NovelToon NovelToon
Unexpected Scenario

Unexpected Scenario

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:584
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

❣️ Update : 19.00 WIB ❣️

Bagaimana jika skenario hidup yang selama ini kamu anggap menyedihkan ternyata adalah skenario terindah yang Tuhan siapkan untukmu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13 - Almost

Sudah satu bulan berlalu sejak aku dan Javier melihat rumah yang akan kami tinggali.

Dan sekarang kami menuju tempat yang beberapa waktu lalu bahkan tak pernah kubayangkan akan kudatangi.

KUA.

Kami akan mendaftarkan pernikahan kami dan pernikahan itu akan dilaksanakan bulan depan.

Entah kenapa waktu terasa berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku wisuda, tapi sekarang aku sudah harus masuk ke fase baru dalam hidupku. Fase yang masih terasa abu-abu bagiku.

Kulirik Javier yang tampak biasa saja. Seperti biasa, ia fokus menyetir sambil sesekali mengetukkan jarinya pelan di setir mobil.

“Mas...” panggilku.

“Hm?” gumamnya tanpa menoleh.

“Kamu kok biasa aja sih? Tenang banget. Kita mau ke KUA, lho. Mau daftar nikah.”

Javier malah terlihat santai.

“Aku harus gugup gitu? Kan cuma daftar nikah aja.”

Cuma?

Aku mendecakkan lidah pelan lalu memalingkan wajah ke jendela. Malas bicara dengannya.

“Nay...” panggil Javier lagi.

Aku tetap menatap keluar jendela.

“Besok kita ke makam mamaku, ya.”

Aku langsung menoleh ke arahnya.

“Sebelum kita nikah aku mau kenalin kamu ke Mama.”

Nada suaranya terdengar santai, tapi entah kenapa aku merasa ada kesedihan kecil yang ia sembunyikan di balik kalimat itu.

“Ya,” jawabku pelan.

“Lalu lusa kita beli perabotan rumah.”

Hah?

Barusan suasananya menyentuh, kenapa sekarang malah seperti ini lagi?

“Mas...” aku menatapnya tidak percaya. “Kenapa sekarang kamu udah kayak suami aku sih? Nyuruh ini-itu.”

“Lha kan emang aku mau jadi suami kamu.”

“Baru mau jadi suami." ucapku.

“Aku cuma suka semuanya jelas dan terencana,” ucapnya santai. “Lagian kita memang harus beli perabotan rumah, kan?”

Aku langsung menghela napas panjang.

“Ya Allah... kenapa aku harus menikah dengan laki-laki seperti ini?”

“Hei...” Javier menoleh sekilas ke arahku. “Apa maksud kamu ‘laki-laki seperti ini’?”

Aku kembali mendesah kesal.

“Laki-laki yang nggak pernah nanya aku dulu sebelum mutusin sesuatu.”

Javier diam beberapa detik. Tatapannya kembali lurus ke jalan sebelum akhirnya ia bicara lagi.

“Terus maumu gimana?” tanyanya santai. “Nikah sama cowok Korea gitu?”

Aku langsung menoleh kesal.

“Nggak. Siapa juga yang pengen kayak gitu?”

“Kamu kan pecinta Korea.”

Aku langsung mengepalkan tangan gemas.

“야... 너 내가 무슨 여자인 줄 알아? (Hei... kamu pikir aku cewek apaan?)” gumamku lirih dengan nada kesal.

“Kamu ngomong apa sih?” Javier mengernyit. “Ngomong pakai bahasa yang aku ngerti kenapa?”

Aku mendecakkan lidah malas.

Javier malah menghela napas panjang dramatis.

“Astaga... gimana kehidupan pernikahanku nanti kalau aku nikah sama kamu?”

“Ya udah, jangan nikah sama aku.” ucapku cepat.

“Maunya sih gitu,” gumam Javier santai sambil tetap fokus menyetir. “Tapi sayangnya aku udah terlanjur mau nikah sama kamu.”

Aku langsung menoleh tajam.

“Kamu mau nikah sama aku biar bisa keluar dari rumah, kan? Aku cuma dijadiin alat supaya kamu bebas. Iya, kan?”

