NovelToon NovelToon
Istri Paruh Waktu

Istri Paruh Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Romansa Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: aurora23

Nadira terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan seorang CEO dingin bernama Arka Mahendra demi melunasi utang ayahnya. Dalam perjanjian itu, ia hanya akan menjadi "istri paruh waktu"—seorang istri yang hadir saat keluarga besar membutuhkan, tetapi tak pernah benar-benar dicintai.
Arka masih terikat pada cinta masa lalunya, Selena, yang tiba-tiba kembali setelah bertahun-tahun menghilang. Tanpa ragu, Arka mengabaikan Nadira dan diam-diam menjalin hubungan kembali dengan Selena, membuat Nadira berkali-kali dipermalukan.
Semua orang menganggap Nadira hanyalah perempuan miskin yang mengejar harta keluarga Mahendra. Namun, di balik sikap lembutnya, ia menyimpan identitas yang tak seorang pun ketahui.
Ketika penghianatan demi penghianatan terus terjadi, Nadira memilih pergi tanpa membawa apa pun. Kepergiannya justru membuka rahasia besar yang membuat Arka menyesal seumur hidup.
Sayangnya, saat Arka akhirnya menyadari bahwa perempuan yang ia sia-siakan adalah cinta sejatinya, Nadira telah b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 13 : Kesalahpahaman Pertama

Hari itu berlalu dengan ritme yang luar biasa padat di kantor pusat Mahendra Group. Sejak siang, Arka tertahan di dalam ruang rapat utama bersama jajaran direksi dan perwakilan dari konsorsium asing untuk membahas proyek revitalisasi properti yang sempat tertunda. Di dalam ruangan yang sama, Selena—yang memanfaatkan celah pengaruh ayahnya untuk tetap terlibat dalam proyek-proyek strategis sebelum masa mutasinya benar-benar dieksekusi—duduk tidak jauh dari Arka, bertindak sebagai perwakilan tim humas yang menyusun draf rilis media.

Rapat yang semula dijadwalkan selesai pada pukul lima sore itu terpaksa diperpanjang hingga larut malam karena adanya revisi mendadak pada klausul pembagian saham. Menjelang pukul delapan malam, sang klien utama, seorang investor paruh baya asal Singapura, menyarankan agar diskusi dilanjutkan dalam suasana yang lebih santai.

"Bagaimana kalau kita bicarakan poin-poin akhir ini sambil makan malam di restoran hotel bawah, Tuan Mahendra?" usul sang klien sambil menjabat tangan Arka.

Arka melirik jam tangannya. Angka menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit. Perutnya memang sudah terasa lapar, dan menolak ajakan klien penting di tahap akhir negosiasi bukanlah pilihan yang bijak dalam dunia bisnis.

"Tentu, itu ide yang bagus," jawab Arka formal. Ia menoleh ke arah asistennya. "Yudha, siapkan dokumen yang diperlukan dan ikut kami ke bawah."

Namun, Selena dengan cepat memotong, menampilkan senyuman profesional terbaiknya. "Tuan Arka, biar Yudha tetap di sini untuk mencetak draf revisi terbaru bersama tim legal. Saya yang akan mendampingi Anda dan membawa berkas ringkasannya ke restoran. Lagipula, ini juga menyangkut poin publikasi yang menjadi ranah saya."

Arka diam sejenak, menatap Selena dengan pandangan menilai yang dingin. Mengingat waktu yang mendesak dan efisiensi kerja, ia akhirnya mengangguk pendek tanpa curiga. "Baik. Selesaikan dengan cepat."

---

Di saat yang sama, di kediaman Mahendra, suasana dapur justru terasa sangat hangat sejak sore. Nadira berdiri di depan kompor dengan celemek kain yang membungkus tubuhnya. Atas permintaan khusus dari Opa Wijaya yang merindukan masakan rumah, Nadira dengan senang hati membuatkan sup iga sapi bumbu rempah dan beberapa lauk piringan kesukaan Arka yang sempat ia tanyakan pada Mbok Nah.

