Ema adalah detektif yang sedang diskorsing sehingga ia kembali ke kampung halamannya. Saat kembalinya dirinya di kampung, ada kasus yang penuh kejanggalan. Kasus itu pula yang mempertemukannya dengan cinta pertamanya, Levi.
"Kenapa kamu berbohong? apa alasanmu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gudang Terbengkalai
Emma masih ingin mengorek informasi dari Bimo, tapi... Kehadiran Levi membuat Bimo semakin menegang dan tidak mau lagi membuka mulutnya.
Mungkin, sesi curhat kali ini memang harus berhenti sampai sini. Meskipun, Emma masih punya beribu pertanyaan untuknya. Tapi rasa aman untuk Bimo sangat penting untuk saat ini.
"Sebenarnya Miss masih mau ngomong sama kamu, tapi...." Emma terdiam ketika Levi semakin mendekat ke arahnya. Mata mereka sempat bertemu, namun Levi lebih memilih untuk melengos ke arah lain.
"Itu Tio! Miss permisi dulu ya."
Bimo yang mempunyai kesan anak badung itu kini malah terlihat seperti anak ceria, normal layaknya siswa biasa.
Sementara Bimo berlari ke arah Tio dan kawan-kawan, kini udara sunyi merayap di sekitar Emma dan Levi.
Emma tidak tahu harus memulai pembicaraan apa dan Levi masih berusaha menghindari tatapan Emma.
"Pak Levi, tunggu!"
Emma memilih untuk menerobos saja tanpa berpikir panjang. Yang ada di kepalanya hanyalah bagaimana caranya mereka akrab kembali. Bukankah dia butuh informasi dari Levi juga?
Namun, Levi hanya diam tanpa menjawab. Mata coklat yang sendu itu menerawang seolah sedang memprediksi apa yang akan dilakukan Emma selanjutnya.
"Itu...mmmm." Emma benar-benar kehilangan kata-kata. Dia hanya bermodalkan nyali saja tanpa memikirkan rencana apa yang harus ia lakukan.
"Ada laba-laba di pundak bapak, syuh syuh syuh," ucapnya dengan berpura-pura mengusir laba-laba khayalan dengan tepukan.
Suasana sunyi kembali menyergap, Emma yang kehabisan akal, hanya menepuk berulang kali pundak Levi dengan bingung.
'Mati aku!' batinnya.
Kenyataan kalau Levi hanya diam mengamatinya, membuat Emma semakin salah tingkah. Dia hanya menepuk dan menepuk.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Satu kalimat itu sangat membuat jantung Emma melompat.
"Ah, tidak...."
Emma menurunkan tangannya dan menunduk seperti orang yang siap menerima hukuman.
"Kalau kamu nggak punya kerjaan, ikut aku ke gudang!" Ketus Levi masih dengan wajah datarnya.
Kemudian Levi berjalan ke belakang Aula dengan Emma yang menunduk mengikutinya.
Sepanjang perjalanan Levi hanya diam tak bersuara, membuat Emma juga tak bisa berkata apa-apa.
Lalu...
"Tadi kamu ngomongin apa sama Bimo?" Levi membuka pembicaraan dengan topik yang membuat mata Emma membara.
"Hanya ngomong ini dan itu," jawab Emma yang masih berjalan di belakang Levi.
"Aku cuma memperingatkan, kamu harus berhati-hati di dekat empat anak itu. Aku rasa mereka melakukan sesuatu yang aneh," ucap Levi mengejutkan.
"Aneh? Seperti?"
"Aku tidak tahu, aku hanya punya feeling yang nggak enak tentang mereka."
Kenapa mereka saling menuduh? Bimo mengatakan kalau harus berhati-hati dengan Levi. Sedangkan Levi mengatakan yang sebaliknya. Sebenarnya siapa yang harus diwaspadai?
"Tapi kelihatannya Bimo anak yang baik. Luarannya saja yang kelihatan seperti anak berandalan, tapi sebenarnya dia cukup manis," kata Emma menghentikan langkah Levi yang ternyata sudah sampai ke depan pintu gudang.
"Iya manis, seperti pacarmu." Levi membuka gudang dan terus melangkah maju tanpa menghiraukan Emma yang terdiam mendengar komentar singkatnya.
"Pacar?" Emma kembali membuntuti Levi.
"Iya pacar, yang tadi malam," ucapnya dengan terus mengambil beberapa tali pramuka dan tongkat.
"Tapi dia bukan...."
"Ini, kamu yang bawa! Hari ini materinya pioneering" Levi menyodorkan beberapa ikat tali pramuka, membuat Emma tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
Lalu, Levi yang membawa beberapa tongkat yang diikat menjadi satu itu pergi meninggalkan Emma yang masih terdiam.
