Berawal dari Kesialan Hidup, membuat Kevin Sanjaya Bangkit dengan bantuan Meteorit dan buku pemberian Kakeknya "Kitab Medis Surgawi"
Beberapa hal dari hidupnya seketika berubah, tiga wanita cantik, Asosiasi Super Power Nasional, bahkan mendapat Cacing Emas Gu Legendaris untuk memperkuat tubuhnya.
Namun, perjalanan Kevin Massi Panjang. Dan, kali ini dia menjadi target organisasi terkuat dunia 'Demonic' dalam memperebutkan 5 Artifak Medis Legendaris, yang di percaya bisa membuat pemiliknya hidup abadi.
Apa saja yang akan di lewati Kevin Sanjaya, di season 2 kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenjiro Dominic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 : Aku Tidak Sanggup Membelinya!
Menjelang malam, Kevin keluar.
Malam ini, ia berniat pergi ke belakang bukit untuk kembali berlatih.
Tidak lama setelah Kevin pergi, Jonatan datang sambil membawa makanan untuk ketiga wanita tersebut.
"Di mana Tuan Kevin?" tanya Jonatan sambil meletakkan makanan di atas meja dengan senyum ramah.
"Paman Jonatan, kenapa hari ini kau datang mengantarkan makanan?" Misela bertanya ceria. "Kevin memang selalu sibuk dan jarang berada di sini. Dia baru saja keluar. Apa kau sedang mencarinya?"
"Setelah kejadian keracunan itu, Presdir menjadi jauh lebih berhati-hati terhadap keamanan makanan. Karena itu, beliau memintaku mengantarkan makanan kalian secara pribadi."
Jonatan tersenyum.
"Sebenarnya aku memang ada urusan dengan Tuan Kevin. Karena dia tidak ada, lain kali saja aku datang lagi."
"Paman Jonatan, kau belum makan, kan? Bagaimana kalau makan bersama kami?" Misela menawarkan.
"Kebetulan masih ada beberapa wortel yang dibawa Kevin hari ini. Aku juga tidak tahu dari mana dia mendapatkannya, tetapi rasanya benar-benar enak. Nih, coba satu."
Misela meletakkan sepiring kecil wortel di hadapan Jonatan.
Awalnya Jonatan tidak terlalu tertarik.
Namun begitu melihat wortel tersebut, tubuhnya seketika menegang.
Tatapannya langsung terpaku pada benda itu.
Bentuknya, urat-urat merah yang tampak pada permukaannya, serta aroma khasnya...
Mungkinkah ini berasal dari tempat itu?
Jonatan tanpa sadar menelan ludah. Tatapannya dipenuhi kerinduan.
"Paman Jonatan, ini dibawa pulang oleh Kevin. Kami bertiga sudah mencobanya dan rasanya memang sangat enak. Kalau mau, makan saja satu. Cuma beberapa wortel. Kevin pasti tidak akan keberatan," kata Nagita dengan santai.
Jonatan berusaha menahan keinginannya. Tenggorokannya terasa kering.
Dengan suara lemah, ia bertanya, "Apakah Tuan Kevin mengatakan berapa harga wortel ini?"
"Harganya?"
Nagita langsung tertawa.
"Kalau soal itu, Kevin tidak mengatakanNya sama sekali."
Di sampingnya masih terdapat beberapa mentimun.
Karena sudah terlalu kenyang, Nagita bahkan berpikir untuk mengirisnya dan menggunakannya sebagai perawatan kecantikan.
Namun begitu mendengar perkataannya, tubuh Jonatan langsung bergetar.
Wajahnya bahkan hampir terlihat seperti orang yang akan pingsan.
"Paman Jonatan, kenapa?" Nagita bertanya sambil menjulurkan lidah. "Jangan-jangan kau takut yaaa? Cuma wortel saja. Jangan khawatir, makanlah."
Jonatan memegang wortel itu dengan hati-hati.
Kemudian dia menatap ketiga wanita tersebut dan berkata dengan suara serak,
"Aku tidak sanggup membeli wortel ini."
"Tuan Kevin benar-benar luar biasa. Dia bisa mendapatkan barang mewah seperti ini dalam waktu sesingkat itu!"
Sejak saat itu, rasa hormat Jonatan terhadap Kevin semakin dalam.