"Nyonya Muda, ini kotak makannya sudah Mbok siapkan," kata Mbok Nah, menyodorkan sebuah rantang susun berbahan baja tahan karat yang elegan.

"Terima kasih, Mbok Nah," jawab Nadira, tersenyum manis sambil menata makanan tersebut ke dalam wadah dengan sangat rapi.

Opa Wijaya yang sedang duduk di kursi makan roda tidak jauh dari sana terkekeh pelan. "Nadira, serahkan langsung pada suamimu itu. Anak bodoh itu pasti melewatkan jam makan malamnya lagi karena pekerjaan. Bilang padanya, ini perintah dari Opa agar dia menghabiskan semuanya."

"Iya, Opa. Nadira akan antarkan ke kantornya sekarang," sahut Nadira lembut.

Dengan mengendarai mobil operasional rumah, Nadira berangkat menuju gedung Mahendra Group. Di sepanjang perjalanan, tangannya sesekali meraba syal cokelat susu yang masih melingkar hangat di lehernya. Pemberian misterius yang ia yakini dari sang kakek itu seolah memberikan energi tambahan baginya setelah seharian lelah mengajar di sekolah. Ada debaran halus di dadanya yang sulit ia jelaskan—sebuah perasaan hangat yang muncul setiap kali ia memikirkan wajah kaku Arka saat menyantap masakan buatannya.

Namun, sesampainya di gedung kantor, petugas keamanan di lobi menginformasikan bahwa Arka dan beberapa perwakilan baru saja turun ke restoran mewah yang berada di area hotel yang menyatu dengan gedung komersial tersebut.

"Tuan Arka sedang makan malam bisnis dengan klien di Restoran *The Grand Luminary*, Nyonya," jelas petugas itu dengan sangat sopan.

"Oh, begitu ya. Terima kasih, Pak," ucap Nadira.

Nadira sempat ragu. Ia tahu diri bahwa ia tidak boleh mengganggu urusan pekerjaan Arka. Namun, mengingat pesan Opa Wijaya yang sangat mewanti-wanti agar makanan ini diberikan selagi hangat, Nadira akhirnya melangkah menuju restoran hotel tersebut dengan langkah pelan, mendekap erat tas bekalnya.

Restoran *The Grand Luminary* malam itu tampak sangat eksklusif dengan pencahayaan yang temaram dan elegan. Dinding-dindingnya terbuat dari kaca besar dan sekat kayu berukir yang memberikan privasi bagi para tamu penting. Nadira berjalan menyusuri koridor luar, matanya mencari-cari keberadaan sosok suaminya dari balik celah pintu kaca lipat yang membatasi area *private dining room*.

Dan di sanalah ia melihat mereka.

Di sebuah meja bundar yang terletak di sudut ruangan, Arka duduk bersebelahan dengan Selena. Sang klien tampaknya sedang pergi ke toilet sejenak, menyisakan mereka berdua di area meja tersebut. Yudha tidak ada di sana.

Tepat pada saat Nadira mematung di luar, Arka baru saja berdiri dari kursinya untuk mengambil berkas di atas meja konsol. Namun, entah sengaja atau tidak, Selena tiba-tiba ikut berdiri dan melangkah mendekat ke arah Arka.

"Dasi Anda sedikit miring, Arka. Biar kurapikan, sebentar lagi klien akan kembali," ucap Selena dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, jemarinya bergerak luwes meraih simpul dasi hitam milik Arka.

Dari sudut pandang Nadira yang berdiri beberapa meter di luar pintu kaca yang remang-remang, posisi tubuh Selena yang condong ke depan dan wajah Arka yang menunduk membuat mereka berdua terlihat sangat dekat—hampir seperti sepasang kekasih yang sedang berbagi momen intim di tengah makan malam romantis. Selena tersenyum sangat manis, menatap lurus ke dalam manik mata Arka dengan pandangan yang penuh dengan binar kepemilikan.

