NovelToon NovelToon
Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak tii

Bagi Karin, dosen pembimbingnya yang bernama Pak Arkan adalah monster nyata di dunia perkuliahan. Dingin, kaku, dan tidak segan mencoret draf skripsinya sampai penuh tinta merah. Karin bertekad untuk segera lulus agar bisa terbebas dari pria menyebalkan itu.

Namun takdir berkata lain. Demi melunasi utang pengobatan ibunya yang menumpuk, Karin terpaksa menyetujui pernikahan kontrak selama satu tahun dengan Pak Arkan sebuah rencana perjodohan rahasia yang diatur oleh keluarga mereka.

Kini, Karin tidak hanya harus berhadapan dengan Pak Arkan di ruang dosen yang menegangkan, tapi juga harus berbagi atap di apartemen yang kamarnya saling bersebelahan. Di kampus mereka harus pura-pura tidak kenal, sementara di rumah, Karin perlahan menemukan sisi lain sang dosen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak tii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam terakhir di jakarta

Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit malam saat seluruh bagian diagram alur sistem informasi proposal skripsiku akhirnya selesai direvisi dengan sempurna tanpa ada satu pun coretan merah baru dari Mas Arkan.

Aku merapikan tumpukan kertas drafku yang kini sudah terlihat jauh lebih bersih dan teratur ke dalam map tebal dengan perasaan yang sangat puas luar biasa. Beban pikiran yang menumpuk di pundakku sejak awal bimbingan skripsi minggu lalu rasanya seperti menguap begitu saja ke udara malam ini.

"Terima kasih banyak ya, Mas Arkan. Bimbingan malam ini beneran ngebantu banget buat skripsi Karin," ujarku tulus sambil menoleh menatap wajah Mas Arkan yang kini sedang bersandar santai di sofa belakangku sambil menutup mata lelahnya sejenak.

"Sama-sama. Itu memang sudah tugas saya, Karin," sahutnya pelan tanpa membuka matanya, kedua tangannya terlipat di atas perut dengan dada yang naik turun teratur pertanda dia juga sudah sangat kelelahan setelah seharian penuh beraktivitas tanpa henti. "Sekarang rapikan laptop kamu dan segera tidur. Besok siang kita harus berangkat pagi-pagi ke bandara agar tidak tertinggal pesawat pulang."

"Iya, Mas. Mas Arkan juga langsung tidur ya, jangan begadang lagi buat periksa tugas mahasiswa lain," sahutku penuh perhatian sembari menutup layar laptopku dan memasukkannya ke dalam ransel abu-abu yang butut.

Mas Arkan membuka matanya perlahan, menatap punggungku yang sedang berbenah dengan sorot mata yang terlihat sangat teduh dan penuh dengan kehangatan yang asing. "Karin."

"Iya, Mas?" Aku menoleh bingung.

"Terima kasih sudah mau menyetujui pernikahan kontrak ini demi Kakek dan kesehatan ibu kamu," ujarnya dengan nada suara yang terdengar sangat tulus di telingaku, tanpa ada sisa-sisa nada dingin atau ketus yang biasa ia gunakan di kampus. "Saya tahu ini bukan hal yang mudah bagi mahasiswi muda seumuran kamu untuk tiba-tiba terikat status pernikahan seperti ini. Tapi saya berjanji, selama setahun ke depan saya akan berusaha menjaga kamu dengan sebaik mungkin sebagai suami kamu."

Kata-kata Mas Arkan yang begitu dewasa dan penuh dengan rasa tanggung jawab yang kokoh membuat dadaku mendadak bergetar halus dengan debaran yang sangat kencang tak karuan. Aku memandangi sepasang mata tajamnya yang kini menatapku lekat-lekat, merasakan ada ketulusan yang murni dari lubuk hatinya yang terdalam yang belum pernah kutemui dari pria lain mana pun sebelumnya.

"Karin juga berterima kasih banget sama Mas Arkan atas bantuan pengobatan Ibu..." ujarku dengan suara yang sedikit bergetar halus menahan haru. "Karin janji akan menjaga rahasia pernikahan kita ini di kampus dengan sebaik mungkin, biar Mas Arkan gak dapet masalah akademis karena menikahi mahasiswanya sendiri."

Mas Arkan tersenyum tipis mendengarnya, senyuman manis yang membuat ketampanannya naik berkali-kali lipat di bawah siraman cahaya lampu hangat ruang tengah apartemen malam ini. "Ya sudah. Masuk kamar sana, selamat istirahat, Karin."

"Selamat istirahat juga, Mas Arkan," jawabku dengan senyuman termanis yang kupunya, lalu segera berdiri merengkuh ranselku dan berjalan melangkah masuk ke dalam kamar tamuku dengan perasaan yang diliputi oleh kedamaian yang sangat indah.

Selasa siang, pukul satu.

Kami sudah kembali berada di dalam kabin pesawat berbadan lebar yang akan membawa kami pulang menuju kota tempat kuliahku di seberang pulau. Gemuruh mesin jet yang menderu kencang saat lepas landas tidak lagi membuatku ketakutan setengah mati seperti penerbangan pertama beberapa hari lalu.

Kali ini, tangan kananku tidak lagi mencengkeram erat lengan jaket tebal milik Mas Arkan dengan panik. Aku hanya duduk tenang di dekat jendela, sesekali melirik ke arah tangan kanan Mas Arkan yang tergeletak santai di atas pembatas kursi di antara kami. Di jari manisnya yang kokoh, cincin emas putih polos pernikahan kami tampak berpendar indah terkena pantulan sinar matahari siang hari yang keemasan dari balik kaca jendela pesawat.

Sebuah kenyataan baru yang sangat manis kini telah resmi dimulai di dalam hidupku. Aku bukan lagi sekadar mahasiswi ceroboh yang selalu gemetaran menghadapi dosen killer-ku di ruang bimbingan kampus, melainkan seorang istri yang kini siap berbagi atap, berbagi tugas rumah tangga, dan mungkin saja... perlahan-lahan mulai berbagi hati dengan pria yang bernama Arkananta Dewangga itu sepanjang satu tahun masa kontrak pernikahan kami ke depan.

1
Rian Moontero
mampiiir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!