Jangan lupa baca novel Sihir Tafriq dan Misteri Desa Getih, biar gak bingung.
Kasih adalah seorang gadis cantik dan juga baik hati. namun di balik kecantikannya, ia memikul sebuah kutukan. dimana siapapun yang menikahinya, maka tidak akan pernah selamat.
Semua pria akan mati sebelum dapat merasakan malam pertama mereka...
Siapakah Kasih... dan kutukan apa.yang sedang di pikulnya.
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jembatan
Mentari masih bersembunyi di balik kegelapan.
Angin fajar bertiup cukup dingin menyentuh kulit dan tulang. Sedangkan dua lampu proyek tampak meredup, di sertai suara deru air di bawah jembatan.
Kasih berjalan dengan tubuh yang kedinginan. Wajahnya pucat menahan dinginnya udara dan juga rasa takut dalam hidupnya.
Ia berhenti sejenak, lalu menatap pagar jembatan yang cukup tinggi. Ia berdiri menatap dengan rasa putus asa.
"Aku lebih baik mati. Aku harus mati. Tidak ada gunanya aku hidup," gumamnya dengan wajah pucat.
Rambutnya kusut dan acak-acakkan. Matanya tampak sembab karena terlalu banyak menangis.
Ia melihat jalanan masih cukup sepi. Ia mulai memanjat pagar besi. Hatinya sudah mati, dan akalnya sudah putus.
"Tiga orang mati setelah menikahiku... Aku pembawa sial...!" ucapnya dengan wajah yang semakin kusut.
Ia sudah tiba diatas pagar, dan kaki kirinya siap untuk melompat. "Selamat tinggal dunia, yang tak pernah berpihak kepadaku..."
Driiiiiit!
Suara mesin motor matic berhenti mendadak.
Seorang pemuda turun dari motor. Ia masih mengenakan helm dan jaket proyek, sembari membawa map. Matanya mata panda, karena lembur bekerja.
Melihat seorang gadis akan bunuh diri dari jembatan, maka ia berteriak kencang.
"WOI! TURUN!"
Kasih tersentak kaget. Lalu menoleh ke arah orang yang berteriak kepadanya. "Siapa kamu?!" tanyanya dengan kesal, dan menggerutu, sebab aksinya di pergoki orang yang melintas.
"Saya yang punya proyek. Eh bukan. Saya mandor yang disuruh lembur."
Pemuda yang tak lain adalah Farhan melihat Kasih sedang putus asa.
"Kamu mau bunuh diri?!" tanyanya dengan cepat.
"Iya. Aku udah gak ada gunanya hidup. Jadi jangan sok peduli!" jawab Kasih dengan nada ketus.
"Kalau mau bunuh diri jangan di jembatan ini." sahut Farhan.
"...Hah?" Kasih melongo.
"Ini proyek BA terakhir. Kalau ada yang mati di sini, uang termin saya gak cair tiga bulan. Nanti saya gak bisa bayar kos. Tolong lah Mbak, mikir."
Kasih melongo dengan ucapan sang pemuda.
"Tapi aku pembawa sial! Siapa aja yang nikahin aku pasti mati mengenaskan!" air matanya mulai menggenang di pelupuk mata.
"Oh. Itu masalahnya. Terus kalau kamu mati sekarang, sial yang kamu miliki bisa pindah ke tukang cor apa gimana? Sama aja kan?"
Kasih menatap bingung. "Kamu... gak takut sama aku?"
Farhan berkacak pinggang. "Takut. Aku takut dimarahin Pemda kalau proyeknya telat."
Farhan maju selangkah. "Turun dulu. Ngobrol. Kalau abis ngobrol masih mau loncat, yaudah. Tapi jangan di sini. Pindah dua meter ke kanan. Itu bukan proyek saya."
"Kamu jahat!" ucap Kasih, sembari sesenggukkan.
"Aku bukan jahat, tapi mencoba realistis." ia masih menatap Kasih yang mulai goyah hatinya. " Buruan turun! Angin menerbangkan dastermu, mataku sakit melihat yang ada di dalamnya," cibir Farhan.
"Sialan!" maki Kasih, lalu turun ke bawah.
Setibanya di bawah, ia bersandar di pagar jembatan.
"Hidupku gak ada artinya!"
"Ada. Bisa buat nahan uang termin saya karena kamu gak jadi bunuh diri...."
"Aku sudah nikah empat kali dan tiga suamiku mati dengan cara mengenaskan!"
"Wah. Hebat.... Bisa jadi kisah horor. Janda empat kali untuk umur sembilan belas tahun. CV nya cukup kuat."
"KAMU NGELEDEK?!"
Farhan menggelengkan kepalanya. "Enggak.... Aku hanya memberi pandangan baru."
"Aku capek... aku gak mau ada yang mati lagi..."