“Hei!” Javier langsung protes. “Aku nggak sejahat itu, ya.”

“Tapi dari cerita kamu arahnya ke situ.”

Javier menghela napas panjang sambil kembali fokus ke jalanan.

“Terserah kamu lah mau mikir aku kayak gimana.”

Mobil sempat hening beberapa detik.

Entah kenapa tiba-tiba aku merasa perlu meluruskan sesuatu juga.

“Mas...” panggilku pelan.

“Hm?”

“Meskipun aku pecinta Korea, suka banget sama Lee Jun-ha, ngehaluin dia juga... itu cuma sebatas fans ke idola aja, nggak lebih.”

Javier melirikku sekilas tapi tidak menyela.

“Dan karena aku suka aktor Korea bukan berarti aku pengen nikah sama orang Korea,” lanjutku. “Kebanyakan orang Korea kan nonmuslim. Aku maunya dibimbing, bukan membimbing.”

Javier mendengus pelan lalu tersenyum kecil.

“Kamu emang beda, ya. Dan ternyata masih sadar diri sama masih waras juga.”

Aku langsung menoleh tajam.

“Hei! Apa maksud kamu? Kamu pikir selama ini aku gila?”

“Kamu yang ngomong gitu, bukan aku.”

Aku makin kesal lalu spontan mencubit lengan Javier.

“Ihh, Mas Vie...”

“Aw!” Javier langsung mengaduh. “Apaan sih kamu, Nay? Kenapa malah cubit aku?”

“Ya kamu ngomong gitu.”

“Ngomong apa? Aku nggak ngomong apa-apa.”

Aku mendecakkan lidah kesal lalu menyandarkan kepala ke jendela.

Beberapa detik kemudian Javier kembali bicara.

“Eh, Nay...”

Aku tidak menoleh.

“Apa?”

“Tadi kamu manggil aku apa?”

Aku langsung membuka mata lebar.

“Manggil apa? Aku nggak manggil apa-apa.”

“Tadi kamu manggil aku ‘Mas Vie’.”

Ah.

“Itu keluar sendiri aja,” gumamku cepat. “Lagian nama kamu susah.”

“Susah gimana? Cuma Javier.” Javier terkekeh kecil. “Kalau itu susah kamu bisa panggil Javi kayak orang-orang.”

“Nggak ah. Mas Vie aja lebih gampang.” Aku kembali menyandarkan badan ke kursi. “Lagian biar kamu inget kalau yang manggil kayak gitu berarti aku.”

Javier tersenyum miring.

“Oh... jadi kamu mau dianggap spesial sama aku?”

Hah?

“아니! 네가 누군데? (Nggak! Emang kamu siapa?)” protesku cepat.

“Apa?”

Aku pura-pura tidak dengar lalu kembali menatap jalanan di luar jendela.

“Hei, kalau suami tanya dijawab dong.”

Suami?

Aku langsung menoleh.

“네가 내 남편 아니야. (Kamu bukan suamiku.)”

“Apa?” Javier mengernyit lagi.

“You are not my husband.”

Javier malah tersenyum santai.

“Not ‘not.’ Just ‘not yet.’”

Aku malas menanggapinya lagi. Aku kembali diam sambil menatap jalanan. Javier pun tidak bicara lagi.

Beberapa menit kemudian mobil memasuki halaman kantor urusan agama. Kulihat beberapa motor dan mobil sudah terparkir rapi di sana. Sepertinya milik staf dan para pengunjung.

“Ayo,” ucap Javier setelah mematikan mesin mobil.

Kami turun dari mobil lalu berjalan berdampingan sambil membawa map berisi berkas-berkas yang diperlukan.

Begitu masuk, aku langsung melihat cukup banyak orang di dalam sana.

Aku dan Javier mengambil nomor antrean lalu duduk di kursi tunggu baris kedua.

Dari tempat dudukku, aku bisa mendengar beberapa pasangan sedang mengobrol antusias. Ada yang membahas konsep pernikahan, lokasi foto prewedding, sampai rencana bulan madu mereka.

Sepertinya semua orang benar-benar menyambut fase baru dalam hidup mereka dengan bahagia.

Berbeda denganku.

Mereka mungkin menikah karena cinta. Sedangkan aku?

