Aku dijodohkan dengan seorang kapten tentara. Masalahnya, pria itu terlihat lebih cocok menikah dengan jadwal tugasnya daripada denganku.
Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan 🙏 Selamat membaca 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taraline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Hujan rintik-rintik yang membasahi asrama pagi itu terasa seperti ribuan jarum es yang menusuk kulit, namun Cia tidak merasakan dinginnya sama sekali. Seluruh saraf perasanya terpusat pada selembar kertas catatan militer di tangannya yang bergetar hebat.
MASIH HIDUP.
Dua kata. Sepuluh huruf.
Air mata Cia menetes, membaur dengan tinta hitam di atas kertas tersebut, membuat garis-garis hurufnya sedikit meluber. Namun maknanya justru semakin tercetak jelas di dasar hatinya.
Ren-nya masih bernapas. Pria kaku yang selalu menyembunyikan kehangatannya di balik seragam loreng itu belum menyerah pada takdir. Ia masih berjuang di luar sana, di tengah hutan belantara, di bawah todongan senjata musuh.
"Dia masih hidup, Om," bisik Cia parau, mengangkat kepalanya menatap Jenderal Arman. Sebuah senyum getir, perpaduan antara kelegaan yang tak terlukiskan dan rasa perih yang menyayat, merekah di bibir pucatnya. "Dia nepati janjinya."
Jenderal Arman mengangguk pelan. Rahang perwira tinggi itu mengeras, menahan luapan emosi yang nyaris meruntuhkan wibawanya. "Intelijen menyimpulkan, Ren sengaja membiarkan dirinya ditawan untuk mengulur waktu dan mencari titik buta pertahanan separatis. Sifat aslinya... dia tidak akan pernah mau menjadi beban operasi. Dia sedang mencari jalan pulang, Almeera."
Ayah Cia melangkah maju, memegang bahu putrinya dengan lembut namun tegas. "Cia, Sayang. Karena sekarang kita sudah tahu Ren masih hidup, operasi ini akan berubah menjadi misi penyelamatan rahasia yang mungkin memakan waktu lebih lama. Kamu pulang ke apartemen sama Papa dan Mama, ya? Jangan sendirian di sini. Kondisimu sudah terlalu kacau."
Ibu Cia ikut menggenggam tangan putrinya, terisak pelan. "Iya, Nak. Biar Mama bisa rawat kamu. Kamu sampai kurus begini. Ren pasti sedih kalau pulang lihat istrinya sakit."
Cia menatap kedua orang tuanya. Tawaran itu begitu menggiurkan. Kembali ke kamar lamanya yang hangat, mencium aroma masakan ibunya setiap pagi, dan melarikan diri dari kesunyian asrama yang memekakkan telinga ini.
Gadis itu menoleh ke arah pintu rumah dinasnya yang terbuka. Ia melihat ruang tengah yang kosong, meja makan tempat mereka terakhir kali duduk bersama, dan sweter Ren yang tersampir di sandaran kursi.
Cia merapatkan matanya sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu meremas kertas sandi morse itu ke depan dadanya, tepat di atas dog tag milik Ren.
"Maaf, Pa, Ma," ucap Cia pelan, namun suaranya kini tidak lagi bergetar. Ada ketegasan baru yang mengalir di sana. "Cia nggak mau pulang."
Kedua orang tuanya terperanjat. "Cia..."
"Rumah Cia di sini," lanjut gadis itu, menatap lurus ke mata ayahnya. "Ren berjuang setengah mati di pedalaman sana buat bertahan hidup. Kalau Cia nyerah dan lari pulang ke kenyamanan apartemen Papa, Cia nggak pantes pakai kalung ini. Cia akan tunggu Ren di asrama. Sebagai istrinya."
Jenderal Arman menatap menantunya dengan pandangan yang sulit diartikan. Selama ini, ia selalu menganggap Almeera Cia hanyalah seorang gadis muda dari kalangan sipil yang mungkin akan hancur pada ujian pertama kehidupan militer. Namun hari ini, melihat tekad baja di mata gadis itu, sang Jenderal akhirnya mengerti mengapa Ren malam itu bersedia menerima perjodohan ini tanpa banyak perdebatan.
Ren tahu, gadis ini memiliki kekuatan yang setara dengannya.
"Baiklah," putus Jenderal Arman, suaranya berat dan penuh rasa hormat. "Saya akan menempatkan dua provost untuk berjaga secara shift di dekat rumah ini demi keamananmu, Almeera. Kami akan mengerahkan pasukan khusus untuk menyusul tim Ren. Doakan suamimu."
Dua minggu berlalu sejak penemuan pesan sandi tersebut.
Dunia perlahan kembali berputar, dan kali ini, Cia menolak untuk terseret arus keputusasaan. Kabar bahwa Ren masih hidup menjadi bahan bakar yang menyalakan kembali mesin kehidupannya.
