NovelToon NovelToon
Dikhianati Keluarga, Dicintai Sang CEO

Dikhianati Keluarga, Dicintai Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Winna Yun

Dikhianati oleh keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah sebagai anak pembawa sial, diusir dari rumah, dan dirampas hak warisnya demi ambisi mereka. Tak ada yang percaya pada tangisnya, bahkan pria yang pernah ia cintai pun memilih berpaling.
Saat hidupnya berada di titik terendah, takdir mempertemukannya dengan Kael Adrian, seorang CEO muda yang dingin, berkuasa, dan ditakuti banyak orang. Di balik sikapnya yang sulit ditebak, Kael justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisi Arunika ketika seluruh dunia meninggalkannya.
Namun, cinta mereka tidak datang tanpa harga.
Rahasia besar tentang kelahiran Arunika mulai terungkap. Pengkhianatan keluarganya ternyata hanyalah awal dari konspirasi yang telah disusun selama puluhan tahun. Orang-orang yang dulu membuangnya kini ingin merebutnya kembali, bukan karena penyesalan, melainkan karena sebuah warisan yang mampu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winna Yun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 — Secangkir Teh Hangat

Menjelang sore, hujan kembali turun membasahi kota,Tamu-tamu penginapan memilih tetap berada di kamar masing-masing. Suasana menjadi lebih tenang dari biasanya.

Arunika membawa nampan berisi teko teh hangat dan beberapa potong pisang goreng menuju kamar nomor delapan.

Tok... tok... tok...

"Silakan masuk."

Arunika membuka pintu perlahan.

"Pak, ini teh hangat dari penginapan. Nenek bilang cuaca dingin, jadi semua tamu mendapatkannya."

Adrian yang sedang membaca berkas menutup map di tangannya.

"Terima kasih."

Arunika meletakkan nampan di atas meja kecil, Saat hendak berbalik, tanpa sengaja ujung sepatunya tersangkut karpet.

"Aah!"

Tubuhnya kehilangan keseimbangan.

Cangkir teh yang masih panas hampir terjatuh. Dengan refleks, Adrian segera berdiri dan menangkap pergelangan tangan Arunika, sementara tangan satunya menahan nampan agar tidak jatuh.

Mereka berdiri sangat dekat, Tatapan keduanya kembali bertemu. Arunika bisa melihat pantulan dirinya di mata pria itu.

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

"Ma... maaf," ucapnya gugup sambil segera menarik tangannya.

Adrian melepaskannya perlahan.

"Tidak apa-apa."

"Yang penting kamj tidak terluka."

Arunika menundukkan kepala.

"Terima kasih."

Ia memperhatikan punggung tangan Adrian yang terkena sedikit tumpahan teh.

"Pak... tangan Bapak."

Adrian baru menyadarinya, Hanya sedikit kemerahan.

"Tidak serius."

"Tunggu sebentar."

Tanpa menunggu jawaban, Arunika berlari keluar, Beberapa menit kemudian ia kembali membawa semangkuk air dingin dan salep luka bakar ringan.

"Ini..."

"Boleh saya membantu?"

Adrian sempat terdiam, Sudah lama tidak ada orang yang mengkhawatirkan hal sekecil ini.

Ia mengangguk pelan. Arunika mengambil kapas, membasahinya dengan air dingin, lalu mengompres perlahan punggung tangan Adrian. Gerakannya sangat hati-hati.

"Kalau terlalu sakit, bilang saja."

Adrian hanya memandang wajah gadis itu.

Meski hidupnya sedang berantakan, Arunika masih lebih dulu memikirkan orang lain.

Selesai mengoleskan salep, Arunika tersenyum lega.

"Nah, semoga cepat sembuh."

"Terima kasih."

Untuk pertama kalinya, sudut bibir Adrian terangkat membentuk senyum tipis. Senyum yang sangat jarang dilihat orang-orang di sekitarnya. Arunika sedikit tertegun.

"Ternyata... kalau tersenyum, wajah Bapak tidak seseram biasanya."

Begitu kalimat itu keluar, Arunika langsung menutup mulutnya.

"Maaf! Maksud saya bukan begitu."

Adrian justru mengembuskan napas pendek yang terdengar seperti tawa kecil.

"Itu pertama kalinya ada yang berkata seperti itu kepadaku."

Wajah Arunika memerah.

"Saya benar-benar minta maaf."

"Tidak perlu."

"Justru... cukup jujur."

Suasana yang semula canggung berubah lebih hangat,Di luar jendela, hujan masih turun pelan. Sebelum keluar, Arunika berkata pelan,

"Kalau Bapak membutuhkan sesuatu, panggil saja saya."

"Baik."

Ia pun menutup pintu, Setelah Arunika pergi, Adrian masih menatap punggung tangannya yang telah diolesi salep. Entah mengapa, rasa hangat yang ia rasakan bukan berasal dari salep itu.