Mungkin kalau aku menikah dengan laki-laki yang benar-benar kusukai, aku juga akan seantusias mereka.

Tapi nyatanya tidak.

Entah apa sebenarnya yang Tuhan rencanakan untukku.

Selama menunggu, aku dan Javier sama-sama diam. Aku sibuk melihat media sosial di ponselku sementara Javier sesekali membalas pesan dari seseorang.

Aku juga tidak tahu harus membicarakan apa dengannya.

Atau lebih tepatnya... aku sedang malas bicara dengannya.

Beberapa menit kemudian nomor antrean kami dipanggil.

Aku dan Javier segera bangkit lalu berjalan menuju salah satu meja petugas.

“Selamat pagi. Ada yang bisa dibantu?” tanya petugas ramah.

“Kami mau daftar nikah, Pak,” jawab Javier.

“Oh, baik. Berkasnya sudah lengkap?”

Aku dan Javier mengangguk lalu menyerahkan map berisi dokumen kami.

Petugas itu mulai memeriksa satu per satu berkas di depannya.

“Nama calon mempelainya Javier Aditya Permana dan Naya Arletta, betul?”

“Betul, Pak,” jawab Javier.

“Rencana akadnya tanggal berapa?”

“Tanggal sembilan belas bulan depan, Pak.”

“Akadnya di rumah atau di KUA?”

“Di rumah.”

Petugas mengangguk kecil sambil terus membaca berkas.

“Baik. Berarti nanti penghulu datang ke lokasi, ya.”

“Iya, Pak.”

Beberapa detik kemudian petugas kembali berbicara.

“Fotokopi KTP dan KK-nya sudah ada. Surat pengantar dari kelurahan juga lengkap.”

Aku dan Javier kembali mengangguk.

“Untuk wali dan saksi nanti sudah siap?”

“Sudah, Pak.”

“Baik. Nanti seminggu sebelum hari H bisa dikonfirmasi lagi, ya.”

“Iya, Pak.”

Petugas lalu mengambil beberapa lembar formulir dan meletakkannya di depan kami.

“Silakan isi data diri terlebih dahulu di sini. Nanti tanda tangan di bagian akhir, ya.”

Aku dan Javier mengangguk pelan.

Aku menatap formulir di depanku cukup lama. Banyak sekali bagian yang harus diisi.

“Banyak juga yang harus diisi ya, Pak” gumamku pelan.

Petugas itu tersenyum kecil.

“Ya memang seperti ini, Mbak, kalau mau daftar nikah. Datanya harus diisi lengkap untuk memastikan identitas calon pengantin benar, untuk arsip negara juga, dan untuk mengetahui calon pengantinnya sudah pernah menikah atau belum.”

Aku langsung menoleh ke Javier.

“Kenapa?” tanyanya sambil ikut menoleh kepadaku.

“Nggak apa-apa.”

“Ini pernikahan pertamaku, ya,” ucap Javier santai sambil mulai menulis di formulirnya. “Kamu wanita pertama yang aku nikahi.”

Petugas langsung tertawa kecil.

“Ya ampun, Mas-nya manis banget,” katanya sambil menoleh kepadaku. “Mbak pasti senang sekali ya?”

Aku langsung menoleh ke petugas.

“Tidak,” jawabku refleks.

Aku memang tidak senang.

Apalagi dengan pernikahanku dan Javier yang terjadi secepat ini.

Petugas itu langsung terdiam beberapa detik, terlihat bingung.

Javier pun ikut menoleh ke arahku dengan ekspresi terkejut.

Aku buru-buru tertawa kecil.

“Maksud saya tidak salah lagi,” ucapku cepat sambil menggaruk pelan pipi sendiri. “Tentu saja saya senang.”

Aku melirik Javier sekilas.

“Laki-laki seganteng dia mau menikahi saya yang nggak cantik ini.”

Petugas langsung tertawa kecil.

“Ah, Mbak bisa aja.” Ia tersenyum hangat. “Mbak cantik kok. Iya, kan, Mas?”

“Hah?” Javier yang tadi fokus membaca formulir langsung mengangkat kepala. “Oh... iya. Cantik.”

Aku langsung menatap Javier.