Di rumah sakit, Cia bukan lagi dokter muda yang sering mengomel saat kelelahan. Ia berubah menjadi sosok yang jauh lebih tenang, fokus, dan sangat efisien. Gerakannya di IGD lebih taktis. Ia menangani pasien trauma dengan kepala dingin yang sering kali membuat Rania dan residen lainnya kagum. Tanpa ia sadari, Cia mulai mengadopsi ketenangan suaminya.
Di asrama, dinamika juga berubah.
Sikap dingin Ibu Rima dan ibu-ibu Persit lainnya menguap tak bersisa. Mereka tak lagi melihat Cia sebagai dokter muda yang menyepelekan aturan, melainkan sebagai istri dari seorang Komandan Kompi yang sedang mempertaruhkan nyawa, dan menghadapinya dengan ketegaran yang luar biasa.
Suatu sore, saat Cia sedang menjemur pakaian di halaman belakang, Lettu Maya muncul di balik pagar pembatas rumah mereka.
Wanita berseragam loreng itu membawa sebuah rantang aluminium. Wajahnya terlihat canggung, sebuah ekspresi yang sangat tidak cocok dengan postur tegapnya.
"Mbak Cia," panggil Maya pelan.
Cia menoleh, menjepit sehelai kemeja di tali jemuran, lalu tersenyum tipis. "Ya, Mbak Maya? Ada apa?"
Maya menyodorkan rantang itu melewati pagar. "Ini... ada sedikit opor ayam. Kemarin saya masak agak banyak. Ibu Rima bilang, Anda jarang kelihatan belanja sayur. Kalau cuma makan mi instan atau delivery, nanti daya tahan tubuh Anda turun."
Cia mengerjap, sedikit terkejut. Wanita yang dulu menyindirnya secara terang-terangan di hari pernikahannya, kini membawakannya makanan.
"Wah, makasih banyak, Mbak," Cia menerima rantang itu dengan tulus. Hatinya menghangat. "Kebetulan saya baru mau masak telur dadar. Opornya pasti enak banget."
Maya berdeham, menatap ujung sepatu larasnya. "Kami dengar soal penemuan sandi morse itu. Anggota kompi kembali bersemangat, Mbak. Kami semua... mendoakan yang terbaik untuk Kapten."
"Amin. Makasih ya, Mbak Maya," jawab Cia lembut. Ia menatap mata Maya. Di sana, tak ada lagi kilat persaingan. Yang ada hanyalah solidaritas dan pemahaman bisu antara dua wanita yang hidupnya terikat pada institusi berseragam ini.
Hari-hari berikutnya terasa seperti menarik karet gelang hingga batas maksimalnya. Setiap pagi Cia bangun dengan harapan hari ini adalah harinya. Dan setiap malam ia tidur dengan doa agar esok akan lebih baik.
Jumat siang, rumah sakit sedang berada pada jam sibuknya. Cia baru saja selesai melakukan penjahitan luka robek pada lengan seorang pekerja konstruksi di bilik IGD. Ia melepas sarung tangan medisnya yang bernoda darah, mencuci tangannya di wastafel, dan mengelap dahinya yang berkeringat.
"Ci, tolong acc resep untuk pasien bed tiga, ya," seru Nayla yang berlari kecil melewatinya.
"Siap, bentar," Cia mengeringkan tangannya. Ia baru saja akan melangkah menuju nurse station ketika suara pengumuman dari pengeras suara rumah sakit berbunyi nyaring, memotong segala hiruk-pikuk.
"Perhatian, kepada seluruh tim trauma dan dokter bedah yang bertugas. Code Red. Persiapan evakuasi medis udara. Helikopter mendarat dalam tiga menit. Siapkan ruang resusitasi utama."
Suasana IGD yang sudah sibuk seketika berubah menjadi medan perang. Perawat berlarian menyiapkan brankar, tabung oksigen mobile, dan seperangkat alat kejut jantung. Rania muncul dari balik pintu ruang operasi minor, wajahnya tegang.
"Evakuasi medis militer dari pangkalan udara," ucap Rania cepat, menatap Cia dan beberapa dokter muda lainnya. "Korban luka tembak dan trauma multipel. Cia, Nayla, ikut aku ke selasar arah helipad sekarang!"
Jantung Cia berdentum keras, sekeras baling-baling helikopter yang suaranya kini mulai terdengar mencacah udara di atas atap rumah sakit. Evakuasi medis militer?
Pikiran Cia langsung melayang ke pedalaman. Ke titik operasi di mana suaminya berada. Keringat dingin seketika membasahi punggungnya. Bukan Ren. Tolong, Tuhan, jangan dia.
Cia berlari mengikuti Rania menyusuri lorong panjang menuju pintu akses darurat di dekat area helipad. Angin kencang dari baling-baling helikopter Bell 412 bercat doreng menerbangkan debu dan jas putih mereka begitu pintu ganda dibuka. Suara bising mesin memekakkan telinga.
Dua paramedis militer langsung melompat turun dari badan helikopter, menarik sebuah brankar lipat dengan sangat cepat.
