NovelToon NovelToon
Mas Abi Dan Dua Anak Bandelnya

Mas Abi Dan Dua Anak Bandelnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Duda / Diam-Diam Cinta
Popularitas:20.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

"Mas Akball itu mobilan Aqil balikin ngga!" teriak sebuah suara cempreng dari arah ruang tengah.

"Bukan! Ini punya Mas Akbar! Kemarin Aqil udah main yang warna merah, sekarang Mas yang biru!" balas Akbar

Sejak perceraiannya tiga tahun lalu, Abi memang mantap untuk tidak mempekerjakan ART. Ia ingin merawat dan membesarkan kedua buah hatinya dengan tangannya sendiri, meski statusnya sebagai duda beranak dua sering kali menguras energi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

Abi yang kaget setengah mati langsung melangkah cepat menghampiri pohon jambu, disusul Pak Darno di belakangnya.

"Akbar! Aqil!" seru Abi sambil menahan napas. Tangannya sigap merentang ke atas. "Astagfirullah... Kan Ayah bilang apa tadi? Ayo turun, cepat!"

Aqil yang sudah tidak tahan lagi langsung menumpahkan tangisnya. "Ayaaah... Aqil takut tulun... dahan-nya tinggi banget, nanti Aqil jatuh ke lumpul..." rengeknya cadel sambil mendekap erat batang pohon.

"Iya, iya, Ayah pegang. Lepas pegangannya pelan-pelan," ujar Abi lembut tapi tegas, menurunkan ketegangan di wajahnya agar anak-anaknya tidak semakin panik. Sambil memasang posisi siap menangkap, Abi menurunkan Aqil lebih dulu dengan hati-hati, disusul oleh Akbar yang mukanya sudah merah padam menahan malu dan takut.

Setelah kedua kakinya menapak tanah dengan selamat, Aqil langsung bersembunyi di belakang kaki Abi, sementara Akbar cuma bisa menunduk dalam-dalam sambil memegang dua buah jambu biji yang berhasil dipetiknya.

Kayla yang memperhatikan dari dekat tak bisa menahan senyum tipisnya melihat kelakuan dua bocah itu. Ia meletakkan rantang susun yang dibawanya di atas bambu pinggir pematang.

"Naiknya bisa tapi bingung turunnya ya?" goda Kayla.

Akbar mengangkat kepalanya sedikit, menyodorkan satu jambu ke arah Kayla dengan wajah polos. "Buat Mbak... terima kasih udah kasih tahu Ayah..." ucap Akbar melirik adiknya yang masih sesenggukan.

Abi memegang bahu kedua putranya, menuntun Akbar dan Aqil kembali ke saung dengan langkah tegas. Setelah menaikkan mereka berdua ke atas lantai bambu, Abi berdiri di hadapan mereka sambil bersedekah tangan, menatap Akbar dan Aqil bergantian.

Pak Darno dan Kayla memilih sedikit memberi ruang, membiarkan Abi menyelesaikan urusannya dengan kedua bocah itu.

"Akbar, Aqil," panggil Abi.

Aqil langsung menunduk dalam-dalam, tangannya meremas ujung kausnya, sementara Akbar berusaha memberanikan diri menatap ayahnya walau matanya berkaca-kaca.

"Inget janji kalian sebelum berangkat tadi apa?" tanya Abi.

"Duduk manis di saung... nggak main lumpur..." jawab Akbar pelan sekali.

"Terus tadi kenapa malah manjat pohon jambu?" potong Abi. "Kalau tadi dahan pohonnya patah gimana? Kalau kalian jatuh, kepala atau tangannya terbentur gimana? Apalagi adiknya diajak naik tinggi-tinggi begitu, Akbar."

"Mafin Mas Akbal Ayah..." bisik Aqil sesenggukan, air matanya menetes lagi. "Aqil yang minta jambunya... Aqil yang pengen..."

Akbar dan Aqil menyapu sisa air mata di pipi dengan lengan baju masing-masing. Dengan langkah pelan dan wajah masih tertunduk malu, keduanya bergeser menghadap Pak Darno dan Kayla.

"Puk Dalno, Mbak Kayla... telima kasih nggih sampun dibantu tulun," bisik Aqil.

Kayla tersenyum hangat melihat kepolosan dua bersaudara itu. Rasa kasihan bercampur gemas melihat wajah mereka yang kemerahan habis dimarahi.

"Sama-sama, Ganteng," sahut Kayla ramah sambil tersenyum manis. Ia lalu berjongkok menyepadani tinggi kedua bocah itu. "Tapi panggil Kakak saja ya, jangan Mbak. Kakak punya jajan ini, mau ngga?"

