Tersedak boba membawa petaka! Alara, cewek modern bermulut pedas, mendadak isekai jadi Selir Alara Villin—selir terbuang Dinasti Ruelle yang lemah dan ditindas di Istana Dingin. Tragisnya lagi, dia diberi makan bubur basi yang airnya lebih banyak daripada nasi.
Sebagai pencinta makanan sejati, Alara menolak mati kelaparan. Dia pun nekat menyelinap ke paviliun pribadi Kaisar Kaivan dan mencuri paha ayam panggang sang penguasa.
Sialnya, aksi Alara tertangkap basah. Bukannya bersujud ketakutan menghadapi sang Kaisar yang terkenal kejam dan sedingin es, Alara malah menodongnya:
"Anda kurung saya tanpa makanan layak. Baru ambil satu paha ayam, Anda masih utang sembilan puluh sembilan ayam lagi sama saya. Sini bayar!"
Kaisar Kaivan yang gengsian setengah mati mendadak dibuat jantungan oleh logika absurd selir bar-barnya ini. Siapa sangka, di balik wajah esnya, sang Kaisar aslinya jago lawak, gampang panik, dan takut kecoa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tersedak Boba Membawa Berkah (Atau Petaka?)
Kepala Alara rasanya seperti dihantam oleh truk tronton bermuatan semen. Pusingnya bukan main, berputar-putar layaknya wahana ekstrem di dunia fantasi.
"Aduh... boba sialan. Gue bilang kan kurangi gulanya, kenapa malah bikin tenggorokan gue kesendat sih?" gumam Alara sambil memegangi lehernya yang terasa tercekat. Matanya masih terpejam erat, enggan menghadapi kenyataan bahwa dia mungkin sudah berada di IGD rumah sakit daerah gara-gara tersedak mutiara tapioka saat asyik *scrolling* media sosial di kasur kosannya.
Namun, indra penciumannya menangkap sesuatu yang aneh. Bukannya bau karbol khas rumah sakit atau aroma minyak angin yang menyengat, hidungnya malah menghirup aroma wewangian cendana yang menenangkan, bercampur dengan bau... kayu lapuk dan debu?
Alara membuka matanya perlahan. Langit-langit beton putih dengan lampu neon terang yang dia harapkan tidak ada. Sebagai gantinya, netranya menangkap kelambu sutra berwarna merah muda yang sudah agak usang dan robek di beberapa sudut, menggantung di atas tempat tidur kayu berukir megah namun tampak kusam.
"Hah? Ini rumah sakit tema *vintage* atau gimana? Totalitas amat," Alara buru-buru duduk. Badannya terasa sangat ringan bahkan terlalu ringan dibandingkan tubuh aslinya yang agak berisi tapi baju yang melekat di tubuhnya...
"Wait". Ini bukan baju pasien kancing depan bergambar logo rumah sakit. Ini adalah gaun panjang berlapis-lapis khas wanita bangsawan kuno, mirip karakter di manhwa kerajaan yang sering dia baca di aplikasi ponselnya!
"Selir Alara! Anda sudah sadar?!"
Sebuah teriakan melengking memecah keheningan, membuat Alara hampir melompat dari kasur. Seorang gadis remaja dengan rambut dicepol dua, mengenakan pakaian pelayan kain kasar kuno, berlari mendekat sambil menangis bombay. Air matanya mengalir deras seperti keran bocor.
"Gusti... hamba pikir Anda sudah tiada setelah didorong oleh Selir Shina ke kolam teratai! Hamba sangat takut, Selir!" Gadis itu langsung berlutut di pinggiran ranjang, memegangi kaki Alara seolah-olah Alara adalah barang antik yang hampir jatuh dan pecah.
Alara mengerutkan kening, menghentikan tangan pelayan itu. "Bentar, bentar. Kepala gue makin pusing. Kamu panggil gue apa tadi? Selir? Selir Alara?"
Pelayan itu mendongak, matanya yang sembap berkedip bingung dengan polosnya. "Benar, Selir. Apakah kepala Anda terbentur batu kolam hingga melupakan nama Anda sendiri? Hamba adalah Lily, pelayan setia Anda sejak kita dibuang ke Istana Dingin ini..."
