NovelToon NovelToon
Dibuang Saat Kusam, Kini Aku Jadi Ratu Kemewahan

Dibuang Saat Kusam, Kini Aku Jadi Ratu Kemewahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Single Mom
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

"Wanita yang dulu kau buang seperti sampah, kini menjadi Ratu yang tak sanggup kau beli!"
Demi Fandi, Maya rela melepas statusnya sebagai supermodel ternama dan menjadi ibu rumah tangga biasa. Namun, pengorbanannya dibalas penghinaan. Begitu penampilannya tak lagi segar, Fandi menceraikannya demi wanita lain dan mengusirnya tanpa membawa apa pun.
Fandi mengira hidup Maya sudah hancur. Namun, ia salah besar.
Di balik kehancurannya, Maya bangkit merintis kembali kerajaannya. Ketika Maya berdiri di puncak kejayaan sebagai wanita paling berpengaruh, Fandi merangkak dalam penyesalan yang tak bertepi.
Sayangnya... Ratu yang dulu disia-siakannya kini melayang terlalu tinggi untuk kembali.

bagaimana ceritanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: DSKKR

Aroma minyak telon dan bedak bayi selalu jadi bau khas rumah ini setiap jam lima sore. Tapi sore ini, bau itu bercampur sama aroma parfum maskulin yang tajam—parfum mahal milik Fandi yang baru disemprotkan berlebihan.

"Emm.. wangi sekali mas" Ucapku pada suamiku itu.

Aku tak mendapatkan jawaban. Lalu aku lanjut berdiri di depan cermin kamar, mengancingkan daster kain katun yang warnanya sudah agak memudar. Di cermin itu, aku menatap pantulan diriku sendiri. Wanita berusia tiga puluh satu tahun dengan lingkar hitam di bawah mata, rambut yang cuma diikat asal pakai jepitan badak, dan perut yang masih bergelambir sisa melahirkan anak ketiga kami delapan bulan lalu.

"Sudah berubah sekali aku ini.." gumam ku.

Tiba-tiba suamiku meneriaki ku. "Maya! Kemeja putihku yang di-press kemarin di mana?" Suara Fandi terdengar dari luar kamar. Tinggi, tidak sabaran, dan bernada memerintah.

Aku menghela napas pelan, mengusap leherku yang terasa pegal sebelum melangkah keluar. "Ya ampun mas.. jangan teriak bisa engga? Anak-anak nanti bangun.. Itu ada di lemari paling kanan, Mas. Udah digantung bareng jas hitammu." Ucapku

"Sapa tau telinga mu itu sudah sedikit tidak berfungsi sama dengan kerutan di wajah mu" Jawab suamiku.

Dada ku langsung terasa nyeri mendengar nya. Lalu fandi muncul dari balik pintu ruang kerjanya. Dia tampak rapi. Sangat rapi. Kemeja linen, celana chino yang pas di badan, dan rambut yang ditata klimis. Kontras sekali dengan penampilanku yang cuma pakai daster melar.

"Lain kali tuh taruh di depan, jangan dibiarin ketutup baju anak-anak," gerutu Fandi sambil membetulkan jam tangan kulitnya. Dia bahkan tidak melirikku sama sekali saat melewati ku.

"Mau berangkat sekarang mas? Itu makanan udah aku siapin di meja. Kamu belum makan siang dari tadi," kataku pelan, mencoba meraih tangannya untuk mencium punggung tangannya seperti biasa.

Tapi Fandi mendadak menarik tangannya, berpura-pura merapikan kerah kemeja.

"Enggak usah, aku makan di luar aja sama tim," jawabnya datar. Mata Fandi tertuju pada layar ponselnya yang terus menyala, menampilkan notifikasi pesan yang sengaja dia tengkurapkan layarnya begitu aku mendekat. "Malam ini ada photoshoot komersial sampai subuh. Jangan tunggu aku. Tidur aja, urus anak-anak mu dan urus diri kamu itu, Kumel sekali sih" Ucap Suamiku lagi

Rasa nya sangat menyakitkan sekali mendengar suami sendiri mengatakan hal itu. Dia sudah mengatakan itu semenjak aku hamil lagi. Aku menatap wajah suami yang kunikahi lima tahun lalu itu. Pria yang dulu menangis di hadapanku saat kamera pertamanya rusak. Pria yang dulu berjanji bakal menjadikanku satu-satunya muse dalam hidupnya. Namun kini, dia bahkan tidak pernah melirik sedikit pun padaku.