"Dasar! Seenaknya saja motong pembicaraan. Tingkahnya itu kayak anak kecil yang sedang ngambek!" Gerutunya.
setelah Levi meninggalkan Emma cukup jauh, Emma yang membawa gulungan tali pramuka dengan kedua tangannya meneliti area dalam gudang sembari berjalan.
Ruangan kecil dan pengap itu sedikit membuatnya tidak nyaman. Aroma cairan pemutih menyeruak membuat hidung Emma terasa perih. Sejenak terlintas di pikiran Emma kalau tempat ini sangat cocok untuk menyekap orang. Gedung terbengkalai yang jarang dijamah dan pencahayaan yang kurang, membuat gudang itu sebagai kandidat TKP yang kuat.
Untuk itu, Emma menaruh tali pramuka itu di meja dekatnya, dan dia mulai berkeliling.
Di pojok kanan ada banyak sapu dan tempat sampah yang sudah rusak, lalu ada meja kursi yang sudah patah di dekatnya. Semua tampak berdebu, menandakan sejarang itulah gudang ini dijamah.
Lalu, pikiran Emma terfokus pada bayangan kedua tangan Dion yang terdapat bekas ikatan.
"Tali apa yang mengikatnya?" Gumam Emma.
Emma kembali menyisir area tersebut untuk mencari sesuatu yang berguna untuk deduksinya.
"Tali...sss....tali, tidak mungkin itu rafia atau kawat. Itu terlalu tipis."
Kemudian ia mengingat kalau dijari Dion terdapat benang halus berwarna putih, sangat halus dan kecil yang membuat Emma tidak memperhatikan sebelumnya.
"Benang putih?"
Drap drap drap
Emma berlari kecil ke arah tumpukan tali pramuka yang disisakan oleh Levi. Dia melihat tali Pramuka itu bersih tanpa adanya noda.
"Apakah aku salah?"
"Sebentar.... Tidak mungkin pelaku mengembalikan talinya ke tempat semula."
Emma berhenti sejenak untuk menyusun kembali deduksinya. Gudang ini memang jarang dibuka, tapi bukankah sesekali penjaga sekolah membukanya untuk mengambil perlengkapan kebersihan atau lainnya. Jadi tidak mungkin pelaku membiarkan Dion terkunci begitu saja disini.
"Masih kurang tersembunyi," pikir Emma.
Lalu, sorot mata Emma kembali mencari tempat yang sesuai dengan kriteria TKP.
Sampai ia menemukan pintu tak berdaun. Pintu itu terlihat sangat tidak layak. Catnya mengelupas, dan ada bagian kayunya yang patah. Bahkan, Emma awalnya mengira pintu itu hanya pintu yang disandarkan tanpa ada ruangan dibaliknya.
"Engh....."
Emma berusaha menarik pintu itu, tapi pintunya tidak bergeser sedikitpun. Barulah ia sadar kalau sisi atas dan samping pintu telah terpaku.
"Aduh, gimana ini! Apa aku minta tolong Levi saja ya," lalu Emma menggeleng. Rencana itu sangat buruk karena dia tidak tahu hubungan apa Levi dengan kasus ini. Menyimpannya untuk diri sendiri adalah pilihan yang tepat.
Emma melihat sekeliling untuk mencari benda yang bisa membantunya membuka setiap paku yang tertancap. Lalu matanya tertuju pada palu besar di sampingnya.
"Kalau aku tidak bisa membuka pakunya, aku rusak saja pintu ini," gumamnya.
Namun tangannya terhenti ketika ia mendengar gemerincing suara kunci yang digoyangkan.
Untuk menghindari kecurigaan, ia turunkan palunya dan berlari mengambil tumpukan tali yang diberikan Levi kepadanya lalu pergi keluar gudang.
"Pak Martin?"
Emma akhirnya mengetahui sumber suara gemerincing itu berasal.
"Oh Bu Emina ternyata disini, Pak Levi tadi mencari Ibu lho. Kayaknya takut Bu Emina hilang, hehe." canda Pak Martin Guru Matematika yang juga ikut mengampu ekskul pramuka bersamanya.
"Ah iya, ini saya baru mau ke Aula. Tadi talinya agak terbelit. Jadi aku benerin sebentar," jawab Emma dengan senyum alakadarnya.
"Hati-hati lho bu, disini banyak hantu yang suka culik orang!" Tiba-tiba Pak Martin berbisik membuat udara disekitar menjadi dingin.
"Kamu tahu kan bu, disini memang tempat yang tepat untuk menyembunyikan seseorang."
kedua, kamu gak perhatiin dia dulu
lucu 😁 gk tau salahnya dimana...
apa mungkin levi ini sukanya sama Emina
gitu...