Raya lemes ketika pacar yang sudah menemaninya saat miskin maupun sugih, saat waras maupun lagi nggak eling, saat susah maupun senang, kini hilang tidak ada kabar. Padahal Jaka sempat ajak Raya ke bazar kuliner sebelum menghilang.
Raya dan Jaka adalah pasangan seiya sekata senada dan seirama sejak 3 tahun lalu. Dulu Raya ketemu sama Jack saat lagi razia dagangan yang digelar depan panti jompo.
Raya suka ikut membantu bibinya jualan kembang kuburan dan aksesoris pemakaman, komisinya lumayan buat beli seblak bojrot. Apesnya hari ini sedang ada operasi gabungan sapu bersih dari tim Satpol PP.
" Ya Allah Pak, itu air mawar dan kendi-kendinya jangan dihancurin ya. Saya nggak punya modal lagi buat jualan kembang " mohon Bi Nur
Tiba-tiba ditengah kekacauan itu, muncullah pangeran tampan yang bikin hati Raya geter-geter kayak kena gempa. Lelaki yang baru turun dari truck Satpol PP itu adalah Jaka, ternyata dia adalah anak dari Komandan Pasukan yang bernama Pak Zaki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertangkap
Malam menjelang hari pelaksanaan Panen Raya, desa Layung Koneng dipenuhi kesibukan warga yang mempersiapkan segala keperluan acara esok hari. Lampu-lampu hias sudah terpasang di sepanjang jalan utama menuju balai desa, dan aroma masakan khas pesta rakyat mulai tercium dari berbagai rumah warga yang sibuk menyiapkan hidangan untuk tumpengan.
Raya membantu Bik Tati menyelesaikan hiasan tumpeng hingga larut malam, sementara Mang Hari sudah lebih dulu tertidur di ruang tengah karena kelelahan seharian bekerja di kebun.
"Bik, aku mau ke kebun bentar deh, mau ambil daun pisang buat alas tumpeng, kayaknya masih bisa di modifikasi." ucap Raya sekitar pukul 10malam, mengambil senter kecil dari meja dapur.
"Ati-ati ya, Neng. Jangan lama-lama, udah malem ini. Begitu dapat daun, langsung masuk lagi ke rumah! " pesan Bik Tati yang terlalu sibuk mengukir hiasan wortel untuk tumpeng.
" Siap Bi. "
Raya melangkah menuju kebun belakang yang temaram hanya diterangi cahaya bulan dan senter kecilnya. Suasana malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya, hanya suara jangkrik dan gemerisik daun yang tertiup angin yang mengisi keheningan.
Namun baru beberapa langkah memasuki area kebun, Raya menangkap sesosok bayangan asing yang tengah membungkuk di dekat petak cabe yang beberapa waktu lalu sempat menghitam, tampak sedang menaburkan sesuatu dari kantung kecil yang dibawanya.
Jantung Raya berdegup kencang, tubuhnya membeku sesaat sebelum akhirnya memberanikan diri menyalakan senternya penuh ke arah sosok itu.
"Siapa itu?!" teriak Raya reflek, suaranya bergetar antara takut dan berani.
Sosok itu tersentak kaget, langsung berbalik dan berusaha kabur secepat mungkin menuju arah semak-semak di ujung kebun. Namun cahaya senter sempat menangkap wajah seorang perempuan paruh baya berpakaian lusuh, wajahnya yang keriput dipenuhi ekspresi panik saat tertangkap basah.
"Maling! Ada maling di kebun!" teriak Raya sekuat tenaga, berlari kecil mengejar meski jaraknya sudah cukup jauh.
Teriakan itu berhasil membangunkan beberapa warga yang masih terjaga karena persiapan acara esok, termasuk Razka yang kebetulan sedang berjaga bersama beberapa pemuda desa untuk ronda malam menjelang acara besar keesokan harinya.
"Neng Raya! Ada apa?!" teriak Razka yang segera berlari mendekat begitu mendengar suara Raya, diikuti dua rekan rondanya yang membawa senter dan kentungan.
"Ada orang aneh nabur-nabur sesuatu di kebun, Kang! Larinya ke arah sana!" tunjuk Raya panik, napasnya masih terengah-engah.
Razka dan kedua rekannya segera mengejar ke arah yang ditunjukkan Raya, menyusuri semak-semak gelap dengan senter mereka. Namun setelah pencarian beberapa menit, sosok perempuan itu sudah menghilang entah kemana, seolah lenyap ditelan kegelapan malam yang pekat.
"Kabur, Kang. Tapi ini, saya nemuin ini jatuh di deket semak." ucap salah satu pemuda desa, mengangkat sebuah kantung kecil berisi campuran tanah hitam dan serbuk logam yang tercecer, disertai sehelai kertas kecil bertuliskan huruf Arab yang terbalik-balik tak beraturan, jauh berbeda dari tulisan doa yang biasa Raya lihat dari amalan Ustad Ahmad.
