Naomi Clarisse tak pernah iri pada kehidupan sang kakak. Meski selalu dibandingkan dan diperlakukan tidak adil, ia memilih bekerja keras demi keluarganya.
Namun hidupnya berubah dalam semalam ketika Alicia Grace, kakaknya sendiri, menjebaknya di kamar hotel bersama Nathaniel Wijaya, pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan tak mengenal ampun.
Sebuah fitnah menghancurkan nama baik Naomi. Di saat Alicia menghilang bersama pria pilihannya, Nathaniel yang dipenuhi amarah memaksa Naomi menggantikan posisi sang kakak di altar pernikahan.
Pernikahan itu adalah hukuman bagi Nathaniel.
Dan mimpi buruk bagi Naomi.
Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, Naomi harus memilih: terus menjadi korban, atau melawan demi mengungkap dalang di balik fitnah yang telah merenggut hidupnya.
Tunggu kelanjutannya hanya di Novel Toon atau Manga Toon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tipu Muslihat Sang Kakak
Lampu-lampu kristal Hotel Grand Imperial menyala terang memantul di setiap sudut ruangan. Para staf hotel berlalu-lalang mempersiapkan segala sesuatu untuk pesta pernikahan keluarga Hartono yang akan digelar esok pagi. Semuanya sudah disiapkan jauh-jauh hari penuh niat dan waktu yang cukup matang.
Di lantai paling atas, seorang wanita berdiri di depan cermin dengan gaun tidur berbahan satin yang membalut tubuhnya. Wanita itu adalah Alicia Grace. Ia menatap pantulan dirinya beberapa saat sebelum sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
"Besok..." gumamnya lirih. "Semua akan berakhir."
Entah apa yang sedang dipikirkan oleh calon mempelai itu, namun detik berikutnya senyumnya perlahan memudar karena ia mendengar suara ketukan di pintu.
Tok... tok... tok...
"Masuk."
Pintu terbuka perlahan. Seorang gadis berwajah lembut masuk sambil membawa paper bag berisi beberapa perlengkapan yang diminta Alicia.
"Kak, ini semua barang yang tadi Kakak pesan."
Naomi Clarisse tersenyum kecil, lalu meletakkan kantong belanja itu di atas sofa. Alicia segera menghampirinya, senyum ramah kini terukir jelas di bibirnya.
"Terima kasih sudah mau datang malam-malam begini."
Naomi menggeleng. "Besok Kakak menikah. Masa aku menolak permintaan calon pengantin?"
Mendengar jawaban itu, Alicia terkekeh pelan lalu memeluk adiknya erat. Waktu benar-benar berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin mereka masih berlarian dan bersepeda bersama di halaman rumah. Namun sejak kecil, setiap kali Alicia menangis atau terluka karena kesalahannya sendiri, Naomi-lah yang selalu menjadi pihak yang disalahkan oleh mama mereka. Seolah apa pun yang terjadi, adiknya itu memang diciptakan untuk menanggung kesalahan orang lain.
"Dek, Kakak minta maaf ya, karena sedari kecil Adik suka dimarahi Mama hanya gara-gara masalah sepele," ujarnya setelah melepas pelukan dari adiknya.
Naomi sedikit tertegun. Ia tak pernah menyangka kakaknya akan mengakui kesalahpahaman yang terjadi bertahun-tahun lalu. Selama ini, ia selalu berpikir Alicia tak ubahnya sang mama—sama-sama lebih mudah menyalahkan dirinya daripada mencari tahu kebenaran.
"Kak," ucap Naomi pelan. "Aku tidak menyangka kalau Kakak masih mengingat kejadian itu. Jujur saja... selama ini aku pikir Kakak juga menyalahkanku."
"Dulu memang begitu, tapi seiring dengan perjalanan waktu, Kakak sadar. Ternyata selama ini kamu banyak menanggung kesalahan yang tidak pernah kamu lakukan, dan itu semua pasti tentang aku. Untuk itu di malam ini Kakak minta maaf ya," ucapnya seolah penuh ketulusan.
Alicia memandang Naomi dengan senyum lembut yang tampak tulus. Percakapan mereka mengalir begitu saja, diselingi tawa kecil dan kenangan masa lalu yang perlahan mencairkan kecanggungan di antara keduanya. Naomi bahkan mulai percaya bahwa malam itu adalah awal dari hubungan kakak beradik yang selama ini ia dambakan. Tepat ketika suasana terasa begitu hangat, Alicia menggenggam tangan adiknya erat dan mengucapkan sebuah permintaan yang ia sebut sebagai permintaan terakhir sebelum resmi menjadi seorang istri.
"Oh ya Dik, untuk malam ini saja. Apa boleh Kakak minta sesuatu?" tanya Alicia.
"Apa itu Kak," sahut Naomi.
"Temani Kakak malam ini, ya?" ucap Alicia lembut. "Besok Kakak sudah punya kehidupan baru. Jadi, malam ini Kakak ingin kita benar-benar menjadi kakak dan adik seperti yang seharusnya. Tidak ada lagi jarak, tidak ada lagi luka yang kita simpan sendiri. Percayalah, seburuk apa pun keadaan nanti, kita tetap saudara kandung. Hubungan kita tidak boleh dipisahkan oleh apa pun."