*DEG.*
Istana Dingin. Selir. Didorong ke kolam teratai.
Otak Alara yang biasanya lambat kalau disuruh mikir rumus matematika, mendadak berputar secepat prosesor komputer gaming terbaru. Skenario ini... plot ini... skema klise ini...
"Gue... *di isekai*?!" bisik Alara dengan mata melotot. "DEMI APA GUE MASUK KE NOVEL?!"
Alara langsung bangkit dari kasur, mengabaikan teriakan histeris Lily yang menyuruhnya untuk tetap berbaring istirahat. Dia berlari terseok-seok menuju sebuah cermin tembaga yang berdiri di sudut ruangan yang agak berdebu. Begitu melihat pantulan dirinya, Alara hampir saja berteriak 'Sempurna!'.
Wajah di cermin itu luar biasa cantik. Matanya bulat besar mirip karakter anime, hidungnya mancung kecil, dan bibirnya merah alami tanpa perlu polesan *lip tint* mahal. Kulitnya seputih susu. Masalahnya cuma satu: badannya kurus kering seperti kurang gizi, dan lingkaran hitam di bawah matanya menegaskan kalau pemilik tubuh asli ini sering menangis semalaman meratapi nasib.
"Wah, spek bidadari begini kok dibuang ke Istana Dingin? Kaisarnya buta warna atau katarak sih?" omel Alara sambil memegangi pipinya yang tirus.
"Selir Alara, tolong kecilkan suara Anda!" Lily buru-buru menutup pintu kamar dengan wajah pucat pasi, matanya melirik ke luar jendela dengan cemas. "Jika terdengar oleh kasim penjaga, Anda bisa dihukum cambuk lagi! Bagaimanapun, Yang Mulia Kaisar Kaivan sangat membenci Anda karena menganggap Anda meracuni teh kesayangan Ibu Suri bulan lalu!"
Alara memutar bola matanya. Klasik. Plot selir protagonis yang difitnah oleh selir antagonis lalu dicampakkan oleh kaisar kaku yang tidak punya perasaan.
"Dengar ya, Lily," Alara memegang kedua pundak pelayan kecil itu dengan mantap, membuat Lily agak gemetar. "Mulai hari ini, Alara yang lemah lembut, yang suka nangis di pojokan sambil meratapi nasib, sudah MATI. Di depan lu sekarang adalah Alara versi premium, edisi anti-tindas!"
Lily berkedip polos, air matanya tertahan di pelupuk mata. "Premium? Edisi... apa?"
"Intinya, kita gak bakal mati konyol di sini. Ngomong-ngomong, perut gue bunyi. Ada makanan gak? Gue laper tingkat dewa," tanya Alara tanpa tahu malu. Porsi makannya sebagai anak kosan di kehidupan sebelumnya tidak bisa dikompromi, bahkan oleh transmigrasi jiwa sekalipun. Urusan perut adalah nomor satu!
Lily menunduk lesu, jari-jarinya saling bertautan dengan gugup. "Jatah makanan kita hari ini... dikurangi lagi oleh dapur utama atas perintah Selir Shina, Selir. Kita hanya diberi semangkuk bubur encer yang sudah dingin dan sayur asin yang hampir busuk..."
KRIUUKKK~
Perut Alara berbunyi nyaring, seolah-olah ikut memprotes ketidakadilan sosial yang terjadi di istana megah namun berhati busuk ini. Alara melirik mangkuk di atas meja kayu. Benar saja, isinya cuma air dengan beberapa butir nasi yang mengapung mengenaskan.
Alara mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Sialan. Berani-beraninya mereka menahan hak asasi perut gue. Lily, tunjukkan di mana arah dapur utama. Gue mau eksekusi hak makan malam gue sekarang juga!"
"Tapi Selir, ini sudah malam! Istana Utama dijaga ketat oleh prajurit!"
"Aman. Sifat alami gue kalau lapar itu melebihi intel BIN. Ayo bergerak!"
---
Bersambung~
makasih Thor cerita menghibur bgt ttp semangat ya💪💪💪