"Luka tembak di abdomen kuadran kanan atas! Tekanan darah 80/50, tachycardia! Sempat mengalami henti napas di udara, sudah diintubasi!" teriak salah satu paramedis militer mengalahkan suara baling-baling.
Rania, Cia, dan tim IGD langsung mengambil alih brankar tersebut sambil berlari mendorongnya masuk ke dalam gedung.
Cia berada di sisi kiri brankar. Matanya fokus memantau selang infus yang terpasang di lengan korban, memastikan alirannya lancar. Namun, ketika brankar melewati area lorong yang terang benderang, pandangan Cia tak sengaja jatuh pada wajah pasien tersebut.
Langkah Cia nyaris tersandung kakinya sendiri. Tangannya yang memegang pinggiran brankar menegang hebat.
Pasien yang terbaring kritis dengan seragam PDL yang sudah digunting dan berlumuran darah itu... adalah Letnan Bima.
"B-Bima..." gumam Cia tertahan. Napasnya tercekat. Bima adalah perwira yang bertugas mengoordinasikan bantuan komunikasi di basecamp terdekat dengan titik operasi Ren. Kenapa Bima bisa terluka separah ini? Apakah pangkalan bantuan ikut diserang?
Atau... Bima ikut dalam misi penyelamatan Ren?
"Fokus, Cia! Jangan melamun!" teguran keras Rania menarik Cia kembali ke dunia nyata. "Siapkan akses vena sentral, kita butuh jalur darah cepat!"
Mereka mendobrak pintu ruang resusitasi. Selama empat puluh lima menit berikutnya, Cia bekerja secara mekanis. Tangannya berlumuran darah sahabat suaminya sendiri. Ia menekan luka, membantu Rania memasang chest tube, dan memantau monitor vital sign yang terus-menerus berbunyi panik.
"Tekanan darah perlahan naik, 100/60. Pendarahan internal dari liver bisa dikontrol sementara. Siapkan pasien untuk ruang operasi (OK), cito!" Rania memberikan instruksi terakhirnya.
Saat perawat mulai membereskan jalur-jalur selang untuk memindahkan brankar, Cia berdiri kaku di sudut ruangan. Napasnya terengah-engah, jas putihnya kembali menjadi saksi bisu kejamnya dunia militer.
Tiba-tiba, tangan Bima yang sedari tadi terkulai lemas di sisi brankar, bergerak sedikit. Kelopak matanya yang dipenuhi memar terbuka setengah. Matanya yang sayu mencari-cari ke sekeliling ruangan yang terang benderang, sebelum akhirnya terkunci pada sosok Cia yang berdiri tak jauh darinya.
Di balik masker oksigennya, Bima mencoba berbicara. Napasnya berbunyi serak dan basah.
Cia menyadari hal itu. Instingnya mendorongnya melangkah maju, mendekatkan telinganya ke wajah Bima, mengabaikan perawat yang memintanya menyingkir.
Tangan Bima yang penuh darah mengangkat dengan susah payah, jari-jarinya yang gemetar meraih ujung jas putih Cia dan mencengkeramnya erat-erat, seolah takut gadis itu akan pergi.
"L-Letnan Bima... jangan banyak bicara dulu," bisik Cia dengan suara bergetar, menahan air matanya agar tidak jatuh di depan pasien.
Bima menggeleng lemah. Dari balik masker oksigen yang berembun, suara parau dan patah-patah itu keluar, membawa sebuah pesan yang membuat seluruh aliran darah Cia berhenti berdesir.
"Mbak... Cia..." napas Bima tersengal hebat. "D-di lembah utara... kami... nemuin dia..."
Mata Cia membelalak sempurna. "Bima? Maksudmu..."
Bima menarik napas dangkal dengan susah payah, matanya menatap Cia dengan keputusasaan yang merobek hati.
"Kapten Ren... dia..." Pegangan Bima pada jas putih Cia melemah. Matanya bergulir ke atas, dan tubuhnya kembali terkulai tak sadarkan diri tepat saat mesin monitor kembali berbunyi panjang dan melengking.
Garis di monitor EKG mendadak berubah menjadi lurus.
"Pasien cardiac arrest! Siapkan defibrillator sekarang! Cia, minggir!" teriak Rania panik, mendorong Cia menjauh dari brankar.
Cia terhuyung mundur hingga punggungnya menabrak dinding dingin ruang resusitasi. Ia berdiri mematung, menatap kekacauan di depannya dengan pandangan kosong. Jantungnya berdetak gila-gilaan, menulikan telinganya dari suara alat pacu jantung dan teriakan tim medis.
Di lembah utara... kami nemuin dia.
Kalimat menggantung Bima berputar-putar di kepalanya bagai kaset rusak. Apa yang mereka temukan? Ren yang masih hidup? Atau...
Untuk pertama kalinya sejak sandi morse itu ditemukan, Cia merasakan teror yang jauh lebih pekat dan mematikan merayap masuk ke dalam relung hatinya yang paling gelap.