Sejak kecil, Josh memiliki teman yang tak bisa dilihat siapa pun. Tiga belas tahun kemudian, teman itu kembali. Bersama Veron, Brandon, dan Gibran, ia mengungkap misteri yang telah terkubur selama puluhan tahun. Namun semakin dekat pada kebenaran, semakin dekat pula mereka pada kematian. Karena... tidak semua teman yang tak terlihat datang dengan niat baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CRZ CREW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 — Hampir Kehilangan Nyawa
Langit malam itu tanpa bulan, hanya bintang-bintang kecil yang tersamar oleh cahaya lampu jalan yang temaram, membuat perjalanan pulang mereka terasa lebih gelap dan sunyi dari biasanya. Tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara banyak sepanjang jalan, masing-masing tenggelam dalam pikiran mereka sendiri yang dipenuhi ketakutan yang belum sepenuhnya bisa mereka ungkapkan dengan kata-kata.
Kata yang didengar Josh terus terngiang sepanjang perjalanan pulang, namun ia memilih untuk tidak menceritakannya kepada yang lain malam itu, tidak ingin menambah ketakutan yang sudah cukup memuncak di antara mereka semua. Ia hanya menyimpannya dalam-dalam, bertanya-tanya sendiri apa maksud kata itu apakah sosok itu mengincar mereka bertiga sekaligus, bukan hanya dirinya seorang.
Sesampainya di rumah, ia langsung menuju kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air dingin berkali-kali, berharap sensasi itu bisa membantunya berpikir lebih jernih. Namun bayangan wajah remaja yang sempat ia lihat sekilas di rumah tua terus muncul di benaknya setiap kali ia menutup mata, membuat tidurnya malam itu semakin sulit didapatkan meski tubuhnya sudah begitu lelah.
Ia mencoba mengalihkan pikirannya dengan membuka aplikasi galeri di ponselnya, menggulir foto-foto langit yang biasa ia ambil, berharap keindahan sederhana itu bisa sedikit menenangkan hatinya. Namun bahkan foto-foto favoritnya pun terasa berbeda malam itu, seolah setiap warna jingga dan ungu yang biasa ia kagumi kini menyembunyikan sesuatu yang mengintai di baliknya, sebuah perasaan paranoid yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya seumur hidupnya.
Malam itu menjadi salah satu malam paling menegangkan dalam hidup Josh. Ia baru saja hendak tidur ketika mendengar suara berisik dari luar jendela kamarnya. Saat ia membuka gorden untuk memeriksa, sosok pria berjas hitam berdiri tepat di seberang jalan, menatap lurus ke arah jendelanya, tidak bergerak sedikit pun meski Josh menatapnya balik dengan berani yang dipaksakan.
Tanpa sempat berpikir panjang, Josh berlari keluar kamar, turun ke lantai bawah untuk memastikan pintu-pintu rumah terkunci rapat. Namun ketika ia sampai di ruang tamu, ia mendapati pintu depan telah terbuka lebar, angin malam berembus masuk membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang.
Ia menutup pintu itu dengan tangan gemetar, mengunci setiap gerendel yang ada dengan gerakan tergesa. Namun baru saja ia berbalik, lampu di seluruh rumah tiba-tiba padam serentak, meninggalkan kegelapan pekat yang hanya diterangi cahaya bulan dari luar jendela yang menembus tipis.
"Ibu?" panggilnya, suaranya bergetar hebat.
Tidak ada jawaban.
Josh meraba-raba jalan menuju tangga, jantungnya berdegup kencang, hingga tiba-tiba sesuatu yang dingin dan kuat mencengkeram pergelangan tangannya dari balik kegelapan. Ia berteriak kaget, mencoba melepaskan diri sekuat tenaga, namun cengkeraman itu terlalu kuat untuk dilawan dengan tenaga biasa seorang remaja enam belas tahun.
Dalam kepanikan yang memuncak, sensasi hangat yang pernah ia rasakan sebelumnya kembali menjalar di dadanya, kali ini jauh lebih kuat, seolah tubuhnya sendiri sudah mulai mengenali kapan harus bereaksi. Tanpa sepenuhnya memahami apa yang terjadi, Josh merasakan ledakan energi kecil dari dalam tubuhnya yang membuat cengkeraman di pergelangan tangannya terlepas seketika, disertai kilatan cahaya singkat yang menerangi ruangan selama sepersekian detik cukup lama untuk membuat Josh melihat sekilas wajah sosok itu untuk pertama kalinya.
Wajah itu bukan wajah orang dewasa seperti yang selalu ia bayangkan. Wajah itu adalah wajah remaja, tidak jauh lebih tua darinya sendiri, dengan ekspresi yang lebih menunjukkan kesedihan mendalam ketimbang kemarahan atau niat jahat.
Ia terjatuh ke lantai, terengah-engah, sementara lampu rumah kembali menyala normal seperti tidak terjadi apa-apa. Ibunya muncul dari kamar, wajahnya bingung.
"Josh? Kamu kenapa duduk di lantai begitu?"
Josh menatap ibunya, tidak tahu harus menjelaskan apa.
"Nggak apa-apa, Bu. Cuma... kesandung."
Ibunya menatapnya dengan raut curiga namun tidak mendesak lebih jauh, membantunya berdiri sebelum kembali ke kamar dengan langkah yang masih terlihat sedikit tidak yakin.
Sendirian di ruang tamu yang kini sunyi, Josh menatap pergelangan tangannya yang masih terasa nyeri, terdapat bekas memar samar berbentuk seperti jari-jari tangan yang mencengkeram erat, membiru di beberapa bagian.
Ia menyadari, kekuatan yang tersembunyi dalam dirinya bukan sekadar kebetulan atau imajinasi. Sesuatu di dalam dirinya benar-benar nyata, dan ia baru saja menggunakannya untuk pertama kalinya demi bertahan hidup namun wajah yang sempat ia lihat sekilas dalam kilatan cahaya itu terus menghantui pikirannya, karena entah kenapa, wajah itu terasa familiar, seolah ia pernah melihatnya di suatu tempat sebelum semua ini dimulai.
Ponselnya bergetar di sakunya. Pesan dari Veron, terkirim tepat pukul 02.02.
"Josh, gue baru mimpi aneh banget. Gue liat lo hampir mati. Lo baik-baik aja kan?"
...****************...