Tidak ada perempuan yang bermimpi menikahi suami kakaknya sendiri.
Namun itulah takdir yang harus diterima Aisyah.
Demi mempertahankan garis keturunan keluarga Adhitama, ayahnya memaksa Aisyah menggantikan sang kakak, Salsa, yang divonis mandul untuk memberi penerus kepada keluarga Adhitama. Semua orang menganggap itu adalah jalan keluar terbaik.
Tidak ada yang pernah bertanya apakah Aisyah menginginkannya. Aisyah memasuki pernikahan dengan harapan sederhana. Meski menjadi istri kedua, ia percaya waktu akan melahirkan kasih sayang. Namun semua harapannya hancur pada malam pertama.
Di hadapan perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya, Ammar Adhitama mengucapkan kalimat yang merobek harga dirinya.
"Aku menikahimu hanya untuk memenuhi keinginan keluargaku. Hatiku hanya milik Salsa. Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu apalagi menyentuhmu. Mulai malam ini, kau hanya akan menjadi istri di atas kertas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Di atas pelaminan, Aisyah melihat semuanya.
Melihat bagaimana Ammar sesekali tersenyum kecil kepada Salsa, mengambilkan minuman, mengusap tangan kakaknya, bahkan sesekali membisikkan sesuatu yang membuat Salsa mengangguk pelan. Pemandangan itu entah kenapa justru membuat Aisyah sedikit lega.
"Begitulah seharusnya." batinnya lirih. "Mas Ammar memang mencintai Kak Salsa. Aku tidak boleh berharap apa-apa."
Namun, Walaupun dirinya sudah berusaha menguatkan diri, tetap saja, saat ia duduk sendirian di kursi pengantin sementara semua orang mencari mempelai pria, Aisyah merasakan dadanya sedikit sesak. Bibirnya tetap tersenyum, tetapi air matanya berkali-kali hampir jatuh di balik cadarnya. Hari mulai berganti malam, satu demi satu tamu mulai berpamitan.
"Pak Umar, kami pulang dulu."
"Terima kasih atas undangannya."
"Semoga kedua mempelai bahagia."
Pak Umar mengangguk sambil menyalami mereka.
"Iya, terima kasih sudah datang."
Tak lama kemudian, halaman yang sejak pagi penuh dengan tamu undangan kini mulai lengang. Petugas katering mulai membereskan meja. Kursi-kursi mulai dilipat.
Lampu pesta masih menyala, tetapi suasana tak lagi seramai sebelumnya. Pak Wira berdiri mendekati Pak Umar.
"Pak Umar."
"Iya, Pak."
"Terima kasih atas semuanya."
Pak Umar tersenyum tipis.
"Sama-sama."
Pak Wira mengangguk.
"Malam ini Aisyah akan langsung ikut kami ke kediaman Adhitama."
Pak Umar sudah menduga hal itu. Ia lalu menoleh ke arah putri bungsunya. Aisyah masih berdiri di dekat Salsa. Ada rasa sesak yang kembali memenuhi dadanya karena mulai malam ini, rumahnya itu akan benar-benar kehilangan putri bungsunya. Pak Umar menarik napas panjang.
"Baik. Saya titip Aisyah."
Pak Wira langsung menganggukkan kepalanya.
"Tenang saja. Mulai malam ini, Aisyah adalah anak saya juga. Saya akan menjaganya."
Pak Umar hanya mampu mengangguk walaupun entah mengapa, hatinya tetap terasa berat. Tak lama kemudian, pak Wira menoleh ke arah beberapa pelayan.
"Mobil sudah siap?"
"Sudah, Tuan."
"Bagus." Ia kemudian menoleh kepada istrinya. "Ratih."
"Iya."
"Kita pulang memakai Alphard."
Ratih mengangguk.
"Lalu Ammar?"
Pak Wira menjawab tenang.
"Biarkan Ammar mengantar kedua istrinya memakai mobil pengantin."
Ratih hanya menghela napas pelan. Beberapa menit kemudian, Aisyah kembali masuk ke dalam rumah untuk berganti sandal lalu mengambil koper berwarna krem yang sejak kemarin sudah dipersiapkan. Tangannya menggenggam gagang koper itu pelan. Ia menatap kamar yang sejak kecil menjadi tempatnya tinggal, tempat ia belajar, menangis, tertawa dan berdoa. Namun malam ini, Ia akan meninggalkannya. Mungkin untuk waktu yang sangat lama. Perlahan ia mengusap kusen pintu kamarnya.
"Assalamu'alaikum." bisiknya lirih kemudian ia menarik kopernya keluar rumah.
Mobil pengantin sudah menunggu. Ammar berdiri di samping pintu mobil dan masih mengenakan jas pengantin putih yang sama.
Wajahnya tetap datar sementara Aisyah berjalan perlahan. Baru beberapa langkah, suara Ammar terdengar.
"Ditaruh sendiri."
Aisyah berhenti.
"Maksud Mas?"
"Kopermu. Taruh sendiri di bagasi."
Nada suaranya dingin tanpa sedikit pun kelembutan. Aisyah terdiam beberapa detik lalu mengangguk pelan.
"Baik."