Melainkan dari perhatian tulus seorang gadis yang bahkan sedang berjuang memperbaiki hidupnya sendiri. Di balik pintu, Arunika menghela napas panjang sambil memegang dadanya.

"Kenapa jantungku berdebar seperti itu?"

Ia menggeleng kecil dan tersenyum sendiri.

"Sudahlah, dia hanya tamu."

Tanpa disadari keduanya, dari ujung lorong lantai dua, sepasang mata melihat semua kejadian itu. Seseorang diam-diam memotret momen ketika Adrian menangkap tangan Arunika. Foto itu langsung dikirim ke sebuah nomor rahasia dengan satu pesan singkat.

"Mereka mulai semakin dekat."

Beberapa detik kemudian, balasan datang.

"Awasi terus. Jangan biarkan Adrian melindunginya terlalu jauh."

Orang itu menyimpan ponselnya, lalu menghilang di balik tangga, meninggalkan ancaman yang perlahan mulai mendekati kehidupan baru Arunika.

Keesokan paginya, hujan sudah berhenti. Udara terasa jauh lebih segar. Arunika sudah sibuk sejak subuh. Ia membantu neneknya menyiapkan sarapan untuk para tamu.

"Nika, tolong antarkan bubur ayam ini ke kamar nomor delapan,"

 ujar sang nenek sambil menyodorkan nampan, Arunika langsung mengangguk.

"Iya, Nek."

Namun baru melangkah dua langkah,

"Rambutmu dirapikan dulu."

Arunika refleks menyentuh rambutnya.

"Hah? Memangnya kenapa?"

"Tidak kenapa-kenapa."

Sang nenek hanya tertawa pelan.

Tok... tok...

"Masuk."

Adrian sedang duduk di dekat jendela sambil menikmati udara pagi.

"Selamat pagi, Pak."

"Pagi."

Arunika meletakkan sarapan di meja.

"Nenek membuat bubur ayam."

"Katanya biar badan tetap hangat."

"Terima kasih."

Saat hendak pergi, Adrian tiba-tiba berkata,

"Sebentar."

Arunika menoleh.

"Tangan saya sudah tidak sakit."

"Oh..."

Arunika tersenyum lega.

"Syukurlah."

"Kalau begitu saya permisi."

Baru saja ia berbalik, Adrian kembali memanggil.

" Arunika."

"Iya?"

" saya ingin meminjam payung nanti..."

"Boleh."

"Saya pinjam ke siapa?"

Arunika menjawab polos,

"Ke saya."

"Kalau saya sedang tidak ada?"

"Ke nenek."

"Kalau nenek juga tidak ada?"

Arunika berpikir beberapa detik dengan wajah serius.

"Ya... tunggu saja sampai salah satu dari kami ada."

Adrian terdiam, Lalu untuk pertama kalinya pagi itu. ia mengembuskan napas pelan sambil menggeleng kecil.

Arunika baru sadar.

"Loh..."

"Maksud Bapak sedang bercanda ya?"

"Hm."

Wajah Arunika langsung salah tingkah.

"Maaf... saya agak lambat kalau soal bercanda."

Adrian mengangguk pelan.

"Saya baru tahu."

Arunika mengembuskan napas panjang.

"Kalau begitu saya juga mau bercanda."

Adrian mengangkat sebelah alis.

"Oh?"

Arunika menunjuk wajah Adrian.

"Kalau Bapak terus memasang wajah dingin begitu...es batu di dapur bisa minder."

Beberapa detik suasana hening, Arunika mulai panik.

"Ah... tidak lucu ya?"

Tiba-tiba...

"Hahaha..."

Suara tawa pelan keluar dari Adrian.

Meski tidak keras, itu benar-benar tawa.

Arunika sampai membelalakkan mata.

"Bapak... bisa tertawa?"

Adrian langsung kembali memasang wajah datar.

"Tidak."

"Tapi tadi saya dengar."

"Itu batuk."

"Itu jelas-jelas ketawa."

"Bukan."

Arunika menahan tawa.

"Bapak pembohong."

Adrian mengambil sendok buburnya dengan tenang.

"Saya sedang sarapan."

"Itu bukan jawaban."

"Saya tahu."

Melihat Adrian yang berpura-pura tidak terjadi apa-apa, Arunika akhirnya tertawa kecil.

"Baiklah."

"Saya anggap Bapak kalah."

Adrian hanya menggeleng tipis, Gadis ini... benar-benar berbeda dari siapa pun yang pernah ia temui. Beberapa menit kemudian, Arunika kembali ke dapur. Nenek langsung menghampirinya.

"Gimana?"

"Apa gimana, Nek?"

"Tamu nomor delapan."

Arunika pura-pura sibuk mencuci mangkuk.

