NovelToon NovelToon
Please, Menikahlah Denganku!

Please, Menikahlah Denganku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:247
Nilai: 5
Nama Author: Nona Khansa

Aku tidak meminta banyak padamu, hanya satu hal. Menikahlah Denganku!

Cinta yang terpaut 2 tahun lebih tua dari Arhan, siapa bilang ia tidak bisa mendapatkannya? Ia bertekad pada dirinya, apapun yang terjadi Lula Khansa hanyalah miliknya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Khansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8-Ngambek

Lula terkekeh geli mendengar kata-kata terakhir dari pegawai itu. Ia tak menjawabnya dan hanya tersenyum lebar mendengarnya.

Selesai dengan perawatan wajahnya, Arhan kembali membawa Lula kesebuah pusat perbelanjaan besar, yaitu mall. Ia berniat untuk membelikan baju-baju bagus pada Lula.

Sampailah mereka pada sebuah toko baju khusus yang pastinya harganya lumayan mahal.

"Arhan, kamu terlalu berlebihan loh!" Ucapnya pelan dibelakang Arhan.

Arhan melirik sejenak lalu kembali memilih baju yang ia sukai dan cocok untuk Lula pakai nanti. Setelah dirasa sudah cukup Arhan yang akan berjalan menuju kasir menghentikan sejenak langkahnya.

Ia melihat ada sebuah baju kaos couple pasangan berwarna grey dengan gambar bunga tulip yang begitu serasi menurutnya. Arhan pun mengambil baju tersebut tanpa memikirkan berapa nominalnya.

Lula dibelakang Arhan sedari tadi hanya diam saja dan melihat apa yang Arhan lakukan tanpa berani protes padanya. Karena apa? Setiap dirinya protes juga percuma, tidak ada gunanya karena Arhan akan tetap kekeuh pada pendiriannya.

Selesai dari kasir untuk membayar semua belanjanya, Arhan pun menyerahkan semua paperbag pada Lula, dan mengisahkan untuknya satu, yaitu kaos couple pasangan yang tadi dibelinya. "Ambil semuanya, pokoknya kakak harus pake pemberian dari aku."

Dengan tidak enak hati Lula mengambil paperbag tersebut dari tangan Arhan. "Kamu baik banget sama aku, padahal aku ini orang yang baru kamu kenal loh."

"Kita makan dulu ya." Titah Arhan yang berusaha mengalihkan pembicaraan Lula seakan tidak peduli pada ucapan Lula barusan.

"Arhan! Kamu pura-pura budeg ya?" Ucap Lula dengan kesal. Setiap ia bicara pasti Arhan akan mengalihkan pembicaraan nya.

Arhan mengajak Lula untuk makan ditempat makan yang berada di mall tersebut. Ia membelokkan pada makanan hidangan Korea.

"Mau pesen apa?" Tanya Arhan setelah mereka duduk saling berhadapan. Melihat Lula yang hanya diam saja, Arhan pun menyamakan pesanan mereka saja. Seperti nya Lula masih kesal dengannya karena tadi. Bukannya Arhan ikut kesal, tapi ia malah sekuat tenaga menahan senyumannya melihat wajah kesal Lula padahal. Melihat Lula yang berusaha cuek padanya membuat Arhan geli seakan-akan ia sedang membawa pacarnya.

"Kak, ada kecoa tuh di rambutnya." Arhan menunjuk dengan jarinya, berusaha membuat Lula takut.

Lula tetap mengalihkan pandangannya dengan wajah yang masih kesal. "Enggak takut, udah biasa!" Tukasnya dengan galak.

"Ada cicak itu, bener deh!" Seru Arhan kemudian.

"Udah sering kejatuhan!" Seru Lula lagi yang masih tidak mau memandang kearah Arhan.

Arhan menggaruk tengkuknya yang terasa gatal secara tiba-tiba. "Ya udah, ada ayam deh." Timpalnya kemudian.

"Mana ada ayam dikepala aku Arhan!" Lula akhirnya menatap Arhan juga dengan wajah yang semakin kesal.

Arhan terkekeh mendengarnya. "Barang kali ada beneran karena liat kakak yang lagi ngambek."

Lula melipat tangannya didepan dada. "Mana ada aku ngambek, biasa aja ah." Elaknya pada Arhan yang tidak ingin mengakuinya. "Ngapain coba ngambek?"

Arhan mengangguk pura-pura percaya, namun wajahnya tetap menunjukkan wajah mengejeknya pada Lula. Ia mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi camera untuk memotret Lula.

Cekrek!

