NovelToon NovelToon
Kembaran Rahasia Si Culun

Kembaran Rahasia Si Culun

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Bad Boy / Balas Dendam
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: fayepey

Elnaya Bellarose Valenzia, gadis polos yang selalu menjadi korban perundungan di Golden International School, mengalami percobaan pembunuhan misterius yang membuatnya koma.

Mengetahui hal itu, saudara kembarnya, Elnara Bellamont Valenzia, seorang bad girl yang bersekolah di luar negeri, kembali ke Indonesia untuk mencari pelaku. Dengan menyamar sebagai Elnaya, ia mulai menyelidiki rahasia di balik kejadian tersebut.

Namun di tengah pencariannya, Elnara justru menarik perhatian dua siswa paling berpengaruh di sekolah: Alaric Alden Adinata, ketua OSIS yang sempurna, dan Nathaniel Atharva Pradana, ketua geng Blaze yang terkenal sebagai bad boy.

Semakin dalam Elnara mengungkap kebenaran, semakin banyak rahasia gelap yang terkuak. Hingga ia menyadari bahwa orang yang menghancurkan hidup saudara kembarnya ternyata lebih dekat dari yang pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fayepey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ruang Osis

Di sinilah gadis itu berada, di sebuah ruangan yang hanya berisikan dua orang: Alden dan Nara. Alden sedang sibuk mencari sebuah berkas, sedangkan Nara yang duduk di kursi hanya celingak-celinguk karena penasaran dengan isi ruangan tersebut.

Sampai akhirnya, matanya menangkap sebuah jendela yang berada di salah satu sisi ruangan. Anehnya, di balik jendela itu ternyata masih ada ruangan lain. Nara menoleh sebentar ke belakang, memastikan Alden masih sibuk mencari berkas. Setelah merasa aman, ia perlahan menggeser kursinya mendekati jendela untuk mengintip isi ruangan tersebut.

Ternyata, ruangan itu hanya berisikan beberapa monitor canggih dengan keyboard yang sangat panjang serta sebuah kursi di tengahnya. Tidak ada benda lain yang terlihat di sana.

"Ehem."

Suara dehaman itu membuat Nara buru-buru menoleh. Alden sudah berdiri sambil menatapnya dengan ekspresi datar.

"Nggak usah ngintip," tegas Alden.

Ia kemudian berjalan mendekat dan duduk di kursi yang berada tepat di seberang Nara. Sementara itu, Nara hanya terkekeh tanpa merasa bersalah sedikit pun.

"Hehehe, gue cuma kepo. Ruangan apaan, sih, itu?" tanyanya penasaran.

"Kepo," jawab Alden singkat.

Jawaban itu membuat Nara mendengus sebal. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi sambil memutar bola mata dengan malas.

"Lo tahu, kan, alasan lo gue bawa ke sini?" tanya Alden dengan nada tegas dan dingin.

Mendengar pertanyaan itu, Nara justru tersenyum. Ia menyilangkan kedua kakinya, lalu meletakkan siku di atas meja dan menopang pipinya dengan telapak tangan.

"Tahu, kok. Lo kangen, kan, sama gue?" jawabnya genit sambil memberikan kiss jauh kepada cowok itu.

"Nggak usah ngaco," bantah Alden dengan tegas.

Nara kembali terkekeh. "Nggak tahu. Lo aja belum bilang sama gue."

"Fake nails lo."

Mendengar itu, Nara langsung memasang wajah bingung.

"Kan udah lo ambil, udah lo sita juga. Gimana, sih?" gerutunya. "Ganti, ya, duit gue sepuluh juta itu. Gue nggak terima."

Alden tidak menanggapi protesnya. Ia mengambil lembaran peraturan sekolah yang ada di atas meja, lalu membacanya dengan suara tegas.

"Di sini sudah dijelaskan, siswa dilarang menggunakan kuku palsu atau fake nails, kuku panjang, serta cat kuku yang mencolok selama berada di lingkungan sekolah."

Alden menatap lembaran peraturan tersebut, sedangkan Nara hanya mendengarkan dengan ekspresi tidak tertarik.

"Ya, terus? Gue harus bilang wow gitu?" ucapnya santai.

"Yang artinya, lo sudah melanggar aturan sekolah karena memakai fake nails," jawab Alden.

"Ribet lo, ah. Gue, nih, ya, di London bebas memakai apa pun asalkan nyaman. Nggak ada tuh peraturan kayak gini," balas Nara sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

"Beda. Ini Indonesia, bukan London."