Kayla kemudian membuka wadah yang dibawanya, memperlihatkan beberapa bungkus jajanan pasar dan kue tradisional yang masih hangat. "Ada kue lumpur sama klepon manis. Mau jajan?"

Mata Akbar langsung berbinar menatap kue-kue tersebut, perutnya terasa makin lapar setelah panik di atas pohon tadi. Namun, bukannya langsung menyambar, Akbar menahan tangannya dan pelan-pelan melirik ke arah sang ayah, meminta izin tersirat. Aqil pun ikut-ikutan melirik Abi dengan tatapan berharap

"Ambil saja," kata Abi lembut sambil mengusap kepala Akbar dan Aqil. "Dihabiskan ya. Setelah ini kita pulang, biar kalian tidak bikin kehebohan lagi di sawah."

"Asyik! Telima kasih Ayah, telima kasih Kakak Kayla!" seru Aqil kegirangan, tangannya langsung terulur mengambil sepotong kue lumpur dengan senyum lebar yang kembali menghiasi wajahnya.

Setelah memastikan kedua anaknya menghabiskan kue dan berpamitan pada Pak Darno serta Kayla, Abi menuntun Akbar dan Aqil kembali ke rumah Bu Marni. Sepanjang perjalanan pulang, hembusan angin siang dan rasa kenyang membuat kantuk mulai menyerang kedua bocah itu. Langkah kaki mereka makin lambat, hingga akhirnya Abi harus merangkul bahu kecil mereka agar tetap jalan beriringan.

Sesampainya di halaman rumah, perhatian Abi langsung tertuju pada sebuah mobil yang terparkir rapi di bawah pohon mangga. Itu mobil Arya.

Tanpa membuang waktu, Akbar dan Aqil langsung ngeluyur masuk ke dalam rumah. Mengacuhkan badan mereka yang lelah dan berdebu, dua bersaudara itu langsung merebahkan diri telentang di atas karpet ruang tengah, tepat di depan TV yang sedang menyala. Dalam hitungan detik, napas keduanya sudah terdengar teratur, tertidur lelap.

Abi menggelengkan kepala melihat tingkah kedua anaknya. Ia lalu melangkah ke arah teras samping dan mendapati Bu Marni sedang sibuk membersihkan serta merapikan meja tanaman.

"Arya udah datang ya, Bu?" tanya Abi pelan.

Bu Marni menghentikan aktivitasnya, mengusap tangannya ke kain lap, lalu menatap Abi dengan raut wajah serba salah.

"Udah dari tadi." jawab Bu Marni setengah berbisik. Tangannya menunjuk pelan ke arah lorong dalam.

"Itu... lagi bicara sama Nadia di kamarnya."

Abi mengangguk paham. Namun, saat Abi hendak melangkah menuju arah kamar Nadia, Bu Marni menahan lengan anaknya pelan.

"Biarin mereka bicara berdua dulu, Mas. Biar diselesaikan sendiri," ucap Bu Marni lembut, menatap Abi dengan pandangan menenangkan.

Abi menghela napas panjang, mengurungkan niatnya. Ia mengangguk mengiyakan nasihat sang ibu, lalu membalikkan badan menuju ruang tengah.

Melihat kedua jagoannya yang tertidur pulas di atas karpet depan TV, rasa lelah Abi mendadak membuncah. Tanpa pikir panjang, ia meluruskan kakinya dan ikut merebahkan diri terlentang tepat di tengah-tengah antara Akbar dan Aqil.

Baru saja Abi hendak memejamkan mata dan menikmati embusan angin kipas, tidur nyenyak Akbar terganggu. Tanpa membuka mata, tangan kecil Akbar terulur mendorong pelan bahu ayahnya.

"Geser. Ayah... Sempit," gumam Akbar.

Arya masih berlutut tak jauh dari tepi ranjang, memandangi Nadia yang tetap bergeming membelakanginya dengan tubuh kaku.

"Nad... tolong, dengarkan aku dulu," bisik Arya, suaranya bergetar menahan gejolak emosi. Tangannya gemetar saat mencoba mendekat.

"Demi Allah, Nad... laki-laki di dalam foto yang kamu lihat itu bukan aku. Enggak ada niat sekecil apa pun di hati aku untuk mendua, Nad. Tolong... jangan begini."

Nadia tetap diam, mencengkeram jemarinya sendiri di pangkuan. Rasa sakit dan kecewa akibat kesalahpahaman itu masih membakar dadanya.

Arya mengusap wajahnya yang tampak sangat pucat dan lelah. Suaranya merendah, menahan rasa sakit yang sedari tadi disembunyikannya dari semua orang.

"Alasan aku terlambat pulang dan semalam enggak ada kabar... bukan karena wanita lain, Nad. Tapi karena aku tertembak."

