Bagi Auren, kain biru tua yang kaku itu bukan sekadar seragam baru, melainkan awal dari cerita abadi yang akan ia lewati bersama Evan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurentina Bulolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tetap Jadi Aurenku
Suasana sore di halte bus sekolah terasa lebih sunyi dari biasanya. Meski rintik gerimis belum turun, hawa dingin terasa menusuk kulit. Seperti hari-hari biasa, Evan tetap berdiri di sana. Ia setia mengawal dan menemani Auren menunggu bus datang. Namun, ada yang berbeda hari ini. Tidak ada tawa renyah, tidak ada candaan jail, dan tidak ada obrolan hangat. Jarak satu jengkal di antara mereka terasa seperti bentangan samudra yang luas. Auren hanya menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong, sementara Evan sesekali melirik gadis di sampingnya dengan gurat penyesalan yang mendalam.
Begitu bus Auren datang, gadis itu naik tanpa mengucapkan sepatah kata pun, hanya memberikan anggukan kecil yang terasa sangat formal. Evan menghela napas berat, menatap kepergian bus itu dengan dada yang sesak.
Begitu sampai di rumahnya, Evan tidak bisa tenang. Bayangan Auren yang mendiamkannya benar-benar membuat dunianya runtuh. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia membuka aplikasi pesan di ponselnya. Ia mengetikkan untaian kalimat panjang, menuangkan seluruh isi hatinya yang paling dalam dengan penuh kehangatan dan kejujuran.
"Auren, aku minta maaf ya buat yang tadi... Aku benar-benar menyesal. Aku gak tahu harus berbuat apa. Jujur, aku terbakar oleh api cemburu saat melihat kamu sama Fathur tadi siang di sekolah. Pikiran aku langsung kacau, Ren. Tapi tolong, aku masih mau sama kamu. Kamu Aurenku, bukan Auren orang lain. Kembali lagi kayak dulu ya? Maafin aku... Aku gak sengaja, aku benar-benar gak tahu harus gimana tadi."
Evan menatap layar ponselnya, menunggu dengan jantung berdebar. Beberapa menit berlalu yang terasa seperti berjam-jam, hingga akhirnya sebuah notifikasi muncul.
Auren membalas: "hmm"
Hanya tiga huruf, tanpa tanda baca, sangat dingin. Evan menelan ludah. Ia tahu Auren masih sangat terluka. Otaknya berputar cepat mencari cara agar hubungannya bisa membaik dan mereka bisa kembali dekat seperti semula. Ia pun kembali mengetikkan pesan, menawarkan sebuah solusi yang ia harap bisa membuat Auren merasa aman kembali.
"Gini aja, besok aku bakalan minta ke Buk Linda untuk mengatur ulang bangku kita kayak kemarin lagi. Jadi kamu sama aku duduk bareng lagi, terus Anaya sama Fathur duduk barengan. Biar gak ada salah paham lagi di antara kita."
Sesaat kemudian, layar ponsel Evan berkedip kembali.
Auren membalas singkat: "oke"
Evan mengacak rambutnya frustrasi. Tanggapan Auren terlalu datar, seolah tembok besar masih berdiri kokoh di antara mereka. Ia tidak tahan lagi dengan sikap dingin ini.
Evan mengirim pesan lagi : " kok gitu jawabnya?"
Auren membalas singkat : " ? "
Melihat tanda tanya itu, pertahanan Evan runtuh. Ia tidak bisa lagi berbicara lewat teks yang tidak bisa menyampaikan nada suaranya. Evan langsung menekan tombol panggilan video, yang kemudian ia ubah menjadi panggilan suara biasa.
Panggilan pertama... dialihkan.Panggilan kedua... tidak dijawab.Panggilan ketiga, keempat, kelima... tetap sama. Nada sambung itu terdengar monoton, mengiringi rasa cemas Evan yang kian memuncak.
Evan tidak menyerah. Ia terus menekan tombol telepon itu berulang-ulang. Ke-10 kali, ke-15 kali, hingga akhirnya pada panggilan ke-25, keajaiban kecil itu terjadi. Garis hijau tanda panggilan terhubung berkedip. Suara di seberang sana terdengar, datar namun sangat ia rindukan.
"Apa, Van?" tanya Auren dari balik telepon.
Evan langsung menghela napas lega, suaranya terdengar bergetar. "Kamu kok gini? Aku minta maaf, Ren..."
