"Semua orang bilang dia dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tapi hanya aku yang tahu — di balik tatapan dingin itu, tersembunyi hati yang paling lembut dan paling setia."
Su Yi, gadis sederhana yang tiba-tiba dijodohkan dengan pria paling ditakuti, paling kaya, dan paling dingin di kota — Mo Han, CEO Grup Mo yang kekuasaannya merentang ke seluruh negeri. Semua orang kasihan padanya, mengira dia hanya akan menjadi istri piala yang dibuang kapan saja. Namun tak ada yang tahu... Mo Han sudah menunggunya selama sepuluh tahun.
Di balik perjodohan yang dipaksakan itu, tersembunyi cinta yang tak pernah terucap, rahasia masa lalu, dan bahaya yang perlahan mendekat. Saat Su Yi perlahan melihat sisi lain pria itu, hatinya mulai bergetar. Tapi saat dia mulai jatuh cinta... rahasia besar itu mulai terungkap.
Apakah perjodohan ini akan menjadi neraka selamanya? Atau justru menjadi awal dari cinta yang paling indah dan paling abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 — Musuh di Balik Kedamaian
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk lembut melalui celah tirai jendela, menyinari ruangan yang dipenuhi kehangatan dan kebahagiaan yang baru saja tumbuh. Su Yi duduk di tepi tempat tidur sambil membiarkan tangan kirinya terbaring lembut di atas perutnya yang masih rata sempurna. Di sana, di dalam rahimnya, telah tumbuh sebuah kehidupan kecil — buah cinta mereka yang tak ternilai harganya. Setiap kali memikirkan hal itu, hatinya terasa penuh hingga hampir meluap, dan air mata bahagia perlahan menetes di pipinya tanpa sadar.
Mo Han berdiri di sampingnya, menatap wajah istrinya dengan pandangan yang begitu lembut dan penuh kasih sayang seakan tak ingin melepaskan pandangannya walau sedetik pun. Tangannya terulur perlahan, menyentuh rambut hitam panjang Su Yi yang terurai indah di atas bahunya, lalu turun dengan hati-hati menyentuh pipinya yang lembut dan hangat. Setiap sentuhannya penuh perhatian, seakan wanita di hadapannya adalah benda paling rapuh sekaligus paling berharga di seluruh dunia.
"Kau menangis lagi?" Mo Han berbisik pelan sambil menangkup wajah Su Yi dengan kedua tangannya yang hangat dan kokoh. Ibu jarinya mengusap lembut air mata yang membasahi pipi gadis itu, matanya menatap lekat-lekat mata jernih istrinya yang berkaca-kaca namun bersinar bahagia. "Apakah kau merasa lelah? Atau ada bagian tubuhmu yang terasa sakit?"
Su Yi menggeleng pelan, lalu tersenyum indah menyambut tatapan pria itu. Ia mengangkat tangannya, menangkup punggung tangan Mo Han yang masih menempel di pipinya, lalu menekannya erat seakan ingin menyampaikan segala rasa cinta dan syukurnya lewat sentuhan itu.
"Tidak ada yang sakit, Mo Han. Aku hanya... merasa begitu bahagia. Begitu bahagia hingga hatiku terasa penuh dan tak sanggup menampungnya lagi." Su Yi berucap dengan suara lembut namun jernih, matanya tak beralih sedikit pun dari wajah pria yang dicintainya itu. "Kita akan memiliki seorang anak... anak yang lahir dari cinta kita. Bukankah itu hal terindah yang pernah terjadi pada kita?"
Mo Han menatapnya dalam-dalam, lalu perlahan mendekatkan wajahnya hingga dahi mereka saling bersentuhan. Ia memejamkan matanya, menarik napas panjang menyerap aroma tubuh Su Yi yang menenangkan hatinya, lalu berbisik dengan suara yang penuh getaran emosi.
