NovelToon NovelToon
Story Of Love

Story Of Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:301
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Nastiti

Restu orang tua memang satu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan, namun apa kita harus menerima begitu saja jodoh pilihan orang tua kita sementara hati kita sudah terpaut pada yang lain. Bisakah kita menjalani kehidupan jika bersama orang yang tidak kita inginkan. Namun, apa sudah jadi jaminan. Kita akan bahagia jika hidup bersama orang yang kita pilih?

layaknya permen nona-nona, ada pait.. asam.. manis... begitu pula hidup. Tinggal kita saja, mana yang kita pilih... itulah yang akan kita jalani.

Begitu pula jalan hidup dari seorang perempuan bernama Rani yang lengkap dengan lika liku hidup, up and down. Penasaran??? yuuuk ikuti kisah nya....


Selamat menikmati 😊semoga cocok di hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nastiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Disana ternyata sudah banyak teman-teman nya yang datang. Mereka berkumpul di satu meja yang sengaja dipanjangkan. Dia berkeliling berjabat tangan dengan teman-temannya sambil memperkenalkan aku. Setelah itu Bang Rengga menarik satu kursi untukku.

"Silahkan duduk cantik." ucapnya sambil tersenyum.

"Terima kasih, bang."

Lelaki itu mengangguk kemudian duduk di kursi yang ada di sebelahku. Kemudian dia lanjut ngobrol dengan salah seorang teman yang duduk di sebelah kanannya, tapi dia tetap menggenggam erat tanganku.

"Mau ambil makan sekarang?" tanya Bang Rengga beberapa saat kemudian.

"Terserah Abang aja." jawabku sambil mengalihkan tatapan dari benda pipih di tanganku ke wajah tampan Bang Rengga.

"Sekarang aja ya, habis itu langsung naik kasih selamat ke pengantin. Kan masih ada waktu tuh, jalan kemana gitu sebentar, mau nggak?"

"Emmm..... Boleh, tapi jangan lama-lama ya Bang. Paling nggak magrib di rumah."

"Hem.... Ya nggak keburu atuh Dek kalau magrib di rumah." jawabnya sambil bangkit dari duduk nya.

"Emang mau pulang jam berapa? Besok kan jalan-jalan to?"

"Heeem.... " jawabnya singkat.

"Haih.... Abang kenapa sekarang jadi ngambekan kayak bocah ya?" tanyaku sambil melemparkan senyuman.

"Abang tuh pengen terus bisa sama kamu, Dek," jawabnya.

Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah aneh lelaki yang saat ini berjalan di sampingku. Setelah mengambil beberapa menu prasmanan, kami mencari tempat kosong untuk makan.

Setelah makanan yang kami ambil habis, kami segera naik ke pelaminan untuk memberikan selamat pada kedua mempelai.

"weis.... Selamat ya, Bro.... Moga langgeng sampai kakek nenek, sampai maut memisahkan."

"Aamiin.... " jawab kedua mempelai itu.

"Sekalian, aku langsung pamit ya, Bro... " ucap Bang Rengga.

"Buru-buru amat! Mentang-mentang bawa cewek cantik nih kayaknya. Sombong amat, dikenalin juga enggak!" ucap si pengantin laki-laki

"Nggak gitu juga kali, Bro! Mau sekalian jalan, mumpung Ibu Negara ada waktu." jawab Bang Rengga sambil terkekeh.

"Alasan apa sih Bang, gak jelas banget!" ucapku.

Dia hanya tersenyum, "Ya udah ya, kami pamit dulu. Sekali lagi selamat ya," ucap Bang Rengga.

"Jangan cuman ngucapin selamat aja dong, Bro! Kapan target naik pelaminan buat nerima ucapan selamat?" ucap teman Bang Rengga.

"Nunggu Ibu Negara siap di bawa ke KUA." jawab Bang Rengga lalu tertawa sambil menatap ke arahku.

Aku hanya bisa geleng-geleng kepala menghadapi tingkah Bang Rengga yang semakin menjadi.

"Dah ya, kami pamit dulu," ucap Bang Rengga lalu meraih tangan ku kemudian menggenggam erat jemariku. Setelah itu, kami berjalan turun dari pelaminan, dan melangkah keluar dari gedung area pesta menuju ke parkiran motor.

Setelah memakai jaket dan helm, dan aku pun sudah ada di atas boncengan motor Bang Rengga.

"Mau langsung pulang apa jalan dulu sebentar?" tanya Bang Rengga.

"Pulang aja lah, Bang. Besok kan kita berangkat pagi. Katanya Abang mau ngajak aku touring."

"Oke deh, tuan putri. Langsung pulang ya!"

Setelah beberapa puluh menit membelah jalanan yang lumayan ramai dan macet, akhirnya kami sampai juga di rumah.

"Mampir dulu, Bang." ucapku basa basi.

"Iya lah, masak nurunin anak gadis orang di teras aja. Balikin lagi dong sama Ibunya. Tadi pas bawa kan ijin sama Ibu."

"Modus abang aja itu mah, bilang aja masih pengen lama-lama sama aku."

"Suka bener kalau nebak, emang nggak bisa pura-pura nggak paham gitu kalau Abang lagi modus!"