"Aku gak apa-apa," jawab Auren singkat.
"Enggak, aku tahu kamu lagi gak apa-apa... tapi kamu pasti belum maafin aku, kan? Jujur sama aku, Ren," desak Evan, tahu betul bahwa 'tidak apa-apa' milik perempuan sering kali berarti sebaliknya.
Di kamarnya, Auren terdiam. Ia memandangi sebuah benda di atas mejanya. Sebuah benda yang selama ini menyimpang sejuta cerita awal kedekatan mereka.
"Enggak kok," sahut Auren, suaranya kini terdengar sedikit lebih lembut. "Aku... aku hanya lagi lihat buku biru yang kamu kasih ke aku dulu. Waktu kita baru-baru deket, ingat gak?"
Mendengar kata 'buku biru', ingatan Evan langsung terlempar pada masa-masa awal mereka berjuang bersama. Sudut bibir Evan perlahan terangkat. "Oh iya! Aku sampai lupa dengan buku itu. Kamu... masih menggambar di situ, kan? Tulisan tangan aku juga masih ada di situ, kan?"
"Masih kok, semuanya masih ada," jawab Auren. Tanpa sadar, jemari Auren mengusap permukaan buku biru itu, mengingat bagaimana Evan dulu selalu menyemangatinya lewat tulisan-tulisan kecil di pojok halaman.
Evan tersenyum lebar di kamarnya, merasakan secercah harapan. "Yaudah, kalau gini... kita udah baikkan, kan?"
Auren terdiam sejenak, membiarkan keheningan malam mengambil alih sebelum akhirnya ia menjawab pelan, "Iyaa, Evan."
Mendengar konfirmasi itu, kebahagiaan Evan membuncah. Ia ingin memberikan sesuatu yang nyata untuk merayakan perdamaian mereka, sekaligus memanjakan gadisnya.
"Aku pesanin kamu makanan ya?" kata Evan cepat.
Auren terkejut. "Hah? Pesan apa? Gak usah, Van, repot-repot amat."
"Udah, tunggu aja di depan rumah ya. Makanan kesukaan kamu," potong Evan dengan nada tegas yang manis, tidak menerima penolakan.
Tak berselang lama setelah telepon ditutup sementara, terdengar suara sepeda motor berhenti di depan rumah Auren, disusul suara ketukan pintu. Seorang kurir ojek online berdiri di sana membawa sebuah kantong plastik besar. Auren menerimanya dengan bingung, lalu membawanya masuk ke dalam kamar.
Saat kantong itu dibuka, aroma gurih langsung menguar memenuhi ruangan. Di dalamnya terdapat satu porsi mie ramen kuah pedas yang masih mengepul hangat, lengkap dengan level pedas kesukaannya, serta satu cup besar susu stroberi dengan krim yang melimpah di atasnya.
Melihat kombinasi makanan penenang itu, pertahanan Auren benar-benar runtuh. Senyum manis yang sejak siang menghilang, kini kembali terukir di wajahnya. Hatinya yang semula beku dan kesal, seketika mencair oleh perhatian kecil namun sangat tepat sasaran dari Evan.
Auren kembali menghidupkan sambungan telepon mereka yang masih terhubung. "Makasih ya, Van."
Suara Evan terdengar sangat lega di seberang sana. "Sama-sama, Aurenku. Yaudah, sekarang kamu makan ya? Aku matikan dulu teleponnya, soalnya aku mau langsung hubungi Buk Linda buat ngomongin soal posisi bangku kita besok."
Auren mengangguk kecil, seolah Evan bisa melihatnya. "Iya, Van. Makasih sekali lagi ya buat ramen sama susunya."
Sebelum tombol merah ditekan, Evan menahan suaranya sejenak, memastikan kalimat terakhirnya ini didengar dengan jelas oleh Auren.
"Tetaplah jadi Aurennya Evan ya... jangan jadi Auren siapapun. Sampai jumpa besok di sekolah."
Klik. Panggilan selesai.
Auren menurunkan ponsel dari telinganya. Kalimat terakhir Evan terus bergema di kepalanya, membawa sejuta rasa hangat yang menjalar ke dadanya. Sambil menyuap mie ramen pedas dan meminum susu stroberinya, Auren tersenyum sendiri. Amarahnya telah menguap sepenuhnya, digantikan oleh rasa sayang yang semakin kuat untuk cowok yang baru saja meneleponnya hingga 25 kali itu.