"Ya... itu adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan berikan kepadaku. Sebelumnya aku hidup hanya dengan satu tujuan — menemukanmu dan menjagamu. Namun sekarang... hidupku memiliki dua tujuan. Melindungimu dan melindungi anak kita. Tidak peduli apa pun yang harus kulewati, tidak peduli siapa pun yang harus kuhadapi... aku berjanji akan memastikan kalian berdua hidup bahagia, aman, dan dicintai sepenuh hati."
Su Yi tersenyum mendengar janji itu, lalu perlahan melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu dan mendekatkan bibirnya menyentuh bibir Mo Han dengan kecupan lembut yang penuh kasih sayang. Saat bibir mereka bersentuhan, seakan seluruh dunia di luar sana lenyap seketika, hanya menyisakan dua hati yang berdetak serempak menyatu dalam cinta yang tak terlukiskan.
Namun saat kecupan itu berakhir dan Mo Han menatap wajah istrinya yang memerah cantik di hadapannya, secercah kekhawatiran perlahan kembali menyelimuti matanya yang tadi bersinar bahagia. Ia teringat pesan yang baru saja diterimanya dari orang kepercayaannya — pesan yang menyebutkan bahwa meskipun Tuan Jiang dan Jiang Chen telah ditangkap dan ditahan, namun jaringan mereka ternyata jauh lebih luas dan lebih dalam daripada yang diperkirakan sebelumnya. Bahkan ada petunjuk yang mengarah pada kenyataan bahwa keluarga Jiang bukanlah dalang utama dari segala rencana jahat yang menimpa mereka selama ini. Ada seseorang lain... seseorang yang berdiri di balik layar gelap, mengatur segala sesuatu dari kejauhan, dan hingga saat ini identitasnya belum diketahui oleh siapa pun.
"Mo Han..." Su Yi memanggil pelan, tangannya melambai lembut di depan wajah pria itu yang tiba-tiba terlihat melamun. "Ada apa? Wajahmu kembali terlihat serius. Apakah ada sesuatu yang mengganggumu?"
Mo Han tersentak dan segera menata kembali ekspresi wajahnya, berusaha menyembunyikan kekhawatirannya agar tidak membuat istrinya cemas. Ia tersenyum tipis, lalu mengusap rambut panjang Su Yi dengan lembut.
"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, sayangku. Hanya saja... karena kau sedang mengandung anak kita, ada beberapa hal yang harus kupersiapkan agar kau dan bayi tetap aman. Mulai hari ini... aku akan menempatkan pengawal tambahan di sekeliling kediaman ini. Dan untuk sementara waktu... sebaiknya kau tidak pergi ke mana pun tanpa ditemani olehku atau orang-orang yang kupercaya sepenuhnya. Apakah kau mengerti alasannya?"
Su Yi menatap mata pria itu lekat-lekat, dan dari sorot matanya yang gelap namun jernih, ia dapat menangkap sekilas beban berat yang sedang dipikul pria itu. Ia tidak bertanya lebih lanjut, tidak ingin menambah beban di hati suaminya. Sebaliknya, ia hanya mengangguk lembut dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Mo Han sambil meremas lembut ujung bajunya.
"Aku mengerti, suamiku. Aku akan menuruti semua perkataanmu. Aku akan menjaga diriku dan menjaga anak kita dengan sebaik-baiknya. Karena aku tahu... ada kau yang selalu berdiri di depan kami, melindungi kami dari segala bahaya. Dan selama kau ada di sisiku... aku tidak takut pada apa pun."
Kata-kata itu bagaikan penenang yang luar biasa bagi hati Mo Han yang sedang gelisah. Ia memeluk tubuh istrinya erat namun tetap lembut, mencium puncak kepalanya dengan penuh rasa syukur sekaligus tekad yang semakin membara di dadanya. Ia berjanji dalam hati... siapa pun musuh yang bersembunyi di balik kegelapan itu, apa pun rencana jahat yang sedang mereka susun... ia tidak akan membiarkan satu pun dari ancaman itu menyentuh wanita dan anak yang paling dicintainya. Ia akan membersihkan segala bahaya itu hingga tak ada satu pun sisa, meskipun ia harus mengorbankan nyawanya sendiri demi melakukannya.