"Ya, terus gimana lagi? Gue kena hukuman lagi? Ya udah, ngomong aja hukuman gue apa," jawabnya dengan santai.

"Bukan itu aja."

"Ya, terus apa lagi, sih?" tanya Nara, mulai kesal.

"Bibir lo. Lipstik lo terlalu menor. Hapus," perintah Alden.

"Dih, ribet lo, ah. Gue nggak suka kelihatan pucat. Biarin aja kayak gini, gue suka, kok," lawan Nara.

"Di sini sudah ada peraturan—"

Belum sempat Alden menyelesaikan perkataannya, Nara langsung memotong.

"Iya, gue tahu. Tidak boleh berdandan berlebihan. Cuma di sini gue cuma pakai lipstik doang, nggak pakai make-up. Sedangkan siswa lain banyak yang lipstiknya menor dan pakai make-up, tapi nggak ada tuh lo protes," lawannya tidak terima.

"Siapa yang lo lihat? Bilang sama gue," tantang Alden.

"Lo itu yang ribet. Semuanya nggak boleh," gerutu Nara.

"Karena memang sudah aturannya. Gue cuma menjalankan tugas gue."

"Tapi lo larangnya ke gue doang," jawab Nara.

"Ya, makanya gue tanya, siapa yang lo lihat? Biar gue suruh dia ke sini," ucap Alden, masih berusaha sabar.

"Nggak tahu gue," cicit Nara pelan sambil membuang muka.

"Artinya lo ngibul sama gue."

Ucapan itu membuat emosi Nara naik. Ia langsung menatap Alden dengan tajam.

"Eh, ingat, ya! Sebagai ketua OSIS, lo nggak akan bisa ngatur gue bagaimanapun caranya. Walaupun lo itu bakal jadi tunangan gue, paham lo?" peringat Nara dengan kesal.

"Gue nggak takut. Sekarang hapus lipstik lo," perintah Alden.

"Nggak. Gue nggak mau."

"Hapus!"

"Nggak!"

"Hapus! Gue nggak suka dibantah!" ucap Alden dengan nada kesal.

"Gue juga nggak suka diatur!" balas Nara tidak kalah keras.

Alden menatapnya tajam sebelum kembali berkata, "Hapus sendiri atau gue yang hapus dengan bibir gue."

Nara langsung melotot kaget. Ia bahkan sempat terdiam beberapa detik karena tidak menyangka Alden akan mengatakan hal seperti itu.

"Sinting, ya, lo? Gila! Gue aduin ke Papi gue!" amuknya.

"Aduin aja. Lo lupa Papi lo ada di pihak gue?" Alden menyeringai tipis, membuat Nara semakin kesal.

"Yang ada kalau lo aduin, kita bisa aja dipaksa buat nikah," lanjut Alden dengan santai.

Ucapan itu berhasil membuat emosi Nara semakin memuncak.

"I hate you, Alaric Alden Adinata! Fuck!" umpat Nara dengan penuh kekesalan.

Tidak lama kemudian, terdengar suara seorang perempuan dari luar ruangan. Alden menoleh ke arah pintu, lalu berdiri dari kursinya.

"Gue ke sana dulu. Waktu gue balik ke sini, lipstik lo harus sudah lo hapus. Kalau belum, gue lakuin ucapan gue tadi," peringatnya sebelum pergi begitu saja.

Setelah pintu tertutup, Nara langsung menepuk meja dengan kuat.

"Rese banget tuh orang," gerutunya sambil menatap pintu dengan kesal.

Beberapa saat kemudian, Alden kembali masuk. Kali ini, di belakangnya ada Asha yang ikut berjalan memasuki ruangan.

"Nara, eh, maksudnya Naya. Hehehe, maaf, aku keceplosan," ucap Asha dengan wajah tidak enak.

"It's okay," jawab Nara santai. Ia sengaja tidak melihat Alden yang kini berdiri di depannya.

"Aku dengar kabar tangan kamu jadi luka gara-gara digigit nyamuk, ya?" tanya Asha dengan nada khawatir.

"Iya, nih. Tapi sekarang udah nggak lagi. Lihat, tangan gue mulus lagi, kan?" ucap Nara sambil mengangkat lengannya dan memperlihatkan bagian kulit yang sebelumnya memerah.

"Syukur, deh. Tapi kok aku nggak separah kamu, ya? Aku cuma bentol-bentol dan gatal doang," jawab Asha.

Belum sempat Nara menjawab, Alden langsung bersuara dengan nada tinggi.