"Masss... malam ini Ibu sama adikmu mau datang. Memangnya kamu enggak bisa tunda sejam aja buat makan bareng?" Tanya ku mencoba biasa saja.

Fandi berhenti melangkah. Dia menoleh, menatapku dari atas ke bawah. Tatapannya bukan tatapan seorang suami yang penuh kasih, melainkan tatapan menilai... yang penuh dengan rasa kecewa.

"May, kamu tahu kan klienku malam ini tuh brand besar?" Fandi menghela napas berat, suaranya terdengar sangat lelah, seolah-olah berbicara denganku adalah hal yang sangat menguras tenaganya.

"Aku lagi nyari uang buat biaya rumah ini, buat anak-anak. Kamu di rumah cuma ngurus anak sama masak, masa gitu aja enggak paham? Ah buang-buang waktu saja ngomong sama kamu. Bikin sakit mata saja" Ucap suamiku lagi lalu dia pun berbalik kanan.

Kalimat itu menusuk tepat di dada. Rasa panas langsung menjalar ke tenggorokan.

"Cuma ngurus anak? Cuma masak? Kamu bilang mas?" Ucapku.

"Lalu memang nya kamu ngelakuin apa lagi selain itu? Engga bisa cari duit juga kan? Mending diem aja udah." Jawab Fandi suamiku.

Aku ingin menjerit. Aku ingin mengingatkan dia siapa yang dulunya rela melepas kontrak senilai miliaran rupiah dengan agency internasional cuma demi memprioritaskan pernikahan ini. Aku ingin mengingatkan dia kalau namanya bisa dikenal para desainer papan atas itu karena portofolio pertamanya berisi fotoku!

Tapi tiba-tiba dari lantai dua, suara tangisan kembar kami yaitu Arka dan Arki yang terbangun dari tidur sore langsung memecah suasana.

"Tuh, anak-anakmu nangis. Urus sana," potong Fandi cepat, seolah tangisan anak-anak adalah alasan sempurna buat dia melarikan diri. "Jangan bikin Ibu sama Siska maksudku, Ibu sama adikku tunggu lama kalau mereka datang nanti."

Fandi berbalik dan melangkah cepat menuju pintu depan.

"Mas," panggilku lagi. Langkahku terhenti di ambang pintu hall depan menghalangi nya "Siska siapa?" Tanya ku.

Fandi sempat membeku sekejap di dekat pintu utama. Bahunya menegang, tapi cuma sejurus kemudian dia menoleh dengan tawa kecil yang terdengar dipaksakan dan sangat hambar.

"Siska, itu model baru ku di studio. Aku refleks sebut nama dia gara-gara dari tadi ditagih konsep sama manajernya," alihnya santai, meski matanya menghindari tatapanku. "Udah ah, aku buru-buru. Ladeni kamu engga penting." ucap fandi dengan buru-buru

Pintu depan tertutup dengan suara dentuman pelan. Suara deru mobilnya perlahan menjauh dan hilang ditelan riuk jalanan kompleks.

Aku berdiri sendirian di lorong rumah yang sepi, diapit suara tangisan anak-anak dari lantai atas dan bau parfum Fandi yang masih tertinggal di udara. Tangan kiriku meremas kain daster di bagian perut, menyadari betapa kusam dan tak berdayanya aku di mata pria itu sekarang.

20 menit kemudian,

Ponsel di kantong dasterku bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal, isinya foto sekali lihat dengan caption pendek:

"Mas Fandi bilang, estetikanya hilang kalau di rumah. Kasihan ya kamu, Mbak."

Di dalam foto itu, Fandi sedang tertawa lebar di dalam studio, merangkul pinggang seorang gadis muda bergaun merah yang lekuk tubuhnya begitu sempurna.

Bersambung...

1
Heny
Sdh pergi baru nyesal
Heny
Sudah sukses lupa daratan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!