Razka mengamati benda itu dengan seksama, wajahnya menyimpan kebingungan sekaligus firasat tak enak.
"Ini... kayaknya bukan barang biasa deh," gumam Razka pelan, kemudian menatap Raya yang masih berdiri gemetar di sampingnya, " Ini kayak berhubungan sama hal ghaib. "
Raya terdiam lama, matanya mulai memanas karena ia tahu jika gangguan ini masih berlanjut. Rasanya beban ini terasa terlalu berat untuk terus disembunyikan.
Raya tau, rangkaian kejadian ini berkaitan dengan Manda. Dan jika itu benar terjadi, ia merasa bersalah karena telah membawa masalah ke tempat bibinya tinggal.
" Astaghfirullah. "
" Ini coba kasih ke Pak Kyai! siapa tau dia paham sama yang kayak ginian" ujar Razka seraya memberikan benda itu pada Mail.
" Iya Kang Razka. " ujar Mail langsung ngacir kerumah Pak Kyai
Razka menangkap wajah Raya yang pucat.
" Sudah nggak usah dipikirkan, yang penting kamu nggak apa-apa. Apapun yang terjadi malam ini, akan aku laporkan sama Pak RT atau pejabat yang berwenang, karena ini berkaitan sama hasil pertanian warga. " Ucap Razka.
" Iya Kang. "
Raya pasti akan cerita sama Razka tentang Manda dan Jack, karena ia butuh seseorang yang bisa ia ajak diskusi selain ketiga sahabatnya.
🌾🌾🌾🌾
Kejadian semalam dilaporkan kepada kepala desa dan pihak keamanan setempat. Kantung berisi tanah hitam dan kertas mantra itu diserahkan sebagai barang bukti, meski tak banyak yang bisa dilakukan pihak berwajib mengingat pelakunya sudah kabur tanpa jejak yang jelas.
Namun kabar penemuan mencurigakan itu ternyata sampai juga ke telinga petugas ronda gabungan kecamatan yang kebetulan tengah melakukan patroli rutin di wilayah perbatasan desa, menyusul laporan serupa dari beberapa dusun tetangga soal keberadaan penjual jamu keliling yang bertingkah mencurigakan beberapa hari terakhir.
Siang harinya, sesosok perempuan yang cocok dengan ciri-ciri yang dilaporkan Raya berhasil diamankan warga dusun sebelah saat mencoba kabur menggunakan angkot menuju arah luar kota, setelah sebelumnya sempat tertangkap basah mengintai rumah warga lain dengan gerak-gerik yang sama mencurigakannya.
Karena tidak memiliki identitas yang jelas dan kedapatan membawa berbagai perlengkapan mencurigakan lainnya di dalam tasnya, perempuan yang belakangan diketahui bernama Darsih itu akhirnya diserahkan pada pihak kepolisian setempat untuk diproses lebih lanjut, sebelum akhirnya dipindahkan ke rumah tahanan kabupaten menunggu proses hukum selanjutnya.
Di rumah tahanan itulah, seorang sipir bernama Indra yang bertugas menerima tahanan titipan hari itu sempat mengernyitkan dahi membaca berkas laporan penangkapan Darsih, merasa ada sesuatu yang janggal dari kasus yang menurutnya tak biasa itu.
"Nyebar tanah item campur serbuk logam di kebun orang? Kasus apalagi nih," gumam Indra heran sambil memeriksa barang bukti yang ikut dititipkan bersama berkas tahanan.
Sementara itu kabar tertangkapnya Mbok Darsih membuat Manda murka bukan kepalang, ia melempar ponselnya dengan keras begitu mendengar laporan dari Ujang lewat telepon.
"BODOH! Kenapa bisa ketauan?! Sekarang gimana caranya sihir itu nyampe ke Raya kalau orangnya udah ketangkep?!" jeritnya frustrasi, matanya kembali menatap tajam kotak jimat pengikat di meja rias, seolah mencari jawaban dari benda mati itu.
" Jangan mikirin sihir dulu, Neng. Kalau sampai Darsih buka mulut soal keterlibatan Neng Manda, pasti Raya melakukan hal-hal yang bisa mengancam keselamatan Neng Manda. " ujar Abah Jiwo.
Namun di tengah amarahnya, sebuah pikiran licik perlahan menyelinap masuk ke benaknya. Kalau cara halus sudah tak lagi berhasil, mungkin sudah saatnya ia turun tangan sendiri, menghadapi Raya secara langsung tanpa perlu perantara siapa pun lagi.
"Kayaknya emang harus gue sendiri yang turun tangan, ini nggak bisa dibiarin! " desisnya penuh tekad, sebuah keputusan yang kelak akan membawa dirinya sendiri jauh lebih dekat ke arah bahaya yang bahkan tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Bakar tuh jimatnya, Bu biar anakmu eling..
Mana ada orang pkk begituan bales dg tulus... Itu mah halusinasi gilamu sendiri.. dasar ulet keket /Facepalm//Facepalm//Facepalm/