Aisyah, seorang gadis solehah dan mandiri, mengira pernikahannya dengan Dimas, pria tampan dari keluarga terpandang yang berkata sangat mencintainya akan berjalan manis. Namun, kehidupan pasca nikah Aisyah berubah menjadi ujian kesabaran yang pada kenyataannya Dimas adalah seorang anak mami sejati.
Hampir seluruh hidup Dimas dikendalikan oleh Tante Rosma, ibunya yang dominan. Mulai dari urusan rumah tangga, keuangan, hingga keputusan pribadi, kalimat "Kata Mami..." selalu jadi hukum mutlak bagi Dimas. Aisyah pun terjepit di antara kewajiban menghormati suami dan tekanan mertua yang terlalu campur tangan.
Tak ingin rumah tangganya hancur, Aisyah memutuskan tidak menyerah. Berbekal kesabaran, kelembutan, dan prinsip agama yang teguh, ia memulai misi, melunakkan hati mertuanya sekaligus membentuk Dimas agar berani menjadi pemimpin keluarga yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: DMAM
Langkah Bu Rosma yang hendak menyeret Dimas keluar dari kamar Aisyah terhenti secara mendadak.
Belum sempat ujung sepatu hak tingginya menapak keluar dari ambang pintu kamar, suara langkah kaki yang ramai dan ketukan keras menghantam pintu depan rumah kayu bersahaja itu.
Tanpa menunggu diizinkan masuk, sekelompok warga kampung bersama beberapa pemuda dan pengurus lingkungan menerobos masuk ke dalam ruang tengah.
"Ada apa ini ramai-ramai?! Jangan kabur dulu!" teriak salah seorang warga bertubuh kekar sambil menunjuk ke arah kamar.
Rosma menghentikan langkahnya, dan refleks pasang badan di depan Dimas. Wajahnya yang semula memucat kini kembali dipaksa mengeras, meski keringat dingin mulai menyemul di balik lapisan bedak tebalnya.
"Sopan sedikit kalau masuk rumah orang!" bentak Rosma dengan nada suara tinggi, dan berusaha menakuti warga yang mulai memenuhi ruang tengah. "Saya ini ibunya Dimas! Saya cuma mau membawa pulang anak saya!"
"Bawa pulang gimana, Bu?!" potong seorang pemuda kampung dengan nada sengit. "Kami dari semalam sudah curiga! Ada mobil mewah terparkir sembarangan di depan gang, terus ada suara orang berantem di dalam rumah Neng Aisyah. Pas kami cek subuh ini, ternyata anak Ibu ada di dalam kamar Neng Aisyah semalaman!"
"Iya! Ini sudah masuk perbuatan kumpul kebo!" seru warga lainnya dari barisan belakang. "Neng Aisyah itu tinggal sendiri karena Bu Rahmi lagi ke Bandung! Kok bisa-bisanya ada laki-laki asing menginap di dalam kamarnya sampai subuh begini?!"
Dimas yang berada di balik punggung ibunya makin menciut. Ia mencengkram lipatan baju Rosma dengan jemari gemetar, sementara matanya bergerak-gerak ketakutan melihat puluhan pasang mata warga yang menatapnya dengan penuh amarah dan tuduhan.
"Mami... mereka mau ngapain, Mi? Dimas takut, Mi..." bisik Dimas dengan suara yang bergetar dan nada manja. "Dimas gak kumpul kebo, Mi! Dimas kan cuma mau nolongin Aisyah!"
"Diam kamu, Dimas! Biar Mami yang urus!" bisik Rosma, lalu berbalik menatap warga dengan dada membusung.
"Jangan sembarangan bicara ya!" seru Rosma lantang, lalu berusaha menenangkan warga agar putranya tidak semakin terpojok. "Anak saya ini orang berpendidikan, keluarga terpandang! Dimas di sini cuma buat menolong Aisyah yang semalam mendadak sakit! Tidak ada yang namanya kumpul kebo atau perbuatan mesum! Jangan asal tuduh kalau tidak punya bukti!"
"Bicara menolong tapi kok sampai menginap di dalam kamar tertutup?!" tembak warga yang lain. "Kalau menolong, kenapa tidak panggil warga dari semalam? Kenapa pintu rumah sampai terkunci dan ada bekas pecahan gelas di lantai?!"
