NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Tahun 1970 Berbekal Game Pertanian

Terlempar Ke Tahun 1970 Berbekal Game Pertanian

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Kainara Seroja Putri tidak pernah menyangka kematian akan membawanya kembali ke tahun 1972, terbangun dalam tubuh Seroja Ningsih, gadis desa lemah yang baru saja dibuang oleh ayah kandungnya sendiri.

Dengan bekal sistem game pertanian dan pengetahuan dari masa depan, Seroja harus menghidupkan tanah kapur tandus yang dianggap tidak berguna, mencari jalan untuk bertahan hidup, serta mengembalikan harga diri ibunya yang telah diinjak-injak.

Namun, ketika tanah buangan itu perlahan berubah menjadi sumber kekayaan, Seroja justru menarik perhatian orang-orang yang selama ini menyembunyikan rahasia kelam keluarganya. Sebuah rahasia yang dapat mengubah hidupnya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Mulai Berdatangan

"Tambah lagi sawinya, Pak Kumis! Kuahnya jadi lebih enak. Batangnya juga renyah!"

Suara seorang kuli panggul memecah riuh warung tenda di pojok pasar. Pria berlengan legam itu menyodorkan mangkuk kosong sambil tersenyum puas. Kepuasannya membuat beberapa pelanggan lain ikut penasaran.

Di balik asap tungku arang, Pak Kumis tertawa lebar. Sudah dua hari ia memakai sawi dari Seroja untuk campuran mie rebusnya. Ia kembali memasukkan potongan sawi ke dalam panci kaldu sapi yang mendidih. Aroma gurih kuah daging bercampur wangi sayur segar menyebar ke sekitar warung.

Seroja berdiri di emperan los sayur, memperhatikan keadaan dengan tenang. Rencananya berjalan seperti yang ia harapkan.

Ibu-ibu yang kemarin masih takut pada centeng Supri kini mulai berdatangan ke lapaknya. Mereka sibuk memilih sawi segar tanpa lagi memedulikan tatapan para preman di sudut pasar.

"Lima belas rupiah, Bu," ucap Bagas ramah sambil menyerahkan ikatan sayur.

"Mahal sedikit tidak apa-apa, Nak. Sayur di los depan sudah layu, daunnya banyak yang bolong dimakan ulat," jawab ibu itu sambil menyerahkan uang logam kusam.

Uang koin dan lembaran rupiah kecil berpindah cepat ke tangan Danu. Pria kekar itu duduk di belakang lapak, memasukkan setiap uang ke dalam tas kain lusuhnya.

Tangannya yang biasa menggenggam cangkul bergetar halus.

Danu mengusap sudut matanya. Ia tidak pernah membawa pulang uang sebanyak ini dari hasil bertani sendiri. Selama ini, upah buruhnya selalu habis untuk kebutuhan sehari-hari. Kini, tas kain di tangannya berisi hasil kerja yang bisa mengubah keadaan keluarganya.

"Mas Danu, simpan tasnya di balik baju," bisik Seroja sambil merapikan alas daun pisang yang mulai kosong.

Suara gebrakan meja kayu mendadak menghentikan tawa Bagas. Tiga pria bertubuh gempal berdiri di depan lapak mereka. Kemeja mereka tampak lusuh, bau tembakau dan keringat menyengat dari tubuh mereka.

"Jualan kalian laris, ya. Buka lapak di sini harus bayar uang kebersihan pasar!" bentak pria berkumis lele di tengah. Matanya melirik ke arah Danu, tepat ke tempat uang itu disembunyikan.

Danu langsung berdiri menutupi Seroja dan Bagas. Urat lehernya menegang.

"Kami sudah bayar retribusi di pintu masuk tadi pagi!"

"Bayaran itu buat pasar, bukan buat Kang Supri. Kalian jualan laris di sini, berarti bawa pulang uang banyak. Serahkan hasil jualan kalian, atau keranjang ini saya hancurkan!"

Pria itu mengangkat kaki bersandal karetnya ke atas keranjang bambu milik Bagas.

Dada Bagas naik turun menahan amarah. Danu melangkah maju, tangannya mengepal siap menghantam pria berkumis lele itu.

Seroja segera menahan lengannya.

Melawan tiga preman pasar hanya akan membuat keadaan semakin buruk. Danu bisa dikeroyok, dituduh membuat keributan, lalu uang mereka dirampas.

