Tiga tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Alya bertahan hanya karena menghormati wanita yang telah menyatukan mereka.
Namun, tepat setelah sang nenek meninggal dunia, suaminya menjatuhkan talak dan mengakhiri hubungan yang selama ini hanya dianggap sebagai kewajiban.
Dengan satu kaki palsu dan hati yang hancur, Alya meninggalkan rumah yang tak pernah benar-benar menerimanya. Ia tak menyadari bahwa di dalam rahimnya sedang tumbuh kehidupan baru.
Saat dunia seolah menutup semua pintu untuknya, Alya memilih bertahan demi seorang anak yang bahkan belum lahir. Anak itu ia beri nama Senja.
Ini adalah kisah tentang seorang ibu yang berjuang melawan keterbatasan, kesepian, dan kerasnya kehidupan. Sebab bagi Alya, Senja bukan sekadar anak. Senja adalah alasan mengapa ia terus hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa Selalu Dia Yang Menolongku
Emil pun mulai mengantar Alya ke tempat kerjanya, karena searah dengan salah satu kost-kostan yang ia punya. Kebetulan gadis itu ada pengecekan rutin setiap bulannya.
Namun di perjalanan pikirannya tidak lepas dari satu nama yang membuatnya tidak bisa fokus. Sejenak ia melirik ke kursi penumpang. Rasanya tidak sanggup melihat wanita hamil disampingnya itu.
Bayangkan saja baru kemarin ia dan temannya itu membicarakan pernikahan mewah antara Arlan dan Amara. Namun ternyata ada perempuan lain yang harus berjuang sendiri menghadapi kehamilannya.
Astaga baru kali ini aku memikirkan hidup orang lain gumam Emil di dalam hati.
Emil menghempaskan napasnya ia mencoba fokus ke arah jalan, tapi lagi-lagi wajah teduh Alya membuat hatinya terguncang, ternyata tidak semudah itu menjadi Alya apalagi dengan kondisi fisik yang tidak sempurna namun wanita itu tidak menyerah itulah yang membuat Emil begitu menyayanginya.
Mobil sudah berhenti di depan Cintami Carf, seketika Emil memeluk tubuh Alya dengan erat hingga wanita itu sedikit terkejut.
"Loh Mil ada apa? Kok tiba-tiba meluk Mbak?" ucap Alya heran.
Emil masih memeluk tubuh Alya meskipun air mata ingin jatuh tapi ia berusaha untuk menahan agar wanita di depannya itu tidak curiga.
"Aku hanya ingin memberi Mbak semangat saja. Terima kasih ya sudah tidak menyerah dengan kehidupan dan terima kasih sudah mempertahankan dedek bayi. Bulan depan kita kontrol lagi ya," ujar Emil lalu perlahan melepas pelukannya.
"Makasih ya. Eh ngomong-ngomong nanti anakku panggil kamu siapa Tante atau Aunty ya," ucap Alya.
"Eemmm mau panggil siapa ya?" pikir gadis itu dengan mata yang berbinar. "Ibu boleh gak," jawab Emil Akhirnya.
Seketika senyum Alya merekah entah kenapa ia merasa anak yang masih ada di kandungannya itu memiliki tempat yang spesial dalam kehidupan Emil.
"Gak apa-apa kan Mbak," ucap Emil merasa tidak enak sendiri.
"Gak apa-apa, aku justru terharu ada seseorang, sejak pertama kali aku hamil sudah peduli sudah cerewet seolah anakku sudah ada tempat tersendiri di hatimu," ujar Alya.
"Ye! Akhirnya dibolehin!" seru Emil. "Jika nanti anak Mbak lahir kita jaga sama-sama."
Alya mengangguk kecil air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpa juga. "Terima kasih banyak Dek, sudah pastinya Senja akan senang jika nanti punya dua ibu," tuturnya.
Seketika Emil mengerutkan keningnya. "Senja?"
"Iya Senja, entah kenapa aku ingin nama anakku nanti Senja," ucap Alya.
"Tapi nama itu husus untuk perempuan," sahut Emil.
"Iya sih dan semoga saja nanti kalau lahir perempuan," ujar Alya.
"Baiklah jika itu membuat Mbak suka," sahut Emil. "Ngomong-ngomong kenapa harus dikasih nama senja?"
Alya diam sesaat tatapannya menerawang ke luar Jendela mobil. "Karena senja mengajarkanku satu hal," ujar Alya pelan.
"Bahwa sesuatu yang indah tidak harus berlangsung selamanya untuk menjadi berarti. Meski hadir sebentar, senja selalu berhasil membuat orang jatuh cinta pada keindahannya."
"Dalam banget ya Mbak maknanya," ujar Emil. "Dan semoga Senja kita nanti selalu dinanti banyak orang kehadirannya dan juga banyak yang sayang," imbuhnya.
"Dan pastinya Senja akan bahagia bertemu dengan orang baik sepertimu Dek," ungkap Alya.
"Ah bisa saja kamu ini Mbak," sahut Emil.