Arka sendiri sebenarnya sempat tertegun dan langsung menepis tangan Selena dengan kasar sedetik kemudian, namun bagi Nadira, visualisasi awal itu sudah lebih dari cukup untuk menghantam dadanya dengan kekuatan yang luar biasa.

*Deg.*

Jantung Nadira rasanya berhenti berdetak. Seluruh pasokan udara di sekitarnya mendadak hilang, meninggalkan rasa sesak yang begitu menghimpit di dalam dadanya. Matanya memanas, dan ada denyut perih yang menjalar hebat ke seluruh tubuhnya.

Melihat bagaimana Selena dengan begitu bebas menyentuh Arka, dan bagaimana mereka terlihat begitu serasi di dalam dunia kemewahan yang kaku itu, membuat Nadira seketika tersadar dari lamunan indahnya. Kenyataan pahit itu menghantamnya tanpa ampun: ia hanyalah seorang guru TK sederhana yang terikat kontrak satu tahun. Wanita yang pantas berdiri di samping Arka, merapikan dasinya, dan mendampinginya di restoran mewah adalah wanita seperti Selena—bukan dirinya.

Nadira mundur satu langkah. Genggamannya pada tali tas bekal di tangannya mengeras hingga buku-buku jarinya memutih. Air mata hampir saja menetes, namun ia dengan gigih menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakan.

Tanpa masuk ke dalam untuk menemui Arka, tanpa membuat keributan, dan tanpa membiarkan siapa pun melihat kerapuhannya, Nadira membalikkan badannya dengan cepat. Ia melangkah pergi meninggalkan area hotel dengan setengah berlari, membawa kembali kotak makan yang telah ia siapkan dengan penuh ketulusan namun kini terasa seperti sebuah lelucon yang menyedihkan.

---

Di dalam ruangan restoran, Arka mundur dua langkah dengan wajah yang mengeras penuh amarah setelah menjauhkan tangan Selena dari pakaiannya.

"Jangan pernah lancang menyentuh saya lagi, Selena," desis Arka, suaranya mengandung ancaman yang sangat dingin. "Batasan profesionalitasmu sudah habis sejak saya mengeluarkan surat mutasi. Jangan buat saya memecatmu secara tidak hormat malam ini juga."

Selena menarik kembali tangannya, menyembunyikan rasa kesalnya di balik senyuman tipis yang dibuat-buat. "Saya hanya membantu, Tuan Arka. Penampilan Anda adalah citra perusahaan di depan klien."

Arka tidak menyahut. Ia memalingkan wajahnya ke arah pintu keluar restoran, merasa seolah-olah ada sepasang mata yang baru saja memperhatikannya dari luar. Namun, ketika ia menajamkan pandangannya ke arah koridor kaca yang remang-remang, tempat itu sudah kosong melompong. Hanya ada bayangan lampu jalanan yang memantul di atas lantai marmer. Ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba merayap di dalam hatinya, sebuah firasat buruk yang tidak bisa ia jelaskan dengan logika bisnisnya.

---

Waktu menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh menit malam ketika mobil Arka akhirnya memasuki gerbang kediaman Mahendra. Langkah kakinya terasa berat saat melangkah masuk ke dalam rumah yang sudah gelap gulita. Seluruh pelayan dan Opa Wijaya dipastikan sudah tertidur lelap.

Arka berjalan menuju dapur bersih untuk mengambil segelas air dingin sebelum naik ke kamarnya. Namun, begitu ia menyalakan lampu konter dapur, pandangannya langsung terkunci pada sebuah benda yang diletakkan di atas meja pulau marmer.

Sebuah rantang susun baja tahan karat, terbungkus rapi di dalam tas kain bermotif bunga sederhana milik Nadira.