Hari-hari berlalu dengan penuh kehangatan di kediaman di atas bukit itu. Mo Han benar-benar menepati janjinya. Setiap pagi sebelum berangkat ke kantor, ia akan menyiapkan sarapan bergizi untuk Su Yi dengan tangannya sendiri, lalu berpesan berulang kali agar istrinya beristirahat dengan cukup dan tidak melakukan hal-hal yang melelahkan. Setiap kali pulang ke rumah, hal pertama yang ia lakukan adalah mencari sosok Su Yi dan menanyakan kabar kesehatan ibu serta calon bayinya. Di sela-sela kesibukannya mengurus perusahaan dan menangani sisa-sisa jaringan keluarga Jiang, ia tetap meluangkan waktu duduk berjam-jam di samping Su Yi, membacakan buku untuknya, atau sekadar berbicara lembut kepada calon bayi di dalam kandungan istrinya.
Namun di balik kedamaian yang tampak di permukaan itu, pertempuran sesungguhnya sedang berlangsung secara senyap. Setiap malam saat Su Yi telah terlelap dalam tidurnya yang damai, Mo Han akan duduk di ruang kerjanya hingga larut malam, memeriksa laporan-laporan yang terus masuk dari berbagai sumber. Ia menemukan hal-hal yang semakin membuat bulu kuduknya berdiri — bahwa kecelakaan yang dialami ayahnya bertahun-tahun lalu ternyata bukanlah kecelakaan murni, bahwa kematian ibunya yang dikabarkan karena sakit ternyata menyimpan banyak kejanggalan, dan bahwa segala kesialan yang menimpa keluarganya sejak dulu ternyata tersusun rapi bagaikan sebuah rencana besar yang dirancang dengan sangat licik dan kejam.
Satu per satu potongan teka-teki itu perlahan tersusun. Dan semakin lengkap gambaran itu, semakin Mo Han menyadari bahwa musuh yang mereka hadapi bukanlah orang sembarangan. Musuh itu adalah seseorang yang sangat dekat dengan keluarganya, seseorang yang mengetahui setiap kelemahan dan rahasia keluarganya, seseorang yang selama ini menyembunyikan kebenciannya di balik senyum ramah dan sikap penuh hormat.
Malam itu, hujan turun deras membasahi bumi, memukul-mukul kaca jendela ruang kerja Mo Han dengan suara yang berirama namun mencekam. Di hadapannya terhampar berkas-berkas tebal yang berisi bukti-bukti yang telah dikumpulkan dengan susah payah. Di bagian paling atas, terdapat sebuah nama yang membuat seluruh darah di tubuh Mo Han mendidih sekaligus membeku seketika.
Paman Wu. Saudara kandung dari mendiang ibunya. Pria yang selama ini dipercaya oleh ayahnya, yang dianggap sebagai paman yang baik hati dan penuh perhatian, yang selalu ada di saat-saat sulit dan memberikan nasihat-nasihat yang tampaknya tulus. Dialah dalang di balik segala penderitaan keluarganya selama ini. Dialah yang berdiri di balik layar gelap, menggerakkan keluarga Jiang dan orang-orang lain bagaikan bidak catur demi tujuannya sendiri — menguasai seluruh harta dan kekuasaan keluarga Mo yang sebenarnya adalah hak milik Mo Han.
"Paman Wu..." Mo Han menggumamkan nama itu pelan namun penuh kebencian yang mendalam. Tangannya mengepal erat di atas meja hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol hebat. Matanya menyala merah padam menahan amarah yang meluap-luap. "Selama ini aku menganggapmu kerabat. Aku menghormatimu. Namun ternyata... kaulah yang menghancurkan keluargaku. Kaulah yang hampir mengambil separuh nyawa istriku dan anakku yang belum lahir. Kau berani... kau benar-benar berani melakukannya!"