"Dah ah, buruan kalau mau masuk. Nggak usah tebar pesona! Tuh, anak tetangga pada ngintipin!" ucapku sambil menunjuk ke arah kanan dengan gerakan mata.

"Siap ndoro." jawabnya sambil turun dari motor lalu mengikuti langkahku.

Sampai di dalam rumah kulihat Ibu sedang duduk sambil memijat pelipisnya.

"Ibu kenapa, kurang sehat?" tanyaku setelah mengucapkan salam.

"Mbak, Putri... "

"Putri? Putri kenapa, Bu?"

Ibu terdiam, rupanya baru sadar jika ada Bang Rengga di belakang ku. Bang Rengga pun merasa canggung, hingga akhirnya pamit pulang.

"Bu, mau ijin langsung pamit pulang. Terimakasih tadi sudah ngijinin Rani nemenin saya kondangan. Sekalain mau minta ijin, besok mau ngajak Rani ikut touring sama teman-teman saya."

"Oooo... Iya.. Boleh. Asal Rani nya di jaga ya... Pulangnya juga jangan malam-malam."

"Iya, Bu. Ran, Abang langsung pulang aja ya... " pamitnya.

"Iya, Abang hati-hati pulangnya. Maaf, aku nggak ngantar ke depan ya... "

"Iya, kamu jagain Ibu ya.... Kalau butuh bantuan jangan sungkan telpon Abang."

Aku menganggukkan kepala, setelah itu lelaki tampan dengan badan tinggi tegap berkulit bersih itu berlalu. Tak lama terdengar seru mesin motor keluar dari halaman.

"Putri kenapa, Bu?"

"Putri pulang ke rumah neneknya, kayaknya tadi habis berantem sama adikmu."

"Pulang sendiri apa di antarin sama Azka?"

"Pulang sendiri, tadi Azka sudah berangkat kerja."

"Azka udah tahu?"

"Udah, tadi Ibu telpon ke Azka. Nanyain ada apa."

"Terus, Azka bilang ada apa?"

"Azka nggak jawab apa-apa, Mbak."

"Ya udah, Ibu istirahat aja. Nanti kalau Azka udah pulang, biar Mbak yang nanya pelan-pelan ya." ucapku karena aku tahu karakter Ibuku kalau bertanya pasti detail tanpa bisa melihat situasi lebih dulu.

"Mbak bersih-bersih dulu ya, Bu. Habis itu mau istirahat. ibu juga cepet istirahat ya... " ucapku pada Ibu. "Bapak kemana, Bu?" imbuhku karena belum melihat Bapak yang biasanya jam segini anteng di depan televisi melihat acara musik favoritnya. Tembang kenangan.

"Bapak ikut rombongan pengajian Bapak-bapak dapat undangan ke kampung sebelah."

"Ooo... Ya sudah, Mbak masuk dulu ya, Bu!"

Ibu hanya mengangguk, akupun segera melangkah masuk kamar. sekitar jam tujuh, kudengar suara motor Azka masuk halaman.

Kubiarkan dulu dia istirahat, sambil aku mengerjakan beberapa pekerjaan yang sengaja aku bawa pulang.

Setelah beberapa lama, baru aku keluar kamar. Kulihat Azka sedang santai di ruang tengah sambil main game.

"Dek! Udah makan?"

"Belum Mbak, lagi males!" jawabnya singkat.

"Putri belum pulang?"

"Nginep di rumah neneknya katanya tadi."

"Kalian berantem?"

"Mbak... Cari makan di luar yuk! Tapi mbak yang traktir ya.... Hehehe."

"Heeeem.... Dasar! Ya udah, Mbak ambil jaket dulu di kamar."

"Oke... Aku tunggu di depan ya,... "

"Iya!" jawabku lalu beranjak ke kamar mengambil jaket. Tak lupa kubawa dompet dan ponsel, lalu kemasukan dalam tas slempang kecil.

"Wuuuu iih...jaket baru nih.... " ujar Azka saat aku sudah berdiri di samping nya sambil memakai helm.

"Dikasih Bang Rengga, buat ikut touring besok."

"Bang Rengga emang sat set jadi cowok. Besok minta pajak jadian ah sama Bang Rengga."

"Eh, calon bapak... Masih aja jadi tukang palak... Siapa yang jadian?"

"Emang belum?"

"Orang Bang Rengga nggak ngajak pacaran...

Orang Bang Rengga ngajaknya langsung ke KUA!"

"Wuiiih.... Nggak kaleng-kaleng kalau ini mah Mbak... "

"Dah, buruan mau makan dimana? Terserah, asal jangan jauh-jauh. Mbak udah lapar banget!"

"Warung lesehan kita yang biasa aja ya!"

"Iya... Buruan!"

"Iya... Iya... "

Tidak butuh waktu lama, kami sudah sampai karena warung lesehan langganan kami itu dekat dengan rumah. Rasanya yang mantap, harganya pun bersahabat, membuat warung itu tak pernah sepi pengunjung karena tempatnya juga nyaman.

Setelah memesan menu, kami melangkah ke mini gazebo yang ada di salah satu pojok halaman warung.

"Sebenarnya ada apa, Dek?" tanyaku pada Azka saat kami sudah duduk dengan posisi yang nyaman.

"Putri..... "

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!