NovelToon NovelToon
Diceraikan Dunia, Dicintai Empat Pewaris

Diceraikan Dunia, Dicintai Empat Pewaris

Status: tamat
Genre:Asmara / CEO / Anak Genius / Pengasuh / Tamat
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Keira Lo bukan siapa-siapa.
Yatim piatu, lulusan SMA, hidup dari upah serabutan di desa kecil Jawa Tengah. Satu-satunya alasan dia masih bertahan: Kiara — kembaran-nya yang mengalami kerusakan otak setelah diserang tiga tahun lalu. Keira butuh uang. Banyak. Dan satu-satunya jalan adalah menjadi pengasuh bayi di kediaman keluarga Ciu — konglomerat terkaya di Jakarta yang terkenal kejam.
Dia datang dengan koper lusuh dan tangan penuh luka. Mereka menatapnya seperti debu yang tersasar ke istana marmer.
Tapi ketika bayi keluarga Ciu nyaris meninggal di tangan pengasuh berpengalaman — dan Keira yang menyelamatkannya dengan tangan gemetar — segalanya berubah.
Empat pewaris. Empat hati yang berbeda. Semua jatuh pada gadis yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28: Hadiah Tanpa Nama

Keira tidak langsung menjawab.

Di balik bahu Bi Sari, Jayden masih duduk di depan kandang hamster, sibuk berbisik minta maaf kepada Bola. Anak itu tidak tahu bahwa satu koridor yang baru saja dilewati Keira bisa membuat wajah pengurus paling tenang di Kediaman Ciu berubah seputih kertas.

Akhirnya Keira mengangguk.

"Saya mengerti, Bi."

Bi Sari menatapnya lama, memastikan ia tidak sekadar menjawab untuk menenangkan orang tua.

"Sayap barat bukan tempat untuk orang yang penasaran," katanya pelan. "Dan di rumah ini, rasa penasaran sering dibayar mahal."

Keira tidak bertanya lebih jauh.

Ia hanya menurunkan lengan, menyembunyikan bekas merah di pergelangan tangannya ke balik lipatan kain seragam.

Sejak hari itu, Keira menambahkan satu aturan baru untuk dirinya sendiri.

Jangan melewati koridor samping setelah sore.

Jangan menyebut Darren Ciu kepada siapa pun.

Dan jangan biarkan Jayden membawa Bola keluar dari kamar bermain tanpa kandang yang terkunci dua kali.

Kediaman Ciu kembali berjalan seperti biasa pada minggu ketujuh. Bayi Stephanie mulai lebih stabil menyusu. Nyonya Stephanie sudah bisa duduk lebih lama di dekat jendela tanpa tatapan kosong seperti awal Keira datang. Jayden masih sesekali menempel seperti bayangan, tetapi sekarang ia punya tanggung jawab baru: mengecek makanan Bola, mengganti air khusus hamster di botol kecil, dan menempelkan kertas bertuliskan "Pintu harus klik dua kali" di depan kandang.

Rutinitas itu seharusnya membuat Keira merasa lebih aman.

Namun rumah besar itu tidak pernah benar-benar membiarkan siapa pun aman terlalu lama.

Malam itu, setelah memastikan bayi Stephanie tertidur dan Jayden sudah masuk kamar bersama pengasuh malam, Keira kembali ke kamar pengasuhnya di paviliun belakang.

Lampu lorong kecil menyala redup. Udara Jakarta setelah hujan menempel lembap di kulit. Dari taman belakang, bau tanah basah bercampur melati datang samar.

Keira membuka pintu kamarnya, lalu berhenti.

Di lantai tepat di depan pintu, ada sebuah kotak kecil.

Kotak itu bukan plastik kiriman toko daring. Bukan bungkus kue dari dapur. Bentuknya persegi, dibalut kain abu-abu muda, diikat pita tipis berwarna hijau tua. Tidak ada nama pengirim. Tidak ada logo toko.

Keira tidak menyentuhnya selama beberapa detik.

Hadiah tanpa nama pertama datang dalam bentuk teh hangat dan biskuit saat ia hampir tumbang setelah menghadapi Jayden. Hadiah kedua berupa selimut kecil beraroma kayu cendana setelah ia melakukan panggilan video dengan Kak Kiara dan Kak Anisa.

Ia pernah berpikir itu sekadar kebetulan.

Sekarang, melihat kotak ketiga di depan kamarnya, Keira tidak bisa lagi berpura-pura.

Seseorang sedang memperhatikan.

Ia melihat kiri kanan lorong. Kosong. Pintu kamar staf lain tertutup. Tidak ada langkah menjauh, tidak ada bayangan di ujung koridor.

Keira mengambil sapu kecil dari samping pintu, mendorong kotak itu sedikit.

Tidak ada suara mencurigakan.

Baru setelah itu ia berjongkok, mengangkat kotak dengan dua jari, lalu masuk ke kamar dan mengunci pintu.