Penjelasan Rosma yang terkesan melindungi dan terang-terangan memihak putranya justru membuat warga semakin murka. Hingga ketegangan di ruang tengah yang sempit itu pun meningkat drastis, dan membuat suasana subuh yang dingin mendadak terasa membakar.
Sementara itu, Aisyah yang masih terbaring di kamarnya dan masih berselimut mendengar seluruh kegaduhan di luar. Suara tuduhan warga yang bersahutan bagaikan dentuman meriam yang menghantam kesadarannya yang baru saja pulih.
Aisyah berusaha mendudukkan tubuhnya di tepi kasur. Kepalanya terasa sangat berat dan berputar karena efek sisa zat asing yang semalam meracuni tubuhnya.
"A-apa yang terjadi...?" gumam Aisyah dengan bibir kering yang bergetar.
Ia memegang kepalanya yang berdenyut hebat. Lalu, perlahan tapi pasti, potongan-potongan ingatan semalam mulai menyusup kembali ke dalam benaknya, rasa haus yang menyiksa, air minum di gelas, sensasi terbakar yang menjalar ke seluruh pembuluh darahnya, dan... sosok Dimas.
Potongan ingatan tentang jarak wajah mereka yang amat dekat berputar sangat jelas. Aisyah ingat saat tangannya merangkul leher Dimas, rasa panas yang menuntut, dan sentuhan lembut di bibirnya ketika Dimas menunduk menciumnya.
"Astaghfirullahaladzim...!"
Pekik Aisyah tertahan sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Matanya membelalak lebar, karena merasa syok dan ketakutan. Seketika air matanya pun menetes membasahi pipinya yang pucat.
Dengan jemari yang gemetar hebat, Aisyah meraba seluruh tubuhnya, memeriksa pakaian gamis dan jilbab instan yang masih melekat di badannya.
Pakaiannya memang masih utuh, namun ingatan tentang ciuman itu dan kenyataan bahwa Dimas berada di dalam kamarnya sepanjang malam membuat dadanya terasa sesak luar biasa.
"Apa aku dan Mas Dimas...?" bisik Aisyah terputus-putus. Keringat dingin mengucur di tengkuknya. Wajahnya memucat total oleh rasa bersalah dan ketakutan akan kehormatan dirinya yang mungkin telah ternoda.
Pada saat yang bersamaan, suara kegaduhan di luar makin menjadi-jadi. Rosma dan warga saling berbalas argumen dengan nada tinggi, hingga membuat suasana rumah kayu itu bagai ruang persidangan liar.
Aisyah mengeratkan genggamannya dan menguatkan hatinya. Dengan langkah kaki yang masih lemas dan sempoyongan, ia berdiri, dan merapikan jilbabnya yang agak kusut, lalu perlahan menyibak kain tirai pintu kamar dan melangkah keluar menuju ruang tengah.
Kehadiran Aisyah seketika menghentikan perdebatan riuh. Seluruh pasang mata, warga, pengurus lingkungan, Bu Rosma, dan Dimas langsung tertuju padanya.
Pandangan para warga dipenuhi dengan rasa curiga, kekecewaan, dan tuduhan yang amat berat.
Di barisan terdepan, Pak RT yang mengenakan baju koko dan sarung melangkah maju satu pijakan. Wajahnya yang biasa ramah kini tampak sangat tegang dan prihatin.
"Neng Aisyah..." panggil Pak RT dengan suara berat. "Ada apa ini sebenarnya? Apa benar yang dikatakan warga kalau Neng Aisyah dan Mas Dimas ini berduaan di dalam rumah semalaman?"
Mendengar pertanyaan pak RT Aisyah berdiri mematung di depan pintu kamarnya.
Pandangannya mengabur oleh genangan air mata yang menumpuk di pelupuk mata. Di depannya, Bu Rosma menatapnya dengan pandangan mengancam, sementara Dimas menatapnya dengan raut wajah yang serba salah dan ketakutan.
Aisyah merasa lidahnya kelu. Pikiran dan ingatannya masih acak-adut, ia tahlu ia diracun, ia tau Dimas bertengkar dengan seseorang, namun ingatan tentang apa yang terjadi di atas kasur membuat hatinya dirayapi keraguan besar. Ia tidak berani memberikan kepastian atas apa yang tidak sepenuhnya ia ingat di bawah pengaruh obat.
Aisyah menundukkan kepalanya dalam-dalam, karena tak sanggup menatap mata Pak RT maupun warga.
"Saya... saya bingung, Pak RT..." bisik Aisyah dengan suara bergetar dan amat lirih. "Saya tidak bisa menjawab dengan pasti apa yang terjadi..."