Naomi benar-benar tersanjung mendengar kalimat itu, ia pun mengangguk tanpa rasa curiga.
"Tentu, Kak. Aku juga ingin kita bisa dekat seperti dulu. Kalau malam ini bisa menjadi awal yang baru untuk kita, aku akan menemani Kakak."
"Makasih banyak ya Dek," ucap Alicia sekali lagi.
Naomi mengangguk kecil. Keheningan kembali menyelimuti kamar hotel. Setelah obrolan panjang tentang masa lalu, Alicia melirik jam di pergelangan tangannya, lalu tersenyum kecil.
"Sepertinya kurang lengkap kalau kita mengobrol tanpa camilan dan minuman dingin."
Usai mengucapkan kalimat itu, Alicia beranjak dari kursinya meninggalkan Naomi yang sama sekali tidak menaruh curiga. Wanita itu berjalan menuju minibar yang tersedia di dalam kamar hotel. Ia mengambil dua gelas kristal. Menuangkan jus jeruk ke dalam keduanya.
Namun saat punggung Naomi membelakanginya, Alicia membuka sebuah botol kecil dari dalam laci. Beberapa tetes cairan bening jatuh ke salah satu gelas.
Alicia mengaduknya perlahan. Senyumnya semakin lebar, saat melirik wajah polos Naomi yang tidak mengerti apa-apa.
Setelah selesai, Alicia membawa nampan yang berisi dua gelas dan juga beberapa cemilan.
"Ini."
Ia menyerahkan salah satu gelas kepada Naomi. "Untuk calon adik ipar keluarga Hartono."
Naomi tertawa kecil. "Kakak ini."
Tanpa berpikir apapun, ia langsung meminum habis jus itu. Mereka mengobrol cukup lama.
tentang masa kecil, juga tentang kenangan bersama yang penuh dengan asam manis kehidupan keduanya.
Namun beberapa menit kemudian. Naomi mengerutkan kening. Entah mengapa kepalanya terasa sangat berat.
"Kak..."
Alicia menoleh. "Ada apa?"
"Aku..." Naomi memijat pelipisnya. "Kenapa tiba-tiba mengantuk sekali?"
Alicia berjalan mendekat. Tangannya mengusap lembut rambut sang adik. "Capek, mungkin."
"Iya... mungkin...."
Akan tetapi beberapa detik kemudian penglihatan Naomi mulai kabur. Ruangan di depannya perlahan berputar ia mencoba berdiri. Namun tubuhnya justru limbung.
Bruk!
Untung Alicia lebih dulu menahan tubuhnya, namun di sisi lain wanita itu langsung tersenyum tipis seolah misinya berhasil ia jalankan.
"Maafkan aku, Naomi." Suara Alicia terdengar begitu dekat di telinganya.
Naomi berusaha membuka mata. "Kak...?"
Tatapannya semakin buram. Ia melihat Alicia tersenyum tapi senyum itu terasa asing. Bukan senyum hangat yang selama ini dikenalnya tetapi senyum penuh kemenangan.
"Mulai malam ini, kau yang akan menjalani hidup yang seharusnya menjadi milikku."
Jantung Naomi berdetak semakin cepat.
Ia ingin bertanya, ingin memahami maksud ucapan itu. Namun bibirnya terasa kelu dan tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu.
Tok... tok...
Alicia membukanya. Tiga pria berbadan tegap mengenakan setelan hitam memasuki ruangan.
"Semuanya sudah siap, Nona?" tanya salah satu dari mereka.
Alicia mengangguk pelan. "Ya."
"Lalu wanita ini?"
Alicia menoleh ke arah Naomi yang kini tak sadarkan diri di atas sofa, tatapannya datar seolah tak ada sedikit pun rasa bersalah.
"Bawa dia..."
Ia berhenti sejenak. Lalu mengucapkan kalimat yang akan menghancurkan kehidupan adiknya. "...ke kamar Nathaniel Wijaya."
Tubuh Naomi diangkat perlahan. Kepalanya terkulai lemah, sementara kesadarannya benar-benar telah menghilang. Di saat yang sama, Alicia meraih koper yang sudah dipersiapkannya sejak beberapa hari lalu.
Ponselnya bergetar, ia membuka pesan itu.
Adrian: Aku sudah menunggumu di parkiran belakang.
Senyum tipis terukir di bibir Alicia, perempuan itu menatap kamar hotel ini untuk yang terakhir kalinya.
"Selamat tinggal, Nathan." Tatapannya beralih ke arah Naomi. "Dan selamat tinggal... Naomi."
Tanpa sedikit pun menoleh ke belakang, Alicia melangkah keluar dari kamar hotel.
Bersambung .....
Assalamualaikum Kak ....
Aku datang lagi dengan karya baruku. Minta doa dan dukungannya untuk buku terbaruku ini.