Mo Han berdiri perlahan, melangkah mendekati jendela besar yang menghadap ke arah taman yang kini gelap gulita diterpa hujan lebat. Di luar sana, petir menyambar berkali-kali menyinari langit yang kelabu, seakan mencerminkan kekacauan yang sedang berkecamuk di dalam dadanya. Ia ingin segera bergegas menghadapi pria itu saat itu juga, menuntut pertanggungjawaban atas segala dosa yang telah diperbuatnya. Namun langkahnya terhenti seketika saat teringat wajah Su Yi yang tersenyum damai dalam tidurnya, dan kehidupan kecil yang sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Ia tidak boleh bertindak gegabah. Musuh itu licik dan berbahaya. Jika ia bergerak tanpa perencanaan yang matang, hal itu justru dapat membahayakan keselamatan Su Yi dan anaknya. Ia harus bersabar sedikit lagi. Ia harus membiarkan musuh itu menunjukkan wajah aslinya sepenuhnya. Dan saat itu tiba... ia akan menghancurkannya dengan cara yang begitu telak hingga tak ada jalan bagi pria itu untuk melarikan diri.
Namun Mo Han belum menyadari satu hal — bahwa musuh itu jauh lebih cerdik dan jauh lebih kejam daripada yang ia duga. Bahwa Paman Wu ternyata sudah mengetahui tentang kehamilan Su Yi jauh sebelum ia menyusun rencana penyergapan itu. Bahwa pria tua itu telah menyiapkan jebakan yang jauh lebih dahsyat, yang tidak hanya akan menghancurkan masa depan Mo Han, tetapi juga akan merenggut segala hal yang paling ia cintai di dunia ini.
Tepat saat itu, suara deru mesin mobil terdengar dari arah gerbang utama kediaman, membelah suara hujan yang lebat. Mo Han berbalik seketika, menatap ke bawah dengan tatapan tajam dan penuh kewaspadaan. Ia melihat sebuah mobil hitam melaju masuk tanpa izin, melanggar pintu gerbang yang seharusnya dijaga ketat. Jantungnya berdegup kencang dengan firasat buruk yang seketika menyergap dadanya. Tanpa berpikir panjang, ia segera berlari keluar ruangan menuju kamar tidur tempat Su Yi sedang beristirahat.
Sesampainya di sana, ia melihat Su Yi baru saja terbangun karena suara gaduh dari luar. Gadis itu duduk di tepi tempat tidur dengan wajah pucat dan tatapan bingung menatap ke arah jendela yang terbuka lebar tertiup angin kencang. Saat melihat Mo Han masuk dengan napas memburu dan wajah penuh kekhawatiran, Su Yi segera berdiri dan menyambutnya dengan langkah tergesa-gesa.
"Mo Han... apa yang terjadi? Mengapa begitu gaduh di luar?" Su Yi bertanya dengan suara gemetar, tangannya mencengkeram lengan suaminya erat.
Mo Han tidak menjawab. Ia hanya menarik tubuh istrinya ke dalam pelukan erat dan berlari membawanya menjauh dari jendela. Namun terlambat. Sesosok bayangan hitam melompat masuk melalui jendela yang terbuka itu, mendarat dengan ringan di tengah ruangan di hadapan mereka. Di balik kain penutup wajah yang menutupi separuh wajahnya, sepasang mata tajam menyala dingin menatap mereka berdua. Dan di tangan kanannya, sebilah pisau berkilau tajam meneteskan air hujan yang dingin.
"Siapa kau?" Mo Han berteriak keras sambil melindungi Su Yi di belakang punggungnya, matanya menatap tajam ke arah penyusup itu. "Beraninya kau masuk ke sini! Keluar sekarang juga sebelum aku menghancurkanmu!"
Penyusup itu tertawa pelan, suara tawanya terdengar berat dan mengerikan di tengah suara hujan yang masih menggila di luar. Perlahan tangan kirinya terulur menarik penutup wajahnya ke bawah, menampakkan wajah tua yang penuh kerutan namun matanya tetap tajam dan penuh kebencian yang mendalam.