Jawaban Aisyah yang menggantung seketika memicu kasak-kusuk riuh di antara warga.
"Tuh kan! Dia saja tidak bisa membantah!"
"Berarti benar dong mereka sudah macam-macam!"
"Padahal kelihatan solehah, ternyata di belakang begini!"
Tepat saat suasana makin ricuh dan terdesak, gema alunan merdu suara azan Subuh berkumandang dari pengeras suara masjid kampung yang berjarak beberapa ratus meter dari rumah Aisyah.
Suara sakral itu membelah ketegangan dan keheningan pagi yang membeku.
Aisyah menarik napas panjang dan mencoba menguasai emosi dan gemetar di tubuhnya. Ia mendongakkan kepalanya sedikit, dan menatap Pak RT dengan sisa ketegaran yang ada.
"Pak RT, dan para warga mohon maaf sebelumnya..." tutur Aisyah dengan nada lemah namun tertata. "Tapi saya juga tidak tau pasti atas apa yang terjadi. Tapi, izinkan saya melaksanakan salat Subuh dulu, lalu kita bisa lanjutkan membahas masalah ini."
Usul Aisyah sukses membuat beberapa warga saling pandang. Sebagian dari mereka merengut tidak puas dan mulai berbisik-bisik dengan nada menyindir yang tajam.
"Masih sok suci mau salat Subuh segala, padahal semalam sudah tidur dengan laki-laki yang bukan suaminya," bisik seorang ibu warga kampung dengan nada mencibir.
"Paling cuma trik buat ulur waktu atau cari alasan," timpal warga lain di sampingnya.
Pak RT mengangkat tangannya, dan meminta warga untuk tenang dan menahan diri. Sebagai pengurus setempat yang bijaksana, ia tidak ingin mengambil keputusan secara gegabah dalam kondisi emosi yang panas, apalagi waktu salat Subuh telah tiba.
"Sudah, sudah!" tegas Pak RT. "Bagaimanapun, salat itu kewajiban. Kita kasih waktu untuk bersuci dan salat dulu. Saya dan beberapa pengurus juga mau salat di masjid sebentar."
Pak RT kemudian menatap Bu Rosma dan Dimas dengan raut wajah yang serius.
"Bu Rosma dan Mas Dimas tetap di sini. Jangan coba-coba kabur sebelum masalah ini terang benderang. Beberapa pemuda warga akan berjaga di pekarangan luar untuk mengawasi."
Rosma menggeram kesal, namun ia tidak punya pilihan lain selain mengangguk kaku di bawah ancaman tatapan warga.
Para pengurus dan sebagian warga bertahap melangkah keluar rumah menuju masjid, meninggalkan beberapa pemuda yang bersedekap dan berjaga di teras depan. Ruang tengah rumah kayu itu pun kini hanya tersisa Bu Rosma, Dimas, dan Aisyah.
Rosma sibuk berjalan mondar-mandir di ruang tengah sambil menelepon pengacaranya dengan suara berbisik yang panik, dan berusaha mengarang cerita demi menyelamatkan nama baik keluarga dan perusahaan mewahnya dari skandal ini.
Sementara itu, Dimas masih berdiri terpaku dekat meja makan. Matanya menatap Aisyah yang berdiri diam di dekat lorong kamar mandi. Rasa bersalah, panik, dan dorongan untuk mengadu bersaing ketat di dalam dada anak mami itu.
"Aisyah... aku..." ucap Dimas seraya melangkah ragu satu pijakan mendekati Aisyah.
Namun, belum sempat Dimas menyelesaikan kalimatnya atau menyentuh ujung baju Aisyah, Aisyah dengan cepat mengalihkan pandangannya.
Tanpa menatap wajah Dimas sedikit pun, gadis itu memutarkan badannya dan berjalan cepat menuju kamar mandi di bagian belakang.
Srett... KLIk.
Pintu kamar mandi kayu itu ditutup rapat dan dikunci dari dalam. Tak lama kemudian, suara gemericik air kran yang mengucur deras terdengar memenuhi ruangan.
Seorang warga yang mengintip dari jendela depan langsung berseru ke arah temannya di luar sambil tertawa sinis.
"Tuh lihat, terbukti kan?! Kalau tidak ngapa-ngapain, mana mungkin langsung pergi bersuci dan mandi keramas subuh-subuh begini!"
Bersambung...