Kamar pengasuh itu tidak besar. Satu ranjang, satu meja kecil, satu lemari, satu kursi plastik, dan tas kain tua yang selalu ia letakkan di sudut paling aman. Di ruangan seperti itu, kotak kecil berbalut kain halus terasa terlalu mahal, terlalu asing.

Keira meletakkannya di meja.

Ia membuka pita pelan.

Di dalamnya ada kotak kayu tipis, dipoles halus. Begitu tutupnya terangkat, aroma kayu cendana yang lembut keluar lebih jelas.

Keira membeku.

Di atas kain putih, terletak sebuah liontin giok berwarna hijau jernih.

Ukurannya kecil, tidak sebesar perhiasan perempuan dewasa. Rantainya sederhana, halus, dan pendek. Di bagian tengah giok, terukir bunga kecil dengan kelopak yang tidak rumit, tetapi setiap garisnya bersih. Cahaya lampu kamar membuat warna hijaunya tampak hidup, seperti daun muda yang baru terkena hujan.

Keira tidak langsung merasa senang.

Yang pertama datang adalah dingin.

Dingin yang naik dari perut ke dada, lalu berhenti di tenggorokannya.

Ia mengangkat kain putih itu dengan ujung jari. Di bawahnya ada selembar kertas kecil yang dilipat satu kali.

Tulisan di sana pendek.

Untuk adikmu.

Keira menatap dua kata itu begitu lama sampai matanya terasa perih.

Adikmu.

Orang itu salah.

Kiara bukan adiknya. Kiara adalah Kak Kiara, saudara kembarnya, setengah dirinya yang lebih dulu lahir beberapa menit dan kini hidup dengan waktu yang pecah-pecah di Sriwedari.

Namun kesalahan itu tidak membuat Keira lega.

Justru sebaliknya.

Karena orang asing itu mungkin tidak tahu urutan lahir mereka, tetapi tahu bahwa Keira punya seseorang di luar sana. Tahu bahwa ada orang yang ia lindungi. Tahu bahwa hati Keira tidak sepenuhnya berada di Kediaman Ciu.

Keira tidak pernah membicarakan Kiara di depan keluarga Ciu.

Ia hanya pernah melakukan panggilan video di kamar, dengan suara rendah, pintu terkunci, dan tirai tertutup. Ia tidak pernah membawa foto Kiara keluar selain yang ada di ponsel. Bahkan ketika Stephanie memberi kontrak tetap, Keira hanya menyebut "keluarga di kampung" tanpa nama.

Lalu siapa yang tahu?

Jefri Tan?

Ethan?

Bi Sari?

Atau pria di taman belakang yang memegang batu giok dengan tangan beraroma kayu cendana?

Bayangan Kevin Ciu muncul di ingatan Keira. Bangku batu. Alat pahat kecil. Serpihan halus di dekat jari. Tatapan tenang yang tidak pernah langsung meminta diperhatikan.

Tetapi dugaan bukan bukti.

Di Kediaman Ciu, menerima kebaikan tanpa mengetahui harga di belakangnya sama berbahayanya dengan menerima ancaman tanpa mengetahui siapa yang memberi perintah.

Keira menutup kotak itu lagi.

Ia tidak akan memakai liontin itu. Tidak akan mengirimkannya kepada Kak Kiara. Tidak sebelum ia tahu niat pengirimnya.

Namun ia juga tidak bisa membuangnya.

Jika benar liontin itu dibuat untuk Kiara, membuangnya terasa seperti menolak sesuatu yang mungkin kelak dibutuhkan kakaknya. Keira benci posisi itu. Benci karena orang asing tahu tepat di mana titik lemahnya berada.

Ia mengambil kain bersih, membungkus liontin dan kertas itu, lalu memasukkannya ke kantong terdalam tas kain tuanya. Kantong itu biasanya hanya berisi buku tabungan, fotokopi sertifikat baby care, dan foto lama dirinya bersama Kiara di depan gereja panti asuhan.

Malam itu, sebelum tidur, Keira membuat daftar kecil di buku catatan.

Siapa yang tahu tentang Kiara.

Siapa yang mungkin melihat panggilan video.

Siapa yang punya akses ke area kamar pengasuh.

Siapa yang berbau kayu cendana.

Poin terakhir membuat ujung penanya berhenti.

Keira membuka lagi lipatan kertas bertuliskan Untuk adikmu, lalu mengangkatnya ke arah lampu.

Di tepi kertas, ada serpihan sangat kecil menempel di seratnya.

Serbuk kayu.

Aromanya tipis, tetapi jelas.

Kayu cendana.

Sama seperti selimut itu.

1
!m_mah
maaf kk thor, kno JD "Lo gue" 🙄
sunaryati jarum
Langsung 200 bab dan end, langsung delete
sunaryati jarum
Ko Kevin sepertinya tertarik pada Keira Lo
sunaryati jarum
Suami istri ko seperti orang asing,pada sudah melahirkan
sunaryati jarum
Semoga kakakmu sembuh,Keira
sunaryati jarum
Ko Ethan kaku tapi teliti
sunaryati jarum
Baru mampir, penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!