"Arhan!!!!! Jangan poto aku!" Lula berdiri dan ingin merebut ponsel itu dari tangan Arhan namun kalah talak setelah Arhan yang sudah lebih dulu memasukkan ponselnya kedalam kantong celananya. Lula pun duduk kembali dengan perasaan yang masih kesal.

Tawa yang sedari tadi ditahan oleh Arhan akhirnya pecah juga. "Hahahaha... Makin keliatan ngambek nya kalo kaya gitu, mirip bebek tau." Tawa Arhan pecah memenuhi restoran nuansa Korea itu.

Lula diam tidak menimpali ucapan Arhan.

****

****

Lula memfokuskan dirinya untuk belajar pada waktu istirahat, ini semua karena setelah istirahat akan ada latihan soal pada pelajaran IPA. Lula terus membuka lembaran-lembaran yang sekiranya akan keluar saat latihan nanti.

"La, ini ada titipan dari Arhan." Ucap Hani, teman sekelas Lula itu menaruh titipan Arhan pada meja Lula kemudian langsung pergi lagi meninggalkan Lula.

Ya, ia juga tidak mengerti kenapa semenjak dekat dengan Arhan, Lula yang awalnya selalu di-bully sekarang seakan-akan orang-orang itu perlahan menghilang dan tidak ada yang berani menghujatnya sekalipun. Lula juga tidak tau kenapa, tapi ia bersyukur atas itu semua.

Ia membuka bingkisan yang tadi dibawakan oleh Hani dan mengatakan bahwa ini semua dari Arhan. Ia menghela nafasnya, sudah berapa kali ia bilang untuk tidak memberikan makanan padanya setiap istirahat, tapi tetap saja Arhan seperti ini. Sudah hampir sebulan mungkin Arhan melakukan hal ini dengan rutin setiap harinya.

Didalam bingkisan itu terdapat beberapa gorengan dan makanan ringan serta minuman botol juga. Lula pun mau tidak mau memakannya. Ia yakin jika Arhan tau bahwa ia tidak memakan pemberian nya, bocah itu akan marah-marah tidak jelas padanya dan bilang. "Padahal udah effort."

Lula pun mengambil gorengan itu dan memasukkan ke mulutnya untuk dimakan, matanya tidak lepas dari bukunya.

Hingga tanpa ia sadari, seseorang telah masuk kedalam kelas dan mengunci kelas itu. Cowok itu berjalan mendekati meja Lula, setalah sampai didepan meja Lula, cowok berkaca mata dengan tubuh tinggi seperti pemain basket itu berhenti.

"Lo kasih pelet apa sih sama Arhan sampe dia segininya sama Lo?" Tanya cowok itu dengan tangan yang dilipat kedepan dada.

Lula mendongokkan kepalanya. Menatap cowok berkacamata itu dengan bingung. "Maksudnya gimana ya Aska?" Tanyanya kemudian pada Aska, teman sekelasnya.

Cowok itu bernama Aska. Ia menarik kursi yang tak jauh dari jangkauannya kemudian duduk berhadap-hadapan dengan Lula. "Berapa ribu sih Lo?" Tanyanya dengan intens menatap Lula dari atas sampai bawah.

Tentu saja pertanyaan dari Aska mampu membuat Lula terdiam tidak terima saat dituduh menjual diri oleh Aska. Ia meletakkan makanannya dimeja. "Kenapa sih Lo tuh suka banget ganggu hidup gue dari dulu?." Pinta Lula dengan tatapan tajam menatap Aska.

Aska menyenderkan punggungnya pada kursi kemudian mengangkat bahunya. "Yaa seneng aja sih liat Lo menderita, apalagi nangis" Tangannya bersidekap dada.

Lula mengepalkan kedua tangannya melihat Aska yang begitu menjengkelkan dan membuatnya emosi. "Dari sekian banyak orang yang bully gue, cuman Lo yang paling sering! Gue salah apa? Dan sekarang Lo nuduh gue jual diri? Otak Lo sengklek ya?"

Aska sedikit terkejut dengan ucapan Lula barusan. "Wowww, sekarang Lo udah berubah ya? Lebih berani gitu." Timpal Aska kemudian. Ia pun melanjutkan perkataannya lagi sembari melepaskan kacamata nya, memandang wajah Lula dengan seksama. "Liat, dari rambut, wajah, bahkan badan lo aja udah beda sekarang. Siapa yang enggak curiga coba kalo enggak jual diri?."

BRAK!

Lula menggebrak meja dengan perasaan yang begitu emosi. Ini adalah bagian emosional nya yang sudah ia pendam beberapa tahun belakangan ini, dan baru kali ini ia keluarkan pada seorang Aska. Ia kemudian menarik kerah baju Aska, memandang wajah Aska yang meremehkannya sedari dulu itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!