Setelah perbincangan di mobil akhirnya Alya pun keluar dengan hati-hati, ia pun melambaikan tangannya sebelum akhirnya masuk ke tempat kerjanya.
"Hati-hati di jalan ya Dek!" serunya.
"Iya Mbak juga jangan terlalu capek dan selalu jaga Senja kita," pesan Emil.
Mobil Emil sudah pergi meninggalkan Cintami Carf. Sementara Alya yang baru masuk ia pun langsung disambut dengan berbagai macam bahan-bahan buket dan aksesoris lainnya.
Alya melangkah ke meja kerjanya. Setelah duduk, ia langsung mengecek lembar pesanan yang sudah menunggunya sejak pagi.
Hari itu ada lima buket dengan desain serupa dan tiga buket lainnya dengan model berbeda. Alya pun mulai meneliti setiap pola yang diminta pelanggan sebelum tangannya bergerak cekatan merangkai buket demi buket.
"Alhamdulillah pesanan hari ini tidak terlalu banyak perbedaan," ucapnya.
Ia pun melirik ke arah meja lain, di situ para teman-temannya juga sedang sibuk dengan pekerjaan buket bunga dan aksesoris lainnya.
"Kak semangat ya," ujar Alya.
Seketika para karyawan melirik ke arahnya lalu melemparkan senyum ke arahnya, entah kenapa hal sepele membuat dadanya menghangat.
"Senja kau lihat, mereka tersenyum padamu," gumamnya, lalu ia mulai merangkai satu persatu bahan buket yang sudah disiapkan di hadapannya.
☘️☘️☘️☘️☘️
Setelah memilih gedung untuk persiapan pernikahan saat ini keduanya mulai melakukan fitting baju, tentunya momen penting ini tak luput dari perhatian Erika.
Bahkan perempuan paruh baya itu turut memilihkan gaun dan kebaya untuk akad calon mantunya itu.
"Gimana Nak, kamu suka kan dengan desain pilihan Mama," ujar Erika.
"Suka banget Ma, dan pilihan Mama sangat cocok di aku," sahut Amara.
Keduanya saling melempar senyum begitu juga dengan Arlan yang duduk di samping Amara.
"Mama memang jago soal itu," puji Arlan.
"Iyalah inikan pernikahan terbaik kamu, dan menantu yang dipilih sesuai kriteria Mama, cantik, berpendidikan dan dari keluarga yang jelas punya martabat," ucapnya jelas membandingkan antara Amara dan menantu terdahulu.
"Kalau yang ini memang pilihan hati Arlan Ma," imbuh pria itu.
"Iyalah selera kamu sama, dengan Mama tidak seperti Nenekmu," jelas Erika.
Deg!
Entah kenapa saat kata "Nenek" itu terucap bayangan Nek Ratih seperti melintas dihadapan Arlan. Pria itu membeku seketika, rasanya seperti ada rasa bersalah yang tidak mau diakui.
'Mungkin ini hanya ilusi ku saja mana mungkin Nenek lihat aku, dan akupun memang tidak pernah mencintai Alya masak ia aku harus bersanding selamanya dengan perempuan itu,' ucap Arlan dalam hati.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sore sudah tiba. Kali ini di dalam Cintami Carf tidak ada lembur. Alya pun segera membereskan tugas terakhirnya. Setelah dirasa meja kerjanya sudah bersih ia pun langsung meninggalkan ruangan itu dengan penuh kelegaan.
"Alhamdulillah hari ini gak ada lembur," ucapnya.
Alya sudah berada di depan pintu Cintami Craft, sore ini ia memilih untuk berjalan kaki sambil menikmati semilir angin dan langit jingga yang mulai menghiasi ufuk barat.
Namun langkahnya perlahan terhenti saat aroma sate kambing menyeruak dari sebuah warung di seberang jalan. Alya mengernyit heran.
"Perasaan aku paling nggak suka kambing..." gumamnya pelan.
Anehnya, aroma itu justru membuat perutnya bergejolak ingin mencicipinya. Tanpa berpikir panjang, Alya menoleh ke kanan dan kiri lalu mulai menyeberang.
Ciiit!
Sebuah motor melaju kencang dan nyaris menyerempet tubuhnya.
"Alya!"
Suara bentakan itu membuatnya membeku. Di pinggir jalan, Dewa baru saja turun dari mobilnya dengan wajah tegang dan napas memburu.
"Kau kalau jalan tidak pernah lihat jalan, ya?" hardiknya.
Namun di balik nada marah itu, tatapannya terus memastikan Alya benar-benar tidak terluka.
"Aku..." Alya tercekat.
Dewa menghembuskan napas kasar sambil menggenggam lengannya erat.
"Kalau terlambat sedikit saja, kau bisa tertabrak!" bentaknya lagi, kali ini dengan nada yang terdengar lebih khawatir daripada marah.
Dalam keadaan marah seperti ini entah kenapa Alya merasa dibalik sorot mata pria itu menyembunyikan ketakutan yang nyata terhadap dirinya.
Bersambung ....
Lanjut besok ya Kak ...