"Lo ngajak adik gue ke belakang perpustakaan?!" teriak Alden, membuat kedua gadis itu kaget.

"Santai aja, kali! Lo kira gue budek?" sewot Nara dengan kesal sambil memegangi telinganya.

Alden mengabaikan protes Nara dan langsung menoleh kepada adiknya.

"Asha, bilang sama Abang. Kamu ke sana juga?" tanyanya penasaran sekaligus khawatir.

"Asha yang mau, Bang. Asha mau nolongin dia buat nyari barang bukti," jawab Asha dengan kalem.

Alden mengembuskan napas panjang. Ekspresinya terlihat tidak senang setelah mendengar penjelasan tersebut.

"Nggak usah lagi kamu ke sana. Nanti kalau kamu kenapa-kenapa, malah Abang yang disalahin sama Daddy," peringat Alden.

Asha mengangguk patuh. "Jangan bilang sama Daddy dan Mommy, ya," bujuknya dengan wajah memohon.

"Iya, tapi ini terakhir kalinya," peringat Alden.

Setelah itu, Alden kembali mengalihkan pandangannya kepada Nara yang masih duduk sambil memasang wajah kesal.

"Dan lo, habis pulang sekolah jangan langsung pulang. Ada yang mau gue bicarakan," ucap Alden.

"Bicarain aja sekarang!" jawab Nara.

"Nanti. Lo tunggu di lobi utama," jawab Alden dengan tegas, tidak memberikan kesempatan kepada Nara untuk membantah.

Siang itu, Nara sedang menunggu di lobi utama, tepatnya di dekat lift. Ia berdiri sendirian di sana karena Rora dan Asha sudah pulang lebih dulu. Katanya, sih, Asha pulang bersama Nathaniel.

Nara beberapa kali melihat layar ponselnya, lalu kembali menatap pintu lift yang masih tertutup. Kakinya mulai pegal karena sudah cukup lama berdiri di tempat yang sama.

"Lama banget, sih," gerutu Nara kesal.

Tidak lama kemudian, pintu lift terbuka. Alden keluar dari sana sambil membawa beberapa berkas di tangannya. Begitu melihat cowok itu, Nara langsung berjalan menghampirinya dengan wajah sebal.

"Lama banget, sih, lo. Gue pegal nungguin lo," gerutunya saat Alden baru saja keluar dari lift.

Alden melirik ke arah deretan kursi yang tidak jauh dari tempat Nara berdiri.

"Di sana ada kursi. Kenapa nggak duduk aja? Gue nggak nyuruh lo nungguin gue sambil berdiri," balas Alden santai.

Nara memutar bola matanya dengan malas. "Iya, deh, iya."

"Ikut gue," ucap Alden singkat, lalu berjalan lebih dulu di depan gadis itu.

Nara langsung menyusul di belakangnya. Ia menatap punggung Alden dengan curiga karena cowok itu tidak menjelaskan mereka akan pergi ke mana.

"Mau ke mana, sih? Lo mau hukum gue, ya?" tebaknya.

"Pelanggaran lo tadi cukup gue tulis dalam daftar karena itu termasuk pelanggaran kecil," jawab Alden tanpa menghentikan langkahnya.

Mendengar hal itu, Nara mengangguk pelan. Setidaknya, ia tidak perlu menerima hukuman aneh dari cowok tersebut.

Nara terus mengikuti Alden sampai langkahnya mendadak berhenti karena terkejut. Ternyata, ada sebuah jalan kecil tersembunyi di balik gedung sekolah. Jalan itu cukup sempit dan tertutup oleh beberapa pohon serta tanaman yang tumbuh di sekitarnya. Kalau tidak diperhatikan dengan baik, orang-orang mungkin tidak akan menyadari keberadaan jalan tersebut.

"Widih, baru tahu gue ada jalan rahasia di sini," ucap Nara kagum sambil melihat-lihat sekelilingnya.

"Hm," sahut Alden singkat.

Nara mendengus pelan. Cowok itu memang selalu pelit bicara. Mereka kembali melanjutkan perjalanan menyusuri jalan kecil tersebut. Ternyata, jalan itu terhubung langsung dengan sebuah warung yang berada di belakang sekolah.

Mereka masih terus berjalan hingga akhirnya berhenti di depan sebuah rumah sederhana yang tidak jauh dari warung tersebut. Di halaman rumah itu, terlihat seorang pria paruh baya sedang membersihkan daun-daun kering menggunakan sapu lidi.

"Pak Badut," sapa Alden.

Pria paruh baya yang sedang membersihkan halaman itu langsung menoleh ketika mendengar seseorang memanggilnya.