"T-tertembak?!" seru Nadia, suaranya gemetar hebat.

Tanpa memikirkan amarahnya lagi, Nadia langsung berlutut di hadapan Arya, jemarinya bergerak panik memeriksa tubuh pria itu dari bahu hingga dada.

"Di mana kenanya, Mas?! Kok bisa?! Kenapa enggak bilang dari tadi, sih?!"

Arya memegang lembut kedua tangan Nadia yang gemetar memeriksa tubuhnya, mencoba menenangkan wanita di hadapannya itu.

"Di bahu kiri, Nad... cuma rekoset, luka tembaknya sudah diobati dan dijahit kemarin malam di rumah sakit Bhayangkara," bisik Arya pelan sambil tersenyum tipis, berusaha mengusir ketakutan dari wajah Nadia.

"Aku sengaja enggak langsung cerita karena aku enggak mau bikin kamu sama Ibu panik... Tapi pas sampai di sini, kamu malah mendingin dan tunjukin foto itu."

Air mata yang sejak tadi ditahan Nadia akhirnya menetes juga. Rasa bersalah dan cemas membuncah di dadanya. Jemari Nadia perlahan menyentuh bahu kiri Arya dengan sangat hati-hati, takut menyenggol luka yang tertutup rapat di balik kemejanya.

"Mas Arya itu gimana, sih?!" omel Nadia sesenggukan, antara lega, marah, dan khawatir campur aduk.

"Tertembak itu urusan nyawa, Mas! Bisa-bisanya masih kepikiran mikirin salah paham foto itu daripada luka sendiri?! Kalau ada apa-apa gimana?!"

"Ya gimana lagi... buat aku, kehilangan kepercayaan kamu itu jauh lebih menakutkan daripada kena peluru, Nad," sahut Arya tulus, menatap dalam ke mata Nadia.

1
D_wiwied
Jederrrr... bak petir di siang bolong dpt kabar mengejutkan 😱 gara-gara lupa bisa berakibat fatal.. setelah urusan persalinan Nadia yg dramatis berakhir baik dan lancar kini datang kabar mengagetkan dr kampung.. smg semua dpt terselesaikan dg baik ya mas Abi jangan sampai dek Kayla diboyong ke kota 😆🤭
Lisa
Puji Tuhan operasinya berjln dgn lancar..cpt pulih y Nadia, utk babynya juga..
Lisa
Berdoa utk Nadia spy operasinya lancar..Ibu & bayinya sehat..
Lisa
Syukur Abi dtg ke rmhnya Kayla..
D_wiwied
duuh saking paniknya sampe lupa ga ngabarin Kayla to mas, pasti Kayla sekeluarga nunggu2 sampeyan ini mas 😆
Cha Libra
terjawab sudah ternyata kayla berkerudung.. i 🤭pantes jdi kembang desa
D_wiwied
suka sm kepolosan Aqil 😁 bentar lg kak Kayla bakal jd bundamu Qil 😁
Elly Maryani
oalah di Pardi kelakuanmu lho....
D_wiwied
akhirnya.. bisa nyicil ayem dikit ya mas Abi, restu sdh didapat otw menuju pelaminan 😆
D_wiwied
makanya toh mas duda segera tanyakan lagi kesiapan Kayla drpd bohongin anak2 terus mending segera lamar neng Kayla nya 😂😂
Chu Shoyanie
perbaiki judulnya dong....:jgn anak bandel;anak qute,lincah atau apa yg lebih positif.....🙏🏻🙏🏻🙏🏻😍
D_wiwied
cieeee mas duda udah siap melamar dek Kayla 😆😆😁
Fitri Yah
hahahha ...ku bacanya senyam senyum z ni thor denger anak2 bicara seperti ituuu
D_wiwied
ayo mas dud, segera dilamar aja neng Kayla nya, anak2 sdh nyaman n kasih lampu hijau tuh 😆😁
Fitri Yah
double up thor 🙏
yumi chan
jgn lm2 thor cpt lamaranya..njh hmil...ank kmbr cwek2 biar rme jdnya
Elly Maryani
modus bgt mas Abi...udah g betah JD duda ya mas😅😂😂.. up LG Thor... jgn lama2...
D_wiwied
iihhh pinter banget modusnya pak duda satu ini menggiring opini anak2 nya pdhl dia sendiri yang udah ada rasa ke Kayla tuh, tp aku setuju koq 😁😁
Fitri Yah
hiyaaa ... akhir nya anak2 pun setujuuu. gercep mas abi .... lamar bunda kayla nya hahhahha ... pleazee double up thor hehe 🙏
ig: denaa_127
komen pilih
Abi + Kayla
Abi+ Dinda.
Kayla+ Pardi
Abi + Yanti
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!