Arka mengernyitkan dahi. Ia melangkah mendekat dan membuka ritsleting tas kain tersebut. Di dalamnya, kotak-kotak makanan itu masih tertutup rapat, masih utuh tanpa tersentuh sedikit pun. Di samping kotak makan tersebut, terletak secarik kertas kecil dengan tulisan tangan Nadira yang rapi: *“Untuk Pak Arka. Masakan sup dari Opa. Tolong dihabiskan ya, Pak.”*

Arka terdiam. Ia meraba permukaan wadah rantang yang kini sudah mendingin sepenuhnya. Jika makanan ini masih utuh di sini, artinya Nadira atau pelayan telah menyiapkannya sejak sore. Mengapa makanan ini tidak diantarkan? Atau... apakah sudah diantarkan namun dibawa pulang kembali?

Dengan rasa penasaran dan kegelisahan yang kian memuncak, Arka melangkah cepat menaiki tangga menuju kamar utama di lantai dua. Ia membuka pintu kamar dengan sangat perlahan, tidak ingin menimbulkan suara berisik.

Di dalam kamar yang remang-remang, suasana begitu sunyi. Arka mengalihkan pandangannya ke arah sofa panjang di dekat balkon. Di sana, Nadira sudah berbaring miring membelakangi ruangan, terbungkus rapat di dalam selimut tebalnya.

Arka berjalan mendekati tepi tempat tidur, namun matanya tidak lepas dari siluet tubuh istrinya. Berbeda dari malam-malam sebelumnya di mana napas Nadira terdengar teratur dan tenang, malam ini Arka bisa menangkap perubahan kecil. Bahu Nadira tampak sedikit kaku, dan ritme napasnya terdengar agak tertahan—seolah-olah wanita itu sebenarnya belum tidur, melainkan sedang berpura-pura terlelap demi menghindarinya.

Arka melangkah dua kali mendekati sofa panjang tersebut, bermaksud untuk memanggilnya atau sekadar menanyakan perihal kotak makan di bawah. Namun, begitu ia melihat syal cokelat susu pemberiannya teronggok lemas di ujung sofa—tidak lagi dipakai dengan senyuman seperti sore tadi—Arka mengurungkan niatnya.

Ada dinding pembatas tak kasat mata yang mendadak berdiri sangat tebal di antara mereka malam ini. Arka mengepalkan tangannya di dalam saku celana, dipenuhi tanda tanya besar tentang apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat wanita yang biasanya menyambutnya dengan senyuman hangat itu kini tampak begitu dingin dan menjauh.

---

Sementara itu, di sebuah apartemen mewah di pusat kota, Selena sedang duduk di depan meja riasnya dengan senyuman penuh kemenangan. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah ponsel pintar yang menampilkan sebuah foto hasil tangkapan kamera tersembunyi yang sengaja ia minta dari salah seorang staf restoran hotel yang telah ia suap sebelumnya.

Foto itu memperlihatkan momen tepat ketika Selena sedang condong ke depan, merapikan dasi Arka dengan senyuman manis, sementara Arka menunduk menatapnya. Dari sudut pengambilan gambar yang presisi, mereka berdua benar-benar terlihat seperti pasangan kelas atas yang sedang menikmati makan malam romantis yang intim, jauh dari kesan pertemuan bisnis yang kaku.

"Arka, kamu boleh saja memutasiku atau mengancamku," gumam Selena, matanya berkilat penuh kelicikan yang kejam. "Tapi kamu tidak akan pernah bisa mengontrol apa yang dipikirkan dunia luar tentang hubungan kita. Dan mari kita lihat, seberapa kuat ikatan pernikahan kontrakmu itu bertahan setelah foto ini menyebar."

Dengan satu sentuhan jari di atas layar ponselnya, Selena mengirimkan file foto tersebut kepada salah satu kontak jurnalis senior dari media gosip digital terbesar di ibu kota, lengkap dengan bumbu cerita palsu tentang "makan malam romantis sang CEO bersama kekasih lamanya".

Malam itu, di bawah langit kota yang basah oleh sisa hujan, sebuah badai kesalahpahaman yang besar telah resmi dipersiapkan untuk mengguncang fondasi pernikahan yang baru saja mulai tumbuh di antara Arka dan Nadira—meninggalkan keduanya dalam lingkaran sunyi yang penuh dengan penyangkalan dan rasa sakit yang belum terucap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!