"Loh, Den Alden. Ada apa?" tanya Pak Badut sambil menghentikan kegiatannya.

"Aku boleh nanya, nggak?" tanya Alden.

"Ya, boleh. Silakan," jawabnya ramah.

Nara hanya berdiri diam di sebelah Alden sambil memperhatikan percakapan keduanya. Pak Badut meletakkan sapu lidinya di dekat pagar, lalu mendekati mereka.

"Boleh, ada apa?" tanyanya sekali lagi.

"Pak, kemarin setelah ada kabar siswi jatuh dari belakang perpustakaan, Bapak sempat bersih-bersih di sana, nggak?" tanya Alden.

Mendengar pertanyaan itu, Nara langsung menoleh kepada Alden. Ia tidak menyangka cowok tersebut membawanya ke tempat ini untuk menanyakan kejadian di belakang perpustakaan.

"Oh, iya, ada. Waktu itu Bapak disuruh Kepala Sekolah buat bersihin tempat itu. Memangnya ada apa, ya?" tanya Pak Badut penasaran.

"Bapak ada nemuin sebuah ponsel, nggak?" tanya Alden.

Pertanyaan itu membuat Nara semakin terkejut. Ia langsung menatap pria paruh baya di depannya dengan penuh harap.

"Oh, ada! Astaga, Bapak lupa, Den. Rencananya pagi itu mau Bapak kasih ke kamu, cuma Bapak lupa bawa," ucap Pak Badut sambil menepuk dahinya pelan.

"Masih ada, nggak, Pak, ponselnya sama Bapak?" tanya Nara dengan cepat.

Pak Badut mengangguk. "Ada, kok. Sebentar, ya, Bapak ambil dulu."

Setelah mengatakan itu, Pak Badut berjalan masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan Alden dan Nara berdua di halaman. Begitu pria itu tidak terlihat lagi, Nara langsung menoleh tajam kepada Alden.

"Kok lo nggak ngomong, sih, kalau ponselnya mungkin ditemuin sama petugas kebersihan sekolah? Tahu gitu, gue nggak perlu pergi ke belakang perpustakaan tadi," ucapnya kesal.

"Lo nggak nanya," jawab Alden santai.

Jawaban itu membuat Nara semakin kesal. Ia menatap Alden dengan tidak percaya, sedangkan cowok itu tetap memasang ekspresi datar seolah tidak merasa bersalah sedikit pun.

Tidak lama kemudian, Pak Badut kembali keluar dari rumah sambil membawa sebuah ponsel di tangannya.

"Ini, kan, ponselnya?" tanya Pak Badut sembari menyerahkan benda tersebut kepada Nara.

Begitu melihat ponsel itu, mata Nara langsung melebar. Ia buru-buru mengambilnya dan memeriksa bagian depan serta belakangnya untuk memastikan.

"Iya, Pak, ini ponselnya. Ponsel saya. Terima kasih, ya, Pak," jawab Nara dengan sopan. Wajahnya langsung terlihat jauh lebih cerah daripada sebelumnya.

"Iya, sama-sama. Maaf, ya, Bapak lupa bawa ponselnya ke sekolah," ucap Pak Badut dengan perasaan tidak enak.

"Nggak apa-apa, Pak. Kalau begitu, kami pamit dulu," ucap Alden.

Pak Badut mengangguk sambil tersenyum. Setelah berpamitan, Alden dan Nara pun meninggalkan rumah sederhana tersebut. Mereka kembali berjalan menyusuri jalan kecil menuju sekolah.

"Senang?" tanya Alden tiba-tiba.

Nara menatap ponsel yang berada di tangannya dengan senyum lebar. Ia bahkan beberapa kali membolak-balikkan benda tersebut untuk memastikan bahwa ponsel itu benar-benar sudah kembali kepadanya.

"Senang banget gue, mah. Dengan ini, gue bisa nyelidiki kasus ini," ucap Nara penuh semangat.

Mendengar jawaban tersebut, terbesit senyum tipis di bibir Alden. Senyum itu sangat tipis, sampai-sampai Nara yang berjalan di sebelahnya tidak menyadarinya.

1
Lxjn
Mangat kak💪
fayepey: Terimakasih
total 1 replies
ana Ackerman
kak lanjut ya jangan lupa up kak semangat
fayepey: Terimakasih kak
Nanti sore aku up lagii
total 1 replies
ana Ackerman
lanjut kak
Bu Dewi
seru kk😍😍😍😍
fayepey: Terimakasih😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!