Ia berusaha mengangkat koper itu sendiri. Koper tersebut sebenarnya cukup berat, namun ia tidak berkata apa-apa. Ia menariknya sampai ke bagasi belakang. Tangannya mulai gemetar saat mengangkat koper itu. Belum sempat adiknya itu selesai menaruh barang barangnya, Salsa buru-buru mendekati suaminya.
"Mas." Ammar tetap diam. "Kenapa Aisyah disuruh angkat sendiri kopernya?"
Ammar menjawab tanpa menoleh.
"Dia bisa menaruhnya sendiri." Jawab Ammar yang membuat Salsa menatap suaminya tak percaya.
"Mas... Aisyah itu istrimu."
Ammar menutup bagasi dengan pelan.
"Iya. Tapi dia juga sudah dewasa, dia bisa melakukan semuanya sendiri."
Jawaban itu membuat Salsa terdiam. Ia tahu suaminya sedang marah. Tak hanya kepada Aisyah melainkan kepada keadaan. Namun tetap saja, melihat Aisyah diperlakukan sedingin itu membuat hatinya ikut sakit. Setelah bagasi ditutup, Aisyah hendak membuka pintu depan, Namun suara Ammar kembali menghentikannya.
"Duduk belakang."
Aisyah mengangkat wajahnya.
"Mas?"
"Aku tidak mau ada yang duduk di depan selain Salsa."
Kalimat itu keluar dengan datar, tanpa keraguan dan membuat Salsa langsung menoleh cepat.
"Tapi mas, kalian berdua adalah pengantinnya hari ini."
Ammar membuka pintu depan.
"Kamu di depan lalu Aisyah di belakang."
Salsa menggigit bibir bawahnya.
"Mas... Tolong."
"Sayang, tolong duduk di depan."
Salsa ingin membantah, namun melihat wajah Ammar yang benar-benar lelah, Ia akhirnya mengalah. Sementara Aisyah hanya menganggukkan kepalanya pelan dan menerima semua perlakuan itu dengan sabar.
"Baik."
Ia membuka pintu belakang sendiri lalu duduk seorang diri. Tak ada keluhan, tak ada protes. Ia hanya memandang keluar jendela dan membiarkan air matanya jatuh diam-diam ketika tak seorang pun melihat. Perjalanan menuju kediaman Adhitama berlangsung tanpa suara. Tak sampai tiga puluh menit, mobil pengantin akhirnya memasuki gerbang rumah besar keluarga Adhitama. Lampu taman menyala terang sementara puluhan pelayan sudah berjajar rapi.
Begitu mobil berhenti, pelayan itu segera mendekati pintu mobil pengantin untuk membukakan pintu. Pak Wira yang lebih dulu sampai langsung menyambut mereka.
"Aisyah."
"Iya, Pa."
"Selamat datang di rumah kamu yang baru." Pak Wira tersenyum hangat. "Mulai malam ini, anggap rumah ini sebagai rumahmu sendiri."
Ratih ikut mendekat.
"Iya, Nak. Kalau butuh apa pun bilang sama Mama."
Para pelayan pun ikut menundukkan badan.
"Selamat datang, Nyonya Muda."
Aisyah langsung gugup.
"I-iya...Terima kasih."
Ia sama sekali belum terbiasa dipanggil seperti itu. Pak Wira kemudian menepuk tangannya pelan.
"Kalian." Empat pelayan segera maju. "Bawa semua barang Nyonya Aisyah ke kamar di lantai dua. Pastikan tidak ada yang kurang."
"Baik, Tuan."
Pelayan-pelayan itu segera mengambil koper Aisyah dan membuat Aisyah refleks ingin membantu, namun Pak Wira menghentikannya.
"Tidak usah nak. Mulai sekarang biar mereka yang mengurus keperluan kamu."
Aisyah kembali mengangguk pelan. Setelah semuanya selesai, Pak Wira menoleh kepada Salsa.
"Salsa."
"Iya, Pa."
"Ada satu hal lagi." Salsa menatap mertuanya dan membuat Pak Wira berkata,
"Mulai malam ini, Ammar akan tidur di kamar Aisyah." Kalimat itu membuat tubuh Salsa menegang sementara Pak Wira melanjutkan perkataannya. "Dan selama satu bulan ke depan, biarkan mereka tinggal satu kamar agar kesempatan mendapatkan keturunan lebih besar."
Suasana mendadak sunyi. Salsa berusaha mempertahankan senyum di wajahnya walaupun dadanya seperti diremas begitu kuat. Satu bulan ia harus merelakan suaminya tidur bersama perempuan lain walaupun perempuan itu adalah adiknya sendiri. Perlahan Salsa menarik napas panjang lalu mengangguk.
"Baik, Pa."
Jawaban itu keluar dengan suara yang hampir tak terdengar. Sementara di sampingnya, Ammar hanya berdiri diam. Rahangnya kembali mengeras. Ia ingin menolak, ingin mengatakan tidak, Namun tatapannya bertemu dengan Salsa. Ia teringat semua tangis istrinya, teringat janji yang sudah ia berikan. Akhirnya ia hanya memejamkan mata dan memilih diam karena ia tahu, sedikit saja ia membantah malam ini, bisa jadi badai baru akan kembali menghancurkan hati perempuan yang paling ia cintai.