"Ya sudah jangan mati. Kalau kamu mati, aku yang repot ngurusin jasad plus ngurusin laporan ke polisi ditambah ngurusin proyek telat. Aku juga capek tau. Gak liat mataku udah mata panda." farhan menunjuk ke arah matanya sendiri.
Kasih menatap Farhan dalam keremangan fajar "... "Kamu aneh."
"Kamu juga. Namanya siapa?" tanya Farhan lagi.
"Kasih..." jawab sang gadis dengan suara yang pelan, dan nadanya menghilang tersapu angin
"Nah. Namanya Kasih. Masa kamu mau ngasih sedih ke orang terus. Ngasih bahagia kek."
Kasih terdiam. ia menghela nafasnya dengan berat. Lalu menatap sungai yang mengalir tenang di bawah, tetapi sangat dalam.
Tiba-tiba saja....
WUUUSH!
Kalajengking Merah nongol dari arah belakang Kasih "Tumbal kelima, Segera goda dengan pesonamu, agar kebangkitan bapakmu segera tercapai"
"Tidak, aku tidak mau... Tidak ada boleh yang mati lagi..." sahut Kasih dalam hatinya.
Farhan yang melihatnya tersentak kaget. Lalu membuka helm proyeknya, dan melemparkannya tepat ke kepala botak Siluman Kalajengking. "Dasar Iblis!"
Taaaak!
Helm mendarat di kepala Kalajengking, dan membuat sosok itu mendesis.
"Kau cari mati?!" ia menggerakkan ekornya.
"Lu ganggu orang lagi konsultasi saja," omel Farhan dengan geram.
Kasih bengong. Ia menatap Farhan cukup lama. "....kamu bisa melihatnya juga?" tanyanya dengan nada gemetar.
"Aku sudah muak liat yang beginian. Setiap saat, jadi gak kaget," sahutnya dengan santai.
Kalajengking tersenyum menyeringai. Ia melibaskan ekornya, dan dengan cepat Farhan menghindar.
Wuuuussh!
Sabetannya mengenai angin belaka.
Saat Kalajengking kembali melibaskan ekornya untuk menyerang Farhan, pemuda langsung menendangnya, dan membuat Siluman Kalajengking terpental, lalu tersangkut di ujung pagar jembatan.
"KALIAN BERDUA!" ucapnya dengan geram.
"Nanti dulu, kamu disitu saja! Lagi nego mau lanjut bunuh diri apa di batalin!" sahut Farhan, memotong ucapan Kalajengking.
Farhan menarik tangan Kasih, hingga menjauh dari pagar jembatan. Sebab ia kelihat ekor iblis tersebut hendak meraih tubuh Kasih dari bawah pagar.
Karena terlalu kencang, akhirnya Kasih jatuh ke pelukannya.
DUG!
Farhan hilang keseimbangan, dan limbung kebelakang, lalu keduanya menggelinding di lantai jembatan.
Kalajengking mau nyambar.
Dari balik semak, tiba-tiba saja...
BUSS!
Pocong melempar senter, dan mengenai kepala Kalajengking.
Sedangkan Sundel Bolong melempar kan seekor tikus got ke arah sang lawan.
Sosok itu menangkapnya. "Bentar, aku makam dulu, lapar..." ucapnya, lalu mengunyahnya.
Belum selesai Kalajengking menyelesaikan makannya, Siluman Kera melemparkan batu ke kepalanya, hingga sisa tikus itu terpental dan jatuh ke sungai.
Kalajengking menatap marah. "GAK SOPAN! GANGGU ORANG SEDANG MAKAN! BERANINYA MAIN KEROYOKAN!" omelnya.
Saat bersamaan, satu kelebatan bayangan hitam membawa Kalajengking itu melesat pergi meninggalkan jembatan. Sebab fajar sudah menyingsing."
Sedangkan Farhan dan Kasih terhenti saat Buto Ijo menahan dengan ujung kakinya. Keduanya tersentak kaget. Lalu buru-buru beranjak bangkit.
Kasih membenahi dasternya, dan duduk di atas lantai jembatan. Ia menatap Buto Ijo yang tampak sangar. "Hantu...." ucapnya dengan wajah gemetar.
"Udah, gak usah kamu liatin, mending kamu liat ke sungai, biar tau kalau airnya dalam..." ucap Farhan.
"Aku... aku takut..."
Farhan menghela nafasnya. Lalu duduk di sebelah sang gadis. Dan ia memberikan jaketnya kepada Kasih.
"Takut itu wajar. Tapi mati konyol di jembatan proyek saya itu yang gak wajar."
Kasih mengambil jaket tersebut, dan mengenakannya. Ia menatap Farhan di balik keremangan Fajar. Dalam samar, ia tahu, pria itu sangat tampan, dan membuat hatinya bergetar untuk pertama kalinya.
dr ikut Rayyan dan skrg ikut sama Farhan ( anak nya )