Melihat wajah itu, mata Mo Han melebar tak percaya. Tubuhnya menegang kaku di tempatnya, napasnya tertahan di tenggorokan. Ia sama sekali tidak menyangka... bahwa orang yang berdiri di hadapannya dengan pisau tajam di tangan... adalah orang yang selama ini ia hormati dan percayai sepenuhnya.
"Paman Wu..." Mo Han menggumamkan nama itu dengan suara bergetar, matanya tak berkedip menatap wajah pria tua itu yang kini terlihat begitu kejam dan mengerikan, jauh berbeda dari sosok paman yang lembut dan penuh perhatian yang ia kenal selama ini. "Mengapa... mengapa Paman melakukan hal ini?"
Paman Wu tersenyum miring, senyum yang penuh kepahitan dan dendam yang telah dipendamnya puluhan tahun. Ia melangkah maju perlahan mendekati mereka, pisau di tangannya terangkat sedikit menunjuk ke arah Su Yi yang masih bersembunyi di belakang punggung Mo Han.
"Karena semua yang kau miliki itu seharusnya menjadi milikku!" Paman Wu berteriak dengan suara parau namun penuh amarah yang meledak-ledak. "Kekayaan keluarga Mo, kedudukan, kekuasaan... semuanya direbut dariku oleh ayahmu! Dia mengambil semuanya dariku! Dan sekarang... kau yang menikmati hasilnya? Tidak! Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi! Semua yang ayahmu ambil... akan kuambil kembali darimu! Termasuk nyawa wanita ini dan anak yang dikandungnya!"
Mendengar kata-kata itu, darah di tubuh Mo Han seketika mendidih sekaligus membeku. Ia melangkah maju selangkah, menatap lurus ke manik mata pria tua itu dengan tatapan yang begitu dingin dan penuh ancaman hingga membuat Paman Wu terhenti melangkah.
"Jangan kau berani menyentuh sehelai rambut pun di kepala istriku dan anakku." Suara Mo Han terdengar rendah namun berat dan mengerikan, seakan berasal dari dasar jurang yang tak berdasar. "Jika kau berani melangkah selangkah lagi mendekat... aku tidak akan segan-segan melupakan ikatan darah yang ada di antara kita. Aku akan melenyapkanmu dari muka bumi ini seketika itu juga."
Paman Wu tertawa keras mendengar ancaman itu. Matanya menyala gila menatap wajah Mo Han. "Lenyapkan kau katakan? Kau pikir aku datang ke sini sendirian? Saat ini rumah ini sudah dikepung oleh anak buahku. Tidak ada jalan keluar bagimu, keponakan sayangku. Serahkan semua hak milikmu kepadaku sekarang... dan mungkin aku akan membiarkan wanita ini hidup sedikit lebih lama. Jika tidak... kau akan menyaksikan bagaimana aku mengiris lehernya di depan matamu, lalu mengambil alih segala hal yang kau banggakan itu!"
Tangan Su Yi yang mencengkeram ujung baju Mo Han semakin erat karena ketakutan. Ia menyandarkan wajahnya di punggung suaminya yang kokoh, berusaha menenangkan diri dengan kehangatan yang terpancar dari tubuh pria itu. Ia tahu betapa berat hati Mo Han saat harus berhadapan dengan kerabat sendiri. Namun di saat yang sama, ia juga menyadari bahwa pria tua di hadapan mereka benar-benar tidak segan-segan melakukan apa pun demi tujuannya.
Mo Han merasakan ketakutan yang dirasakan istrinya. Ia memegang tangan Su Yi di pinggangnya erat-erat, lalu berbisik pelan namun tegas agar hanya didengar oleh wanita di belakangnya. "Jangan takut. Tetap di belakangku. Apa pun yang terjadi... jangan lepaskan aku. Aku berjanji... aku akan melindungimu dengan nyawaku sendiri."
Su Yi mengangguk pelan, menekan keningnya ke punggung suaminya. "Aku tidak akan pergi ke mana pun. Aku akan tetap di sini. Bersamamu."
Paman Wu melihat pembisikan itu dan kembali melangkah maju dengan pisau terangkat tinggi. "Cukup bicaranya! Pilih sekarang! Serahkan atau saksikan mereka mati!"