Seroja maju selangkah dan menatap pria itu tanpa gentar.

"Kami datang untuk dagang, bukan cari masalah. Uang ini buat beli obat asma nenek kami," ucap Seroja tenang.

"Aku tidak peduli nenekmu sakit atau mati sesak napas! Serahkan tas itu!"

Pria berkumis lele mengulurkan tangan hendak meraih baju Danu.

Seroja tidak mundur. Ia menarik napas, lalu berteriak sekeras mungkin hingga suaranya terdengar ke seluruh pasar.

"Pak Mantri! Tolong ke sini, Pak Mantri! Ada orang mau merampas uang retribusi kami!"

Teriakan Seroja membuat orang-orang di sekitar los menoleh. Pria berkumis lele itu terkejut. Wajahnya berubah panik. Ia tidak menyangka gadis desa itu berani membuat keributan di tengah pasar.

Seroja tidak berhenti sampai di sana. Ia berbalik, merogoh dasar keranjang bambu, lalu mengambil lima ikat sawi yang daunnya sedikit rusak saat dipanen.

Gadis itu berjalan cepat ke arah para kuli panggul yang sedang duduk minum kopi di dekat lapaknya.

"Bapak-bapak, bawa saja sayur ini untuk lauk di rumah. Gratis," seru Seroja sambil menyodorkan ikatan sawi itu.

Para kuli panggul yang sejak tadi melihat keributan langsung menerima pemberian tersebut. Mereka tahu bagaimana rasanya ditekan orang-orang suruhan Supri.

Lima pria bertubuh kekar itu bangkit berdiri. Mereka berjalan mendekat dan berdiri di belakang Danu dan Bagas. Tangan mereka masih menggenggam pikulan bambu, tetapi sorot mata mereka sudah cukup membuat suasana berubah.

Pria berkumis lele menelan ludah. Ia mundur sedikit. Menghadapi Danu saja belum tentu mudah, apalagi sekarang ada lima kuli panggul di belakangnya.

Dari ujung lorong pasar, seorang pria berseragam khaki berlari kecil menerobos kerumunan. Mantri pasar datang dengan napas terengah dan wajah kesal. Tongkat rotan pendek masih tergenggam di tangannya.

"Ada apa ribut-ribut di los saya?" bentaknya sambil berdiri di antara kedua pihak.

Seroja menatapnya sopan.

"Kami petani kecil, Pak. Sudah bayar retribusi di loket. Tapi mereka minta uang lagi dengan alasan kebersihan pasar. Kami cuma mau jualan dan beli beras."

Mantri pasar menatap tiga centeng itu. Ia tahu Supri punya pengaruh besar di kecamatan ini, tetapi membiarkan pemerasan terjadi terang-terangan di depan pedagang dan pembeli bisa membuat masalah besar baginya.

"Pergi kalian," usirnya. "Jangan bikin keributan di pasar ini."

"Tapi, Pak Mantri, Kang Supri bilang—"

"Aku bilang pergi! Atau kalian saya bawa ke pos polisi sekarang!"

Ia mengangkat tongkat rotannya, membuat ketiga pria itu terdiam.

Mereka bertiga mendecak kesal. Tatapan penuh kebencian mereka berhenti pada Seroja dan Danu sebelum akhirnya berbalik pergi meninggalkan pasar.

Suasana tegang perlahan mereda. Para kuli panggul kembali duduk di warung kopi sambil membawa sawi pemberian Seroja. Danu mengembuskan napas panjang, melepaskan ketegangan yang sejak tadi menahan tubuhnya.

Mantri pasar menepuk celana khakinya yang terkena lumpur. Ia menatap Bagas yang masih memegang keranjang kosong.

"Kalian memang lolos hari ini, Le," katanya pelan. "Tapi jangan kira urusan ini selesai. Besok mereka bisa mencari kalian di jalan."

Bagas mengerutkan dahi. "Maksud Bapak?"

"Orang seperti Supri tidak suka dipermalukan. Hati-hati kalau pulang."

1
watno antonio
yang banyak punya thor
Miaaaoowww😸
tumben kk ceritanya update 1 biasanya banyak😘😘😘, sehat2 y kk authorrrr
vania larasati
lanjut
Fauziah Daud
trusemangattt
Fauziah Daud
hadir thor
INeeTha: Makasih kaka🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!