Melihat reaksi Jonatan yang begitu berlebihan, ketiga wanita itu saling berpandangan.
Jangan-jangan wortel ini memang berharga?
"Apakah wortel ini sangat berharga?" Amanda bertanya lembut dengan rasa ingin tahu.
"Bukan sekadar berharga. Ini adalah sesuatu yang tidak ternilai."
Jonatan menarik napas dalam-dalam.
"Aku pernah melihat wortel seperti ini sebelumnya. Harganya sangat tinggi. Tanpa status istimewa Tuan Kevin, bahkan jika kalian membawa satu miliar ke luar sana, kalian belum tentu bisa mendapatkannya."
Suara Jonatan bergetar karena kegembiraan.
Dia benar-benar tidak menyangka masih bisa melihat wortel ini lagi dalam hidupnya.
Ingatan Jonatan kembali ke masa ketika dia mengikuti ujian seleksi Biro Super Nasional.
Saat itu, wortel ini pernah dijadikan hadiah dalam ujian tersebut!
Mereka yang berhasil lulus ujian tentu bisa bergabung dengan Biro Super Nasional.
Namun bagi peserta yang gagal, masih ada hadiah untuk mereka yang memperoleh peringkat terbaik.
Peringkat pertama mendapatkan satu mentimun.
Sedangkan peringkat kedua dan ketiga masing-masing mendapatkan satu wortel!
Awalnya Jonatan menganggap hadiah seperti itu sangat lucu.
Namun setelah mengetahui khasiat sebenarnya...
Dia sama sekali tidak bisa tertawa lagi.
Dia benar-benar tercengang.
Bagi seorang praktisi bela diri seperti mereka, benda semacam ini adalah harta karun yang sangat berharga!
"Apa?! Benda ini benar-benar bisa bernilai sampai satu miliar?"
Ketiga wanita itu langsung tercengang.
Kalau begitu...
Bukankah mereka bertiga baru saja memakan wortel senilai tiga miliar hanya dalam beberapa gigitan?!
"Paman Jonatan, kau tidak sedang bercanda, kan?" Misela bertanya dengan wajah terkejut. "Bagaimana mungkin benda ini semahal itu? Bukankah bentuknya seperti wortel biasa?"
"Aku pernah melihatnya sendiri. Aku tidak mungkin salah."
Jonatan menggeleng.
"Wortel ini mengandung energi yang sangat besar. Bagi seorang praktisi bela diri, ini adalah harta yang luar biasa."
"Setelah memakannya, seseorang bukan hanya bisa meningkatkan Qi Sejati, tetapi juga dapat meningkatkan kekuatannya untuk sementara waktu!"
"Orang biasa memang tidak akan mendapatkan efek sebesar praktisi bela diri, tetapi tubuh mereka tetap akan memperoleh manfaat yang luar biasa."
"Ini dapat meningkatkan kesehatan, menghilangkan kelelahan, memperkuat tubuh, bahkan membantu mencegah berbagai penyakit!"
Jonatan kemudian memandang ketiga wanita itu dengan tatapan iri.
"Wah, Tuan Kevin benar-benar memperlakukan kalian dengan sangat baik. Dia bahkan rela memberikan benda seberharga ini kepada kalian untuk dimakan."
Ketiga wanita itu kembali terdiam.
Kali ini mereka benar-benar tercengang.
Kevin ternyata benar-benar peduli kepada mereka.
Mereka benar-benar baru saja memakan wortel yang masing-masing bisa bernilai sampai satu miliar!
Artinya, hanya dalam beberapa gigitan, mereka bertiga sudah menghabiskan harta senilai tiga miliar!
Itu adalah jumlah uang yang bahkan mungkin tidak mampu dikumpulkan lebih dari sembilan puluh persen orang di dunia sepanjang hidup mereka!
Tiba-tiba sebuah pikiran melintas di benak Misela.
Dia buru-buru mengambil mentimun yang tadi diberikan Kevin.
"Paman Jonatan, Kevin bilang dia tidak tega memakan mentimun ini sehingga memberikannya kepada kami."
Misela menatap mentimun di tangannya dengan gugup.
"Jangan-jangan... mentimun ini jauh lebih berharga daripada wortel itu?"
bibirmu berjenggot?