Entah kenapa aku mencoba mencari keseriusan dari wajahnya. Mencari apakah ucapan itu benar-benar tulus atau hanya basa-basi supaya petugas itu tidak curiga dengan hubungan kami.

Tapi wajah Javier terlalu sulit ditebak.

Ia ikut menatapku beberapa detik sebelum akhirnya berdeham kecil.

“Ehm... semua ini diisi semua ya, Pak?” tanyanya sambil mengalihkan pandangan ke petugas.

“Iya, diisi semua.”

Javier langsung mengangguk lalu kembali menulis. Aku pun ikut mengisi formulir di depanku.

Suasana kembali tenang. Yang terdengar hanya suara bolpoin dan obrolan pelan dari pasangan lain di sekitar kami.

Setelah semua selesai diisi, kami menyerahkan formulir itu kembali kepada petugas.

Petugas memeriksanya beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan.

“Baik, datanya sudah lengkap semua.” Ia menutup map dokumen kami. “Kalau ada perubahan data silakan dikabarkan sebelum hari H, ya.”

Aku dan Javier mengangguk bersamaan.

“Baik, semoga lancar sampai hari H.”

Aku hanya tersenyum kecil sementara Javier mengucapkan terima kasih pelan.

Tak lama kemudian kami pun keluar dari kantor KUA.

Begitu pintu kaca tertutup di belakang kami, aku langsung mengembuskan napas panjang.

“Akhirnya selesai juga,” gumamku. “Cuma daftar nikah aja ternyata banyak yang harus diisi.”

“Nay...”

Aku menoleh malas ke Javier yang berjalan di sampingku.

“Tadi akting kamu bagus banget.”

“Hah?”

“Kamu kayaknya cocok jadi aktor deh.” Javier menahan tawa kecil. “Kalau kamu jadi aktor pasti langsung dapet Piala Citra.”

Aku langsung mengernyit.

“Akting yang mana?”

Javier menirukan nada suaraku pelan.

“‘Tentu saja saya senang. Laki-laki seganteng dia mau menikahi saya yang nggak cantik ini.’”

Aku memutar bola mata malas.

“Oh... itu.” Aku mendengus kecil. “Biar petugasnya nggak nanya macam-macam dan biar dikira kita nikah karena cinta.”

“Hmm.. cerdas." Javier mengangguk pelan. “Ini pasti karena kamu kebanyakan nonton drakor.”

“Apa sih?” Aku langsung menoleh kesal. “Kenapa jadi bawa-bawa drakor lagi?”

Aku mempercepat langkah menuju mobil Javier.

“Udah ah, ayo pulang. Aku capek.”

Javier hanya tertawa kecil lalu mengikuti langkahku dari belakang.

Aku membuka pintu mobil sambil diam-diam melirik gedung KUA sekali lagi.

Aneh.

Beberapa minggu lalu aku bahkan tidak pernah membayangkan akan datang ke tempat itu bersama Javier. Tapi sekarang semuanya terasa berjalan begitu cepat, seolah hidupku sedang didorong masuk ke arah yang bahkan belum siap kuhadapi.

Dan yang paling aneh...

Di tengah semua kekacauan ini, aku perlahan mulai terbiasa berjalan berdampingan dengannya.

1
Mamah Dini11
sebenarny kmu itu nay oon atau loding sih bkn nya mulai menerima yg du otakmu cerai dan cerai aja gk punya frinsip banget. ,kan kmu itu pegawi bang ko sebodoh itu pemikiranmu. liat javer gk. kayak kmu Dia santai tenang gk mikirin hal2 aneh ,mungkin di pikirannya jalani aja dulu, nah kmu nay blm apa2 udh ribet pikiranmu .lanjut
Mamah Dini11
kok takut bknnya bagus., dan teganya javer biarkan kmu hujan2an,kalau dia. punya mobil kan bisa anterin kmu. jadi gk kehujanan , atau blm punya kali.
Mamah Dini11
kmu terlalu jauuuh mikirnya nay , coba mikirny yg positif2 aja biar ringan kedepan nya, ok. permisi thor ikutan ni..
Mamah Dini11
thor maaf setiap episodnya. bisa tambah bhs, indo. kuring ngerti aku mh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!