Belum selesai kalimat itu terucap, Mo Han tiba-tiba melesat maju bagaikan kilat. Ia tidak memberi kesempatan sedikit pun bagi musuhnya untuk menyakiti istrinya. Dengan satu gerakan cepat, ia menepis tangan Paman Wu yang memegang pisau hingga senjata itu terlempar jatuh ke lantai, lalu menangkis serangan balasan pria tua itu dengan pukulan yang tepat sasaran namun tetap menahan kekuatannya karena masih tersisa sedikit rasa hormat di hatinya.
Namun Paman Wu tidak segan-segan. Ia mengeluarkan senjata kedua dari balik pakaiannya dan menyerang kembali dengan amarah yang membabi-buta. Mo Han terpaksa menangkis setiap serangan itu sambil terus mundur menjauhkan musuh dari arah Su Yi. Pertarungan itu berlangsung sengit dan mencekam. Meskipun Mo Han jauh lebih kuat dan lebih muda, namun keraguannya untuk melukai kerabat sendiri justru membuatnya terdesak. Dan saat Paman Wu melihat celah itu... ia memanfaatkannya dengan cara yang paling kejam.
Saat Mo Han sedang menangkis serangan ke arah lehernya, Paman Wu tiba-tiba mengubah arah serangan dan melesat menuju arah Su Yi yang berdiri menunggu di belakang. Matanya menyala penuh kebencian saat ia mengangkat tangannya yang berkilau tajam hendak mencakar wajah wanita itu.
"JANGAN!" Mo Han meraung sekuat tenaga, hatinya seakan tercabik-cabik melihat ancaman itu. Tanpa berpikir panjang, ia melompat berbalik arah dan memeluk tubuh Su Yi erat-erat dari belakang, memutar tubuhnya agar dirinya yang menerima serangan itu.
Darah segar seketika membasahi bahu kiri Mo Han. Rasa perih yang luar biasa menyergap tubuhnya, namun ia tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Ia justru memeluk Su Yi semakin erat, melindunginya sepenuhnya di dalam pelukannya yang kini bergetar hebat karena menahan rasa sakit dan amarah yang meluap-luap.
Su Yi menjerit histeris melihat darah yang mengalir deras dari bahu suaminya membasahi pakaiannya sendiri. Ia berusaha memutar tubuhnya melihat wajah Mo Han, namun pria itu menahannya dengan kekuatan yang masih tersisa, tak ingin membiarkannya melihat lukanya yang dalam.
"Paman Wu..." Mo Han berucap dengan suara gemetar namun penuh ketegasan yang mengerikan, darah menetes dari sudut bibirnya jatuh ke pipi Su Yi. "Kau melukai istriku... kau mengancam nyawa anakku yang belum lahir... dan kau menebas bahuku dengan kejam. Mulai detik ini... ikatan darah di antara kita putus sepenuhnya. Aku tidak lagi mengenalmu sebagai pamanku. Dan aku tidak akan lagi menahan diri!"
Mo Han melepaskan pelukannya perlahan, lalu memutar tubuhnya menghadap Paman Wu yang berdiri terengah-engah dengan wajah pucat namun tetap menyeringai penuh kebencian. Dengan mata yang menyala dingin dan penuh amarah yang tak tertahankan lagi, Mo Han melangkah maju selangkah demi selangkah. Setiap langkahnya terasa begitu berat namun begitu kuat hingga membuat lantai di bawah kakinya seakan ikut bergetar. Dan di balik punggungnya, kedua tangannya terkepal erat, siap melenyapkan siapa pun yang berani mengancam keselamatan orang-orang yang dicintainya.
Pertempuran yang sesungguhnya baru saja dimulai. Dan kali ini... tidak ada lagi keraguan. Tidak ada lagi belas kasihan. Karena bagi Mo Han... melindungi Su Yi dan anaknya jauh lebih penting daripada apa pun di dunia ini, bahkan jauh lebih penting daripada nyawanya sendiri.
salam interaksi thor😉