak apa-apa, Mili. Jangan minta maaf," potong David lembut sambil mengusap pipi istrinya.

"Apakah, kamu takut padaku?"

Mili menggelengkan kepalanya pelan.

"Sebenarnya aku tidak takut... tapi aku melihat banyak sekali darah di sana."

Teringat akan genangan darah segar di lantai kamar rahasia itu, tatapan Mili mendadak tertuju pada tubuh David.

Tanpa ragu, Mili menarik kemeja yang dikenakan suaminya hingga tersingkap ke belakang, menyingkap kain yang menutupi punggung pria itu.

Mata Mili membelalak horor. Di balik kemeja itu, terhampar jejak-jejak luka cambukan yang memar, membiru, dan berdarah—sebagian luka lama yang menumpuk dengan luka baru yang belum sepenuhnya mengering.

"David... apa ini?!" jerit Mili terpukul.

"Jelaskan padaku, apa ini semua?!"

David terpaku, tak sanggup menjawab. Sebelum pria itu sempat menjauhkan tubuhnya, Mili sudah memeluk punggung tegap suaminya dari belakang.

Ia menyandarkan wajahnya pada bahu David, menempelkan pipinya tepat di dekat luka-luka mengerikan itu.

Isak tangis Mili pecah seketika. Ia menangis sesenggukan di punggung David, merasakan kepedihan dan rasa sakit luar biasa yang selama ini disembunyikan sang suami di balik aura dingin dan kejamnya.

David menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan yang bergetar hebat.

Bahunya berguncang pelan seiring suara parau yang keluar dari tenggorokannya.

"Aku punya kelainan, Mili. Ada dorongan BDSM yang tidak wajar dan mengerikan," aku David dengan suara pecah yang dipenuhi rasa hina pada dirinya sendiri.

"Semua orang di masa laluku menganggapku monster. Aku takut... aku sangat takut kalau suatu saat nanti aku menyakiti dan merusakmu..."

Mili menatap suaminya dengan mata berair, namun tidak ada lagi ketakutan di sana—hanya ada cinta, empati, dan kepasrahan yang utuh.

Tanpa ragu sedikit pun, Mili meraba punggung tangannya dan menarik paksa selang infus hingga terlepas.

"Mili! Apa yang kamu—"

Belum sempat David menyelesaikan kalimatnya, Mili bergerak maju dan duduk tepat di atas pangkuan suaminya.

Ia melingkarkan lengan kecilnya di leher David, menarik wajah pria itu mendekat hingga hembusan napas mereka menyatu.

Ia mendekatkan bibirnya ke bibir suaminya yang gemetar.

"Lakukan itu padaku. Aku siap," bisik Mili mantap dan penuh penyerahan.

"Tapi Mili... kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Ini berbahaya, aku tidak ingin melukaimu," cegah David dengan napas terengah, mencoba menahan dorongan gila di dadanya.

"Aku siap, David. Aku milikmu," tegas Mili tanpa sedikit pun keraguan di matanya.

Kata-kata Mili bagaikan pemantik yang membakar habis sisa-sisa pertahanan terakhir dalam diri David.

Hasrat gelap dan gelap yang selama ini terkunci rapat mendadak meledak.

Tanpa sepatah kata lagi, David membopong tubuh istrinya dari ranjang, merengkuhnya erat di dada, lalu melangkah lebar dan tegas membawa Mili kembali menuju ruangan rahasia di ujung koridor.

Di dalam ruangan rahasia yang temaram, David perlahan melepaskan pakaiannya, membiarkan punggungnya yang penuh luka terekspos di bawah pendar lampu redup.

Ia menatap Mili yang berdiri menunggunya dengan pandangan sarat akan kecemasan dan hasrat yang campur aduk.

"Mili, kamu yakin? Kamu benar-benar siap?" tanya David dengan suara berat bergetar, memastikan sekali lagi sebelum ia melangkah melewati batas.

Mili menganggukkan kepalanya tanpa ragu, memberikan kepasrahan penuh kepada suaminya.

David meraih selembar kain hitam penutup mata, mengikatkannya perlahan di wajah Mili hingga kegelapan membalut pandangan istrinya.

Ia kemudian mengambil cambuk kulit yang tergantung di dinding, mengayunkannya perlahan hingga mengenai kulit mulus Mili.

"Argh...!" ringis Mili tertahan, tubuhnya sedikit terkejut mendapati rasa sengatan yang asing.

David seketika menghentikan cambukannya, napasnya memburu ketakutan kalau-kalau ia sudah melukai istrinya terlalu jauh.

"Mili..."

"Teruskan, David... Aku tidak apa-apa," bisik Mili berani dari balik penutup matanya, menegaskan penerimaannya atas sisi tergelap David.

Mendengar penyerahan utuh dari istrinya, David kembali mengayunkan cambuk itu dengan terkontrol hingga beberapa goresan merah dan pendar darah segar tampak merembes di kulit Mili.

Saat melihat cairan merah itu, dahaga dan kegilaan di dada David seolah terpuaskan, berganti menjadi kepemilikan yang mendalam.

David segera menjatuhkan cambuknya ke lantai. Dengan jemari bergetar, ia melepaskan kain penutup mata Mili, lalu menangkup wajah istrinya dan mendaratkan ciuman yang dalam, penuh gairah, dan kehangatan di bibir Mili.

Di atas lantai dingin ruangan rahasia itu, mereka berdua melebur, merasakan kehangatan dan sentuhan tubuh satu sama lain tanpa ada lagi rahasia atau jarak yang memisahkan.

Suara desahan dan napas yang memburu memecah keheningan ruangan yang tadinya mengerikan, kini berubah menjadi saksi penyatuan dua jiwa.

Penyatuan yang penuh intensitas dan kepasrahan itu terus berlangsung hingga akhirnya, di puncak kelelahan dan kepuasan yang mendalam, David dan Mili terkulai lemas bertindihan dalam pelukan hangat satu sama lain.

1
Yensi Juniarti
lanjuuut ya say 😘😘
Yensi Juniarti
ayo mili tunjukan ke gea kalau km lebih dari segala galanya .... 🥰🥰🥰
Yensi Juniarti
bahagia menyertai mu Mili...🥰🥰
Yensi Juniarti
🥰🥰🥰🥰 semuanya milik Mili
Yensi Juniarti
lanjutkan 🙏🙏
Rian Moontero
lanjooott👍😍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!