"Ya biasa saja."

"Oh..."

"Tapi kenapa pipimu merah?"

Arunika refleks menutup pipinya.

"Ini karena panas dapur."

Nenek melihat keluar jendela.

"Dapurnya saja belum dinyalakan."

Arunika membeku, Sementara itu, dari lantai dua, Adrian yang tanpa sengaja mendengar percakapan itu hampir tersedak buburnya. Sudut bibirnya kembali terangkat membentuk senyum tipis.

Sudah lama sekali ia tidak memulai pagi dengan perasaan seringan ini.

Namun, kehangatan itu hanya bertahan sesaat.

Di luar gerbang penginapan, sebuah mobil SUV hitam berhenti tanpa suara. Seorang pria berkacamata hitam turun sambil menatap bangunan tua itu.

Ia mengangkat ponselnya dan melihat foto Arunika bersama Adrian yang dikirim semalam.

"Jadi... Arunika benar-benar bersembunyi di tempat seperti ini."

Pria itu menekan sebuah alat komunikasi di telinganya.

"Target telah dipastikan berada di Penginapan Melati."

"Mulai operasi tahap kedua."

Tak jauh dari sana, seseorang lain yang mengenakan jaket hujan berdiri di balik pohon, memperhatikan mobil tersebut dengan tatapan tajam.

"Aku terlambat..."

Ia menggenggam sebuah liontin tua di tangannya.

"Jangan sampai mereka menemukan Arunika lebih dulu."

1
sinnox
50k mana cukup😭
sinnox
Bau bau ibu tiri jahat😭
Winna Yun: iya Kaka 😁
total 1 replies
zevy_14
lanjut kk... update... update.. update🤭💪
Winna Yun: siap kakak 😁
total 1 replies
zevy_14
bagus selidiki🤭
Winna Yun: mamang haru ini🤭
total 1 replies
ciber ara
suka banget ceritanya
Winna Yun: terimakasih ka 🤗
total 1 replies
ciber ara
nextt
MPUSSPITA
semangat terus othorrr
Winna Yun: semangat kembali ka🤗
total 1 replies
MPUSSPITA
sedih banget kamu, arunika 😭😭😭
Winna Yun: iya ka ujian nya gak main main😁
total 1 replies
Nnisa
kak aku mampir nih, semangat kak💪💪
Winna Yun: terimakasih ka atas kunjungan nya🤗
total 1 replies
Swan Tiger
halo semangat author🍀🍀🍀
Winna Yun: semangat juga ka🤗
total 1 replies
Lasa Hardianti
kasian bgt nasib arunika, moga aja kena karma tuh keluarganya😌🤣
Winna Yun: sabar na nanti di bayar kontan😁
total 1 replies
helena
kasian banget arunika
helena: thor/Hey//Smile/
total 2 replies
Winna Yun
iya ka emang gak sedikit 😁
Zed Analytical Number Nine
bukan angka yang sedikit
Cilia
Nyesek banget jadi arunika:(
Winna Yun: iya bener ka
total 1 replies
Winna Yun
iya ka beda banget
Putri Ayu/PqxxyZ
beda suasana ya disana
Putri Ayu/PqxxyZ
aku sudah mampir baru awal nih, entar lanjut lagi.. kakak boleh mampir di ceritaku yang "Terjebak Antara Saudara dan Cinta"
Winna Yun: iya ka siap
total 1 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
oke cabut... kena usir soalnya
Winna Yun: iya ka🤭 terimakasih sudah berkunjung 🤗
total 1 replies
Putry Chan
aku kasih sedikit saran deskripsi kalimat trlalu panjang, berurutan, bertele-tele ,
kurang penekanan emosi yang mendalam
konflik dan kelanjutan bagus tapi kurang di bedakan
ada beberapa kata yang kurang baku
tidak ada poin unik yang langsung menonjol di awal

Dikhianati oleh orang yang seharusnya melindunginya, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah pembawa sial, diusir ke jalanan, dirampas hak warisnya demi ambisi keluarga—bahkan orang yang dicintainya pun berpaling tanpa belas kasih.

Di titik terendah hidupnya, ia bertemu Kael Adrian: CEO muda yang dingin, berkuasa, ditakuti semua orang, namun satu-satunya yang berdiri teguh di sisinya saat dunia meninggalkannya.

Namun cinta mereka tak mudah. Rahasia kelahiran Arunika yang terungkap perlahan membongkar konspirasi puluhan tahun tersembunyi. Orang yang dulu membuangnya kini kembali mengejarnya—bukan karena menyesal, melainkan demi warisan luar biasa yang tersembunyi dalam darahnya.

Akankah ia bangkit dan membalas setiap tetes air mata serta pengkhianatan itu?

Winna Yun: terimakasih ka sarapan nya🤗 terimakasih sudah berkunjung
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!